Road Test Toyota Camry 2.5 V: Inikah Camry Paling Sporty Yang Pernah Ada?

Sejak melahirkan Toyota Crown sekitar 64 tahun silam, pembuat mobil asal Jepang ini seperti keranjingan menggunakan kata mahkota sebagai nama produknya. Tradisi ini dipelihara oleh keturunannya, Toyota Corona (1957) dan Corolla (1966), yang keduanya berurutan memiliki makna dari bahasa Latin, mahkota dan daun mahkota. Masih banyak lagi, ada Toyota Tiara (1960), Toyota Scepter (1991) hingga Toyota Atara (2011) juga berarti mahkota dalam bahasa Yahudi.

Toyota Camry tak kecuali. Pertama kali dikenalkan pada 1982, secara etimologi Camry merupakan transkipsi fonetik dari bahasa Jepang Kanmuri (かんむり) yang berarti mahkota. Pendekatan komunikasi produk ini memiliki makna dalam. Toyota ingin Camry menjadi raja jalanan.

Secara global Camry memasuki generasi ke delapan. Sejarah panjang berhasil membuktikan ambisinya sebagai penguasa sedan dunia. Di Amerika Serikat, predikat mobil terlaris bukan hal baru bagi Camry. Bahkan di dunia, ia menjadi mobil terlaris kedua Toyota setelah Corolla. Bukan hal yang mudah untuk menjadi pemilik takhta dan bahkan mewariskannya dari generasi ke generasi.

Di Indonesia pun demikian. Citranya sebagai salah satu simbol kesuksesan, sukses mengantar Camry menjadi kendaraan terlaris di kelasnya. Camry dikisahkan sebagai kereta kencana para pejabat dan borjuis. Sayang, kebanyakan dari mereka malas dan lebih suka disopiri sambil duduk manis di kursi belakang. Kepalang tanggung, lantaran itu sekalian saja Camry diresmikan sebagai salah satu armada taksi premium (Silver Bird). Bukan bermaksud nyinyir. Sebaliknya, Camry dipercaya nyaman, irit, tidak ‘rewel’ dan biaya perawatan tidak bikin kantong pemilik perusahaan taksi kering.

Terbayang sudah, betapa berat beban yang harus dipikul para insinyur Toyota saat merancang generasi barunya. Mobil yang lingkar kemudinya sempat ada di genggaman saya selama beberapa hari. Lantas mampu tidak Camry baru membuai saya menjadi seorang raja?

Eksterior

Toyota Camry

Berdiri di atas rancang bangun Toyota New Global Architecture (TNGA), Camry berbagi basis platform yang sama dengan crossover compact C-HR dan Prius Hybrid Liftback. Akibatnya, paras Camry ikutan atraktif seperti kedua mobil itu. Di atas platform global ini, rencananya, seluruh lini produk Toyota berdiri. Memberikan kesegaran pada bahasa desain, serta wajah lebih menggairahkan dibanding produk Toyota sebelumnya yang terkesan kurang menyulut emosi.

Soal desain memang tergantung. Silakan nilai sendiri wujud baru Camry. Setidaknya, menurut kami, bentuk ini lebih tegas dengan pendekatan bergaya Eropa yang mengangkat derajatnya. Aura agresif dan sporty lebih kental memancar, ketimbang unsur elegan yang melekat pada dirinya sejak lama. Lihat saja hidung mancung dengan grille yang tipis. Tapi bumper depan menganga lebar dengan banyak lubang udara khas mobil sport, yang membutuhkan banyak udara untuk mendinginkan mesin.

Garis bahu di samping disambut seksinya pahatan pinggul. Ditambah garis jendela di pillar-C yang menukik mirip sentuhan khas Hofmeister kink pada BMW. Menyampaikan pesan, Camry sekarang lebih berotot dan tak manis lagi seperti dulu. Apalagi di bagian belakangnya, terdapat diffuser dengan dua knalpot yang menyembul di tiap tepi. Semua itu disepuh fitur eksterior modern, lampu depan LED proyektor dan lampu belakang LED.

Interior

Toyota Camry

Pesan sporty dipertahankan hingga masuk ke dalam kabin. Tema bernada hitam membuktikan itu. Center fascia pun didesain driver oriented atau agak sedikit serong menghadap pengemudi. Tujuannya, memberikan kemudahan bagi pengemudi untuk mengoperasikan seluruh instrumen di dashboard, tanpa mengganggu konsentrasi saat berkendara. Platform TNGA juga diklaim memungkinkan Toyota memasang kaca depan lebih besar, menempatkan dashboard lebih rendah, serta pillar-A yang tipis.

