TEST DRIVE: Keluar Kota Bersama Hyundai Staria, Jakarta-Bandung PP

  • Test Drive Hyundai Staria
  • Test Drive Hyundai Staria
  • Staria
  • Test Drive Hyundai Staria
  • Test Drive Hyundai Staria
  • Test Drive Hyundai Staria
  • Test Drive Hyundai Staria

JAKARTA, Carvaganza – Hyundai Staria adalah salah satu mobil yang sedang punya “hype” tinggi di Indonesia, sejak diluncurkan pada 20 Agustus 2021 lalu. Keberanian Hyundai merancangnya dengan desain unik dan masuk ke segmen yang belum pernah mereka mainkan sebelumnya mencuri perhatian publik otomotif. Carvaganza sempat merasakannya sedikit di balik kemudi untuk berkeliling dalam kota Jakarta, dan kini gilirannya mencoba Staria merasakan jalan keluar kota.

PT Hyundai Motors Indonesia (HMID) menggelar rangkaian media test drive Hyundai Staria, yang kami ikuti pada hari Jumat (10/9/2021) lalu. Hyundai merancang rute perjalanan dari Jakarta ke Bandung, pulang pergi, selama seharian. Mulai dari mengarungi lalu lintas dalam kota Jakarta, jalan tol Japek dan Cipularang, sampai merayap di tengah kemacetan kota Bandung jelang akhir pekan.

Inilah kesempatan yang lebih ideal untuk mencari tahu seperti apa kualitas kemewahan dan kenyamanan yang Hyundai janjikan pada Staria. Dua varian Staria sekaligus disediakan oleh HMID pada acara test drive ini, yaitu Signature 7 dan Signature 9. Kami bersama dua rekan media lainnya ditempatkan pada Staria yang lebih mahal, yaitu Signature 7. Kami pikir baguslah, jadi selain tidak mubazir kursinya akan banyak kosong, unit ini juga punya fitur pendukung lebih lengkap.

Test Drive Hyundai Staria

Perjalanan di hari Jumat pagi dimulai dari kawasan Hutan Kota GBK, Senayan, Jakarta Pusat. Karena sudah pernah merasakan berada di balik kemudi, kami pilih mengawali perjalanan dengan duduk di kursi baris kedua. Setidaknya bisa merasakan bagaimana jadi seorang bos yang disupiri selama perjalanan, dengan captain seat yang fleksibel pengaturan posisinya. Lega sekali ruang yang diberikan saat duduk di baris kedua ini, ternyata terasa lebih memanjakan saat duduk di situ dalam kondisi mobil berjalan.

Kebetulan saat perjalanan dimulai, ada keperluan pekerjaan yang menuntut kami untuk memakai laptop di dalam mobil. Selama masih di dalam kota, tidak ada masalah dengan duduk sambil memangku dan mengetik di laptop. Kabin Staria tidak terasa berguncang keras sekalipun melindas lubang atau jalanan bergelombang cukup kencang sepanjang jalan Tol Dalam Kota. meski kepepet, setidaknya menuntaskan perkerjaan di dalam Staria masih bisa dilakukan dengan nyaman.

Situasi berubah ketika perjalanan memasuki jalan tol layang Mohamed Bin Zayed (MBZ) alias Jakarta-Cikampek Elevated. Seperti yang sudah dikenal, jalan tol layang ini memang punya permukaan jalan yang tidak mulus. Selain lapisan aspalnya yang konsisten bergelombang, cekungan di setiap sambungan jembatan juga menyebabkan guncangan keras pada mobil apapun yang melintas. Akhirnya laptop kami lipat dan simpan lagi di tas.

Kami putuskan untuk menikmati perjalanan di kursi bos ini dengan bersantai. Sebagai gambaran, duduk di captain seat Hyundai Staria mirip dengan duduk di Palisade, namun dengan atap yang lebih tinggi. Kesan lega duduk di Staria didukung juga oleh besarnya kaca samping, yang sekaligus menambah area visibilitas. Ingin semakin santai, rebahkan saja kursi dengan satu sentuhan tombol di samping, sudut kursi berubah otomatis. Tapi harap sabar saat ingin memanjangkan leg rest yang operasi elektriknya cukup lama.

