Mobil Unik di Lintasan Balap, Mitsubishi i-MIEV Ikut Digeber Juga

JAKARTA, Carvaganza.com – Apa jadinya kalau mobil super mewah dan mobil mungil bertenaga listrik dijadikan mobil balap? Jadi kelihatan lucu dan unik, meskipun sebetulnya ide-ide nyeleneh seperti ini juga sudah ada dari dulu. Persoalannya memang mindset kita sudah terpatri pada hal-hal yang sudah menjadi standar. Misalnya, Rolls-Royce itu mobilnya ‘para dewa’, orang-orang super tajir yang melintasi jalanan besar, mulus dan bertempat di gedung-gedung megah. Atau mobil listrik mungil seperti Mitsubishi i-MIEV harus dipakaikan baju ‘kebesaran’ trek balap dan dipacu sekencang mungkin. Nah, ide-ide nyeleneh ini justru bikin orang penasaran. Sejauh mana sih kalau mobil-mobil yang tak terpikirkan menjadi mobil balap, digeber di lintasan pacu? Malah tampangnya jadi lebih keren.

Volvo 850 Station Wagon

Diawali oleh tuner Swedia bernama Stefansson Automotive yang berniat membangun mobil untuk turun balapan British Touring Car Championship (BTCC) menggunakan Volvo 850. Mereka mengetuk pintu Volvo untuk mendapatkan chassis dan body 850, tapi Volvo malah memberikan versi station wagon. Kepalang tanggung, tim Stefansson maju terus. Setelah melakukan uji terowongan angin, malah mereka mendapatkan kalau aerodinamika sang wagon lebih baik dari sedan. Tanpa perlu wing tambahan yang dilarang di balap BTCC. Sialnya, setelah lapor ke Volvo mereka malah dicampakan. Volvo melihat potensi marketing yang besar dengan menurunkan 850 Estate di balapan. Mereka lalu mengontak Tom Walkinshaw Racing yang lebih berpengalaman membangun mobil balap. Baca juga: Sejarah Ferrari 250 Testa Rossa Yang Membuatnya Jadi Legenda Di Dunia Balap Musim balap 1994 menjadi debut 850 Estate di medan BTCC. Mesinnya 5-silinder 2,0 liter bertenaga 289 hp. Bobotnya terpangkas sebanyak 500 kg dibanding versi jalan raya yang mencapai 1,4 ton. Meski begitu mobil ini jarang menginjak podium, tapi dari sisi promosi komersial terbilang sukses. Baik untuk BTCC maupun Volvo. Gambar Volvo 850 Estate ceper sedang melibas belokan dengan dua roda terangkat, jadi materi iklan jempolan untuk menghapus image Volvo sebagai mobil membosankan yang aman.

Rolls Royce Corniche

Coba diingat, kapan terakhir Rolls Royce ikut balapan? Jawabannya adalah 1981. Bukan balapan di sirkuit tapi Rally Paris-Dakar. Waktu itu, Paris Dakar adalah ajang unjuk kemampuan mengemudi perorangan. Bukan adu gengsi produsen mobil seperti sekarang. Inilah yang membuat dua orang Perancis bernama Thierry de Montcorge dan Jean-Christophe Pelletier iseng, “Kalau kita ikut rally gila pakai Rolls Royce apa rasanya, ya?” Rolls Royce Corniche yang mewah dipreteli. Body ganti dari bahan fiberglass, suspensi dan transmisi mengambil milik Toyota Land Cruiser dan mesin punya Chevrolet V8 bertenaga 350 hp. Bagian yang masih asli cuma grille dan emblem Spirit of Ecstasy khas Rolls Royce di depan. Hasilnya lumayan. Sampai setengah event, mobil ini berada di posisi 13. Tapi saat menempuh rute di wilayah Burkina Faso, sang Rolls Royce menabrak pohon. De Montcorge cs bergegas melakukan perbaikan. Sayang, reparasi ini dinilai ilegal oleh panitia dan langsung diskualifikasi. Meski begitu, masih boleh ikut hingga ke Dakar, dengan catatan posisinya tidak dihitung. Alias jadi penggembira.

Mitsubishi i-MIEV

Siapa sangka kalau mobil mungil dengan sumber tenaga listrik bisa juga ikut balapan mendaki gunung. Tidak tanggung, Mitsubishi menurunkan sepasang i-MIEV tahun 2012. Satu dengan spesifikasi standar dengan imbuhan modifikasi bumper saja. Yang satunya dijuluki i-MIEV Evolution yang memang dibuat khusus untuk ajang ini. Bentuknya beda jauh. Versi Evo lebih mirip mobil Formula. Mitsubishi i-MIEV Evolution dibekali tiga dinamo listrik yang masing-masing berkekuatan 80 kW dengan penggerak empat roda. Kalau dikombinasi, ketiga dinamo itu menghasilkan tenaga setara 321 hp. Juara Dakar Hiroshi Matsuoka berada di balik kemudinya. Sayang, ia finish kedua di belakang mobil listrik Toyota FMG EVP002 dengan waktu tempuh 10 menit 30,85 detik. Tahun berikutnya Dicoba lagi dengan i-MIEV Evolution II berbagai peningkatan, tapi hasilnya tidak beda jauh. Tahun 2014 barulah agak berbeda. Dua i-MIEV Evolution III sukses menempati podium dua dan tiga. Pengemudinya masing-masing Greg Tracy dan Hiroshi Matsuoka. Baca juga: Ratusan Koleksi Petersen Automotive Museum Bisa Dinikmati Virtual, Klik Linknya Di Sini

Toyota Prius

Siapa sangka kalau Toyota Prius yang tampangnya ‘sopan’ dan kadang membosankan itu bisa juga galak di balapan. Tepatnya balapan Japan Super GT. Tahun 2012, team apr Racing memperkenalkan Prius GT dengan tampang sangar, body lebar, wing besar di buritan dan lekukan body yang bikin pangling. Kalau tidak ada tulisan di kaca, mungkin tidak ada yang sadar kalau ini adalah Toyota Prius yang kerasukan mesin V8 3,4 liter di belakang kabinnya. Lengkap dengan sistem hybrid disiapkan khusus hanya untuk balap Japan Super GT. Spesifikasi teknis menurut apr Racing, mesin bisa menghasilkan 295 hp. Sementara sistem hybrid menambah dorongan daya sebanyak 147 hp. Dengan modal itu, Prius GT berhasil finish di podium pada musim pertamanya dalam balapan ketahanan 300 km di Fuji Speedway. Tahun berikutnya sukses mencetak kemenangan pertama di tempat sama. Prius bermesin tengah ini terus digunakan oleh apr Racing hingga akhir musim 2018. Entah kenapa, apr Racing kerap mengucapkan bahwa Prius akan pensiun. Tapi itu tidak terjadi, untungnya. Musim 2019, aturan Japan GT berubah yang mengharuskan mesin semua di depan. Tanggung berubah, apr Racing memasukan jantung mekanis V8 baru dengan kapasitas 5,4 liter. Prius GT ini diklaim sebagai generasi Prius ngebut yang paling mutakhir dalam berbagai hal. Aslinya, mesin ini digunakan oleh Lexus RC F GT3. Sementara sistem hybrid tidak berubah. Tahun 2020 ini, apr tetap menurunkan sepasang Prius untuk kelas GT300.Namun kurang bertaji. Finish terbaik adalah posisi 10. Sumber: ragam sumber INDRA ALFARISY    

Artikel yang direkomendasikan untuk anda