Bidang pandang yang luas ini, dibutuhkan untuk menurunkan posisi berkendara lebih rendah dari sebelumnya, menghasilkan low center of gravity. Maksudnya, memberikan pengalaman berkendara yang lebih intuitif bagi pengemudi dan kenyamanan bagi penumpangnya di belakang. Kenyamanan ditunjang lagi oleh kesenyapan kabin yang patut diacungi jempol. Suara hambatan angin saat melaju kencang maupun artikulasi roda yang bertapak cukup lebar mampu diredam dengan tak mengecewakan.

Material kabin khas sedan mewah seharga lebih dari setengah miliar rupiah. Bahan kulit berkualitas membungkus interior, mulai dari jok, lingkar kemudi, door trim, dashboard hingga ke kenop tuas transmisi. Ornamen panel kayu di konsol tengah dan dashboard memberi sentuhan kemewahan nan klasik. Suasana yang nyaman nyaman ini didukung ruang kabin yang luas. Dimensi panjang 4.885 mm, lebar 1.840 mm, tinggi 1.445 mm dan jarak sumbu roda 2.825 mm membuktikan itu.

Bagasinya pun cukup besar, sekitar 425 liter barang ditelan. Uniknya, ada lubang dari kursi baris kedua saat sandaran tangan diturunkan, yang bisa digunakan tangan untuk merogoh barang ke dalam bagasi.

Performa & Pengendaraan

Toyota Camry

Sempat kami sebutkan di artikel sebelumnya (Part-1), Camry di Indonesia banyak digunakan para pejabat dan borjuis yang lebih senang duduk manis di kursi belakang. Tak sedikit institusi, yang menjadikan Camry sebagai kendaraan operasional para petingginya. Tentu saja, Camry itu disediakan dengan jasa pengemudi. Sedikit banyak alasannya lantaran desain mobil ini yang terlampau elegan alias kurang sporty.

Generasi baru ini ingin mengubah stigma. Jujur saja, tak pernah ada keraguan pada diri saya untuk mengemudikannya. Maksudnya, sama sekali tak terbersit di pikiran disangka sopir oleh orang lain saat saya duduk di depan kemudi. Lantas apakah penampilannya sesuai dengan kepribadiannya di jalan raya?

Keraguan sempat datang saat melihat spesifikasi mesin. Camry masih memanfaatkan mesin 2AR-FE berkapasitas 2,5 liter yang dibawa dari Camry lama. Praktis tak ada peningkatan performa signifikan yang diharapkan. Lantas perhatian beralih pada rasa berkendara. Ingat, Camry mobil kedua setelah C-HR yang datang ke Indonesia dengan platform Toyota New Global Architecture (TNGA).

Apa sih TNGA dan apa kelebihannya? Toyota telah menemukan formula fundamental struktur rangka kendaraaan. Arsitektur rangka yang didesain seluruhnya untuk menyajikan kesenangan mengemudi secara maksimal. Resep jitunya, low center of gravity, body rigidity, pengendalian yang akurat, suspensi belakang double wishbone dan bidang pandang sempurna.

Toyota Camry

Begitu Anda duduk di depan lingkar kemudi, semua itu langsung dapat dirasakan. Pertama bidang pandang yang sempurna. Padahal posisi duduk diposisikan sangat rendah. Posisi berkendaranya sangat sporty, dengan kaki yang hampir selonjor ke depan. Ternyata struktur rangka didesain agar mampu menempatkan dashboard sangat rendah. Sasis yang kokoh, juga memungkinkan Camry punya pillar-A yang tipis. Semua ini meminimalkan blind spot.

Lantas mesin dihidupkan, geser tuas transmisi ke posisi ‘D’ dan angkat pedal rem. Saat mobil menggelinding, tak perlu lama untuk merasakan semua efek positif di lingkar kemudi. Karena pergerakan bodi terasa begitu kaku, dengan feedback positif dari roda yang dapat dirasakan baik di genggaman tangan bahkan hingga ke alas duduk.

Desain bodi yang mengalir dengan banyak sentuhan aerodinamis, membuat mobil bak mencengkeram aspal dan menjaga stabilitas saat dipacu melesat di kecepatan tinggi. Pergerakan bodi mobil, pun jadi sangat menurut input pada lingkar kemudi. Sungguh tak sulit mengemudikan mobil yang berdimensi panjang hampir 5 meter ini, padahal ia memakai penggerak roda depan.

