EDITOR'S NOTE: Toyota C-HR Hybrid Keluar, Aturan Belum Juga Berubah

JAKARTA, 25 April 2019 -- Kehadiran Toyota C-HR Hybrid menambah jumlah model mobil hybrid yang beredar di Indonesia. Keberanian PT Toyota Astra Motor (TAM) memasarkan model ini patut diacungi jempol. Pasalnya, harga yang dibanderolkan pada mobil Hybrid ini cukup mahal dibandingkan dengan versi mesin konvensionalnya. Padahal sebagai mobil 'ramah lingkungan', mobil hybrid semestinya mendapatkan insentif sehingga harganya lebih murah. Trend seperti ini sudah terjadi di Eropa, bahkan di Singapura dan Thailand.
Di Indonesia sendiri, insentif untuk mobil ramah lingkungan belum ada. Rancangan undang-undangnya sudah ada, namun belum diketuk palu. Padahal dulu sempat tersiar kabar bakal keluar Mei 2018, tapi -- entah kenapa -- sampai sekarang muncul juga.
Terlepas dari adanya UU atau tidak, faktanya mobil hybrid memang memiliki banderol harga yang lebih mahal dibandingkan mesin konvensional. Perbedaan harga Toyota C-HR Hybrid dengan versi mesin konvensional adalah Rp 30 juta, di mana versi hybrid dijual seharga Rp 523.350.000. Sedangkan untuk tipe Camry Hybrid terbaru memiliki selisih harga Rp 160-an juta dengan tipe Camry 2.5 V bermesin konvensional.

Lantas kenapa jika jumlah penjualannya terbatas dan harganya lebih mahal mobil hybrid tetap dipasarkan di Indonesia? Pertama, mobil ini bukannya tidak laku melainkan tetap terjual namun memang jumlahnya lebih kecil dibandingkan mesin konvensional karena faktor harganya yang lebih mahal. Seandainya pengenaan pajak yang lebih murah diberlakukan sebagai insentif kepada mobil hybrid sebagai mobil yang ramah lingkungan, mungkin saja populasinya akan besar. Tengok saja Malaysia, Singapura, Thailand, Amerika Serikat dan negara-negara Eropa lainnya.
Kedua, pabrikan membutuhkan showcase teknologi sehingga konsumen bisa mengikuti perkembangan teknologi yang dibangun oleh pabrikan. Banyak orang-orang berduit di Indonesia yang sangat perduli terhadap lingkungan dan mereka mau mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk membeli mobil hybrid. Mereka membeli Toyota Camry Hybrid, Prius, Alphard Hybrid, Tesla, Lexus hybrid dan lain-lain.

Ketiga adalah demi kepuasan konsumen. Toyota telah menghadirkan mobil hybrid di Indonesia sejak lama melalui Toyota Prius generasi pertama tahun 2009. Setelah itu menyusul masuk Camry Hybrid, Lexus Hybrid, Alphard Hybrid dan yang terbaru adalah Toyota C-HR Hybrid. Tentu saja, Toyota harus melanjutkan program hybrid dan mendorong pasar kendaraan elektrifikasi di pasar dalam negeri. Ujung-ujungnya adalah untuk merawat konsumen Hybrid di dalam negeri dan sebagai bukti komitmen Toyota terhadap mesin hybrid dan konsumennya.
Toyota C-HR Hybrid yang baru dipasarkan ini menggunakan mesin 2ZR-FXE 1.798 cc yang dipadu dengan Hybrid Synergy Drive yang menghasilkan tenaga 100 ps (98 hp) untuk mesin konvensional dan 36 ps (34 hp) untuk motor listriknya. Dikombinasikan dengan transmisi CVT.
Toyota Camry Hybrid
Dibandingkan versi mesin konvensional, tenaga versi hybrid terpaut jauh dibandingkan mesin konvensional yang bertenaga 140 hp dan torsi 170 Nm. Perbedaan lainnya adalah terletak pada desain velg alloy di mana versi hybrid terlihat lebih sporty dengan ukuran sama yaitu R17 215/60. Lampu depan versi hybrid juga sudah LED, sedangkan versi lama belum.
Pada saat ini di Indonesia terdapat 10 model mobil hybrid yaitu Toyota New Alphard 2.5 Hybrid, Honda C-RZ, Toyota Camry Hybrid, Nissan X-Trail Hybrid, Lexus ES300h, Ferrari La Ferrari, BMW i8, McLaren P1, Lexus LS 600hL dan Porsche 918 Spyder. Pasar hybrid di dunia lama kelamaan akan terus tumbuh dan berkembang. Permintaan juga akan semakin besar.
Nah, untuk menanggapi kebutuhan pasar, pemerintah sebaiknya harus segera merilis peraturan tentang mobil hybrid dan listrik yang baru untuk mengikuti trend industri otomotif di dunia di mana pemerintah memberikan insentif kepada mobil-mobil yang ramah lingkungan dengan emisi karbon yang rendah.
EKA ZULKARNAIN
Di Indonesia sendiri, insentif untuk mobil ramah lingkungan belum ada. Rancangan undang-undangnya sudah ada, namun belum diketuk palu. Padahal dulu sempat tersiar kabar bakal keluar Mei 2018, tapi -- entah kenapa -- sampai sekarang muncul juga.
Terlepas dari adanya UU atau tidak, faktanya mobil hybrid memang memiliki banderol harga yang lebih mahal dibandingkan mesin konvensional. Perbedaan harga Toyota C-HR Hybrid dengan versi mesin konvensional adalah Rp 30 juta, di mana versi hybrid dijual seharga Rp 523.350.000. Sedangkan untuk tipe Camry Hybrid terbaru memiliki selisih harga Rp 160-an juta dengan tipe Camry 2.5 V bermesin konvensional.

