Beranda Features FEATURE: Mudahnya Mengisi Baterai Mobil Listrik di Jepang

FEATURE: Mudahnya Mengisi Baterai Mobil Listrik di Jepang

JAKARTA, 4 November 2019 – Bicara soal teknologi dan penggunaan mobil hybrid dan mobil listrik, Jepang adalah satu kiblatnya. Kesiapan Negeri Matahari Terbit itu terlihat dari banyaknya tersedia stasiun pengisian ulang daya mobil listrik atau EV Quick Charging Station.

Salah satunya yang Carvaganza temui saat perjalanan bersama PT Honda Prospect Motor meliput The 46th Tokyo Motor Show 2019 lalu. Ketika kami melakukan perjalanan dari Tokyo menuju Nagano, kami sempat beristirahat di sebuah rest area di wilayah Yokokawa.

Di rest area ini ternyata ada pemandangan menarik. Di salah satu sudut terdapat tempat tempat khusus mengisi daya untuk mobil listrik. Tempatnya simpel, hanya satu space seperti garasi kecil dengan atap. Di depannya terdapat plang biru bertuliskan EV Quick Charging Point. Lalu di parkiran rest area didepannya, ada jalur atau line mengantri khusus untuk masuk ke charging station ini. Kemudian di bagian dalam charging station terdapat alat untuk melakukan quick charging dan alat pembayaran.

Oh ya, pemilik mobil memang dikenakan bayaran saat mengisi daya. “Harganya 1 menit dikenai 8 Yen (sekitar Rp 1.035),” kata Yoshida, sang pemilih Mitsubishi i-MiEV yang ditemui jurnalis Indonesia.

Ia mengatakan secara feel mengemudi mobil bermesin bensin memang lebih enak, namun secara cost jauh lebih irit dengan mobil listrik. “Apalagi saya tidak lagi banyak jalan jauh,” kata pria ramah yang melakukan perjalanan dengan istrinya tersebut.

Yoshida mengatakan daily cost yang harus ia keluarkan jauh lebih murah dibandingkan menggunakan mobil berbahan bakar bensin. “Bisa sampai seperlimanya,” kata dia.

Sebagai perbandingan, dengan melakukan quick charging selama 15 menit maka ia harus mengeluarkan biaya 120 yen (sekitar Rp 15.510). Dengan harga segitu, Yoshida-san sudah bisa menempuh jarak sekitar 100 km. Nah, jika menggunakan mobil bensin, untuk menempuh jarak yang sama ia harus mengeluarkan biaya sekitar 700 Yen (sekitar Rp 90.689). (BBM versi premium di Jepang dijual antara 130 – 140 Yen per liter).

Tersedia di Banyak Lokasi

Kemudahan lain juga EV Charging Station ini sudah banyak. “Ada aplikasi yang menunjukkan lokasi charging station terdekat dari tempat kita. Jadi kita tinggal lihat aplikasi dan menggunakan sistem navigasi kita bisa tahu lokasinya,” katanya. Pria ramah ini mengaku memiliki 2 mobil dan lebih sering menggunakan mobil listrik untuk melakukan perjalanan.

Dalam beberapa tahun terakhir, pemerintah maupun APM mobil Jepang ngebut membangun charging station di pelosok negeri. Hal ini memungkinkan pengguna mobil listrik berjalan cukup jauh. Mobil listrik yang sejatinya merupakan mobil ramah lingkungan, memang masih memiliki beberapa kelemahan.

Selain jarak tempuh terbatas, proses isi ulang juga membutuh waktu lama. Misalnya, jika kita mengisi baterai berkapasitas 30kWh (setara dengan jarak 250km) dengan alat pengisi ulang biasa bertegangan 200 volt akan memakan waktu 8 jam, dan tegangan 100 volt butuh 24 jam. Alat pengisi ulang cepat merupakan solusi dari masalah ini. Di jepang, alat pengisi ulang baterai cepat ini telah dipasang di pelosok negeri. Sampai tanggal 23 November tahun lalu, jumlahnya telah mencapai 7.167 lokasi.

