Beranda EDITOR'S PICKS TWTW: History of Aerodynamics, It’s All About The Flow

TWTW: History of Aerodynamics, It’s All About The Flow

SPORTSCAR selalu menarik bagi para car enthusiast yang menyukai kecepatan dan tantangan. Jenis mobil ini identik dengan handling yang gesit dan kencang. Istilah sportscar sendiri muncul pada 1919 dalam artikel di The Times, London, dengan judul “Motor Show, Development of the Sporting Car”. Sedangkan di Amerika, kata tersebut baru dikenal pada 1928.

Fakta ini cukup unik mengingat mobil-mobil yang diproduksi di era 1920-an masih jauh dari tampilan sportscar yang kita kenal sekarang. Lihat Vauxhall 30/98E Velox Tourer (1921), Lancia Lambda Third Series Tourer (1924), atau Paige 6-66 Daytone Speedster (1922). Tak ada kesan kencang maupun gesit. Apa yang menyebabkan itu? Kurangnya aerodinamika.

Sebenarnya para engineer dan desainer mobil sudah memikirkan aerodinamika pada awal 1920-an. Seorang inventor asal Jerman, Edmund Rumpler, menciptakan Rumpler-Tropfenwagen yang berarti “mobil tetesan air”. Rumpler terinspirasi dari bentuk paling aerodinamis di alam. Drag coefficient-nya hanya 0,27 Cd. Tapi karena bentuknya yang tak biasa saat itu, publik tak terlalu menyukainya. Mobil tersebut diproduksi 100 unit saja.

Baru ada 1930-an, desain berbasiskan aerodinamika muncul dengan adanya Chrysler Airflow yang dilansir pertama kali pada 1934 di Amerika Serikat. Mobil karya tiga engineer Chrysler – Carl Breer, Fred Zeder, dan Owen Skelton – terinspirasi dari burung terbang.

Dalam pengembangannya, mereka bekerja sama dengan Orville Wright, inventor pesawat pertama yang berhasil bersama saudaranya, Wilbur. Mereka juga melakukan pengujian Airflow (tidak dalam ukuran sebenarnya) di wind tunnel. Sayangnya, Great Depression membuat masyarakat Amerika tak tertarik dengan keunikannya dan dianggap sebagai produk gagal.

Usaha Chrysler dalam menciptakan mobil yang mampu memanipulasi angin bukanlah satu-satunya. Pada 1938 di belahan lain dunia, Wunibald Kamm bersama Baron Reinhard von Koenig-Fachsenfeld (engineer aerorodinamika) mengembangkan desain mobil dengan garis atap yang mengalir turun sampai ke belakang. Tujuannya untuk mengurangi drag atau turbulensi udara sehingga lebih kencang. Desain pria Jerman tersebut kemudian dikenal sebagai “Kammback” atau “Kamm tail” dan masih digunakan sampai sekarang.

Popularitas aerodinamika pada mobil semakin meningkat pada 1950-an. Awalnya bermula dari balapan, kemudian merambah ke mobil produksi. Dan kini hampir semua pabrikan berusaha membuat produknya lebih aerodinamis. Bukan hanya agar membuatnya lebih kencang, tapi juga lebih efisien bahan bakar.

MIRAH PERTIWI



Last Updates

5 Tips Menjaga Emosi Saat Mengemudi di Bulan Puasa a la Auto2000

JAKARTA, 20 Mei 2019 -- Saat berpuasa, Anda tidak hanya diwajibkan untuk menahan rasa lapar dan haus, tapi juga menahan...

Berani Terima Tantangan Honda Brio Saturday Night Challenge?

JAKARTA, 20 Mei 2019 -- PT Honda Prospect Motor (HPM) akan kembali menggelar ajang keterampilan mengemudi bertajuk Brio Saturday Night...

Harga Bagus Jelang Lebaran, Penjualan Mobil Bekas Melonjak 37%

JAKARTA, 20 Mei 2019 -- Bulan Ramadhan menjelang hari raya Idul Fitri biasanya diiringi dengan peningkatan transaksi berbagai barang, tidak...

TOSCA Bagi-Bagi Takjil ke Sesama Pengguna Jalan

JAKARTA, 20 Mei 2019 – Bulan suci Ramadhan dimeriahkan oleh Toyota Sienta Community Indonesia (TOSCA) dengan kegiatan berbagi kepada sesama pengguna jalan. Mengisi akhir...

Toyota Supra 2020, Ressurection of A Hero

AKHIRNYA setelah selama 17 tahun off dan selama lebih dari 10 tahun publik dibuat penasaran, Toyota Supra hidup kembali. Sportcar...