Beranda Drives ROAD TEST: BMW i3S, Punya Dua Kepribadian (2/2)

ROAD TEST: BMW i3S, Punya Dua Kepribadian (2/2)

JAKARTA, Carvaganza.com – BMW i3S jadi mobil listrik murni pertama yang resmi dijual di Indonesia. Kami pun sangat bersemangat mencobanya dalam keseharian. Pada artikel sebelumnya, sudah dipaparkan soal kelistrikan, pengisian baterai dan manajemen penggunaan. Pada bagian dua kita telisik estetika dan rasanya.

Eksterior yang Fantastis

BMW i3S memang hadir bukan sebagai moda transisi dari status quo. Ia diciptakan untuk melangkahi semua pondasi yang berdiri saat ini. Desainnya yang radikal, jadi buktinya. Ia bukanlah model versi elektrik dari kendaaraan bermesin konvensional. i3S dirancang dari nol sebagai sebuah mobil listrik oleh perusahaan yang tahu betul, bagaimana mencipta kendaraan yang menyenangkan.

Kamipun sulit mendeskripsikan bentuk bodinya dalam sebuah klasifikasi. MPV? Sedan? Hatchback? Crossover? Tak ada satu pakem yang membungkus kendaraan pada umumnya.

Bodinya jangkung, nominal tingginya mencapai 1.570 mm. Jika sulit membayangkan, Honda Jazz yang terkenal lapang saja hanya punya tinggi 1.524 mm. Dimensi tubuhnya juga cukup panjang dan lebar (4.006 x 2.039) jika mengukur dari komponen paling luarnya. Dipadu garis atap yang relatif datar, bahkan punya cover wheel arch, sosoknya memang terlalu gambot untuk disebut hatchback.

Setelah kami usut, over fender yang diberi memang mempunyai fungsi khusus. Agar bodi BMW proporsional terhadap lebar rancang roda barunya. Jarak antar roda kiri ke kanan (track width) lebih renggang 40 mm dari versi standar (i3). Kompensasinya, bodi harus ditebalkan dengan aksen tadi.

Lalu, apakah ia sebuah Crossover MPV? Tentu tidak. Tubuh ‘besarnya’ ini dirancang untuk empat penumpang saja. Sekali lagi, konsep yang tak patut didefinisikan ini memang tujuan awal tim BMW. Kami masih ingat presentasi Andreas Feist, Head of Vehicle Project BMW i3 saat pemaparan konsep awalnya. Ia mendeskripsikannya; “Ini adalah mobil elektrik premium pertama. Konsep otomotif ini menggunakan arsitektur baru yang memamerkan semua potensi dan kemungkinan barunya.”

Tampilannya lebih menarik lagi, ia manis, lucu, namun juga gagah. Tubuh besar tapi ringkasnya itu dibalut eksterior yang futuristik. Bagaikan sketsa konsep yang diwujudkan oleh tim riset dalam sebuah prototip, berimbuh pelat nomor. Garis desainnya di satu sisi tak kuat dan agresif layaknya BMW pada umumnya, namun justru padu padan kelirnya yang kontras, tampil lebih tegas.

Satu-satunya identitas BMW yang membuatnya bisa dikenali sebagai mobil Jerman, adalah aksen Kidney Grille yang khas. Sebuah materi disfungsional, tanpa guna namun tak boleh dilupakan. Kami sebut tak berguna karena grill sejatinya dirancang untuk mengalirkan udara ke ruang mesin. Dan i3S tak punya ruang mesin di balik bonnetnya. Konsep yang Fantastis!

Handling Ala MINI dalam Kepribadian Berbeda

Awal berada di balik kemudi, kami sempat terintimidasi oleh kabinnya. Batin mengintepretasikan kokpit dengan rasa yang jauh berbeda dengan mobil konvensional. Mulai dari posisi tuas transmisi (gear selector) berbentuk bonggol besar dengan ragam fungsi. Mengatur maju mundur, netral, parkir, bahkan menyalakan kendaraan. Sungguh tak biasa, tapi tetap mudah digunakan.

Untung saja ada kemudi dengan bentuk yang masih konvensional. Lingkaran kemudi berpalang dua, mengembalikan kami pada realita sebuah mobil yang biasa dikenal. Begitu BMW i3S dijalankan, akselerasinya sangat singkat. Khas kendaraan listrik, tak perlu menunggu momentum putaran mesin, ia sudah melaju kencang sesuai perintah pada pedal gas. Padahal, kami masih menggunakan mode Comfort. Dalam mode ini, pedal gas masih bertugas multifungsi untuk tidak cuma menerjemahkan pijakkan sebagai penambah kecepatan, namun juga deselerasi ketika gas dilepas.

