Mobil Jalan Raya Paling Aerodinamis Bukan Porsche Atau Mercy, Namanya Aneh

KOLN, Carvaganza – Jika berbicara tentang perkembangan kendaraan dari masa ke masa mungkin ada baiknya kita menelaah hal yang paling dasar dulu, yakni desain. Pada tahun pertama perkembangan mobil dimulai, para insinyur di masa itu kebanyakan mengadaptasi desain pesawat ke mobil ciptaannya. Sehingga pada masa itu mobil didesain dengan bodi memiliki desain yang sangat ramping demi tampilan yang trendi.

Namun ada salah seorang insinyur di Aerodynamic Research Institute, Karl Schlor yang berfikir lebih jauh lagi dalam mendesain sebuah mobil. Pada 1930a-an, ia menciptakan sebuah mobil yang diberi nama Schlorwagen dan memiliki tingkat aerodinamika yang lebih maksimal dibandingkan kendaraan yang pernah dibuat di masa itu hingga saat ini.

Mungkin namanya aneh dan baru dengar. Ya, nama itu mencuat sebelum Indonesia merdeka. Tapi di Jerman sana, orang sudah memikirkan mobil dengan level aerodinamika sangat tinggi.

Kata kuncinya adalah aerodinamika. Saat itu Karl Schlor memiliki dua tujuan saat menyematkan unsur aerodinamika pada mobil buatannya, yang pertama adalah untuk mengurangi konsumsi bahan bakar dan menghadirkan ruang kabin yang cukup luas untuk keluarga. Akhirnya, Schlor memilih desain mobilnya yang terinspirasi dari profil sayap pesawat di German Aerospace Center. Sehingga bentuknya agak bulat dan memanjang bahkan ruang kabinnya mampu menampung hingga tujuh penumpang. Mirip-mirip dengan kapsul.

Schlorwagen

Sebenarnya, perihal aerodinamika pada mobil itu sudah tercetus lebih dari satu abad yang lalu oleh para desainer dan penemu. Semuanya mengambil inspirasi dari konsep penerbangan dan pesawat lalu diaplikasikan pada desain eksterior mobil ciptaannya. Kendaraan yang cukup populer kala itu adalah Stout Sacarab dan Tatra 77, tapi keduanya tidak ada yang bisa mengimbangi aerodinamika pada Schlorwagen 1939.

Bentuk dasar kendaraan ini diambil dari dua profil pesawat yang menawarkan koefisien drag yang sangat rendah. Di sisi lain, bentuk kendaraan tersebut menyerupai bentuk air yang menetes dan kemudian dijuluki sebagai Gotingen Egg karena wujudnya yang lonjong. Menurut Andreas Dillmann, Kepala Institut Aerodinamika dan Teknologi DLR Schlörwagen merupakan sayap yang berada di atas roda.

Memakai Chassis Mercedes-Benz

Menggunakan chassis dari Mercedes-Benz 170 H, Schlor membuat bodinya menjadi lebih panjang agar roda depannya dapat berputar di dalam bodi. Hasilnya kendaraan prototipe tersebut memiliki koefisien drag mencapai 0,186 g. Angka tersebut demi mengimbangi dimensi kendaraan yang mencapai 4419 mm dengan bobot 250 kg lebih berat dari Mercedes-Benz 170H.

Untuk menggambarkan angka ideal tersebut, kita bisa membandingkannya dengan Volskwagen XL1 yang juga memiliki koefisien drag 0,186 g. Tetapi mobil besutan VW tersebut tidak memiliki konfigurasi tujuh penumpang seperti Schlorwagen. Sementara mobil yang memiliki aerodinamika paling ideal saat ini adalah Mercedes-Benz EQS yang mencapai 0,20.

Baca juga:  History of Aerodynamics, It’s All About The Flow

Schlorwagen

Kemudian, pada 1939 Schlorwagen melakukan uji jalan raya untuk membuktikan performa yang dihasilkan berkat hitung-hitungan aerodinamika yang dilakukan oleh sang insinyur. Saat itu Mercedes-Benz 170 H yang merupakan basis dari Schlorwagen hanya mampu mencapai 104 km/jam sementara Schlorwagen mampu mencapai 135 km/jam. Padahal dimensi dan bobotnya lebih besar dibandingkan Mercedes 170 H dan Schlor mengklaim konsumsi bahan bakarnya bisa mencapai 20-35 persen lebih irit dibandingkan Mercedes 170H.

Kemudian, Karl Schlor memberanikan diri untuk membawa mobil tersebut ke pameran International Motor Show 1939 yang saat ini menjadi IAA alias bahasa Jermannya Internationale Automobil-Ausstellung (International Auto Show) . Saat itu beberapa pengunjung dibuat terkesima oleh desainnya yang terbilang unik dan tidak biasa.

Hanya Prototipe Sampai Mati

Sayangnya, kendaraan ini diciptakan hanya sebatas prototipe tidak pernah sampai ke jalur produksi. Ada banyak alasan yang membuat kendaraan ini sulit diproduksi, salah satunya ialah karena tingkat aerodinamikanya kendaraan ini akan sulit dikendarai dan dapat mengorbankan keselamatan pengendaranya. Namun, jika saja kendaraan ini memiliki fitur pendukung untuk mengimbangi performanya akan sangat mungkin hal berbahaya tersebut tidak terjadi. Namun di era 1930-an, fitur elektronik penyokong berkendara belum selengkap sekarang jadi Schlorwagen hanya mengandalkan perangkat analog yang ditempel di sekujur bodinya.

Pecahnya Perang Dunia II juga menjadi faktor lain yang membuat kendaraan ini tidak mencapai ke proses produksi massal. Hingga pada 1942, Schlorwagen pernah terlihat dengan menggunakan mesin pesawat Rusia 130 dan sempat melakukan pengujian jalan raya, sayangnya setelah itu tidak terdengar lagi keberadaannya.

Schlorwagen

Akhirnya, Schlörwagen kembali ke garasi AVA Göttingen sampai Agustus 1948 dan disimpan dalam kondisi rusak, bahkan beberapa bagiannya tidak utuh dan membuatnya tidak terawat lagi. Mobil itu diawetkan, tetapi dalam kondisi rusak dengan bagian-bagian yang hilang. Sayangnya, Schlör tidak akan pernah melihat ciptaannya lagi karena pada tahun yang sama, Administrasi Militer Inggris tidak menyelamatkan mobil tersebut dan diduga telah dicuri.

Saat ini Schlorwagen masih hidup namun dalam bentuk foto-foto yang disimpan oleh German Aerospace Center sebagai bukti dari apa yang dapat dilakukan para insinyur pada 84 tahun yang lalu. (ALVANDO NOYA/EK)

Sumber: jalopnik.com

Baca juga: Ford Pernah Punya Program Rahasia Untuk Menghabisi Ferrari (Bagian 1)

Artikel yang mungkin menarik untuk Anda

Mobil Pilihan

  • Upcoming

Updates

Artikel lainnya

New cars

Artikel lainnya

Drives

Artikel lainnya

Review

Artikel lainnya

Video

Artikel lainnya

Hot Topics

Artikel lainnya

Interview

Artikel lainnya

Modification

Artikel lainnya

Features

Artikel lainnya

Community

Artikel lainnya

Gear Up

Artikel lainnya

Artikel Mobil dari Oto

  • Berita
  • Artikel Feature
  • Advisory Stories
  • Road Test

Artikel Mobil dari Zigwheels

  • Motovaganza
  • Tips
  • Review
  • Artikel Feature