Beranda Updates Wuling 1.000 Hari di Indonesia, Berkat Kejelian Mengamati Pasar

Wuling 1.000 Hari di Indonesia, Berkat Kejelian Mengamati Pasar

JAKARTA, Carvaganza.com – Jika mengingat-ingat lagi sekitar 3 tahun yang lalu, di bulan ini, mungkin tak banyak yang kenal merek Wuling Motors? Jenama asal Cina alias Tiongkok itu masih asing di telinga khalayak Indonesia. Tapi itu tak menyurutkan langkah Wuling. Mereka tetap percaya dengan nama brand yang diusung. Bukan mengenakan jati diri lain. Tetap pakai lencana (W) lima berlian pada semua lini produk.

Awal berkiprah di sini tak sedikit yang memandang sebelah mata. Tapi faktanya, setelah 1.000 hari hadir pada 6 April 2020 lalu, Wuling mencetak sukses. Mereka kini sanggup bertengger di 10 besar otomotif nasional menggeser nama-nama lawas yang sudah lebih dulu ada di Tanah Air.

Sebelumnya, citra merek dari Cina kerap diasumsikan sebagai barang picisan. Tidak punya posisi egaliter dengan katakanlah pabrikan Jepang atau bahkan Korea Selatan. Tentu mereka tak bertangan kosong tatkala siap masuki pasar Indonesia. Riset market mendalam disiapkan untuk menepis semua perspektif negatif itu. Dan yang jadi landasan dari langkah bisnis mereka: jeli mengamati. Maksudnya bagaimana? Mari kita singkap satu-persatu.

Begitu ketuk pintu di sini, mereka langsung menyodorkan komitmen. Bukan sekadar ucapan belaka. Langsung menanam investasi US$ 700 juta untuk membangun fasilitas produksi di Greenland International Industrial Center (GIIC), Deltamas, Cikarang, Bekasi, Jawa Barat. Di lahans eluas 60 hektar itu berdiri pabrik plus supplier area.

Dalam 2 tahun pabrik selesai dibangun. Mereka kemudian merilis produk perdana bikinan lokal, Wuling Confero S pada kuartal tiga 2017 tepatnya 2 Agustus. Jujur, untuk membuat brand awareness tidaklah gampang. Maka mereka mulai mengenalkan diri lewat produk yang banyak digemari masyarakat.

Baca juga: Dukung Pencegahan COVID-19, Wuling Serahkan 100.000 Masker

Cermat Masuki Pasar

Segmen pertama yang dimasuki Wuling adalah Low MPV lewat Confero S. Namanya berasal dari bahasa Latin. Maknanya “Kebersamaan”, sementara S mengacu pada Sport. Ini bukan perkara mudah. Sebagai ceruk paling gemuk, lahan LMPV ini banyak pemain raksasa dengan dominasi tidak kecil. Ada Toyota Avanza dan kembarannya Daihatsu Xenia. Juga tiga pemain Jepang lainnya, Mitsubishi Xpander, Nissan Livina, dan Suzuki Ertiga. Dominasi Jepang memang sangat kuat. Persaingan ketat membuat satu merek dari Negeri Paman Sam harus gulung tikar tak mampu menghadapi kekuatan rival di ranah ini. Kenapa Wuling berani?

Jawabannya, kejelian. Wuling mentranslasikan itu lewat produk dengan banderol miring di bawah kompetitor. Selain harga, fitur yang dibenamkan tak tangung-tanggung. Kala Confero S meluncur perdana, dilego sekitar Rp 128 jutaan sampai Rp 165 juta. Harga itu sudah setara dengan kendaraan LCGC. Tapi produk Wuling ini punya kelengkapan lebih. Ada Day Running Light LED, projector lamp, pelek dua warna, side body molding. Belum lagi remot untuk membuka jendela samping dari kejauhan. Nah, dari segi fitur keamanan dan keselamatan, Confero S jua amat menjanjikan.

Tersedia dua kantong udara di baris depan, tire pressure monitoring system (TPMS), luxury meter cluster, audio control and answering call button, USB charging tiga baris, rear parking camera. Lanjut sistem pengereman ABS serta EBD, ISOFIX, immobilizer dan anti-theft alarm. Bayangkan, untuk mobil sekelas ini punya informasi tekanan ban. Sebelumnya hanya ada di mobil premium. Semua itulah yang bikin nilai jual kendaraan bertambah. Bermodal produk saja tidak cukup. Sepanjang 2017 perusahaan membangungan jaringan pemasaran sebanyak 50 diler di penjuru Tanah Air.

“Memang betul, produk dijual di sini ialah adaptasi dari kendaraan yang sudah ada di Cina. Maka ada kolaborasi antara tim riset di sini dengan prinsipal. Kami paham, untuk membeli barang apapun yang penting value (nilai jual, red). Dengan uang segini konsumen bisa dapat apa saja? Itu jadi pijakan kami agar kendaraan Wuling harus punya value bagus. Sehingga bisa sukses,” papar Danang Wiratmoko Product Planning Wuling Motors beberapa waktu lalu.