Lantas kenapa jika jumlah penjualannya terbatas dan harganya lebih mahal mobil hybrid tetap dipasarkan di Indonesia? Pertama, mobil ini bukannya tidak laku melainkan tetap terjual namun memang jumlahnya lebih kecil dibandingkan mesin konvensional karena faktor harganya yang lebih mahal. Seandainya pengenaan pajak yang lebih murah diberlakukan sebagai insentif kepada mobil hybrid sebagai mobil yang ramah lingkungan, mungkin saja populasinya akan besar. Tengok saja Malaysia, Singapura, Thailand, Amerika Serikat dan negara-negara Eropa lainnya.
Kedua, pabrikan membutuhkan showcase teknologi sehingga konsumen bisa mengikuti perkembangan teknologi yang dibangun oleh pabrikan. Banyak orang-orang berduit di Indonesia yang sangat perduli terhadap lingkungan dan mereka mau mengeluarkan biaya yang lebih besar untuk membeli mobil hybrid. Mereka membeli Toyota Camry Hybrid, Prius, Alphard Hybrid, Tesla, Lexus hybrid dan lain-lain.

Ketiga adalah demi kepuasan konsumen. Toyota telah menghadirkan mobil hybrid di Indonesia sejak lama melalui Toyota Prius generasi pertama tahun 2009. Setelah itu menyusul masuk Camry Hybrid, Lexus Hybrid, Alphard Hybrid dan yang terbaru adalah Toyota C-HR Hybrid. Tentu saja, Toyota harus melanjutkan program hybrid dan mendorong pasar kendaraan elektrifikasi di pasar dalam negeri. Ujung-ujungnya adalah untuk merawat konsumen Hybrid di dalam negeri dan sebagai bukti komitmen Toyota terhadap mesin hybrid dan konsumennya.
Toyota C-HR Hybrid yang baru dipasarkan ini menggunakan mesin 2ZR-FXE 1.798 cc yang dipadu dengan Hybrid Synergy Drive yang menghasilkan tenaga 100 ps (98 hp) untuk mesin konvensional dan 36 ps (34 hp) untuk motor listriknya. Dikombinasikan dengan transmisi CVT.

Dibandingkan versi mesin konvensional, tenaga versi hybrid terpaut jauh dibandingkan mesin konvensional yang bertenaga 140 hp dan torsi 170 Nm. Perbedaan lainnya adalah terletak pada desain velg alloy di mana versi hybrid terlihat lebih sporty dengan ukuran sama yaitu R17 215/60. Lampu depan versi hybrid juga sudah LED, sedangkan versi lama belum.
Pada saat ini di Indonesia terdapat 10 model mobil hybrid yaitu Toyota New Alphard 2.5 Hybrid, Honda C-RZ, Toyota Camry Hybrid, Nissan X-Trail Hybrid, Lexus ES300h, Ferrari La Ferrari, BMW i8, McLaren P1, Lexus LS 600hL dan Porsche 918 Spyder. Pasar hybrid di dunia lama kelamaan akan terus tumbuh dan berkembang. Permintaan juga akan semakin besar.
Nah, untuk menanggapi kebutuhan pasar, pemerintah sebaiknya harus segera merilis peraturan tentang mobil hybrid dan listrik yang baru untuk mengikuti trend industri otomotif di dunia di mana pemerintah memberikan insentif kepada mobil-mobil yang ramah lingkungan dengan emisi karbon yang rendah.
EKA ZULKARNAIN
Featured Articles
- Latest
- Popular
Mobil Pilihan
- Latest
- Upcoming
- Popular
Updates
New cars
Drives
Review
Video
Hot Topics
Interview
Modification
Features
Community
Gear Up
Artikel Mobil dari Oto
- Berita
- Artikel Feature
- Advisory Stories
- Road Test
Artikel Mobil dari Zigwheels
- Motovaganza
- Tips
- Review
- Artikel Feature