Sejarah Ferrari 250 Testa Rossa Yang Membuatnya Jadi Legenda Di Dunia Balap

JAKARTA, Carvaganza.com – Tahun 1950-an adalah awal mula nama Ferrari ditakuti di dunia balap. Brand mobil sport asal Italia itu melahirkan sejumlah mobil balap terbaik yang pernah ada. Salah satunya Ferrari 250 Testa Rossa yang memenangkan 24 Hours of Le Mans tiga kali.

Ferrari, Maserati dan Jaguar sedang dalam pertarungan sengit memperebutkan gelar juara World Sports car Championship tahun 1957. Di akhir kejuaraan, Ferrari berhasil memuncaki tahta tertinggi yang berarti pabrikan berlogo kuda jingkrak itu sukses meraih gelar keempatnya dalam lima tahun terakhir.

Tak lama berselang FIA menerapkan aturan baru yang membatasi kapasitas mesin hingga 3,0 liter saja untuk kejuaraan tahun berikutnya. Mendengar berita ini, Enzo Ferrari mengumpulkan para insinyur terbaiknya dan meminta mereka untuk memperbaiki mesin milik Ferrari 500 TRC mereka agar tak hanya kompetitif namun juga punya daya tahan yang baik untuk mendominasi setiap balapan musim berikutnya.

Carlo Chiti, kepala desainer Ferrari ketika itu diberikan tugas yang sangat berat. Chiti adalah orang yang bertanggung jawab terhadap pengembangan mobil balap Formula 1, Ferrari 246 ketika itu. Ia dikenal sebagai orang yang punya banyak ide orisinal dan haus akan inovasi. Menariknya, Enzo sangat menekankan bahwa perintahnya kali ini bukan sebuah eksperimen. Kegagalan tak bisa ditolerir sama sekali.



Akhirnya Chiti mencoba pendekatan konservatif. Ia mengajak Andrea Fraschetti, insinyur paling berbakat yang dimiliki Ferrari ketika itu untuk mengembangkan mobil prototipe. Sayangnya Andera justru meninggal tahun itu saat sedang melakukan pengujian mobil.

Chiti memodifikasi struktur rangka baja tubular milik Ferrari 500 Testa Rossa dan memperpanjang jarak sumbu rodanya sebanyak 10 cm. Kemudian sistem peredaman coil spring di depan dan solid axle dipilih. Sementara itu bodi mobil prototipenya memakai miliki 290 MM hasil garapan Scaglietti yang sebelumnya dipakai untuk ajang balap Nürburgring 1.000 km.



Tenaga penggerak yang dipilih adalam mesin 3,0 liter V12 dari Ferrari 250 yang terjun di kejuaraan balap GT. Mesin ini dimodifikasi total untuk meningkatkan performanya. Kemudian karburatornya diganti dengan enam unit karburator Weber 38 DCN. Bagian dalam mesin seperti piston hingga connecting rod semua dibuat ulang agar menghasilkan daya tahan optimal. Sentuhan akhirnya, bagian penutup camshaft berwarna merah dipasang. Inilah mengapa mobil ini mendapat predikat Testa Rossa atau kepala merah.

Mahakarya ini diberi kode Tipo 128 yang menggenerasikan tenaga sebesar 300 hp pada 7.000 rpm. Ketika dipasang pada 250 Testa Rossa, menjadikan mobil ini memiliki rasio tenaga bobot 100 hp / liter yang membuatnya dikenal sebagai mesin Ferrari dengan durabiiltas terbaik yang pernah diciptakan. Tak berhenti sampai di situ, mobil ini terus disempurnakan seiring perjalanan waktu.



Hasilnya, Ferrari 250 Testa Rossa menguasai World Sportscar Championship tahun 1958 dengan memenangi empat dari enam balapan yang dilombakan termasuk 24 Hours of Le Mans dan Targa Florio. Pembalap yang turut mengambil andil dalam kesuksesn ini adalah Phil Hill, Olivier Gendebien, Luigi Mussio dan Peter Collins.

Musim berikutnya, bodi mobil direvisi sedikit oleh Pinnfarina. Kemudian untuk pertama kalinya mobil sports Ferrari melepas rem tromol dan menggantinya dengan rem cakram. Transmisi baru 5-percepatan juga dipasang menggantikan transmisi lamanya yang masih 4-speed. Balapan pertaa musim itu Ferrari sukses menduduki posisi pertama dan kedua untuk pertama kalinya di Sebring International Raceway. Sayang di seri-seri selanjutnya prestasinya tak gemilang. Musim balap 1959 berakhir dengan kemenangan diperoleh Aston Martin dengan mobil DBR1/300 yang dikemudikan Sir Stirling Moss dan Caroll Shelby.



Kalah untuk pertama kalinya setelah memenangi kejuaraan empat tahun berurutan, para insinyur Ferrari terus memperbaiki Testa Rossa. Ia lalu dibekali sistem pelumasan dry-sump yang memungkinkan mereka untuk menaruh posisi mesin lebih rendah demi menghasilkan pusat gravitasi yang lebih rendah pula. Aerodinamika kendaraan juga ditingkatkan. Suspensi belakang independen yang baru juga dipasang.

Musim 1960 berlangsung sengit. Aston Martin memilih absen. Porsche tiba-tiba muncul sebagai kuda hitam setelah mobil 718 RS miliknya mememnangi dua dari tiga balapan. Dua balapan terakhir adalah Nürburgring 1.000 km dan 24 Hours of Le Mans. Di Jerman Maserati Tipo 61 yang disopiri Sir Stirling Moss dan Dan Gurney secara mengejutkan berhasil mencuri gelar juara. Porsche di posisi kedua dan Ferrari Cuma bisa naik di podium ketiga.



Gelar juara ditentukan di balapan terakhir, 24 Hours of Le Mans. Setelah menghabiskan lebih dari 314 putaran, akhirnya Ferrari 250 TR 59.60 yang dikemudikan pembalap Belgia Olivier Gendebien dan Paul Frère berhasil memenangi lomba. Posisi kedua juga dikunci pembalap Ferrari 250 TR 59 lainnya, Jean Behra dan Cliff Allison. Ferrari akhirnya berhasil keluar sebagai juara World Sportscar Championship tahun itu.

Tahu berikutnya Scuderia Ferrari mendominasi balapan dan memenangi seluruh seri kecuali Nürburgring 1.000 km. Ferrari juga kembali menduduki dua posisi podium teratas balap La Mans dengan pembalap Phil Hill dan Olivier Gendebien.



Durabilitas dan performa 250 Testa Rossa yang melegenda menjadi jalan bagi lahirnya Ferrari 250 GTO, 250 P dan 250 LM yang semuanya memakai mesin Tipo 128 V12. Mobil-mobil hebat tersebut juga mengaplikasi aerodinamika yang sukses ditemukan oleh 250 TR.

Ferrari 250 Testa Rossa menjadi salah satu mobil vintage yang paling berharga saat ini. Apalagi hanya ada 33 unit yang diproduksi. Salah satu pemiliknya adalah raja fashion, Ralph Lauren. Ia punya dua unit dan salah satunya telah ia jual pada 2014 kepada seseorang dengan harga yang mencapai US$ 39,8 juta atau sekitar Rp 561,8 milyar.
RIZKI SATRIA

Baca juga: TEST DRIVE: Ferrari F8 Spider, Sama Kencang dan Seasik Coupe



Sumber: Autoevolution

Artikel yang direkomendasikan untuk anda