Setumpuk PR Menuju Mimpi Aplikasi Mobil Listrik di Indonesia

JAKARTA, Carvaganza -- Industri otomotif Indonesia -- maupun dunia -- memang belum pulih sejak dihantam pandemi Covid-19 sejak Maret 2020 lalu. Hal itu terlihat dari angka penjualan kendaraan secara nasional yang belum juga menunjukkan perbaikan. Tapi ada angin segar di tengah wabah, yaitu kian berkembangnya kendaraan elektrifikasi.

Yang terbaru adalah Toyota Astra Motor (TAM) di bawah bendera Lexus yang membawa mobil fully electric UX 300e. Meski harganya wah, Rp 1,2 miliar, namun setidaknya menunjukkan pabrikan tersebut cukup serius. Sebelumnya, Toyota juga menghadirkan model hybrid yang dijajakan dengan model konvensional lainnya. Nissan juga datang dengan Kicks e-Power. Okelah, bukan murni mobil listrik. Tapi ia menjadi model termurah di jenis ini yaitu Rp 449 juta.

Secara peluang, prospek penjualan kendaraan listrik di Indonesia cukup menjanjikan dan masih terbuka lebar. Dengan jumlah penduduk 270 juta jiwa, Indonesia adalah pasar yang sangat besar. Pemerintah sendiri sudah mencanangkan target. Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menargetkan populasi kendaraan listrik mencapai 20% dari total penjualan nasional pada 2025.

Pertanyaannya, seberapa siap sebenarnya kita menghadapi era elektrifikasi? Apa hambatannya? Apa yang harus disiapkan dan dilakukan?



Dr Hari Setiapraja, ST, MEng. Kepala Balai Teknologi Termodinamika Motor dan Propulsi (BT2MP) Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi (BPPT) mengatakan persoalan mobil listrik ini sangat kompleks karena berkaitan dengan banyak pihak dan sektor.

"Ada soal infrastruktur seperti penempatan stasiun charger, kemudian konsumsi baterai atau listrik seberapa kuat yang berkaitan dengan daya tempuh, kemudian juga soal harga jual," katanya dalam Diskui Peluang dan Tantangan Mobil Listrik di Indonesia berama Forum Wartawan Otomotif Indonesia (Forwot) dan Forum Wartawan Industri (Forwin), Kamis kemarin.

Hari mengatakan masih banyak hambatan seperti baterai dengan densitas power tinggi, fast charging dan tahan lama. Kemudian regulasi teknis dan keuangan untuk mendukung pengembangan kendaraan listrik termasuk stimulus yang diberikan bagi produsen dan konsumen. Saat ini harga mobil hybrid dan listrik jauh lebih mahal dibandingkan mobil mesin bakar (ICE – Internal Combustion Engine).


Suara Ragu


Tapi suara ragu masih banyak bermunculan, bahkan dari kalangan Agen Pemegang Merek sendiri. Salah satu pabrikan asal Jepang mengatakan jika aturan, infrastruktur, dan kesadaran konsumen belum ada, apapun langkah yang dilakukan takkan membuahkan hasil maksimal. "Belum lagi terlalu maju menargetkan langsung ke kendaraan listrik," kata seorang petinggi APM.

Peneliti Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat (LPEM) Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (UI), Dr. Ir. Riyanto, MSi. menyampaikan nada seruda. Ia mengatakan memang ada pendapat yang masuk ke hybrid dulu, meski masih ada emisi, tidak langsung ke listrik murni. Penggunaan hybrid, daya jangkau dan ekosistemnya lebih bisa diterima. Tidak ada baterai masih ada mesin konvensional yang digunakan. Sementara kalau listrik langsung bagaimana kalau habis sementara kapasitas baterai masih terbatas.

"Situasinya sekarang wait and see. Pemerintah maunya listrik, sementara manufaktur menunggu ekosistemnya ada. Kalau ekosistem ada, regulasi jalan, baru mereka bergerak," katanya.

Ia mengatakan kendaraan dengan teknologi plug-in hybrid electric vehicle (PHEV) akan lebih diminati konsumen Indonesia sebelum memasuki kendaraan listrik murni. Berdasarkan uji coba yang dilakukan peneliti di Universitas Indonesia di kawasan perkotaan, emisi kendaraan PHEV hampir sama seperti mobil listrik murni. "Selama simulasi, BBM-nya terpakai kecil, karena hanya memakai untuk jarak-jarak pendek di dalam kota. Jadi semuanya digerakkan oleh baterai. Plug in hybrid ini mirip dengan full baterai karena kalau di dalam kota kan pembakarnya tidak berfungsi," katanya.

Menurut Riyanto, melihat kondisi sekarang, jalan menuju kendaraan roda empat dengan listrik masih jauh. Segmen sepeda motor sebenarnya lebih siap menghadapi perpindahan ke elektrifikasi. Selain harga tidak mahal, konversi dari mesin bisa ke listrik lebih mudah, plus ekosistemnya juga lebih mudah disiapkan.

RAJU FEBRIAN

Artikel yang direkomendasikan untuk anda