Beranda Drives TEST DRIVE: Toyota Corolla Cross, Seberapa Mumpuni dan Irit Saat Diajak Bertualang?...

TEST DRIVE: Toyota Corolla Cross, Seberapa Mumpuni dan Irit Saat Diajak Bertualang? (Bagian 2)

JAKARTA, Carvaganza.com – Setelah puas menikmati kabinnya yang mewah dan apik, sekarang giliran mencoba menjawab pertanyaan judul di atas. Seperti saya tegaskan, kami ingin membawa mobil Hybrid ini ke dalam kolam yang sama yang sudah dijelajahi SUV/crossover mesin konvensional bertahun-tahun. Seberapa mumpuni performanya?

Masuk ke dalam kabin cukup pegang handle pintu, selama kunci di kantung kunci pun terbuka. Cari posisi berkendara yang ideal tidak susah. Karena kemudinya sudah tilt steering dan jok pengemudi dibekali pengaturan elektris. Menyalakan mesin pun cukup pencet tombol.

Pada saat dinyalakan, sulit membedakan  apakah mobil sudah benar-benar dalam kondisi siap jalan atau belum. Ternyata saat mesin dihidupkan, justru mesin bensin tak menyala. Mobil melaju dalam mode full electric.

Baca juga: TEST DRIVE: Toyota Corolla Cross, Seberapa Mumpuni dan Irit Saat Diajak Bertualang? (Bagian 1)

Sensasi berkendara mobil listrik yang hening tanpa suara dan getaran, bisa dirasakan sepenuhnya. Bahkan Toyota sampai membunyikan suara artificial ke bagian luar kendaraan demi alasan safety. Tujuannya memberi tahu orang di sekitar, kalau ada mobil yang melintas. Ya karena saking heningnya itu.

Jadi sebetulnya, tak perlu naik mobil Full Electric Vehicle untuk bisa merasakan sensasi berkendara mobil listrik. Buktinya, Toyota Corolla Cross Hybrid ini pun juga bisa. Mesin konvensionalnya  baru menyala saat energi baterainya sedikit. Mesin hidup sebagai generator untuk mengisi ulang baterainya atau saat mobil membutuhkan bantuan tenaga mesin untuk menggerakkan roda.

Performa: Jalanan Berkelok Gunung Batu
Kami sengaja mengajak Corolla Cross Hybrid ini ke destinasi yang bukan jalanan perkotaan yang mulus dan datar. Tujuannya sekaligus menilai, seberapa hebat performanya, seberapa irit efisiensi bahan bakarnya dan seberapa diandalkannya mobil ini diajak melewati kondisi jalanan yang beragam. Apalagi di masa depan, kemampuan mobil hybrid dan listrik mesti bisa menggantikan peran mobil mesin konvensional sebagai alat mobilitas. Corolla Cross harus bermain di kolam yang sama dengan yang dirasakan SUV/crossover mesin konvensional.

Baca juga: Intip Perbedaan dan Persamaan Toyota Corolla Cross dan C-HR

Baca juga: Toyota Corolla Cross, spesifikasi, model review dan harga

Menariknya nih, sewaktu mesin bensin bangun dari tidurnya, kami yang ada di kabin hampir tidak merasakan perbedaannya. Suara mesin hanya sayup-sayup menyusup ke dalam kabin. Getaran pun minim khas mobil mewah seharga hampir setengah milyar. Tapi waktu saya pindah ke mode berkendara POWER dan injak pedal gas lebih dalam, pertanyaan saya pun terjawab.

Seolah kepribadian lain dari mobil ini yang tenggelam dibalik persona mobil listrik, berontak. Raungan mesin menelisik ke dalam kabin dan membangkitkan emosi saya untuk mengajaknya menari mengikuti irama jalanan berliku yang sangat sayang untuk dilewati dengan tenang. Lengkingan mesin meninggi seiring semakin dalam pedal gas dipijak, membuat saya lupa sejenak bahwa saya sedang mengemudikan electrified vehicle.

Apalagi karakter penyaluran tenaga mesin bensin yang gradual terasa sangat natural. Intuisi berkendara alamiah yang begitu akrab seperti saat sedang mengendarai mobil umumnya, kembali hadir. Sensasi ini tak akan pernah ditemui kala mengendarai mobil listrik sepenuhnya.

Kesenangan mengemudi ini disuplai mesin 1.8 liter naturally aspirated yang bertenaga 96 hp (98 PS) dengan torsi puncak 142 Nm. Ditambah dorongan tenaga  70 hp (72 PS) dan torsi 162 Nm dari motor listrik. Rute pegunungan yang menantang, bak arena bermain yang ideal bagi Toyota Corolla Cross Hybrid.

