TEST DRIVE: MG HS, Fitur Oke dan Punya Cita Rasa Sport (Bagian 1)

JAKARTA, carvaganza - Kehadiran Morris Garage (MG) ke kancah pasar nasional memang sempat dipandang sebelah mata. Pasalnya, ada embel-embel sebagai mobil Tiongkok dan stigma bahwa mobil Cina dibenak konsumen Indonesia masih kurang baik. Padahal brand-brand Cina seperti Wuling dan DFSK sudah wara-wiri di sini dan secara build-quality banyak yang mengakui kelebihannya. Namun, untuk mengubah pandangan orang itu memang membutuhkan waktu yang tidak sebentar dan butuh pembuktian. Terkadang tak dipungkiri ekspektasi kita meremehkan, tapi fakta malah beyond dari harapan. Atau malah bisa sebaliknya. Begitulah keadaannya saat saya pertama melihat MG HS Ignite. Stigma mobil Cina langsung menggeliat di dalam benak lantaran desain dan kondisi sang merek sports car kenamaan Inggris saat ini. Baca juga: ROAD TEST: MINI JCW 3 Door 2020, Hot Hatch Tanpa Basa-Basi Untuk meluruskan, MG bukanlah sebuah merek Cina. Kondisinya mirip Volvo dan Jaguar Land Rover (JLR) yang kini dipegang pihak luar – masing-masing di bawah Geely dan Tata Motors. Dengan kepemilikannya kini di bawah SAIC Motor, model seperti HS malah cenderung memberikan impresi keluaran Tiongkok. Mungkin dari kemiripan fasad depan berikut caranya menegaskan keturunan Inggris. Kurang elegan seperti pemasangan badge “Brit Dynamic” di pintu bagasi. Atau mungkin pandangan saya saja. Jujur sebelum langsung mencoba terbersit pemikiran terkait kualitas moderat meski secara fitur mungkin berlimpah. Yang jelas, stigma itu perlahan terpatahkan ketika sudah lebih jauh berkenalan. Toh Anda tidak melihat Jaguar sebagai mobil India, tidak pula terjadi pada Volvo. Ingin mengenalnya lebih dalam, maka saya bawa MG HS pergi ke Selatan Bandung. Sekaligus juga untuk mendapatkan sensasi dinamika di tiga kondisi berbeda: perkotaan, tol, dan jalan pegunungan berkelok.

Desain tergolong oke

Desain MG HS tidaklah dapat dikatakan buruk rupa. Namun, image produsen asal Tiongkok yang doyan tiru sana-sini sedikit melekat di model medium crossover mereka. Tanpa perlu dijelaskan mungkin sudah paham ia mengikuti arahan desain pabrikan mana. Ya, Mazda, terutama rancangan grille di fasad depan dan warna baju Scarlet Red. Kebanyakan jelas lebih kenal Mazda. Bahkan saat saya bertemu mereka yang tergolong awam soal otomotif malah nyeletuk,”mirip Mazda ya.” Kendati begitu, lekuk tubuhnya tidak gambang meniru siapapun kalau melihat dari sisi lain. Melenggok orisinal dalam balutan kontur permukaan generik. Tidak berusaha untuk tampil menyolok lewat sederet guratan asing apalagi ornamen tubuh berlebihan – cenderung konservatif. Sebagaimana obat generik di dunia farmasi, ia tetap sanggup mengobati. Dalam arti tampil cukup ganteng lewat proporsi tubuh sedap dipandang. Sama sekali tidak canggung. Begitu diteliti lebih detail, satu nilai patut diapresiasi adalah kejujurannya. Ia tidak menyembunyikan identitas sebagai mobil ciptaan raksasa otomotif SAIC. Oke, emblem MG memang lebih dominan berupaya menjelaskan garis keturunan. Tapi saat melirik rumah lampu, melekat tulisan SAIC Light Technology. Di samping itu, elemen tubuh tidak berusaha untuk menipu: dua buangan knalpot di buritan bukan sebatas hiasan bumper. Baca juga: Canggih Mana, MG HS atau DFSK Glory i-Auto? Tak kalah membuatnya menarik adalah kelengkapan fitur dengan banderol relatif terjangkau. Harga mulai dari Rp 429 juta untuk trim Ignite tentu tidak serendah kebanyakan SUV asal Tiongkok. Namun tetap saja di bawah SUV yang sedimensi seperti Honda CR-V dan Mazda CX-5. Dari luar dapat dirasa komprehensif. Misal pemanfaatan pendar dioda sebagai lampu utama, DRL dan sein sequential terintegrasi, sampai ke lampu kombinasi belakang. Kemudahan akses Smart Entry juga dapat dinikmati, ditambah pula bukaan pintu bagasi elektrik. Tak lupa panoramic sunroof di atap menambah kesan premium.

