Beranda Drives ROAD TEST: Nissan Kicks e-Power, Sepraktis Apa Dipakai di Dalam Kota?

ROAD TEST: Nissan Kicks e-Power, Sepraktis Apa Dipakai di Dalam Kota?

JAKARTA, Carvaganza.com – Tahun 2020 mungkin bisa dibilang sebagai titik balik dimulainya erea elektrifikasi bagi industri otomotif di Indonesia. Cukup banyak pabrikan yang mulai berani melepas produk bertenaga listrik ke pasar, salah satunya Nissan Indonesia. Pada awal September 2020, Nissan Indonesia resmi merilis Nissan Kicks e-Power, SUV kompak dengan penggerak bertenaga listrik.

Agak tertunda bisa dibilang langkah Nissan membawa Kicks akhirnya ke Indonesia, mengingat mobil ini sudah beredar sejak tahun 2016 di berbagai negara. Bahkan saat ini Kicks sudah beredar dalam versi baru, yang lahir tahun 2019. Lalu setahun kemudian, baru Kicks generasi kedua dengan kode seri P16 masuk ke pasar Tanah Air.

Kalau boleh menebak, mungkin Nissan Indonesia menunggu momentum yang tepat untuk memboyong Kicks, sekaligus menggeser Juke yang termakan usia. Juke sebagai model yang beredar sejak 2011, menjadi salah satu pelopor segmen compact SUV. Namun desainnya yang nyeleneh membuatnya sulit diterima oleh selera rata-rata konsumen Indonesia. Bahkan sampai generasi barunya meluncur tahun ini, desain Juke keseluruhan masih sama.

Dengan pertimbangan desain Kicks yang lebih konservatif, segmen SUV yang terus tumbuh, dan tren mobil listrik yang cukup berkembang, datanglah Kicks ke Indonesia. Jadi secara tidak langsung, Kicks menjadi pengganti Juke di Indonesia, walaupun secara segmen berbeda. Dan setidaknya, sekarang Indonesia kembali disajikan mobil berelektrifikasi dari Nissan. Ya, pada 2015 lalu Nissan pernah memasarkan X-Trail Hybrid di Indonesia.

Flashback sedikit, teknologi e-Power sempat Nissan pamerkan di Indonesia saat mendemonstrasikan Note e-Power pada tahun 2018. Note e-Power dan Leaf sebagai mobil listrik terlaris Nissan, dipamerkan ke pemerintahan, demi mendorong terciptanya regulasi terkait kendaraan bertenaga listrik. Namun seiring waktu, tidak ada kelanjutan soal kedua hatchback tersebut.

Akhirnya e-Power benar-benar dirilis ke pasar tahun 2020, lewat Kicks. Pilihan yang tepat untuk mengajak konsumen bertransisi dari teknologi mesin bakar ke motor listrik. Kenapa alasannya, akan kita ketahui kemudian. Yang jelas, Kicks e-Power menawarkan pilihan yang praktis untuk penggunaan mobil listrik sehari-hari. Apalagi, harga jualnya Rp 499 juta (OTR Jakarta) menjadi banderol paling terjangkau untuk mobil berelektrifikasi di Indonesia.

Sebelumnya, OTO Group yang menaungi Carvaganza, Oto.com dan Zigwheels telah menguji kemampuan dan daya tempuh maksimal Kicks e-Power lewat tantangan Maximum Trip. Kalau sempat melihat video atau membaca ulasannya, Kicks yang diajak berkendara dari Jakarta ke Jawa Timur, berhasil melampaui jarak tempuh 700 kilometer lebih. Kali ini, kami akan mengulas Kicks e-Power dengan digunakan sebagai transportasi dengan kondisi di dalam kota.

Dari sisi sistem drivetrain, Nissan membekali Kicks e-Power dengan motor listrik yang menggerakkan roda depan. Motor listrik tersebut memiliki tenaga 127 hp dan torsi 260 Nm, yang disokong baterai lithium-ion 1,57 kWh. Baterai terbilang kecil untuk mobil listrik. Namun daya jelajah dan regenerasi listrik mobil ini memanfaatkan peran mesin tiga silinder 1,2 liter dari Nissan March. Mesin dengan output 78 hp dan 103 Nm ini bertugas menjadi generator listrik, yang memasok energi ke baterai setiap waktu.

Pengoperasian Kicks e-Power saat dikemudikan tidak membuat kita yang awam merasa asing. Karena masih sangat mirip dengan SUV bertransmisi otomatis biasa. Untuk membuat mobil melaju, memang ada tuas operasi berkendara untuk memilih Drive (D), Reverse (R) dan Neutral (N), sementara untuk Park (P) melalui tombol terpisah. Saat mulai melaju, sangat halus rasanya bagaikan mengemudikan SUV bertransmisi CVT, namun tanpa ada getaran mesin.

