Kaleidoskop 2020: Drama & Rekor Baru Warnai F1 Era New Normal

JAKARTA, Carvaganza.com – Apa yang terjadi di tahun 2020 telah mengakibatkan berbagai dampak di setiap belahan dunia. Tidak terkecuali untuk gelaran motorsport kelas dunia, seperti halnya Formula 1. Meski tetap bisa digelar, banyak hal baru dan penyesuaian yang terjadi pada seluruh rangkaian grand prix di tahun kabisat ini. Beberapa hal tertentu memang tidak berubah banyak tahun ini, misalnya dalam hal perebutan gelar juara dunia. Namun di sisi lain, tidak kalah banyak juga hal baru yang menarik, sekaligus memberi bumbu baru pada kejuaraan tahun 2020. Hal tersebut menunjukkan meski dalam situasi yang tidak sepenuhnya baik, dinamisnya lingkup Formula 1 tetap berlangsung. Apa saja hal menarik yang menjadi highlight pada Formula 1 musim 2020? Berikut Carvaganza himpun dalam rubrik Kaleidoskop 2020.

Kalender Balap Lebih Berwarna
Maret 2020, ketika seluruh tim, pembalap dan kru penyelenggara F1 sudah tiba di Melbourne untuk seri pembuka Grand Prix Australia, tiba-tiba balapan dibatalkan. Tepat sebelum dilangsungkannya sesi Free Practice 1 di Albert Park, Formula 1 menyatakan grand prix dibatalkan. Pasalnya, beberapa kru tim di paddock positif terdiagnosa COVID-19. Beberapa seri awal kemudian ikut ditunda dan dibatalkan gelarannya tahun ini, termasuk debut Grand Prix Vietnam yang seharusnya di bulan April. Setelah melewati perundingan berbulan-bulan, akhirnya dinyatakan kejuaraan akan dibuka mulai bulan Juli, melalui Grand Prix Austria di Red Bull Ring. Demi mencegah potensi penyebaran virus lebih lanjut, mayoritas balapan di 2020 tidak dihadiri fans di sirkuit. Balapan terpusat di benua Eropa, sebanyak 17 seri, memaksa gelaran di Asia dan Amerika urung digelar. Bahkan seri klasik Monako untuk pertama kalinya absen dari kalender kejuaraan F1. Namun F1 membuat padat jadwal tahun ini dengan menunjuk beberapa sirkuit yang belum pernah dan sudah lama tidak menggelar F1. Seperti debut Portimao dan Mugello, lalu kembalinya Nurburgring dan Imola. Bahkan Bahrain menerapkan layout baru untuk menggelar double header.
Dominasi Mercedes dan Rekor Hamilton
Tidak bisa dibantah, era V6 turbo hybrid memang menjadi milik Mercedes dan Lewis Hamilton. Dengan regulasi yang tidak banyak berubah dari 2019, Mercedes sukses kembali mendominasi kemenangan dan kejuaraan tahun 2020. Dari 17 seri digelar, Mercedes berhasil menguasai kemenangan pada 13 seri, di mana 11 di antaranya melalui Hamilton. Valtteri Bottas kiembali gagal menunjukkan performa apik untuk mengimbangi kuatnya Hamilton. Selain seri pembuka di Austria, bottas hanya meraih kemenangan lainnya di seri Rusia. Sementara saat finish terdepan di Grand Prix Eifel di Nurburgring, Hamilton menyamai rekor kemenangan terbanyak milik Michael Schumacher, yaitu 91 kemenangan. Dengan tambahan kemenangan di seri Portugal, Emilia Romagna (Imola), Turki dan Bahrain, Hamilton telah memegang rekor kemenangan terbanyak, yaitu 95 kemenangan (sejauh ini). Dan lewat kemenangan hebatnya di Turki, Hamilton juga menyamai rekor 7 kali meraih gelar juara dunia seperti Schumacher. Sementara gelar juara konstruktor bagi Mercedes juga menjadi rekor baru, sebagai tim F1 pertama memenangkannya selama tujuh kali berturut-turut (2014-2020).
Ulang Tahun F1 ke-70 & Balapan ke-1000 Ferrari
Setidaknya ada dua momen spesial dirayakan pada tahun 2020, meski dalam kondisi yang kurang menggembirakan. Saat balapan digelar di Silverstone, Inggris, F1 tepat menginjak usia 70 tahun, sejak grand prix pertama digelar di Silverstone tahun 1950. Bahkan Sivlerstone sampai menggelar dua kali balapan, yaitu menjadi tuam rumah 70th Anniversary Grand Prix, sepekan setelah seri Inggris. Pada balapan anniversary tersebut, Max Verstappen keluar sebagai pemenang, sekaligus menjadi pemenang balapan non-Mercedes pertama di 2020. Kemenangan tersebut menjadi satu dari dua kemenangan yang diraih Verstappen, selain seri pamungkas di Abu Dhabi. Sementara Scuderia Ferrari menegaskan statusnya sebagai tim tertua di F1 lewat perayaan Grand Prix ke-1000. Milestone tersebut bahkan digelar di salah satu sirkuit milik Ferrari, yaitu Mugello di Italia. Pada balapan ini, Ferrari tampil dengan livery dan seragam berwarna klasik, seperti yang digunakan di balapan pertamanya. Perayaan Grand Prix ke-1000 di Mugello ikut dimeriahkan oleh penampikan Mick Schumacher, anak Michael, mengemudikan Ferrari F2004. Mobil tersebut yang mengantarkan sang ayah meraih gelar juara dunia ketujuhnya. Namun di momen spesial ini, Ferrari justru tidak mampu meraih hasil finish bagus, meski kedua pembalap meraih poin.
