TEST DRIVE: MG HS, Handlingnya Mantap (Bagian 2)

JAKARTA, carvaganza -  Pada tulisan bagian kedua ini, saya ingin bercerita banyak tentang performa MG HS di ragam kondisi jalanan, termasuk di daerah luar kota di Bandung Selatan, tepatnya di Pangalengan. Sebagai pemain baru MG harus berkompetisi dengan rival-rivalnya dari Jepang. Ia harus mampu berenang dengan baik di kolam yang sama yang sudah dijelajahi oleh kompetitor.

Jangan sampai ada pepatah yang bilang, kita tidak pandai menari tapi menyalahkan lantainya yang tidak rata. Nah, kami ingin punya sebuah antitesa atas hipotesa publik yang belum tahu produk ini.

Pada saat saya mengajaknya wara-wiri di tengah kepadatan dalam kota, pengoperasiannya mudah dan ringan. Rem parkir elektrik dengan Auto Vehicle Hold menjadi peranti paling bermanfaat. Tanpa perlu memindah gigi atau menarik tuas rem tangan, laju mobil akan otomatis tertahan ketika telah berhenti.

Dikawin rasio setir pendek membuatnya semakin nyaman untuk dipakai sehari-hari. Tentu ada nilai plus dan minus di balik itu. Meski pergantian arah terasa tajam dan instan, radius putar sedikit terkompromi. Terkadang ditemukan ia nyaris mentok saat mengeksekusi U-turn. Sedikit saja dan tidak sampai mengganggu keseharian, masih dalam batasan wajar.

MG HS

Keseruan baru dimulai sehari setelah mobil dibawa pulang. Tak banyak barang dikemas karena tidak ada rencana untuk berlama-lama. Namun untuk membawa barang banyak memang perlu dipertimbangkan lagi. Ruang bagasinya moderat, tidak terlalu besar dengan lantai cukup tinggi. Tidak lebar pula dengan pipi ruang penyimpanan ditutup cover tebal. Andai benar perlu membawa barang, setidaknya ada roof rail sebagai jangkar untuk roof box.

Berangkat kami tak lama setelah matahari mulai menerangi. Intensitasnya masih pas untuk dinikmati dengan tirai panoramic terbuka. Tak perlu waktu lama juga untuk mencapai rintangan pertama: jalan tol. Beruntungnya saat itu kondisi sepi sebab mayoritas berada di arah berlawanan.

Sebagai gambaran spesifikasi, potensi performa MG HS berasal dari pemacu empat silinder 1,5 liter turbo. Ekstraksi tenaganya mungkin tidak seberapa dibanding pemain mainstream lain. Hanya sanggup memuntahkan 160 hp (162 PS) di 5.600 rpm. Namun ia patut berbangga atas produksi torsi 250 Nm di 1.700 – 4.000 rpm, melejitkan roda depan via girboks DCT 7 percepatan.

Tidak ada hasrat untuk melaju kencang karena ia bukan pelari ulung. Tapi bila dibutuhkan, HS tetap menyanggupi. Alunan penyaluran daya tentu tidak se-linear jantung naturally aspirated. Ketika dilecutkan, mesin baru mau nurut saat putaran 2.000 rpm dan terus kegirangan hingga sekitar 4.000-5.000 rpm. Setelah itu napas perlahan tersengal sampai titik pergantian gigi. Begitu motivasi HS saat disuruh berlari dalam lintasan panjang.

Karakter suspensi MacPherson Strut di depan berpadu multi-link independen di belakang menyuguhkan kenikmatan tersendiri. Ayunan independen nan kompleks pada poros belakang bawa sinergi antara handling dan kenyamanan. Settingan berada di spektrum kaku ketimbang lembut meski tidak ekstrem. Pas kalau memang ada upaya untuk menegaskan sensasi sporty. Tak mengompromikan kenyamanan juga, ia sanggup berlari kencang tanpa perlu terasa terburu-buru.

Baca juga: Sudah Tahu Arti dari Nama Unik Mobil-mobil Terkenal Ini?

MG HS

Tanjakan Berkelok adalah Habitatnya

Usai melewati jalan tol dan menembus sempitnya jalan tikus di daerah Soreang, kami dipertemukan oleh tanjakan berkelok menuju Pangalengan. Tujuan pertama adalah Perkebunan Teh Kertamanah untuk beristirahat sejenak. Kondisi permukaan jalan cukup halus meski ditemui lubang di beberapa titik. Semulus pipi remaja baru puber yang rajin perawatan: mulus hanya saja tidak sempurna.

Sikap HS agak kikuk menghadapi situasi ini dalam mode berkendara Normal. Asma putaran bawah tidak cepat ditanggulangi inhaler turbo sebab transmisi cenderung menjaga rpm rendah. Apalagi di mode Eco, malah terkesan boyo dan ogah-ogahan ketika diminta untuk berlari padahal sebenarnya tidak.

