Otomotif Terimbas COVID-19, Kemenperin dan Gaikindo Berharap Tidak Ada PHK

JAKARTA, Carvaganza.com – Sektor otomotif menjadi salah satu yang terdampak besar akibat wabah COVID-19 di Tanah Air. Sebagian sudah mengambil langkah menghentikan sementara produksinya karena turunnya permintaan atau terbatasnya pasokan. Namun di balik itu, efek yang terjadi justru lebih besar berantai. Karena tak hanya pabrikan tapi juga berimbas pada sektor lainnya seperti komponen, pemasok, dan juga tenaga kerja. Saat ini beberapa pabrikan sudah secara resmi menyatakan berhenti produksi sementara. Toyota Motor Manufacturing Indonesia (Toyota), Astra Daihatsu Motor (Daihatsu), Honda Prosepect Motor (Honda), dan Suzuki Indomobil Sales (Suzuki). Akibatnya, sebagian karyawan harus bekerja dari rumah. Mereka menyatakan tetap akan membayar secara penuh gaji karyawan. Kondisi ini mendapat perhatian dari Kementerian Perindustrian dan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo). Kemenperin mendorong pelaku industri otomotif agar tetap memenuhi hak-hak pekerjanya yang sementara waktu dirumahkan akibat beberapa pabrik melakukan penghentian sementara atau menurunkan produksinya. “Kami mengimbau kepada pelaku industri otomotif tersebut dapat memastikan bahwa hak-hak pekerjanya bisa terpenuhi, seperti Tunjangan Hari Raya (THR) yang diharapkan dapat dibayar tepat waktu,” jelas Menteri Perindustrian, Agus Gumiwang Kartasasmita dalam keterangannya di Jakarta, Jumat (10/4/2020). Kemenperin, kata Agus, dan Gaikindo akan terus berkoordinasi untuk dapat mencegah terjadinya Pemutusan Hubungan Kerja (PHK) di sektor industri otomotif. “Kami bersama Gaikindo akan berupaya semaksimal mungkin untuk berupaya membantu industri otomotif dalam jangka pendek ini untuk mencegah terjadinya PHK,” ungkapnya. Baca juga: Dampak COVID-19 Meluas, Toyota dan Daihatsu Stop Sementara Produksi

Langkah Pemerintah

Kemenperin menyampaikan komitmennya mencegah potensi dampak buruk yang ditimbulkan oleh Covid-19 terhadap industri otomotif sehingga nantinya sektor ini dapat bertahan dan kembali berkontribusi terhadap sektor ekonomi dan perindustrian nasional. Dalam Peraturan Pemerintah Pengganti Undang-Undang (Perppu) Nomor 1 Tahun 2020, terdapat tambahan penanganan Covid-19 sebesar Rp 405,1 Triliun. Meski dari jumlah tersebut, hanya Rp 150 triliun yang akan digunakan untuk membantu pemulihan sektor industri termasuk industri otomotif. “Perppu ini akan sangat membantu sektor industri, termasuk industri otomotif sehingga mereka dapat melakukan recovery dengan cepat menuju kondisi yang normal,” tambahnya. Kemenperin juga sudah mengusulkan berbagai stimulus tambahan untuk menggairahkan usaha sektor industri, termasuk industri otomotif. Agus berharap pelaku industri memberikan masukan mengenai stimulus yang diperlukan sehingga dapat bermanfaat dan membantu sektor industri, termasuk industri otomotif supaya bisa bertahan dan berproduksi di tengah pendemi COVID-19. Baca juga: Suzuki New Ignis, Ini Detail Ubahan dan Harganya

Tetap Beroperasi

Mengenai kebijakan Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB), Kemenperin memastikan bahwa industri dapat tetap beroperasi. “Kemenperin pada prinsipnya selalu memberikan perhatian terhadap sektor industri dalam kondisi apapun. Kami sudah keluarkan surat edaran ke industri, agar dapat tetap beroperasi dengan tetap menjalankan protokol pencegahan Covid-19,” ungkapnya. Sementara Ketua Umum Gaikindo Yohannes Nangoi mengapresiasi perhatian pemerintah terhadap industri otomotif, yang saat ini sangat terdampak wabah Covid-19. “Kami berharap perhatian dan bantuan-bantuan lainnya dapat mendorong sektor industri agar dapat segera bangkit dan menjadi pemain utama serta tuan rumah di negeri sendiri,” jelasnya. Sebagian pemain masih melakukan kegiatannya dengan normal. Misalnya Toyota yang memperkenalkan New Agya, Daihatsu (Ayla dan Sirion), MG (ZS), Mazda (CX-9 AWD dan CX-3) atau yang terbaru Suzuki (New Ignis). Meski demikian, Gaikindo sendiri merivisi target penjualan sektor otomotif tahun ini. Dari sebelumnya di angka 1,1 juta, Gaikindo memperkirakan otomotif akan turun sekitar 40 persen. Dengan demikian penjualan otomotif diperkirakan hanya 600-an ribu unit di 2020 ini. RAJU FEBRIAN

Artikel yang direkomendasikan untuk anda