Ada cita rasa mobil sport

Bicara soal asal muasal, dahulu kala MG merupakan produsen sports car ternama. Erat kaitannya dengan dunia performa. Beberapa model terkenal di antaranya ada MGA dan MGB dari era 1960 sampai 1980-an. Lalu, hatchback MG Metro dilibatkan sebagai wakil di kelas reli legendaris Grup B. Sayang masa jaya itu lambat laun berakhir dari belasan bahkan puluhan tahun lalu. Sempat bertahan di bawah Rover, BMW, hingga kini eksistensinya berada di bawah SAIC sebagai MG Motor. Meski HS merupakan produk yang berbeda 180 derajat dari asal muasal merek, cita rasa itu tidak ditinggalkan. Dari luar mungkin tidak ada suntikan DNA sports car, bergaya sebagaimana SUV pada umumnya. Tapi lain cerita dalam kabin. Ia menonjolkan nuansa sporty dari pemasangan jok depan semi-bucket seat. Seolah menginformasikan bahwa pabrikan tidak melupakan esensi sang leluhur. Juga pemanfaatan tombol Super Sports merah, mencuat bak Manettino Dial di setir Ferrari. Di bagian ini agak “jaka sembung bawa golok”, sebatas shortcut mode berkendara sport, tapi begitulah upaya mereka. Kualitas interior Ibarat kebagian doorprize tanpa disangka. Mungkin karena standar ekspektasi cukup rendah dihadapkan realita yang ternyata melebihi. Setiap sambungan panel, ornamen, dan pemasangan sakelar terasa kokoh. Tertanam paten di setiap dudukan dan mengadaptasikan permukaan empuk. Yep, peningkat rasa berkelas dijalani oleh panel soft touch dan pembungkus kulit sintetis di beberapa bagian. Meliputi permukaan dasbor, door trim, jok, sampai setir. Pemilihan warna pun tak kalah menggugah apalagi ditambah ambient lighting. Shade hitam dan merah gelap berada di titik elegan, tidak norak. Meski begitu, komposisinya saja sedikit berlebihan sebab gebyuran merah begitu mendominasi. Tergantung selera, memang. Terlepas dari seberapa menggugah dan sporty rancangan, MG HS tawarkan kelapangan ruang kabin. Sesuai dengan dimensi eksteriornya yang hanya terpaut satuan sentimeter dari Honda CR-V. Sebagai bahan perbandingan saja, dimensi HS dicatatkan sebesar 4.574 x 1.876 x 1.664 mm (PxLxT) sementara SUV monokok Honda sebesar 4.584 x 1.855 x 1.679 mm. Bedanya, HS hanya dapat ditumpangi maksimal 5 orang tanpa bangku baris ketiga. Ruang kepala berlimpah dan gerak badan luwes mau itu di depan atau belakang. Area penyimpanan barang kemudian didukung oleh kompartemen tertutup di konsol tengah. Bisa dipakai untuk menyimpan smartphone atau diubah sebagai cup holder. Ada juga boks berpendingin kalau diperlukan. Sama halnya di belakang, sandaran tangan menyimpan kotak penyimpanan dan dudukan gelas. Baca juga: ROAD TEST: Nissan Kicks e-Power, Sepraktis Apa Dipakai di Dalam Kota?

Fitur terbilang komplet

Lagi-lagi, urusan fitur tergolong lengkap untuk mobil sekelasnya. Dari printilan seperti sakelar jendela otomatis di keempat sisi, lampu dan wiper otomatis, bangku elektrik, hingga cruise control ia miliki. Lalu, sistem multimedia touchscreen di tengah mengintegrasikan berbagai pengaturan fitur kendaraan seperti sakelar untuk berbagai safety features, bikin dasbor minim kesibukan tombol. Lengkap pula disambangi konektivitas smartphone. Satu hal cukup mengganggu adalah pengoperasian AC otomatis. Menjadi satu bagian dalam kemampuan sistem infotainment. Harus memilih opsi kontrol AC lewat sakelar di center stack baru panel pengaturan mejeng di layar. Pun sistem multimedianya bukan yang paling responsif, perlu sedikit waktu untuk memproses komando. Oke, dari sini mungkin ekspektasi awal dapat mutlak ditepis. Murah di segmennya tidak berarti murahan. HS kerahkan kesan mewah dari pemasangan panel, material, sampai perbekalan fitur. Punya nilai lebih untuk harganya dan tidak sembarang dieksekusi. Dicipratkan pula nuansa sporty di kabin. Tapi apakah semua itu disokong kenikmatan berkendara? Menguji lebih lanjut, saya bahas segala hal terkait pemakaian dan performa berbagai kondisi di bagian berikutnya. AHMAD KARIM   | FOTO: HERRY MULYAMIN

Artikel yang direkomendasikan untuk anda