Beranda EDITOR'S PICKS Jokowi Singgung Soal B20 sampai B100 Dalam Debat Capres, Apa Sih?

Jokowi Singgung Soal B20 sampai B100 Dalam Debat Capres, Apa Sih?

Foto: www.bpdp.id

JAKARTA, 18 Februari 2019 – Presiden Joko Widodo yang juga Cawapres Pilpres 2019 menyinggung soal teknologi B20 sampai B100 saat debat dengan Prabowo Subianto, Minggu (17/2/2019) kemarin. Pernyataan ini menyita perhatian masyarakat dan juga kalangan otomotif di Indonesia. Mungkin ada yang bertanya-tanya apa sih B20, B30 sampai B100 itu?

Untuk mengetahui itu semua, Carvaganza mewawancarai Roy Daroyni, seorang car enthusiast, engineer, pernah menjadi kolumnis teknik untuk majalah F1 Racing selama 10 tahun lebih dan sekarang menjadi Country Director KBR Technology.

Menurutnya, istilah B20 adalah minyak solar yang merupakan hasil percampuran dari bahan nabati (bio) sebanyak 20 persen dan sisanya 80 persen adalah dari diesel-oil dari minyak fosil atau orang sering menyebutnya sebagai minyak solar biasa atau kita menyebutnya petro-diesel.

“Antara petro-diesel dengan bio-diesel memang ada sedikit perbedaan spesifikasi. Bio-diesel memiliki efek sedikit buruk terhadap mesin, powernya sedikit lebih rendah dibandingkan petro-diesel. Tapi cetane number-nya lebih besar. Jadi kalau cetane number-nya lebih besar, secara power hampir sama jadi karena dengan cetane yang lebih besar kompresinya bisa dimundurkan untuk mendapatkan power yang lebih besar, untuk mengompensasi nilai kalornya yang lebih rendah sedikit,” ujarnya kepada Carvaganza, Senin (18/2/2019).

Roy Daroyni, Country Director KBR Technology

“Jadi dari sisi performa sebetulnya tidak ada masalah. Nah yang sedikit menjadi concern sejumlah ahli kimia adalah bio-diesel itu akan merusak karet-karet yang terdapat di dalam komponen engine. Misalnya karet di selang bahan bakar maupun seal-seal di dalam mesin. Namun biar bagaimana pun sebetulnya pabrikan mobil sejak tahun 2002 sudah mengantisipasi hal tersebut,” imbuhnya.

Menurutnya, pabrikan mobil bahkan sudah mengantisipasi B10 pada mobil-mobil keluaran tahun 2010 ke atas dengan menggunakan karet-karet sintetis yang tahan terhadap keausan, tidak memakai karet alam lagi.

Nah, yang menjadi permasalahan adalah untuk mobil di bawah tahun 2010 atau mungkin yang di bawah 2002 akan terjadi masalah dengan karet-karet di dalam komponen mesinnya. “Satu concern lagi adalah baik yang bio-diesel dan bio-ethanol keduanya bersifat hiygroscopic (mudah menyerap air) sehingga jika bio-diesel disimpan di tempat yang terbuka, tidak ditutup rapat tangkinya atau tidak sesuai dengan standar penyimpanan, ia akan menyerap uap air yang ada di udara. Sehingga air jika sudah bercampur ke dalam bahan bakar akan membuat korosi, jadi tangkinya bisa korosi,” ujar pria lulusan ITB tersebut.

Ia mengatakan memang  kemungkinan kecil bio-diesel di dalam mesin menyerap uap air dari luar karena sudah tertutup rapat, terkecuali jika bahan bakar bio-diesel yang dimasukkan ke dalam tangki bahan bakar mobil dari tempat penyimpanan seperti SPBU sudah bercampur dengan air. “Untuk itu pemerintah atau pun pemasok bio-diesel harus juga memperhatikan tangki penyimpanannya dan harus ada regulasi yang tepat agar proses penyimpanannya di tangki sesuai standar.”

Foto: www.detik.com

Ia mengatakan untuk meningkatkan kadar bio-diesel itu menjadi B30 sampai seterusnya harus juga harmonis dengan kondisi serta ada regulasi yang menunjang. “Kalau tak ada akan menjadi problem dan menjadi tugas para pakar untuk mengingatkan pemerintah serta dibuatkan undang-undang yang relevan.”

“B20 itu menjadi patokan di mana bio-diesel itu tidak akan memunculkan efek negatif kepada mesin yang menerima pasokan bahan bakar tersebut. Kalau spesifikasinya di atas 20 maka akan memunculkan efek. Saya yakin di negara lain pada saat mereka menaikkan kandungan bio pada solar diikuti dengan aturan-aturan baru yang relevan. Jadi tidak asal main jalankan saja. Jangan sampai riset B30 belum selesai, mau lompat ke lebih jauh lagi. ”

Menurutnya, harus diingat bahwa biaya memproduksi bio-diesel itu lebih mahal, mesin mobil yang kompatibel dengan B20 dan seterusnya juga diproduksi dengan biaya lebih mahal. “Jika harga bio-diesel disubsidi maka margin Pertamina akan tergerus terus, sedangkan di sisi lain Pertamina harus memberikan harga yang terjangkau untuk masyarakat,” ujarnya seraya menutup pembicaraan dengan Carvaganza.

EKA ZULKARNAIN



Last Updates

Suzuki Siap Ekspor New Carry Pick Up ke 100 Negara, Target 12 Ribu Unit

JAKARTA, 27 Mei 2019 -- PT Suzuki Indomobil Sales (SIS) berencana dalam waktu dekat akan memulai ekspor perdana untuk New...

IMX2019 Siap Bawa Modifikasi Indonesia ke Tingkat Dunia

JAKARTA, 26 mei 2019 – Pameran khusus modifikasi Indonesia Modification Expo (IMX) 2019 akan kembali digelar National Modificator & Aftermarket...

Ini 7 Layanan Auto2000 Selama Mudik Lebaran

JAKARTA, 26 Mei 2019 – Tak terasa Hari Raya Idul Fitri 1440 H tinggal 10 hari lagi. Mudik Lebaran menjadi agenda...

Toyota Kijang, Mobil Bekas Paling Diburu Jelang Lebaran

JAKARTA, 25 Mei 2019 – Bulan suci Ramadhan dan jelang lebaran mendongkrak jual beli mobil bekas. Selain pencarian, supply mobil...

Peugeot Unjuk Gigi di Turnamen Tenis Roland Garros

PARIS, 25 Mei 2019 – Turnamen tenis Prancis Terbuka atau juga dikenal dengan Roland Garros kembali digelar selama 2 pekan...