Baca juga: TEST DRIVE Mercedes-Benz C180 (W205), Seberapa ‘Mercedes’? (Bag. 1)

Baca juga: TEST DRIVE Mercedes-Benz C180 (W205), Seberapa ‘Mercedes’? (Bag. 2)

Stabilitas berkendara mobil ini sangat memenuhi ekspektasi. Struktur rangka TNGA dengan low center of gravity menjamin kelincahannya saat dipacu di tikungan. Ditambah bidang pandang yang sangat luas. Pillar-A ramping dan diletakkan pas. Tak merusak pemandangan di tikungan tajam sekalipun.

Pergerakan mobil yang minim body roll, sukses bikin pergerakan kemudinya terasa begitu intuitif. Mungkin dibantu juga dengan fitur kontrol stabilitas. Memang tak bisa dibilang sempurna. Bobot kemudinya terlalu ringan menurut saya dan feedback dari roda ke setir tak begitu dapat dirasakan. Sedikit mengurangi kesenangan mengemudi. Tapi saya sadar, ini SUV.

Konsekuensi paling signifikan harus diterima penumpang di kursi belakang. Peredaman suspensinya terasa agak sedikit keras. Saya jadi terbayang, bagaimana jadinya kalau suspensi belakang Toyota Corolla Cross memakai double wishbone seperti yang dipakai oleh Toyota Camry, Corolla sedan ataupun C-HR. Mungkin bisa sedikit lebih meredam bantingannya, tanpa mengurangi karakter sport mobil ini.

Konsumsi BBM
Akhirnya, perjalanan singkat ini berhasil menjawab pertanyaan saya. Sekaligus menasbihkan Toyota Corolla Cross Hybrid sebagai SUV yang bisa dipakai berkelana ke melintasi jalan khas pegunungan di daerah pedesaan tanpa kendala. Tanpa perlu repot kehabisan energi baterai, karena masih mengonsumsi bensin sebagai sumber energi utamanya.

Lalu berapa konsumsi BBMnya? Jangan kaget, konsumsi BBM kombinasi dalam kota dan tol terbaik yang bisa kami catatkan sejauh kurang lebih 100 km, 22,6 km per liter. Anda tahu, berapa konsumsi BBM saat menuruni bukit sejauh kurang lebih 20 km, 66,9 km/liter.  Percaya atau tidak, saat menuruni bukit hampir 90% perjalanan, mesin bensin tidak hidup. Energi baterai terus terisi secara regeneratif.

Baca juga: VIDEO Komparasi Sedan Mercedes Termurah: C180 vs A200

Jangan lupa, pindahkan tuas transmisi ke posisi B di turunan tajam. Tujuannya selain berfungsi mengisi daya baterai lebih optimal, juga sebagai penghambat laju, semacam engine brake di mobil bermesin pembakaran konvensional.

KESIMPULAN
Singkatnya, Toyota tidak bohong waktu mereka memilih Two Sides of The Finest sebagai slogan untuk mobil ini. Anda bisa merasakan sensasi mengendari mobil listrik sepenuhnya, tapi di sisi lain, mampu membangkitkan kesenangan mengemudi saat mesin bensin hidup. (Tamat)

RIZKI SATRIA | FOTO: EDI WEENTE

Video Terbaru Youtube Carvaganza

Video Terbaru Youtube The Official Oto

Last Updates

Lima Crossover Yang Bisa Dijadikan Alternatif Selain Honda HR-V

JAKARTA, carvaganza.com – Pasar SUV/crossover kompak memang sedang digandrungi. Tingginya permintaan membuat pabrikan membanjiri pasar. Pertarungan di segmen ini pun semakin memanas. Di pasar...

Pilih Renault Triber atau Suzuki Ignis? Ini Masing-Masing Kelebihannya

JAKARTA, carvaganza.com – Untuk punya mobil SUV bergaya tangguh memang cukup merogoh kocek. Tapi kami memilihkan, ada dua mobil kompak bergaya ala SUV. Memang...

Enggak Kapok-Kapok Pabrikan Cina Jiplak Chevrolet Corvette, Mesinnya PHEV

BEIJING, carvaganza.com – Chevrolet Corvette C1 tahun 1958 adalah salah satu mobil yang paling diburu kolektor. Mobil klasik favorit yang memiliki desain yang tak...

DFSK Klaim 3 Keunggulan Super Cab, Benarkah?

JAKARTA, Carvaganza -- Di tengah pandemi COVID-19, permintaan kendaraan komersial ternyata tetap tinggi. PT Sokonindo Automobile, sebagai pemegang merek DFSK di Indonesia mengandalkan DFSK...

Covid-19 Berlanjut, Toyota Kembali Donasikan Kijang Innova Ambulans

BEKASI, Carvaganza -- Pandemi COVID-19, belum juga menunjukkan tanda-tanda mereda. Berbagai pihak terus melakukan upaya termasuk menyalurkan donasi guna membantu penanggulangan wabah corona. Setelah...