Beranda EDITOR'S PICKS EDITOR’S NOTE: New Normal, Dimana Posisi Konsumen Mobil?

EDITOR’S NOTE: New Normal, Dimana Posisi Konsumen Mobil?

JAKARTA, Carvaganza.com – Pemerintah Indonesia sudah menawarkan wacana New Normal di tengah kondisi kasus Covid-19 yang secara statistik masih meningkat. Belum ada timeline yang pasti kapan wacana itu akan menjadi aturan untuk diberlakukan. Apakah pada saat kurva statistik sudah menurun atau masih menanjak?

Menteri Koordinator  Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto sudah menyinggung soal New Normal usai rapat kabinet terbatas via video conference hari Rabu (27/5). Ia pun menyebutkan sektor-sektor industri apa saja yang bisa memulihkan kegiatannya kembali. Tapi di sisi lain, Airlangga juga mengingatkan aktivitas perekonomian di fase tatanan New Normal nantinya akan dihentikan jika terjadi gelombang kedua penularan virus Corona.

Jika pemerintah nantinya memperlonggar PSBB, maka akan ada sejumlah aktivitas yang berjalan seperti sedia kala. Jalan-jalan yang tadinya sepi akan ramai kembali. Orang-orang akan berkumpul lagi untuk melakukan perniagaan.Para pekerja akan masuk kantor. Meski kita belum tahu sejauh apa kelonggaran yang bakal diberikan pemerintah.

Kita sebagai pemilik kendaraan akan memasuki fase itu. Sebuah kondisi yang tidak pernah kita hadapi sebelumnya. Untuk memasuki New Normal kita sudah disarankan dengan keras untuk mengikuti protokol kesehatan Covid-19. Mulai dari masker, hand sanitizer, rajin mencuci tangan, menjaga kebersihan sampai yang lain-lain. Apakah itu semua sudah cukup?

Baca juga: Bertekad Bangkit Lagi, Nissan Siapkan Strategi 4 Tahun

Apa Itu New Normal?

Sebelum membahas lebih jauh mungkin ada baiknya kita pahami lebih dulu apa itu New Normal. Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanganan COVID-19, Wiku Adisasmita mengatakan, new normal adalah perubahan perilaku untuk tetap menjalankan aktivitas normal. Namun, perubahan ini ditambah dengan menerapkan protokol kesehatan guna mencegah terjadinya penularan COVID-19. Prinsip utama dari new normal, menurut Wiku, adalah menyesuaikan dengan pola hidup.

Oke, bagaimana hubungannya dengan dunia otomotif? Kita sebagai pemilik kendaraan akan memasuki fase itu. Sebuah kondisi yang tidak pernah kita hadapi sebelumnya. Untuk memasuki New Normal kita sudah disarankan dengan keras untuk mengikuti protokol kesehatan COVID-19. Mulai dari masker, hand sanitizer, rajin mencuci tangan, menjaga kebersihan sampai yang lain-lain. Apakah itu semua sudah cukup?

Mungkin tidak. Persoalannya kita belum pernah berada dalam kondisi itu. Outbreak Corona baru terjadi Desember tahun lalu di Cina, lantas menyebar ke seluruh penjuru bumi. Belum ada panduan baku bagaimana kita harus menyikapinya. Semua masih meraba. Vaksin pun belum ada.

Yang baru ada adalah pada saat memasuki New Normal, pendekatan publik terhadap otomotif mulai berubah. Di Cina, penjualan kendaraan pribadi mulai dari mobil pribadi, motor sampai sepeda meningkat tajam. Masyarakat yang menggunakan kendaraan pribadi makin bertambah dan kemungkinan akan memunculkan masalah baru dalam hal traffic. Sementara jumlah pemakaian kendaraan umum termasuk taksi menurun hampir setengahnya.

Baca juga: Rayakan Produksi 22 Juta Unit, Wuling Kenalkan Logo Baru

 

Pendekatan Baru Konsumen Mobil

Dikutip dari www.autonews.com , dari hasil polling kuesioner yang dilakukan, 93 persen responden menyatakan akan lebih sering menggunakan kendaraan pribadi kalau pergi kemana-mana. Artinya pergerakan kendaraan akan semakin bertambah.

Karena akan semakin banyak orang yang mencari kendaraan, maka mereka akan mencari harga yang paling cocok buat dirinya. Di sini dealing antara pembeli dan penjual akan sangat berpengaruh. Pada saat kondisi finansial konsumen sedang kurang bagus, tapi mereka dituntut untuk lebih mengutamakan keselamatan, konsumen akan mencari positioning terbaik.

Penambahan jumlah kendaraan dan jam operasional pun akan berdampak terhadap layanan purna jual. Workshop dan dealership akan semakin sibuk. Di lain sisi, pelanggan akan menuntut agar pelayanan purna jual ‘lebih dekat’ ke rumah mereka.

Pemakaian layanan online/digital akan makin tinggi, permintaan layanan home service makin bertambah. Konsumen akan mencari workshop dan dealer yang lebih dekat ke rumah untuk mempermudah hidupnya. Bahkan konsumen akan menuntut workshop dan dealer menerima keluhan lewat tatap muka virtual sehingga dealer harus menyiapkan layanan khusus untuk itu.

Pergeseran akan terus jadi. Tapi demi kebaikan bersama, pada saat harus memasuki New Normal, otoritas wajib memberikan jaminan peace of mind kepada publik. Salah satu caranya adalah memastikan New Normal dilakukan pada saat grafik kasus Corona di negeri ini menurun.

Baca juga: Honda BR-V, Ini Alasan Membelinya

EKA ZULKARNAIN

Video Terbaru Youtube Carvaganza

Video Terbaru Youtube The Official Oto

Last Updates

Perbandingan Angka Performa Mercedes-AMG GLE 63 VS Maserati Levante Trofeo

JAKARTA, carvaganza.com -  Dulu kecepatan boleh saja didominasi oleh supercars atau performance car. Namun jaman telah berubah. Penguasa kecepatan sekarang bukan lagi muscle atau...

Bulan Oktober, Ada Karimun Wagon R Edisi Khusus akan Dirilis Suzuki

JAKARTA, Carvaganza.com - Menjadi peluncuran pamungkas tahun ini, Suzuki Indonesia siap lansir Karimun Wagon R Limited Edition. Jenis hatchback LCGC diramal berubah minor di...

Honda Civic Type R Berjaya Balap 24 Jam di Nurbrugring

NURBURG, Carvaganza.com – Akhir pekan lalu digelar ajang balap ketahanan Nurburgring 24 Hour di Jerman. Berbagai kelas balap turing disatukan dalam satu rangkaian seri...

Supercar BAC Mono Bakal Dijual TDA Luxury Toys, Harga Hampir Rp 3 Miliar

JAKARTA, Carvaganza -- Pandemi COVID-19 boleh jadi masih mewabah di Tanah Air. Namun industri otomotif terus bergerak. Seperti halnya TDA Luxury Toys yang akan...

Eksklusif dengan Atap Terbuka, MINI Cabrio Sidewalk Edition Meluncur

JAKARTA, Carvaganza.com – Tidak bosannya MINI Indonesia merilis rangkaian model edisi terbatas sepanjang tahun ini. Di penghujung bulan September 2020, MINI kembali merilis model...