Performa Camry menunjukkan kadar sporty yang lebih tinggi dari sebelumnya. Siapa sangka tenaga penggerak menghasilkan tenaga 183 PS pada 6.000 rpm dengan torsi puncak 234 Nm pada 4.100 rpm. Tak banyak berubah dari sebelumnya. Hebatnya, semua itu tak mengurangi tingkat kenyamananan khas Camry sedikitpun.

Toyota Camry

Kualitas bantingan suspensi Camry sekarang adalah kompromi terbaik. Saat menikung di kecepatan tinggi, bukannya tak ada gejala body roll sama sekali. Tetapi suspensi double wishbone dan racikan peredaman suspensi depan, sukses menjaga kesimbangan antara kenyamanan dan kesenangan mengemudi. Jangan bayangkan bantingan suspensi keras sampai bikin sakit pinggang khas mobil sport sungguhan. Camry masih tetap menjaga tradisi kenyamanan untuk penumpangnya.

Transmisi otomatis 6-speed sequential turut menyumbang kenyamanan. Bayangkan saja, dalam mode berkendara normal dari posisi diam, Camry memilihkan gigi ke empat untuk Anda melaju tenang. Tak ada kekhawatiran Camry menerkam mobil di depannya saat situasi stop and go di kemacetan. Tapi penyaluran daya yang moderat itu dapat berubah seketika jika pedal gas di kick down tiba-tiba. Apalagi posisi gigi dapat dipindah secara manual lewat tuas transmisi di mode sport.

Fitur

Toyota Camry

Untuk ukuran sedan seharga lebih dari setengah miliar rupiah, fitur yang ditawarkan Camry terbilang biasa saja. Bahkan, mungkin SUV (Sport Utility Vehicle) asal Cina seharga setengahnya, ada yang punya fitur lebih canggih dan lebih banyak dibanding Camry. Tapi bukan berarti fiturnya minimalis atau boleh dibilang tidak mengecewakan.

Misalnya sistem multimedia layar sentuh terintegrasi berukuran 9-inci, yang dapat dioperasikan lewat pengaturan di lingkar kemudi. Di dalamnya terdapat fitur navigasi satelit (GPS) dan dapat terhubung dengan smartphone. Bahkan tersedia tatakan ponsel pintar tersembunyi di dalam konsol tengah, yang dapat mengisi ulang daya baterai secara nirkabel. Fitur ini belum banyak ditemui di pasar mobil asal Jepang di Indonesia. Termasuk sunroof dan tirai jendela belakang yang dapat naik-turun secara elektronis.

Demikian pula dengan fitur keselamatan yang dimilikinya. Sebagai standar di setiap varian tersemat 7 airbags, rem ABS+EBD+BA, Vehicle Stability Control, Hill Assist Control, kursi ISOFIX + Tether, hingga sensor dan kamera parkir. Meski sayang, kamera mundurnya kurang sempurna. Selain karena bidang pandang yang kurang optimal, juga belum dilengkapi infrared sehingga kurang jelas di malam hari.

Kesimpulan

Toyota Camry

Semua itu bisa ditebus dengan harga Rp 646.650.000, untuk tipe V yang kami uji. Harga ini masih lebih murah dari kompetitornya, Honda Accord. Sayangnya, banyak fitur milik versi hybrid yang dihilangkan di model non hybrid ini, seperti Head Up Display, Rear Seat Control, Audio JBL, Rear Cross Traffic-Alert, Blind Spot Monitor dan lainnya. Kalau Anda menginginkan itu semua, anda harus menebus Camry hybrid yang jauh lebih mahal seharga Rp 806.600.000. Jujur ini sangat mengecewakan.

Terakhir, berapa efisiensi berkendaranya? Konsumsi BBM mungkin bukan prioritas utama pemilik Camry. Jadi catatan sekitar 7,5 kpl di dalam kota dan 12 kpl di tol seharusnya tak jadi masalah. Lagipula, catatan ini masih masuk akal untuk sedan yang mampu melesat dari posisi diam hingga 100 kpj dalam tempo 9,7 detik dan terus menembus hingga kecepatan maksimum 210 kpj. RIZKI SATRA

Artikel yang direkomendasikan untuk anda