Lajunya halus, senyap, minim getaran, memberi kesan berbeda dan menunjukkan bahwa ini bukan SUV biasa. Karena output motor listriknya tidak yang sangat tinggi seperti yang diagungkan Tesla selama ini, maka tidak akan terasa gejala torsi yang seperti menendang kita dari belakang. Mengingat ini adalah mobil urban, saya justru merasa lebih nyaman dengan karakter Kicks e-Power ini, walaupun memang torsinya padat dan tanpa jeda sejak mobil dijalankan. Ini dengan pertimbangan para penumpang tidak akan merasa kaget saat mobil berakselerasi cukup kencang.

Di dalam kota seperti Jakarta, Kicks cukup nyaman dikendarai. Dimensinya ringkas, dengan karakter setir yang ringan khas electric power steering. Tentunya sangat mendukung untuk manuver di jalanan sempit dengan belokan patah seperti di pemukiman, atau saat parkir. Desain setir khas Nissan terbaru memiliki aksen desain flat bottom seperti sportscar.

Sempat saya berkunjung ke sebuah mall di sela masa pengetesan Kicks e-Power dan kebetulan harus memarkir mobil di gedung parkir. Saat akan parkir yang berada di lantai atas gedung parkir, tanjakan yang agak terjal ternyata mudah saja dilalui oleh Kicks. Torsi motor listriknya yang padat memang sangat membantu dalam situasi ini, apalagi sudah didukung Hill Start Assist.

Ada empat driving mode disediakan yaitu Normal, Eco, S (Smart), dan EV. Mode Normal terasa biasa saja, laju mobil sebagaimana adanya dan performa Kicks bisa dirasakan sampai maksimal. Saat pindah ke mode Eco atau S, akan langsung terasa perbedaan karakternya. Satu yang pasti adalah laju mobil seperti ditahan, dan terasa lebih kuat efeknya dalam mode Eco. Ini adalah tanda bahwa sistem e-Power sudah mengaktifkan fitur regenerative braking. Jadi ada gejala seperti engine brake saat pedal gas dilepas, yang berfungsi mengumpulkan energi dari deselerasi untuk diisi ke baterai.

Dalam mode Eco efek tersebut lebih kuat dan lebih cepat untuk mengurangi kecepatan, demi proses regenerasi energi yang lebih singkat. Inilah cara Nissan membuat konsumsi energi lebih hemat pada sistem e-Power. Saat mode Eco atau S diaktifkan, di sinilah kita bisa manfaatkan one-pedal operation. Walaupun ada pedal rem, kita bisa akselerasi dan hentikan mobil hanya dengan satu pedal saja, yaitu pedal gas.

Caranya, saat akan kurangi kecepatan atau berhenti, lepaskan tekanan pedal gas secara gradual. Dengan begitu kecepatan mobil akan ikut berkurang juga, dan semakin banyak input gas dilepas akan membuat mobil berhenti bahkan tanpa menyentuh pedal rem. Efek one-pedal operation akan kurang efektif kalau kita langsung lepas pedal gas sepenuhnya dalam mode ini. Kalau belum terbiasa, kami anjurkan jangan langsung dicoba saat kondisi lalu lintas padat.

Kelebihan lain sistem e-Power dalam pengoperasia Kicks adalah, saat baterai berkurang dayanya dan perlu diisi ulang (recharge), mesin bakar akan aktif secara otomatis. Bukan untuk membantu gerakkan roda, tapi untuk menjadi generator. Mesin tidak teruhubung transmisi dan roda, melainkan ke sistem regenerasi energi listrik ke baterai. Jadi mesin akan memastikan baterai tidak akan kehabisan energi dan tidak membutuhkan charging port eksternal. Tangki bahan bakar besin 41 liter menjadi sumber energi cadangan dari Kicks. Jadi secara teori, Kicks e-Power adalah mobil berteknologi hybrid, dengan motor listrik sebagai penggerak roda.

Sistem ini tentunya memberikan sensasi unik saat mengendarai Kicks e-Power. Jadi sesekali mesin akan menyala beberapa saat untuk recharge baterai selama perjalanan. Sistem akan mengaktifkan mesin saat energi baterai sudah tersisa sekitar 50% (tidak ada indikator angka di baterai). Saat sudah dirasa cukup, sekitar 90%, mesin akan mati dengan sendirinya. Inilah kepraktisan yang ditawarkan Kicks e-Power, meski bertenaga listrik, kita tidak perlu pusing pikirkan charging station di masa infrastruktur belum mendukung seperti sekarang.

Aplikasi teknologi e-Power memberikan sejumlah keuntungan. Pertama, kita tidak perlu pusing soal cara isi ulang baterai. Kedua, dimensi baterai tidak telalu besar, jadi tidak menyita kapasitas ruang kabin dan bagasi. Ketiga, karena baterai yang kompak, kita juga tidak merasakan bobot yang terlalu berat. Keempat, baterai di bawah chassis sedikit meningkatkan titik pusat gravitasi mobil. Kelima, tentunya membantu lingkungan lebih bersih dengan minimnya produksi emisi CO2.