Baca juga: Catatan 1.000 Hari Wuling Motors di Indonesia, Sukses Lewat Efek Kejut

Diferensiasi Produk

Usai sukses bermain di segmen Low MPV, nama Wuling kian dikenal masyarakat. Pada 2018 mereka berusaha menggali lagi potensi pasar yang belum digarap. Pada 8 Februari 2018, lewat Cortez perusahaan berusaha menyusup di celah medium MPV. Waktu itu unit dibanderol Rp 220 jutaan sehingga bersenggolan dengan LMPV Jepang.

Tapi di sini konsumen diberi kendaraan dengan banyak kelebihan. Semisal material premium di kabin. Ia diimbuhi monitor layar sentuh 8 inci, MID 3,5 inci, USB power outlet di setiap baris, double blower dan kamera parkir. Lalu fitur standar boleh diadu dari lainnya. Mulai dari lampu proyektor, DRL LED, turning signal plus lampu rear spoiler LED, spion lipat elektrik serta antena model shark fin. Kurang menggiurakan apalagi coba?

Jelajah pasar belum usai. Mereka amat jeli mencermati celah yang masih bisa digarap. Setelah masuk segmen kendaraan niaga lewat Formo, kemudian muncul model SUV bernama Wuling Almaz pada 27 Februari 2019. Di sini era turbo dimulai. Dengan banderol mulai Rp 260 jutaan konsumen bisa mendapat induksi turbo pada enjin 1,5 liter. Lalu mesin serupa ditanam pula pada Cortez anyar. Kemudian pabrikan lain mulai membuntuti kenalkan mekanikal pacu serupa.

Almaz sontak mengundang perhatian masyarakat. Selain desainnya lebih macho, jiwa tualang, namun juga tak pelit fitur. Setelah dikenalkan, ia disisipi teknologi bernama WIND (Wuling Indonesian Command). Sebuah sistem perintah suara berbahasa Indonesia. Mereka jelas menjadi pelopor teknologi ini. “Ini sebenarnya bukan hal baru sebagai perintah suara. Namun lantaran pakai bahasa Indonesia, maka itulah pembeda. Sebelum Wuling datang sudah riset market. Fitur kesukaan serta apa saja yang menjawab kebutuhan mereka. Cost of ownership juga bisa menjadi nilai pembeda dari merek lain,” Danang menambahi.

Baca juga: 5 Capaian Penting Wuling Motor di 1.000 Hari Pertama

Wuling Almaz

Penjualan 1.000 Hari dan Target

Hasil 1.000 hari atau sekitar tiga tahun terbilang positif. Mereka terus bertahan masuk jajaran 10 pemain besar otomotif Nusantara. Wuling mengantongi lebih dari 45 ribu unit. Kalau diurai lebih perinci, Confero S paling banyak meraup penjualan 26.550 unit. Kemudian Almaz menapakai posisi kedua. Wajar, sang SUV baru saja mengaspal di sini pada 2019, dengan torehan 9.903 unit. Cortez 9.424 unit diikuti Formo 485 unit.

“Yang pasti, persepsi masyarakat terhadap Wuling sudah berubah. Itu dilihat dari peningkatan penjualan. Hasil 45 ribu itu tergolong positif untuk kami. Belum lagi pertumbuhan komunitas yang mencapai ribuan secara organik. Lalu konsumen sekarang makin pintar. Mereka mencari referensi sendiri. Entah dari media, internet, komunitas. Calon ke konsumen juga kalau datang ke diler lebih sering bilang “Halo Wuling” sebagai penanda penerimaan (merek) yang baik. Sementara untuk jaringan diler sudah 115 di seluruh Indonesia,” jelas Brian Gomgom, Media Relation Wuling Motors.

Catatan tersendiri sudah dibuat Wuling. Dalam 1.000 hari mereka punya pabrik perakitan sendiri, 4 model, dan juga 115 dealer yang sudah dilengkapi dengan layana 3S (sales, service, spare parts). Hal yang pantas mendapat apreasiasi. Sudah? Belum. Masih ada tantangan lagi.

Salah satu target tim produksi Wuling ialah menambah jumlah komponen lokal. Lantas pada akhirnya nanti Wuling Motors bisa membuat mobil sendiri di sini, tanpa ambil model dari Cina. Tapi masih harus ada syarat yang harus dipenuhi dulu. Seperti design center, serta powertrain masih mengandalkan dari prinsipal. Mereka berjanji memberi inovasi gres dan memberi value for money lebih baik. Tinggal ditunggu saja itu semua terwujud dengan gebrakan pembeda.

Baca Juga: Jeli Mengamati, Bikin Wuling Indonesia Terus Bertahan 10 Besar dalam 1.000 Hari

ANJAR LEKSANA | RAJU FEBRIAN

Video Terbaru Youtube Carvaganza

Video Terbaru Youtube The Official Oto