Juga ketika dihadapi medan tak bersahabat, HS tidak dapat beradaptasi dengan baik. Ground clearance ikut menunjukkan bahwa peruntukannya mengutamakan penggunaan di atas aspal. Bebatuan ringan mungkin tidak masalah namun jalur perkebunan dengan trek roda cukup dalam dipastikan bukan makanan utamanya. Meski begitu, kalau memang butuh senjata untuk off-road, Hill Start Assist sudah ditemani Hill Descent Control demi menanggulangi tanjakan dan turunan licin.

Lepas dari peristirahatan pertama, perjalanan dilanjut ke perkebunan berikutnya yakni Cukul. Menuju tempat itu kami disuguhkan salah satu jalan pegunungan terbaik. Lumayan lebar dan halus, dihiasi jalinan indah kelok tajam dan tentunya pemandangan menakjubkan dari lembah serbahijau. Cocok untuk melepas jeratan napas berat HS sekaligus mengolahragakan kaki-kaki. Pindahkan ke mode sport lewat tuas transmisi, atau shortcut “Super Sport“ di palang setir, ia dapat bebas bersikap seakan berada di rumahnya sendiri.

Perpaduan antara bantingan agak kaku dengan ketajaman rasio putar setir membuatnya dapat dipercaya. Tidak sontak menghadirkan handling mobil sport memang. Yang jelas segala arahan pengemudi segera terlaksana tanpa prokrastinasi redaman lembut. Nikmat, gejala limbung pun ditolerir dengan baik.

Inhaler turbo jelas mengobati asma mesin 1.500 cc saat menanjak. Kesigapan ditunjang mode Sport yang mengutamakan gigi rendah agar siap berakselerasi. Mesin tentu lebih sering meraung, tapi di situ letak keseruannya. Kalau ingin otoritas lebih, perpindahan manual dapat terlaksana via paddle shift atau tuas selektor (hanya di mode sport). Patut diapresiasi juga sebab karakter girboks DCT memungkinkan perpindahan cepat nan halus. Kombinasi powertrain, drivetrain, dan komponen kaki-kaki di mode ini ibarat anjing peliharaan yang patuh tapi tidak membosankan.

Fitur-fitur pembantu dan penambah keseruan

Cukup banyak penunjang keseruan ia berikan selama perjalanan. Misal konektivitas Android Auto untuk menghadirkan fitur navigasi berikut Google Assistant. Tak ketinggalan hubungan smartphone turut menghadirkan pemutar musik berbasis internet saat stasiun radio setempat kurang cocok dengan selera. Nah, keasyikan itu semakin paripurna ketika cuaca cerah dan udara segar. Atap panoramic sunroof dapat benar-benar menunjukkan fungsinya untuk mengenalkan cahaya dan udara ke dalam kabin.

Ditambah pula berbagai sokongan fitur keselamatan lengkap. Sensor di sekujur tubuh terus memantau rintangan di sekitar. Ada beberapa asisten peringatan meramaikan pos jaga. Blind spot monitor bakal memberikan peringatan visual melalui panel tweeter di pintu. Sementara itu, Rear Cross Traffic Alert bekerja bersama kamera parkir di sistem multimedia. Perjalanan semakin bebas kekhawatiran lantaran MG membekali airbag sebanyak enam titik dan tersemat kontrol stabilitas elektronik.

MG HS 2021

Konsumsi Bahan Bakar

Untuk mengetahui seberapa irit mesin 1.500 cc turbo-nya, kami melakukan pengujian bahan bakar sejak awal perjalanan di kota. Tidak mengandalkan MID saja, metode full-to-full sekalian diaplikasikan. Total perjalanan 352,1 km terbukti menghabiskan 36,88 liter Pertamax. Artinya, ia menorehkan angka 9,5 kmpl. Di MID sendiri menunjukkan figur rata-rata 10,2 kmpl.

Relatif irit mengingat perjalanannya tak melulu di jalur bebas hambatan. Ada dinamika antara perkotaan, tol, dan tanjakan berkelok yang membutuhkan kekuatan ekstra. Dikendalikan sewajarnya, menjaga kecepatan konstan dan sesekali dipacu ketika situasi mengharuskan. Yang jelas angka tadi tidak saklek, gaya berkendara dan kondisi lalu lintas menjadi salah satu faktor pengaruh.

Kesimpulan

MG HS Ignite bukanlah barang inferior meski banderolnya relatif rendah. Ia bawa segudang fitur lengkap dari penunjang hiburan sampai sokongan berkendara. Citra sports car MG mungkin sebatas gimmick desain dan fitur. Tidak mendasar tapi setidaknya handling presisi patut diapresiasi. Sebagai produk jelas memikat. Layak dijadikan pertimbangan kalau tidak mau terlihat mengikuti arus utama meski APM masih dalam tahap meluaskan jaringan pelayanan.

AHMAD KARIM   |  FOTO: HERRY MULYAMIN

 

Artikel yang direkomendasikan untuk anda