Sebagai pengguna iPhone saya cukup merasa dimanjakan oleh sistem infotainment yang sudah dilengkapi Apple CarPlay. Dan Nissan tidak sediakan Android Auto. Apalagi kalau sudah menggunakan iOS 14, tampilan home di layar sentuh 8 inci  bisa dibuat multitasking. Maksudnya widget dari beberapa aplikasi bisa ditampilkan sekaligus, seperti Google Maps, Spotify, atau Waze yang dibutuhkan saat perjalanan.

Selain infotainment, Nissan juga menyediakan rangkaian fitur keselamatan dari Nissan Intelligent Mobility yang cukup lengkap. Mulai dari Driver Attention Alert (DAA), Blind Spot Warning (BSW), Hill Start Assist (HSA), dan Rear Cross Traffic Alert (RCTA). Paling impresif adalah Intelligent Cruise Control (ICC), yang bisa secara otomatis sesuaikan kecepatan dan jarak dengan kendaraan lain. ICC paling efektif terasa saat digunakan berkendara di jalan tol.

Kembali lagi soal berkendaranya, Kicks e-Power memiliki karakter suspensi yang terbilang keras untuk sebuah SUV kompak. Di satu sisi, pengendaliannya terasa lebih mantap dibanding SUV sekelasnya, karena lebih stabil dan minim limbung. Namun di sisi lain, mengurangi kenyamanan di dalam kabin, terutama untuk penumpang. Walaupun memang Nissan sudah membekali kabin dengan Zero Gravity Seat yang dikembangkan bersama NASA, demi kenyamanan terbaik selama perjalanan.

Hal lain yang menurut saya perlu dibenahi untuk Kicks adalah insulasi kabinnya. Kekedapan kabinnya masih kurang baik untuk SUV sekelas dan seharga Kicks. Di tengah lalu lintas yang padat, suara dari kendaraan lain masih terdengar cukup jelas dalam kadar yang agak mengganggu. Apalagi saat ada motor bebek dengan knalpot modifikasi melintas.

Lalu seirit apa berkendara dengan Nissan Kicks e-Power? Selama hampir satu pekan saya ditemani Kicks e-Power, beberapa kali MID menunjukkan angka konsumsi bahan bakar antara 22 -25 km/liter. Yap, hitungan konsumsi energinya masih menggunakan satuan km/liter. Angka tersebut tentunya jauh lebih ekonomis bila dibandingkan dengan SUV sekelas bermesin konvensional. Jadi selain irit tentunya, Kicks e-Power juga menawarkan kepraktisan berkendara dengan mobil listrik, tanpa pusing mencari fasilitas charging station.

Menurut saya, Nissan sudah tepat mengambil langkah ini untuk mengajak masyarakat Indonesia bertransisi ke elektrifikasi mobilitas. Jadi masyarakat tidak akan kaget dan bingung mencari-cari charging station, seandainya Nissan langsung meluncurkan Leaf. Apalagi dengan wujud SUV, semakin pas dengan selera konsumen Indonesia yang belakangan bergeser dari hatchback.

WAHYU HARIANTONO
FOTO: EDI WEENTE

Video Terbaru Youtube Carvaganza

Video Terbaru Youtube The Official Oto

Last Updates

Toyota Jadi Brand Otomotif Paling Kesohor Di Dunia, Di atas BMW dan Mercedes

CALIFORNIA, carvaganza.com -  Kita sudah bercokol cukup lama di dunia otomotif, tapi tahu kah apa brand mobil paling terkenal di dunia? Artinya, nama brand...

SPYSHOT: Susul Taycan, Porsche Macan Versi Listrik Mulai Diuji

STUTTGART, Carvaganza.com – Suksesnya Taycan sebagai pionir mobil full electric dari Porsche mendorong mereka semakin seriusi segmen baru ini. Salah satu strateginya adalah dengan...

Mengenal Fitur Keamanan Advanced Grip Control Peugeot 3008 dan 5008 SUV

JAKARTA, Carvaganza -- Musim hujan telah tiba. Memasuki musim penghujan, berarti menghadapi berbagai macam kondisi jalan yang sangat berbeda. Berbagai macam kondisi jalan di...
video

VIDEO: First Impressions Toyota Fortuner Facelift Versi Indonesia

JAKARTA, Carvaganza.com – Di tahun 2020 ini, akhirnya pasar Indonesia juga kebagian versi facelift dari Toyota Fortuner, yang resmi meluncur pada bulan Oktober. New...

MG Motor Indonesia Gandeng 2 Mitra Pembiayaan Baru, Makin Pede Jualan

JAKARTA, Carvaganza -- MG Motor Indonesia terus bergerak memperkuat posisinya di Indonesia. Setelah mengumumkan penunjukan Donald Rachmat sebagai General Director MG MOtor Indonesia sejak...