Beranda EDITOR'S PICKS EDITOR’S NOTE: Jakarta Bisa Jadi Tuan Rumah Formula E, Tapi…

EDITOR’S NOTE: Jakarta Bisa Jadi Tuan Rumah Formula E, Tapi…

Formula E di Hong Kong. Foto: gpdestinations.com

JAKARTA, 15 Agustus 2019 – Jakarta bakal jadi tuan rumah Formula E tahun 2021 dan tahun penyelenggaraan ini sepertinya direvisi dari yang awalnya digembar-gemborkan tahun 2020 alias tahun depan. Bahkan Pemprov DKI Jakarta sudah mengajukan penambahan anggaran sebesar Rp 934 milyar.

Mengutip web www.kompas.com, Pemprov DKI sudah mengajukan anggaran untuk pelaksanaan Formula E sekitar 1,6 trilyun. Rinciannya Pemprov DKI Jakarta memasukkan biaya atau commitment fee untuk penyelenggaraan Formula E dalam Kebijakan Umum Perubahan Anggaran Plafon Prioritas Anggaran Sementara (KUPA-PPAS) untuk rancangan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah Perubahan (APBD-P) 2019.

Anggaran yang disetujui sebesar Rp 360 miliar atau 20,79 juta poundsterling. Dalam pengajuan sebelumnya, Pemprov DKI mengajukan dana sebesar Rp 345,9 miliar dengan menggunakan kurs dollar AS, yaitu 24,1 juta dollar atau 20 juta poundsterling. Lantas masuk permintaan penambahan anggaran sebesar Rp 934 milyar sehingga total biayanya pada kisaran Rp 1,3 trilyun.

EDITOR’S NOTE: Balapan Formula E di Jakarta, Antara Harapan dan Kenyataan

 

Carvaganza sendiri pernah menulis cukup panjang tentang penyelenggaraan Formula E ini dalam dua tulisan feature, termasuk menyinggung persoalan biaya menggelar balapan mobil single seater.

Kami juga menyinggung keterkaitan balapan ini dengan program pengembangan mobil listrik di Indonesia.  Strategi ini akan sungguh cantik jika terintegrasi dengan baik.

Masalah penyelenggaraan balapan Formula E ini bukan terletak pada lokasi dan fasilitas apalagi faktor safety. Balapan bisa diselenggarakan di tengah gurun dan di tanah berbukit dengan membangun sirkuit yang memenuhi standar safety balapan. Coba kita tengok kota Hanoi di Vietnam, Baku di Azerbaijan yang jadi tuan rumah balapan Formula 1. Kita tengok pula Hong Kong yang jadi tuan rumah Formula E.

Kalau Jakarta bagaimana? Bisa dan aman, yang terpenting ada dananya untuk membuat street circuit (sirkuit jalan raya) yang tentunya memenuhi standar FIA serta penyelenggara. Untuk persoalan ekonomi, pasti ada efek positif dari penyelenggaraannya, dan Pemprov DKI Jakarta tentunya memiliki experience untuk mengalkulasi hal itu.

Santiago E Prix, Chili.

Bagaimana dengan kemacetan yang diderita oleh penduduk Jakarta jika balapan Formula E dilaksanakan? Persoalan ini dapat dipecahkan jika semua pihak duduk bersama sehingga bisa menghasilkan solusi-solusi lalu lintas yang tepat sehingga kemacetan panjang dan parah bisa dihindari.

Yang menjadi concern Carvaganza justru adalah, apakah balapan ini akan bisa diselenggarakan secara kontinyu? Jangan hanya satu kali event, lantas pada tahun berikutnya tidak diselenggarakan. Buang-buang duit namanya dan mau dikemanakan fasilitas yang sudah dibangun berikut part-part pendukungnya seperti pagar pembatas, kursi grandstand dan lain-lain. Apa jadi besi tua?

Kalau penyelenggaraan bisanya hanya semusim atau dua musim, lebih baik urungkan saja niat itu. Jadi duitnya bisa dialokasikan ke bidang lain untuk menyejahterakan rakyat Jakarta atau untuk pembenahan lainnya.

EKA ZULKARNAIN

Video Terbaru Youtube Carvaganza