Beranda Drives TEST DRIVE: Lamborghini Aventador SVJ, More Rage Less Bull

TEST DRIVE: Lamborghini Aventador SVJ, More Rage Less Bull

Foto: Wolfango Sparcelli, Ingo Barenschee, Tom Salt, Charlie Mcgee

SUDAH bukan rahasia lagi Lamborghini Aventador sedang memasuki masa-masa terbenam, tapi sebelum menonaktifkan Aventador, Lambo memberikan kesempatan untuk mengelilingi Nordschliefe untuk terakhir kalinya. Pada Juli kemarin, Aventador SVJ mencatat rekor lap tercepat (lap record) di Nordschliefe yakni 6 menit, 44,9 detik. Mematahkan gelar yang sebelumnya disandang oleh Porsce 991 GT2 RS. Selain itu lebih kencang hampir 15 detik dari waktu Lamborghini SV standard.

Aventador Super Veloce Jota (SVJ) diambil dari nama Lamborghini Miura Jota 1970. Waktu itu, test driver Bob Wallace melakukan uji coba sekali dengan maksud menyertakan mobil di dalam balapan, tapi tak diijinkan oleh Ferrucio Lamborghini karena Ia tidak percaya pada filosopi Ferrari ikut balapan untuk berjualan mobil.

Meskipun demikian, Jota pertama yang dikembangkan dari Miura standar menginspirasi sejumlah konsumen VIP meminta Lambo untuk menciptakan Jota dengan bobot yang ringan (minus 400 kg) dengan basisnya dari Miura SV. Maka lahirlah SVJ. Berkat performa hebat Huracan Performante di Nordschleife karena sistem ALA (Aerodinamica Lamborghini Attiva), Lambo memutuskan untuk memasangnya di Aventador SVJ. Hasilnya, driver Lambo, Marco Mapelli, memecahkan rekor lap tercepat.

Aventador SV memiliki bobot lebih enteng daripada versi standard dan sekalipun antara Aventador SV dan SVJ tak ada perbedaan bobot, bukan berarti Sant’Agata Bolognese tak mencoba untuk membuat lebih enteng. Terlihat dari pemakaian serat karbon pada beberapa komponen di SVJ seperti pada cover mesin belakang atau pun pemakaian velg Nireo yang sangat enteng.

Namun usaha itu sia-sia karena pendingin mesin dan penambahan peranti aerodinamika memiliki bobot yang berat. Dengan dry weight 1.525 kg, sebetulnya bobot tersebut sudah pas untuk mobil coupe lebar seperti SVJ. Untuk mengompensasi hal tersebut, tenaga yang dihasilkan dari mesin V12 6.5liter bertambah cukup signifikan yakni 70 hp atau kenaikan 10 persen.

Suspensi yang dipakai SVJ sama dengan yang dipakai SV, tapi anti-roll bar belakangnya dibuat 50 persen lebih kaku dan kekerasan damper Magnaride naik 15 persen sampai level yang paling keras. Yang membuat kenapa SVJ juga bisa mencatat lap time spektakuler adalah berkat ban Pirelli Trofeo R. Namun, ketika kami mengemudikan SVJ di Sirkuit Estoril, ban yang dipakai adalah P-Zero Corsa baru yang menjadi ban standard SVJ.

Penyesuaian lainnya yang dilakukan untuk SVJ adalah algoritma rear-wheel steering (LRS). Sekarang perbedaannya dengan Aventador S dan SV sangat jauh. Tak hanya bisa mengonter setir pada kecepatan rendah dan pada saat in-phase steer pada kecepatan tinggi, tapi juga akan toe-in pada waktu mengerem dan setiap roda bisa bekerja secara independen agar mobil semakin stabil pada saat masuk tikungan, di tengah tikungan maupun pada waktu keluar tikungan.

Semua sistem yang bekerja secara independen seperti ALA 2.0, AWD, suspensi Magnaride, LRS, mesin dan transmisi terintegrasi ke dalam sistem yang disebut Lamborghini Dinamica Veicolo Attiva (LDVA) 2.0. Kerjanya memang rumit, namun paket LDVA itu disederhanakan menjadi Strada, Sport dan Corsa.

Strada cocok untuk pengemudian sehari-hari di jalan raya, tapi tak cocok dipakai di sirkuit. Mode Sport adalah model yang paling menyenangkan karena peran alat bantu mengemudi dikurangi agar bisa merasakan oversteer maupun understeer. Mode Corsa adalah mode yang paling cocok untuk melahap lap dengan cepat dan bisa merasakan bagian belakang mobil sliding ketika oversteer. Namun, peran transmisi otomatis pada mode ini mati, jadi harus memakai versi manual.

Kami mendapat kesempatan mengelilingi Estoril sebanyak 12 lap dan setengah di antaranya dipakai untuk mencoba kehandalan grip SVJ. Apalagi trek baru dilapis aspal yang baru di mana grip biasanya tidak terlalu kuat sehingga menjadi PR buat para pengemudi. Pada kondisi seperti ini, saya bisa memacu mobil maksimal secara kontinyu dan bisa merasakan perbedaan karakteristik handling pada mode pengendaraan yan berbeda-beda. Pesan saya, lupakan Strada, mulai dengan mode Sport.

Pada mode ini, throttle SVJ terasa sensitif namun saya sudah bisa membiasakan diri dalam dua lap saja yang terpenting bisa menjaga kecepatan di mana harus melepas dan mengangkat gas. Namun dengan Corsa, saya bisa mendapatkan lap time terbaik karena peran electronic nanny berkurang sehingga fokus saya adalah bagaimana mendapatkan lap bersih. Pada mode Corsa, mobil tidak terasa membosankan, lebih stabil dan positif.

Pada waktu menikung, kalau pengemudi tidak bisa memberikan respon yang pas pada setir maka secara otomatis mobil akan menjaga sensitivitas throttle secara terukur sehingga mobil tetap stabil. Saya merasa sesi di Estoril sangat menyenangkan karena kami bisa menggali potensi Aventador SVJ secara maksimal. Menurut saya, mobil ini sangat passionate dan memiliki rekayasa engineering yang sangat baik.

Lamborghini Aventador SVJ 2018

Layout kendaraan: Coupe, mesin tengah, 2 penumpang, AWD
Mesin: V12 6.5L/ 770 hp @ 8500 rpm/720 Nm @ 6750 rpm
Transmisi: 7-kecepatan ISR (automated manual)
PxLxT: 4944 x 2098 x 1136 mm
Wheelbase: 2700 mm
Dry weight: 1.525 kg
0-100 km/jam: 2,8 detik
Top Speed: 350 km/jam
Konsumsi BBM: 19,6 litres/100km (kombinasi)
Emisi CO2: 452 g/km

ANDRE LAM