Test Drive Hyundai Staria

Sepertinya perjalanan ini lebih merelakan kami tidak terlalu memikirkan pekerjaan di dalam mobil, agar bisa menikmati maksimal kemewahan Hyundai Staria. Karena begitu sudah menyetel kursi senyaman mungkin, secara perlahan mata semakin berat terbuai kenyamanan Staria. Bahkan obrolan dua rekan kami di depan komentari fitur ADAS (Advance Driver Assist System) yang dicobanya nyaris tidak terdengar.

Belum juga tertidur, perjalanan sudah tiba di titik perhentian pertama, yaitu Rest Area KM 72 Tol Cipularang. Di sini kami sejenak beristirahat ngopi dan ngemil, bersamaan dengan waktu shalat Jumat untuk para peserta yang menunaikan. Saat perjalanan dilanjutkan, kami pilih pindah ke kursi depan, tetap sebagai penumpang.

Jujur, duduk di kursi penumpang depan memberikan sensasi yang sangat berbeda. Posisi dashboard yang asimetris dan menjorok lebih ke depan memberikan kesan sangat lega, khususnya untuk legroom. Belum lagi posisi duduknya yang tinggi dan kaca depan yang sangat besar, memberikan sensasi seolah perjalanan yang kami lakukan sebuah tayangan di layar lebar. Banyaknya kompartemen tersedia lebih memudahkan saat ingin menaruh barang bawaan, baik berukuran kecil sampai besar.

Test Drive Hyundai Staria

Karena mayoritas fitur yang ada pada Staria mirip dengan yang ada di Palisade dan Santa Fe, jadi tidak sulit bagi kami saat menghubungkan smartphone ke infotainment. Apalagi layar di tengah dashboard sudah support koneksi wireless untuk Apple CarPlay dan Android Auto. Mendengarkan lagu-lagu favorit di playlist Spotify semakin nikmat berkat sistem audio dari Bose.

Jelang exit jalan tol Pasteur memasuki kota Bandung, kembali ada titik pemberhentian rombongan. Rekan kami yang merasa sudah cukup mencoba Staria sebagai pengemudi meminta untuk bergantian. Yah sudah, kami ambil saja kesempatan ini untuk pindah juga ke kursi pengemudi. Apalagi bisa sekaligus merasakan mengemudi di jalan tol dan jalan raya dalam kota.

Memasuki kota Bandung kami dikawal oleh Patwal, agar tidak terjebak aturan ganjil-genap yang membatasi kedatangan kendaraan dari luar kota. jadinya, kecepatan yang kami tempuh tidak begitu kencang. Seperti yang pernah kami sampaikan di First Drive Hyundai Staria, performa mesin 2.2 liter CRDi yang diadopsi dari Palisade ini tidak kurang dan tidak lebih, cukup berpotensi. Walaupun torsinya besar, tidak eksplosif untuk diajak akselerasi mengikuti rombongan membelah kemacetan.

Test Drive Hyundai Staria

Dimensi Staria yang panjangnya lebih dari 5 meter ternyata tidak terlalu merepotkan untuk bermanuver di tengah lautan kendaraan. Kunci aman bermanuver dengan Staria di tengah kemacetan adalah pastikan posisi pilar B kita sudah berada di depan kendaraan lain saat akan berbelok. Ringannya setir diputar juga memudahkan manuver yang kami perlukan.

Sejak mulai mengemudi, kami gunakan mode Smart di antara pilihan mode berkendara lainnya yaitu Normal, Sport, dan Eco. Kami pikir dengan mode Smart, Staria akan memberikan karakter mesin dan transmisi yang sesuai dengan gaya dan kebutuhan mengemudi secara dinamis. Namun saat mengarah ke Lembang di dataran tinggi, kami pindahkan ke Sport agar lebih mantap menanjak dan berakselerasi.

