Beranda Features Mobil Plug-in Hybrid Ternyata Lebih Boros dan Berpolusi, Ini Penyebabnya

Mobil Plug-in Hybrid Ternyata Lebih Boros dan Berpolusi, Ini Penyebabnya

LONDON, Carvaganza.com – Mobil Plug-in Hybrid disebut-sebut lebih ramah lingkungan berkar penggunaan baterai listrik yang bisa menghemat konsumsi bahan bakar. Mereka dilabeli mobil hijau. Benarkah? Ternyata serangkaian penelitian menemukan bukti jika apa yang diklaim tidak sepenuhnya benar. Mobil ini justru bisa menghasilkan karbondioksida (CO2) tiga kali lebih banyak dari yang diklaim. Dalam hasil pengetesan bahkan mengeluarkan polusi lebih banyak dibandingkan mobil bensin berukuran kecil.

Hybrid menggunakan motor elektrik dari baterai untuk mendukung mesin pembakaran internal. Mereka disebut-sebut lebih ramah karena sokongan baterai ini membuat mesin lebih ringan bekerja dan berujung pada berkurangnya penggunaan bahan bakar.

Kenyataannya tidak semanis itu. Di dunia nyata, ketika digunakan yang terjadi justru sebaliknya. Adalah The Miles Consultancy yang berbasis di Crewe, Inggris, merilis hasil studi itu. Mereka mengaudit konsumsi bahan bakar mobil PHEV populer dari merek BMW, Mercedes-Benz, Mitsubishi dan Volkswagen. Temuannya mengejutkan. Mobil-mobil yang disebut ramah ini justru mengkonsumsi bahan bakar 2,5 sampai 3 kali lebih boros dibanding yang diiklankan.

Salah satu sampelnya BMW. Sebanyak 187 mobil PHEV diuji dan mendapat angka rata-rata konsumsi bahan bakar cuma 6,7 liter/100 km (14,9 km/liter). Jauh dari figur klaim 2,1 liter/100 km (47,5 km/liter). Begitu pula kandungan CO2 yang dihasilkan. Juga 3 kali lebih banyak saat diuji dalam kondisi berkendara di dunia nyata.

Baca juga: Mitsubishi Buka Charging Station, Seberapa Laris Outlander PHEV?

 

Penyebab

Ini bukan kali pertama hasil mengejutkan ini didapat. Hal yang sama juga didapatkan pada penelitian di Norwegia 2018 lalu. Bahwa emisi CO2 rata-rata per tahun mobil plug-in hybrid, sekitar 2,5 kali lebih tinggi dari hasil uji emisi resmi.

Surprise-surprise… Padahal plug-in hybrid diklaim sebagai model paling pas menuju era elektrifikasi global. Perpaduan dua mesin yang bisa diisi dua jenis sumber energi (bahan bakar minyak dan energi listrik) tentu sebuah solusi di tengah keterbatasan infrastruktur mobil listrik. Memang masih bergantung pada minyak bumi. Tapi, semestinya jauh berkurang berkat kerja motor listrik sebagai pelengkap mesin biasa.

Lalu kenapa fakta di lapangan justru berbeda? Ada beberapa hal yang ditemukan. Pertama banyak pemilik mobil plug-in hybrid abai mengisi ulang baterai mobil mereka. Mereka malah pilih isi bensin layaknya mobil konvensional. Alhasil, tak ada keuntungan yang didapatkan dari sistem mesin ganda itu.

“Dalam banyak kasus, kami melihat kendaraan plug-in hybrid tidak pernah di-charge, melakukan perjalanan panjang dan ini tidak cocok untuk penggunaannya,” kata Paul Hollick, managing director The Miles Consultancy dikutip dari Telegraph.

Baca Juga: Jasamarga Bali Resmikan Stasiun Pengisian Kendaraan Listrik Umum

Solusi Masa Depan

Kedua, soal bobot yang bertambah. Mobil plug-in hybrid menggendong dua mesin, mesin pembakaran dalam konvensional dan motor listrik, yang pastinya lebih berat dari mobil dengan satu mesin. Belum lagi ditambah baterai berukuran besar, sudah pasti menyumbang bobot pula. Alhasil, beban bertambah dan penggunaan bahan bakar lebih boros.

Pada dasarnya, mobil hybrid menjadi solusi. Pengunaan motor listrik dan baterai bertujuan menekan pemakaian bahan bakar minyak. Karena tersedia mode berkendara listrik yang mengistirahatkan kerja mesin bensin. Namun daya jangkaunya tidaklah terlalu jauh, apabila tidak di-charge penuh dulu. Jika baterai habis, kemudian mengandalkan mesin biasa untuk mengisi kembali. Dipakai perjalanan panjang akan sia-sia.

“Jika men-charge dengan benar, mobil plug-in hybrid mampu menyelesaikan mayoritas perjalanan memakai mode berkendara listrik. Namun, ada kekhawatiran mobil PHEV tidak digunakan sebagaimana mestinya, mencapai hanya sepertiga perjalanan dalam mode listrik dan berisiko emisi lebih tinggi,” kata Ewa Kmietowicz dari Committee on Climate Change.

“Sampai akhir tahun, kebanyakan model baru kendaraan listrik mampu mencapai jarak 150 mil (240 km) dalam satu kali pengisian baterai, dan kebutuhan akan plug-in hybrid akan menurun,” tambah Kmietowicz.

Baca Juga: Porsche Taycan Ditargetkan Mengaspal Oktober, Apa Saja Persiapannya?

Permintaan Meningkat

Pihak pabrikan berusaha membela diri. Narasumber Mitsubishi mengatakan kepada Telegraph, Outlander PHEV sebagai plug-in hybrid paling laris mereka, telah melewati pengetesan emisi dan konsumsi bahan bakar dalam kondisi baterai penuh.

“Kami menyatakan dalam materi promosi bahwa angka resmi hanya untuk perbandingan dengan kendaraan yang sama dan bahwa mereka mungkin tidak mencerminkan hasil mengemudi di kondisi nyata,” ujar narasumber itu.

Data pun dijabarkan. Menurut survey Emissions Analytics, 96% pemilik Mitsubishi PHEV mengklaim mengisi baterai mobil mereka setidaknya sekali dalam seminggu. Sementara 68% mengatakan, mereka men-charge setiap hari.

Terlepas dari hasil penelitian ini, mobil PHEV sedang bersinar dan terus tumbuh. Tahun ini diprediksi, penjualan di Eropa akan melonjak dari 220 ribu unit menjadi 590 ribu unit. Banyak hal yang mendukung. Keringanan pajak dan rasa tanggung jawab tinggi soal lingkungan, membuat banyak orang beralih ke PHEV sebelum menuju mobil listrik murni.

Namun ada juga yang menarik dari hasil studi The Miles Consultancy. Seolah mereka mendukung kebijakan pemerintah Inggris Raya yang bikin heboh belakangan hari. Mulai 2035, semua mobil dengan mesin internal combustion (termasuk hybrid), mulai dilarang di dataran Inggirs. Penerapannya dipercepat dari target awal pada 2040.

Sumber: Dailymail UKTelegraph UK

Baca juga: Mobil Listrik Plug-in Hybrid Justru Lebih Boros dan Berpolusi, Kok Bisa?

ANINDIYO PRADHONO | RAJU FEBRIAN

Video Terbaru Youtube Carvaganza

Video Terbaru Youtube The Official Oto