Infrastruktur Harus Siap

Bagaimana dengan Indonesia? Pemerintah Indonesia tengah menggenjot rencana penggunaan mobil listrik di Tanah Air. Regulasi terkait mobil listrik dalam bentuk Peraturan Pemerintah (PP), dan Peraturan Presiden (Perpres) sudah diteken Presiden Joko Widodo pada Kamis, 8 Agustus 2019 lalu.

Meski demikian banyak pertanyaan yang muncul, terutama bagaimana dengan kesiapan infrastruktur dan biaya listrik yang dikenakan kepada konsumen.

Yusak Billy, Business Innovation and Sales & Marketing Director PT Honda Prospect Motor (HPM) mengatakan mengatakan kondisi dan kesiapan infrastruktur di Jepang memungkinkan mobil-mobil listrik bisa dijual dan digunakan konsumen.

“Lokasi quick charging banyak, selain di rest area seperti tadi, masing-masing brand juga membuat sendiri. Hal ini tentunya membuat calon konsumen tidak lagi khawatir bagaimana mengisi daya baterai saat melakukan perjalanan jauh,” kata kepada Carvaganza.

Kesiapan infrastruktur menurut Yusak Billy menjadi kunci utama jika mobil listrik ingin digenjot di Indonesia. Pasalnya, jika fasilitas seperti quick charging tidak ada atau belum banyak tentunya tidak bisa meyakinkan calon konsumen untuk membeli mobil listrik. “Kalau tidak ada pasar, kami sebagai pelaku otomotif juga tidak bisa membawa masuk mobil listrik ke Indonesia,” katanya.

Menteri Perindustrian kabinet lalu, Erlangga Hartarto, menargetkan pada 2025 sebanyak 20 persen dari produksi kendaraan roda empat di negeri ini harus menggunakan tenaga listrik. Untuk mendukung target itu akan dibangun 1.000 unit stasiun pengisian listrik umum (SPLU). Faktanya, target itu masih jauh panggang dari api.

RAJU FEBRIAN (NAGANO)

Video Terbaru Youtube Carvaganza

Video Terbaru Youtube The Official Oto

Last Updates

Ini Spesifikasi dan Perbedaan 3 Varian Suzuki XL7

JAKARTA, Carvaganza.com – Suzuki akhirnya ikut bermain di segmen sport utility vehicle (SUV). Kehadiran mereka ditandai dengan peluncuran Suzuki XL7. Tak hanya tampilan, XL7...

Scuto Nano Ceramic+ Raih Gelar Best Car Salon

JAKARTA, Carvaganza.com -- Scuto Indonesia meraih penghargaan bergengsi Superbrands Indonesia 2020. Kategori yang dimenangkan adalah Best Car Salon sebagaimana perusahaan mereka bergerak, di bidang...

TEST DRIVE: Mitsubishi Xpander Cross, Adventure di Lombok

LOMBOK, Carvaganza.com – “Don’t Stop Me Now!”, judul lagu milik Queen yang legendaris dipakai sebagai tagline Mitsubishi Xpander Cross, seolah menjadi pesan bahwa Xpander...

Suzuki XL7, Apa Sih Bedanya dengan Ertiga?

JAKARTA, Carvaganza.com – Kehadiran Suzuki All New XL7 jadi perbincangan hangat di dunia otomotif Tanah Air. Kehadirannya menyemarakkan pasar Low SUV lewat XL7. Strateginya...

REVIEW: Mini Cooper Clubman 2020, Funky Premium Hatchback

JAKARTA, Carvaganza.com -- MINI menjadi salah satu nama ikonik di dunia otomotif. Dibangun akibat dampak krisis Suez di akhir tahun 1950-an. Kondisi ini menyebabkan...