Domino Bursa Pembalap Ferrari, McLaren, Renault
Perpindahan dan pertukaran pembalap di antar tim menjadi hal yang ramai dibicarakan selama 2020, bahkan sejak sebelum seri pembuka digelar. Sebastian Vettel, Carlos Sainz dan Daniel Ricciardo menjadi sorotan utama terkait formasi pembalap untuk tahun 2021. Sebelum seri Austria digelar, sudah diumumkan bahwa Carlos Sainz akan bergabung ke Ferrari untuk musim 2021, meninggalkan McLaren. Kursi kosong Sainz di McLaren kemudian diumumkan akan diisi oleh Ricciardo, yang akhirnya berhasil mempersembahkan podium untuk Renault. Sementara Vettel yang tidak mencapai kesepakatan Bersama Ferrari, akan hengkang ke Racing Point yang mulai 2021 akan berganti nama menjadi Aston Martin. Rangkaian pertukaran pembalap yang melibatkan Vettel, Sainz dan Ricciardo ini kemudian memunculkan nama lama yang ingin kembali ke F1. Yaitu Fernando Alonso yang memutuskan untuk membela Renault ketiga kalinya tahun depan, menggantikan Ricciardo. Saat Alonso bergabung tahun depan, tim Renault akan berganti identitas menjadi Alpine seiring strategi korporat yang baru.
Halo Selamatkan Nyawa Grosjean
Setidaknya ada dua insiden besar di atas trek yang terjadi di musim 2020 ini, yaitu tabrakan beruntun di Mugello dan terbakarnya mobil Romain Grosjean di Bahrain. Selamatnya Grosjean dari kebakaran tersebut dianggap menjadi bukti nyata hebatnya tingkat keselamatan mobil balap F1 modern. Kecelakaan di lap pertama Grand Prix Bahrain itu bermula dari manuver Grosjean yang tiba-tiba berpindah ke sisi kanan trek, untuk menghindar kerumunan pembalap di sisi kiri. Manuver yang mendadak itu berbuah senggolan ban antara mobil Haas miliknya dengan Daniil Kvyat. Dalam kondisi full throttle di lintasan lurus dan jarak yang rapat, Grosjean menabrak keras pagar pembatas setelah tikungan 3. Chassis mobilnya terbelah dan membelah armco alias pagar pembatas. Kerasnya benturan dan pecahnya tangka bensin mengakibatkan kebarakan instan di lokasi tabrakan. Setidaknya setelah lebih dari 20 detik Grosjean baru bisa berhasil meloloskan diri dari mobilnya yang berkobar api. Rangkaian pakaian tahan api yang dipakai berhasil mencegah cedera lebih serius dialami Grosjean, yang hanya alami luka bakar ringan. Selain itu, konstruksi monokok yang didukung Halo di atas kokpit juga menjadi penyelamat nyawa Grosjean. Monokok yang membelah lapisan armco bisa saja merenggut nyawa Grosjean seandainya kokpit tidak dilindungi Halo.
Pemenang Balapan Baru
Di saat Ferrari gagal bersinar karena mobilnya yang tidak kompetitif, Mercedes dan Red Bull menjadi tim ‘reguler’ yang meraih kemenangan di 2020. Namun, meski kejuaraan masih didominasi Mercedes, 2020 tetap berhasil memunculkan pemenang balapan baru, yaitu Pierre Gasly dan Sergio Perez. Gasly meraih kemenangan perdananya di F1 pada Grand Prix Italia, di Monza. Rangkaian insiden dan penalti yang dialami sejumlah pembalap berhasil dihadapi dengan tenang oleh Gasly dan tim AlphaTauri. Gasly finish terdepan setelah menahan tekanan dari Sainz, disusul oleh Lance Stroll di posisi ketiga. Kemenangan di Monza sekaligus mengulang memori indah tim junior milik Red Bull tersebut, saat Toro Rosso menang perdana di Monza 2008, bersama Vettel. Di musim 2020 ini, Perez juga akhirnya sukses pecah telur meraih kemenangan. Bahkan kemengannya diraih lewat penampilan yang terbilang heroik. Sempat merasakan posisi lima besar sesaat setelah start di Grand Prix Sakhir, Perez harus tercecer ke baris belakang setelah tersenggol oleh Charles Leclerc yang terlambat mengerem di tikungan 4. Tanpa kenal menyerah, Perez berangsur memperbaiki posisi seiring berjalannya balapan. Mercedes sempat mendominasi di depan, dipimpin oleh George Russell saat itu menggantikan Hamilton yang positif COVID-19, disusul Bottas. Namung rangkaian kesalahaan Mercedes saat pitstop membuat kemenangan lepas. Nasib sial Mercedes menjadi keuntungan bagi Perez yang kemudian menang di depan Esteban Ocon dan Stroll. WAHYU HARIANTONO

Artikel yang direkomendasikan untuk anda