Tapi entah kenapa, kami rasakan respons mesin di mode Sport agak berjeda untuk berakselerasi di putaran rendah. Torsi mesin tidak langsung tersedia begitu pedal gas ditekan dalam untuk menanjak. Jadi untuk bisa cepat mengikuti rombongan Staria perlu sedikit dipaksa untuk lincah menanjak di kondisi stop-and-go. Artinya, menjadi kompromi juga untuk kenyamanan penumpang, belum dengan raungan mesin diesel yang cukup jelas terdengar ke kabin. Tapi ini kan bukan dalam kondisi mengemudi normal.

Test Drive Hyundai Staria

Saat arah kembali ke Jakarta, kembali kami berperan sebagai driver di kokpit Staria. Sebenarnya bisa saja bergantian, tapi kami belum merasa puas menelusuri performa Staria di jalan tol lebih lama. Apalagi tanpa kawalan Patwal lebih leluasa untuk mengeksplor potensi MPV besar ini. Menginjak gas secara gradual memberikan akselerasi lebih optimal untuk Staria, bahkan tanpa memakai mode Sport.

Hal itu semakin terbukti saat melibas rangkaian tanjakan dan turunan yang menjadi menu di Cipularang. Sekali lagi kami mengapresiasi nyamannya visibilitas ke segala arah dari kursi pengemudi. Apalagi dalam perjalanan pulang, hari berganti gelap. Waktunya melihat seperti apa pencahayaan unik Staria dilihat dari luar. Ternyata wajah depannya yang dihiasi garis LED tipis mudah dikenali, juga oleh lampu belakang yang mirip menara kembar berwarna merah.

Sepanjang melintasi Cipularang, beberapa ruas memang tidak dilengkapi lampu penerang jalan, atau mungkin sedang mati. Rangkaian fitur keselamatan bisa dimanfaatkan untuk mengantisipas kendaraan lain saat akan bermanuver. Paling sering aktif adalah Blind-Spot Collision Avoidance Warning (BCW), Blind-Spot Monitor View (BVM), Rear-Cross Traffic Collision Avoidance Assist (RCCA), Rear-Cross Traffic Collision Warning (RCCW), dan Lane Keeping Assist (LKA). Sementara Lane Following Assist (LFA) bisa dimanfaatkan atau dicoba sejenak dengan melepas tangan dari setir, yang menjaga posisi Staria tidak keluar lajur.

Test Drive Hyundai Staria

Akhirnya setelah perjalanan pulang-pergi seharian ke Bandung, kami tiba di Jakarta yang ternyata tidak macet di hari Jumat malam itu. Perjalanan berakhir kembali ke wilayah Senayan, untuk disudahi dengan sesi makan malam mewah, seakan simulasikan gaya hidup pemilik Hyundai Staria.

Dengan banderol Rp 888 juta sampai Rp 1,020 miliar (OTR Jakarta), Hyundai Staria bisa menjadi alternatif baru MPV mewah. Apalagi untuk konsumen yang inginkan mobil berdesain unik dan dilengkapi ragam teknologi dan fitur canggih, lebih lengkap dari para rivalnya. Jadi bukan hanya ukurannya, Hyundai Staria sepertinya cukup sesuai untuk menawarkan pengalaman berkendara yang “Larger Than Life”.
WAHYU HARIANTONO

Baca Juga: VIDEO: First Drive Hyundai Staria, Sudah Layak Jadi Lawan Alphard?

Artikel yang mungkin menarik untuk Anda

Mobil Pilihan

  • Upcoming

Updates

Artikel lainnya

New cars

Artikel lainnya

Drives

Artikel lainnya

Review

Artikel lainnya

Video

Artikel lainnya

Hot Topics

Artikel lainnya

Interview

Artikel lainnya

Modification

Artikel lainnya

Features

Artikel lainnya

Community

Artikel lainnya

Gear Up

Artikel lainnya