Beranda EDITOR'S PICKS 6 Peristiwa Penting Otomotif Indonesia di 2019

6 Peristiwa Penting Otomotif Indonesia di 2019

JAKARTA, 26 Desember 2019 – Tahun 2019 segera berakhir dalam hitungan hari. Berbagai peristiwa penting terjadi di industri otomotif Tanah Air sepanjang tahun ini. Dari mulai pabrikan yang berlomba-lomba meluncuran model-model baru untuk menarik minat pasar, investasi baru, penutupan brand, dan masih banyak lainnya.

Secara umum pasar otomotif tahun ini tidak terlalu menggembirakan. Bahkan — jika boleh dibilang – pasar otomotif semakin melorot. Catatan Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), menunjukkan jika pasar otomotif – terutama kendaraan roda empat – melorot sejak 2014.

Memang penjualan sempat membaik di tahun 2018. Namun tahun ini kembali melorot. Berdasarkan data Gaikindo, periode Januari hingga November, penjualan nasional turun hingga 10 persen. Hal ini tentu kurang menggembirakan. Meski demikian beberapa catatan penting terjadi sepanjang tahun ini.

Berikut Carvaganza merangkum beberapa hal penting di industri otomotif nasional selama 2019.

1. Pameran Otomotif

Di tahun 2019, untuk keempat kalinya, terdapat dua pameran otomotif besar. Pertama Indonesia Internasional Motor Show (IIMS) 2019 digelar Dyandra Promosindo pada 25 April hingga 5 Mei lalu. Hanya dua bulan berselang, Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (GAIKINDO) menggelar Gaikindo Indonesia Internasional Auto Show (GIIAS) pada juga selama 10 hari yaitu 18-28 Juli lalu 2019.

Kedua pameran tersebut menjadi barometer perkembangan otomotif Tanah Air. Para agen pemegang merek (APM) menggunakannya untuk memperkenalkan model-model baru mulai dari mobil, sepeda motor, hingga kendaraan niaga, dan after market otomotif lainnya.

Tak ketinggalan pabrikan juga menyajikan teknologi terbaru termasuk mobil hybrid dan listrik. Ada Toyota C-HR Hybrid, Mitsubihi Outlander PHEV, Mercedes-Benz E300e, hingga BMW i3.

Wuling Almaz

2. Kejutan Merek Cina

Pasar otomotif Tanah Air tahun ini memang kurang kurang menggembirakan. Meski demikian hal itu tidak mengurangi langkah pabrikan asal Cina untuk mencari peruntungan di Indonesia. Ada dua nama yang mencuat yaitu DFSK Motors dan Wuling Motors.

Bahkan bisa dibilang jika kedua brand asal Cina sukses mencuri perhatian. DFSK dan Wuling menawarkan produk yang memikat konsumen seperti fitur unggulan, layanan, dan harga yang bersaing dibandingkan brand-brand asal Jepang dan Korea.

DFSK mengkhususkan dirinya pada segmen SUV dengan menghadirkan Glory 580 dan Glory 560 meski mereka juga punya kendaraan komersial Super Cab. DFSK juga memajang dua model konsep Glory i-Auto dan DFSK Glory E3. Kehadiran mobil ini menunjukkan keseriusan DFSK untuk menggarap segmen mobil listrik.

Yang mengejutkan adalah Wuling. Setelah Confero S dan Cortez yang bermain di segmen MPV, Wuling menghadirkan Almaz. SUV ini memiliki fitur canggih perintah suara berbahasa Indonesia WIND.

Nah, yang menarik konsumen bisa mendapatkan produk-produk Cina ini dengan harga miring. Dengan harga antara Rp 100-200 juta, konsumen sudah bisa mendapatkan produk dengan fitur yang di brand Jepang dijual di angka Rp 200-an juta. Hal ini tentu saja sedikit banyak mengganggu kue para pemain asal Jepang dan Korea. Tinggal kita tunggu kejutan dan inovasi apa lagi yang akan dihadirkan DFSK atau Wuling tahun depan.

Mitsubishi Outlander PHEV di stasiun quick charging di Plaza Senayan, Jakarta.

Baca juga:
Mitsubishi Sediakan Quick Charging Station Mobil Listrik di Plaza Senayan
Baca juga:
Mitsubishi Xpander Cross Meluncur, Ini Daftar Harga Lengkapnya

3. Elektrifikasi Kendaraan

Tahun 2019 ini pemerintah getol melakukan woro-woro soal elektrifikasi. Puncaknya adalah ditandatanganinya Peraturan Presiden (Perpres) terkait mobil listrik yang kemudian mulai memicu sejumlah kementerian untuk membuat aturan turunan terkait kendaraan listrik.

Aturan kendaraan listrik itu tertuang dalam Perpres No. 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan. Perpres yang ditandatangani Presiden Joko Widodo (Jokowi) dan ditetapkan 8 Agustus 2019 itu memiliki 37 pasal.

Pada Perpres tersebut dibahas soal percepatan pengembangan industri kendaraan bermotor listrik berbasis baterai dalam negeri. Di antaranya dibahas soal penelitian, pengembangan, dan inovasi industri untuk kendaraan bermotor listrik berbasis baterai. Selain itu, dibahas juga soal tingkat komponen dalam negeri untuk kendaraan bermotor listrik berbasis baterai. Kendaraan bermotor listrik dan industri komponen kendaraan listrik wajib mengutamakan penggunaan komponen dalam negeri.

