Beranda Drives TEST DRIVE: Mazda CX-30 Memang Beda!

TEST DRIVE: Mazda CX-30 Memang Beda!

JAKARTA, Carvaganza.com – Menyebut nama Mazda memang menarik. Mereka punya karakter dan gaya yang berbeda dengan brand lain asal Jepang. Apa bedanya? Pabrikan yang bermarkas di Fuchū, Aki, Hiroshima, Jepang ini, sibuk sekali ingin disandingkan dengan brand asal Eropa. Pengembangan desain dan teknologi Mazda memang berkiblat ke mobil buatan Benua Biru. Hasilnya memang tidak mengecewakan. Kualitas model Mazda sekarang boleh dibilang mendekati atau bahkan hampir menyamai mobil Eropa. Hebatnya mampu dijual dengan harga yang lebih murah. Contohnya Mazda CX-30.

Di Eropa, mobil ini disebut sebagai mobil ekonomis. Hanya saja masalahnya, di Indonesia harga Mazda CX-30 sama sekali tidak ekonomis. Varian termurah dijual Rp 478,8 juta. Sedangkan versi termahal dihargai Rp 518,8 juta. Artinya, Anda harus merogoh kocek lebih dari setengah miliar rupiah untuk memiliki crossover compact bikinan Jepang. Layakkah?

Oke, sebagai gambaran, crossover compact lain, Honda HR-V dijual mulai dari Rp 297 juta sampai Rp 415,7 juta. Memang membandingkan keduanya tak apple-to-apple lantaran kapasitas mesin berbeda dan berbagai alasan lain. Tapi kalau bicara value for money, hampir semua kebutuhan yang dicari konsumen pada Mazda CX-30, sedikit banyak masih bisa dipenuhi oleh compact crossover Honda itu. Misalnya, fitur cruise control, AC digital otomatis, paddle shift, jok kulit, kunci pintar, tombol start-stop, hingga 6 kantung udara untuk keselamatan. Bahkan HR-V punya panoramic sunroof. Sedangkan CX-30 cuma pakai sunroof tunggal di depan.

Lalu, apa yang membuat CX-30 tak pantas dimiliki? Jangan kebalik. Mobil ini boleh dibilang sempurna dan layak dimiliki. Saya menguji mobil ini selama dua hari (24-25 Februari) dari Jakarta ke Bandung. Melewati jalanan perkotaan yang macet, menikmati jalanan menanjak nan berliku, sulit buat saya menemukan satu saja dari diri mobil ini yang tak saya sukai.

Eksterior & Interior

Kita awali dari desain. Eksterior hatchback seksi, Mazda3, dipahat ulang agar terlihat lebih maskulin. Ornamen plastik berwarna hitam di bodi bagian bawah, penanda identitasnya sebagai SUV (Sport Utility Vehicle). Ada yang beranggapan cladding itu kebesaran, tapi buat saya pas-pas saja. Wajahnya terlihat jauh lebih modern dibanding Mazda CX-3, crossover compact Mazda lain. Siluet atap melandai a la coupe memberi kesan sporty. Pokoknya, Anda pun pasti setuju kalau saya bilang desainnya tidak jelek.

Idem dengan interior, tak ada celah untuk mencela. Dashboard tampil sederhana dan tertata rapi. Semua tombol diletakkan secara strategis. Sistem multimedia 8,8-inci dengan resolusi layar lebar persis milik BMW lengkap dengan iDrive controller. Spidometer digital berukuran 7-inci di balik kemudi menarik perhatian.

Ada pula Head-Up Display (HUD) yang memproyeksikan informasi berkendara dalam pandangan pengemudi. Semua ditampilkan. Posisi kursi pengemudi bisa disetel secara elektris. Jok dan beberapa bagian interior sudah dibalut kulit. Intinya, interior CX-30 dirancang agar enak dilihat, nyaman, dan paling penting, memudahkan pengemudinya saat berkendara.

Bicara soal kesempurnaan detail, tak perlu ragukan lagi kualitas Mazda. Percaya atau tidak, bahkan sprinkle yang menyemprotkan air ke kaca depan menyatu dengan bilah penyapu (wiper). Sampai segitunya, keren kan!

Performa, Kemudi dan Stabilitas Berkendara

Undangan menyebut jam 6.30 pagi saya sudah harus sampai Mazda Simprug. Sampai di sana, agak terlambat karena hujan lebat sempat mengguyur di perjalanan. Khawatir ditinggal, eh tak tahunya rombongan baru berangkat jam 10 Pagi. Menuju Bandung, sempat kami tertahan sejenak di padatnya lalu-lintas Jakarta. Dimensi kompak CX-30 terasa betul asyiknya. Rekan saya yang pertama duduk di depan kemudi tampak sigap memainkan kemudi menyelinap di kemacetan. Seolah seperti sedang membawa hatchback mungil saja, pikir saya.

Selepas jalan tol dalam kota, rombongan naik ke tol Jakarta-Cikampek elevated yang terkenal dengan kontur jalannya yang bumpy. Di sinilah kemampuan peredaman suspensi diuji. Benar saja, SUV berdimensi ringkas berkarakter sport ini mulai menunjukkan kalau bantingan suspensi bukanlah yang ternyaman. Untung ruang kaki dan kepala di kursi penumpang depan yang saya duduki cukup nyaman dan lega. Ditambah kekedapan kabin baik berpadu merdunya alunan lagu yang dilantunkan lewat 8 speaker Mazda Harmonic Acoustics. Benar-benar nyaman, walaupun tak sampai membuat saya tertidur.