Penasaran ingin mencoba performa terbaiknya, mode pun kami pindahkan ke Sport. Sensasi berbeda langsung menyambut. Pedal gas merespon tanpa kompromi. Setiap persen pijakkan, berubah sempurna jadi instruksi menambah kecepatan. Tugas cadangannya sebagai deselerator, diminimalisir.

Motornya menyimpan potensi daya 184 hp (186,6 PS) dengan torsi 270 Nm. Tentu saja tak sulit memeras seluruh tenaga ini karena motor elektrik siap memproduksinya jauh lebih dinamis ketimbang mesin konvensional. Bahkan klaim BMW, dari putaran pertama, sejumlah tenaga tadi bisa melontar dengan buasnya.

Beralih ke sektor pengendalian. Velg 20 inci diberi karet bundar tipis namun punya grip yang amat impresif. Konon, inilah pembeda i3S dengan i3 biasa yang belum sempat dijual di Indonesia. Keras memang ketika menghadapi rintangan bahkan untuk polisi tidur lembut di komplek mewah. Namun itu semua demi memberi kualitas cengkeraman maksimal saat dikendalikan.

Begitu kemudi kami belokkan, mudah mengenali bahwa ini adalah karakter dari mobil ringkas BMW Group yang paling komunikatif, MINI. Andai saja setir ini berlogo MINI, saya rasa saya tak akan salah menggambarkan kelincahannya setara dengan seri-seri John Cooper Works yang kerap disiapkan dengan racikkan kaki-kaki tangkas.

Namun handling ala MINI itu tersaji jauh lebih menyenangkan di BMW i3S. Seolah punya kepribadian yang berbeda dan punya karakternya sendiri. Membuat mobil ini terlalu berlebihan dikendalikan (oversteer) pun sangat mudah. Gara-gara dimensi dan kelucuan desain bodinya, hampir lupa kalau ia berskema gerak belakang (RWD). Bahkan tak sekadar RWD, motor pemutar roda juga ada di buritan. Tak heran semuanya jadi begitu instan. Baiknya, dalam situasi sedang tak ‘bersenang-senang’ di lapangan luas, pastikan Dynamic Stability Control dan Traction Control mobil ini dalam posisi aktif. Sistem-sistem ini bakalan bikin mobil jadi lebih terkontrol.

Bipolar

Dalam dunia medis, sindrom bipolar digunakan untuk menggambarkan kondisi kejiwaan di mana perubahan emosinya dapat terjadi secara drastis. BMW i3S seolah menyimpan potensi itu. Ia bisa Anda ajak jadi mobil yang sangat peduli akan lingkungan. Efisiensi, material ramah alam dan niremisinya membuktikan hal itu. Namun seketika ia bisa berubah jadi kendaraan sekelas MINI yang punya keasyikkan berkendara tersendiri.

Di balik semua keunggulannya, masih ada beberapa sektor yang kami rasa bisa dikembangkan. BMW i3S memiliki fitur yang cukup terbatas. Meski statusnya mobil listrik yang canggih, namun sekadar pengatur jok elektris, pembuka-tutup bagasi elektris maupun soket AC 230 Volt, tak ia punya. Mungkin saja atas dasar efisiensi, atau demi mereduksi bobot agar tubuhnya tak kian berat.

IVAN HERMAWAN

Video Terbaru Youtube Carvaganza

Video Terbaru Youtube The Official Oto

Last Updates

Toyota Jadi Brand Otomotif Paling Kesohor Di Dunia, Di atas BMW dan Mercedes

CALIFORNIA, carvaganza.com -  Kita sudah bercokol cukup lama di dunia otomotif, tapi tahu kah apa brand mobil paling terkenal di dunia? Artinya, nama brand...

SPYSHOT: Susul Taycan, Porsche Macan Versi Listrik Mulai Diuji

STUTTGART, Carvaganza.com – Suksesnya Taycan sebagai pionir mobil full electric dari Porsche mendorong mereka semakin seriusi segmen baru ini. Salah satu strateginya adalah dengan...

Mengenal Fitur Keamanan Advanced Grip Control Peugeot 3008 dan 5008 SUV

JAKARTA, Carvaganza -- Musim hujan telah tiba. Memasuki musim penghujan, berarti menghadapi berbagai macam kondisi jalan yang sangat berbeda. Berbagai macam kondisi jalan di...
video

VIDEO: First Impressions Toyota Fortuner Facelift Versi Indonesia

JAKARTA, Carvaganza.com – Di tahun 2020 ini, akhirnya pasar Indonesia juga kebagian versi facelift dari Toyota Fortuner, yang resmi meluncur pada bulan Oktober. New...

MG Motor Indonesia Gandeng 2 Mitra Pembiayaan Baru, Makin Pede Jualan

JAKARTA, Carvaganza -- MG Motor Indonesia terus bergerak memperkuat posisinya di Indonesia. Setelah mengumumkan penunjukan Donald Rachmat sebagai General Director MG MOtor Indonesia sejak...