Jokowi Ingin Indonesia Produksi Mobil Listrik, Alasan Punya Modal Dari Hulu hingga ke Hilir

Jokowi Ingin Indonesia Produksi Mobil Listrik, Alasan Punya Modal Dari Hulu hingga ke Hilir

JAKARTA, Carvaganza – Indonesia digadang-gadang akan memproduksi kendaraan listrik sendiri dan juga sebagai penghasil baterai mobil elektrifikasi. Hal tersebut disampaikan oleh Joko Widodo, Presiden Republik Indonesia saat acara peringatan Hari Kebangkitan Teknologi Nasional yang ke-26 dan disiarkan melalui Youtube. Presiden mengatakan bahwa hilirisasi pengembangan industri harus dilakukan di Indonesia, karena memiliki sumber daya alam yang berlimpah. 

Dalam pidato tersebut, Jokowi langsung memberikan contoh hilirisasi yang dapat dilakukan oleh Indonesia adalah pengembangan tambang nikel yang tidak boleh bergerak secara stagnan. Ia menyebutkan bahwa kepemilikan tambang nikel di Indonesia bisa memberikan kesempatan pengembangan industri mulai dari hulu hingga hilir salah satunya adalah produksi baterai lithium dan produksi mobil listrik. 

“Semakin banyak rantai pasok yang diproduksi di dalam negeri, semakin besar pula nilai tambahnya untuk masyarakat bangsa dan negara. Tetapi semua itu kuncinya adalah teknologi, khususnya teknologi masa depan, karena pasar dunia akan mengarah pada green product terutama para barang low carbon,” kata Presiden RI, Joko Widodo pada acara Hari Teknologi Nasional ke-26. 

Mitsubishi Outlander PHEV

Paparan Presiden diungkapkan dengan mempertimbangkan berbagai aspek salah satunya adalah permintaan pasar dunia terhadap produk yang ramah lingkungan. Menurutnya, Indonesia mampu mengakomodasi permintaan pasar karena didukung oleh persediaan sumber daya alam khususnya nikel dalam pengembangan kendaraan listrik.

Baca Juga: Membandingkan Nissan Leaf dan Hyundai Ioniq Electric, Pilihan EV Terjangkau di Indonesia

Pada awal 2021 sendiri Indonesia pernah digadang-gadang akan bekerja sama dengan perusahaan otomotif asal AS, Tesla untuk membangun pabrik produksi kendaraan listrik. Namun belakangan kabar tersebut ditepis pemerintah dan menyatakan bahwa pembicaraan dengan pihak Tesla masih tentang lobi investasi yang belum dapat diumumkan detailnya. Kabarnya Tesla akan membangun Energy Storage System atau sistem penyimpanan energi di Indonesia yang sebelumnya sudah sukses beroperasi di Australia. 

Berbeda dengan Komisi Uni Eropa yang tengah menggodok disahkannya standar Euro 7 dengan isu utama lingkungan yang bersih serta kualitas udara yang lebih baik lagi. Aturan ini akan melarang kendaraan-kendaraan dengan sistem pembakaran internal berlalu-lalang di jalanan negara-negara Eropa. Selain itu, kendaraan yang akan dipasarkan juga harus dilengkapi dengan sistem diagnosa on-board yang memantau kerja mesin tetap sesuai dengan regulasi yakni nol emisi meskipun digunakan hingga 150.000 mil atau setara 241.000 km.

Nio ET7 (electric motor)

Peraturan ini akan mulai diberlakukan di Eropa pada 2025 dan sudah disetujui pada Oktober tahun lalu oleh European Commission’s Consortium for Ultra Low Vehicle Emissions (Clove) of engineering consultants.

Sementara untuk mencapai standar Euro 7 tersebut, mobil dengan mesin bensin tersebut nantinya akan dibekali dengan superkatalis untuk kendaraan berkapasitas 1.0 liter dan peralatan yang lebih rumit lagi seperti katalis khusus untuk mesin yang lebih besar. Hal tersebut dilakukan agar kendaraan dengan mesin bensin tidak lagi mengeluarkan gas CO2 ke saat dikendarai.
ALVANDO NOYA / WH

Baca Juga: Hyundai Staria Terus Tebar Pesona, Siap Meluncur 20 Agustus?

Mobil Pilihan

  • Upcoming

Updates

Artikel lainnya

New cars

Artikel lainnya

Drives

Artikel lainnya

Review

Artikel lainnya

Video

Artikel lainnya

Hot Topics

Artikel lainnya

Interview

Artikel lainnya

Modification

Artikel lainnya

Features

Artikel lainnya

Community

Artikel lainnya

Gear Up

Artikel lainnya

Artikel Mobil dari Oto

  • Berita
  • Artikel Feature
  • Advisory Stories
  • Road Test

Artikel Mobil dari Zigwheels

  • Motovaganza
  • Tips
  • Review
  • Artikel Feature