Habis makan siang, saya akhirnya mendepat kesempatan menyetir. Cikampek menuju daerah Ranca Bali di Bandung melewati tol Cipularang lalu dilanjutkan tol baru Soroja. Di sini saya sempatkan menginjak pedal gas sampai dalam. Sempat juga beralih ke mode sport dan memainkan transmisi otomatis 6-speed lewat tuas transmisi dan paddle shift. Asik banget.

Oke, tadi kan sempat disebut kalau bantingan suspensinya bukan yang ternyaman. Ternyata ini berimbas positif pada stabilitas berkendara. Waktu saya lindas lubang-lubang kecil jalan tol Cipularang, kendali tak menjadi liar. Setir anteng di genggaman dan tak sulit mengoreksi arah laju kendaraan. Hilang rasa ragu untuk menjinakkan mesin 4-silinder, 2,0-liter bertenaga 155 PS pada 6.000 rpm dengan torsi puncak 200 Nm pada 4.000 rpm ini.

Sewaktu mode sport aktif, jarum penunjuk putaran mesin melonjak seketika dan respons mesin pun menjadi padat. Wah asyik nih! Geser sekalian tuas transmisi ke posisi Manual. Agak sedikit nakal, saya dahului Road Captain yang jalannya terus terang saja, terlalu lambat! Ternyata penyaluran tenaganya tak sampai menjambak tubuh ke belakang. Tapi daya tersaji cukup linear, maksudnya sesuai dengan yang dibutuhkan untuk mendahului kendaraan lebih lambat di depan.

Enaknya pakai mode manual ini mesin jadi lebih responsif, transmisi tak pindah sendiri. Jadi saya bisa menahan mesin di putaran tinggi saat ingin bermanuver tanpa harus sabar tunggu momentum. Intinya mobil ini dapat dipercaya melakukan apa yang kita inginkan.

Bagaimana dengan rasa kemudi? Memang benar filosofi ‘Jinba Ittai’ digadang-gadang Mazda selama ini. Kualitas berkendara Mazda yang menyatukan pengemudi dengan kendaraan, menjadi jiwa dari CX-30. Pergerakan kemudi begitu menurut dan bobotnya juga memberikan feedback yang diharapkan. Kesenangan mengemudi bikin saya lupa kalau rombongan ketinggalan jauh di belakang. Tahan laju, saya pun kembali masuk iring-iringan.

Selepas tol kami disambut jalan berkelok khas pegunungan. Di sini terasa betul G-Vectoring Control yang selalu aktif selama berkendara. Saat memasuki tikungan, mesin menurunkan torsi sedikit agar menambah cengkraman roda depan ke aspal. Sewaktu menikung, torsi kembali normal dan distribusi bobot kendaraan kembali pindah ke belakang meningkatkan stabilitas. Kalau Anda mencobanya sendiri, Anda pasti dapat merasakan pergeseran distribusi bobot itu. Keluar dari tikungan, tak perlu koreksi posisi setir berlebih untuk meluruskan moncongnya kembali. Kondisi ini terjadi berulang-ulang di jalan berkelok seperti ini.

Fitur Berkendara

Kesempurnaan berkendara pesaing Mitsubishi Eclipse Cross ini ditambah lagi sejumlah fitur bantuan. Misalnya radar cruise control. Sewaktu di tol sempat saya coba dan hasilnya mobil sanggup menjaga jarak mengikuti kendaraan di depan secara cekatan. Walau terus terang nih, terkadang agak kaget juga tiba-tiba mobil ngebut sendiri demi mengejar jarak yang sudah ditentukan dengan kendaraan di depan. Begitupun saat mengerem otomatis. Semestinya ada proses perlahan yang menambah kenyamanan penghuni kabin saat cruising di jalan tol.

Fitur keselamatan mobil inipun nomor wahid. Rem ABS, EBD dan BA, Dynamic Stability Control, Traction Control, Hill Start Assist dan rem parkir elektrik tersedia. Tak berhenti sampai disitu, mobil ini pun dilengkapi Lane Departure Warning dan Lane Keep Assist. Maksudnya kemudi bergetar dan dikoreksi secara otomatis saat mobil melindas garis pembatas jalur. Ingat! Kalau ingin berpindah jalur, harus menyalakan lampu sein terlebih dahulu. Lalu ada pula fitur rem otomatis yang mencegah tabrakan dengan kendaraan di depan (Smart Brake Support). Blind Spot Monitoring System dan Rear Cross Traffic Alert menambah kelengkapan CX-30.

Kesimpulan

Keesokan paginya, saya bangun di tenda, duduk menghadap danau sambil menyesap secangkir kopi dan menulis kesimpulan dari tulisan ini. Mazda CX-30 pantas disebut crossover compact dari Jepang yang nyaris sempurna. Apalagi konsumsi BBM sejauh 100 km tercatat 10,9 kpl. Tak begitu boros mengingat kapasitas mesin 2,0-liter tanpa turbo. Tapi ini di tol ya!

Memang harganya mahal. Tapi menurut saya tidak berlebihan untuk menebus semua yang saya sebutkan di tulisan ini. Toh Mazda tak muluk-muluk, hanya memasang target 300 sampai 400 unit mobil terjual sampai akhir 2020. Cuma sekian persen dari target penjualan total 7.000 unit. Populasinya yang tak banyak itu bakal jadi nilai eksklusivitas tersendiri. Walau secara value for money, banyak kendaraan sejenis yang menawarkan fungsi dan kepraktisan tak jauh berbeda dengan harga lebih murah.

Baca Juga: Road Test Mazda CX-30: Nyaris Sempurna!

RIZKI SATRIA

Video Terbaru Youtube Carvaganza

Video Terbaru Youtube The Official Oto