Di Indonesia sendiri belum banyak APM yang menghadirkan kendaraan listrik. Mitsubishi dengan BMW i8, BMW i3, Mercedes-benz E 300 e, Outlander PHEV, dan Nissan Leaf yang akan masuk tahun depan. Toyota lebih banyak menghadirkan versi hybrid.

4. Chevrolet Hengkang

Perekonomian global yang lesu berdampak juga ke Indonesia. Kabar mengejutkan datang dari satu-satunya pabrikan otomotif Amerika Serikat di Indonesia, Chevrolet. Sebuah siaran pers resmi diedarkan oleh General Motors (GM) sebagai induk perusahaan dari Chevrolet, pada hari Senin (28/10/2019). GM menyatakan akan menghentikan kegiatan penjualan kendaraan mereka di Indonesia. Chevrolet akan hentikan penjualannya di Indonesia mulai Maret 2020 mendatang.

Alasan hengkangnya GM dari pasar otomotif Indonesia lantaran persaingan ketat yang membuatnya sulit mencapai target untuk mendapatkan keuntungan. Meski demikian, GM mengaku akan tetap memberikan pelayanan kepada pelanggan Chevrolet di Indonesia dalam bentuk layanan garansi dan purna jual.

5. Datsun Setop Produksi

Selain Chevrolet ada satu lagi merek yang tak mampu bersaing dan memutuskan berhenti yaitu Datsun. Salah satu pabrikan Jepang yang menawarkan produk berbanderol terjangkau di Indonesia ini akan segera mengakhiri aktivitas produksinya. Pabrik Datsun Indonesia yang berlokasi di Purwakarta, Jawa Barat, dikabarkan akan mengehentikan kegiatan produksi kendaraan Datsun mulai tahun depan. Keputusan ini menyusul tidak berkembangnya penjualan Datsun di Indonesia dalam beberapa tahun belakangan.

PT Nissan Motor Indonesia (NMI) sebagai induk Datsun di Indonesia telah mengadakan rapat regional bersama para vendor komponen. Pada rapat tersebut, diumumkan bahwa aktivitas produksi pada Plant 2 milik NMI akan dihentikan untuk Datsun GO dan GO+. Namun tidak seperti Chevrolet, Datsun yang juga terdampak lesunya pasar otomotif nasional tetap berjualan mobil, tidak benar-benar pergi seperti Chevrolet.

6. Investasi Hyundai

Di penghujung tahun 2019, kabar mengejutkan datang dari Hyundai yang kabar rencana investasi mereka di Tanah Air. Hyundai Motor Company resmi mengumumkan telah menandatangani nota kesepahaman atau Memorandum of Understanding (MOU) dengan pemerintah Indonesia. Kesepakatan tersebut berbuah kepastian Hyundai akan membangun pusat manufaktur pertama yang berbasis di kawasan ASEAN.

Penandatanganan MoU atau nota kesepahaman dilakukan oleh Hyundai di pabrik mereka yang berlokasi di Ulsan, Korea Selatan. Acara ini turut dihadiri oleh Presiden RI Joko Widodo, Menko Kemaritiman dan Investasi RI Luhut Binsar Pandjaitan dan Menko Bidang Perekonomian RI Airlangga Hartarto, dan beberapa petinggi negara lain.

Akan terletak di Kota Deltamas, Cikarang, Jawa Barat, pabrik Hyundai Indonesia akan dibangun di atas lahan seluas 77,6 hektar. Ini akan menjadi pabrik pertama Hyundai di kawasan ASEAN. Dengan nilai investasi USD 1,55 miliar, pabrik diharapkan bisa beroperasi untuk produksi pada paruh kedua tahun 2021.

Hyundai Kona

Baca juga:
Sah, Hyundai Indonesia Segera Bangun Pabrik di Cikarang
Baca juga:
Mobil Listrik Hyundai IONIQ Electric Jadi Armada Grab Mulai Tahun Depan

Fasilitas yang akan dimanfaatkan juga untuk pengembangan produk ini akan menjadi basis produksi model MPV kompak, SUV kompak dan sedan untuk kebutuhan pasar wilayah Asia Tenggara. Pabrik menggabungkan fasilitas untuk stamping, pengelasan, pengecatan dan perakitan.

Saat beroperasi penuh, pabrik akan punya kapasitas produksi sebanyak 250.000 unit kendaraan dalam setahun. Selain kendaraan jadi, Hyundai juga akan ekspor 59.000 unit kendaraan CKD (Completely Knocked-Down) setiap tahunnya.

Di luar Indonesia, negara lain yang menjadi tujuan ekspor Hyundai dari pabrik baru ini yaitu Vietnam, Thailand, Malaysia dan Filipina, dengan pertimbangan lain yaitu Timur Tengah dan Australia. Hadirnya pabrik ini juga diharapkan bisa memberi manfaat untuk masyarakat setempat, setidaknya sebanyak 23.000 lapangan pekerjaan.

Lebih lanjut, Hyundai akan menggunakan pabrik sebagai fasilitas mengembangkan ekosistem kendaraan listrik di Indonesia. Bersama afiliasi Kia Motors Corporation, Hyundai targetkan menjadi produsen kendaraan listrik terbesar pada tahun 2025.

WAHYU HARIANTONO | RAJU FEBRIAN

Video Terbaru Youtube Carvaganza

Video Terbaru Youtube The Official Oto