Beranda Features Kisah Penyelamatan Menembus Tembok Berlin, Bersembunyi Di Dalam BMW Isetta (Bagian 2)

Kisah Penyelamatan Menembus Tembok Berlin, Bersembunyi Di Dalam BMW Isetta (Bagian 2)

Menyembunyikan orang di dalam mobil yang lebarnya tak lebih dari 127 cm dan panjang 228 cm itu jenius sekaligus gila. Jenius karena orang lain tak mungkin curiga mobil dengan ruang yang sangat sempit ini mampu menyelundukpan orang. Gila karena bagaimana mungkin bisa menyembunyikan orang setinggi 170 cm tanpa terlihat inspeksi ketat tentara perbatasan Jerman Timur yang terkenal sangat teliti.

Baca juga: Kisah Penyelamatan Menembus Tembok Berlin, Bersembunyi Di Dalam BMW Isetta (Bagian 1)

Para penjaga biasanya memperhatikan seluruh bagian kabin, sampai menggunakan cermin untuk melihat kolong kendaraan. Untungnya, Klaus-Günter Jacobi punya cara untuk mengubah Isetta miliknya menjadi mobil penyelamatan. Ia pernah mendapat pelatihan menjadi mekanik mobil dari 1956 sampai 1959. Ia kemudian meneruskan pelatihannya dengan kerja sambilan menjadi instruktur mengemudi di bengkel tempatnya belajar. Makanya ia punya tempat yang aman dan alat-alat untuk memodifikasi kendaraannya.

Modifikasi ‘Gila’ BMW Isetta

Selama beberapa minggu Jacobi pergi ke bengkelnya setiap malam. Ia harus bergerak cepat, karena tanggal Manfred Koster dipanggil melapor menjadi militer Jerman Timur semakin dekat. Pemilik membiarkan bengkelnya buka sampai larut malam untuk Jacobi. Beberapa temannya datang ke bengkel membawa minuman untuk menemaninya. Sebetulnya ini bagus, semoga saja tak ada yang membocorkan rahasia ini.

“Saya tak ingat berapa lama saya menghabiskan waktu memodifikasi Iseta, yang saya ingat hanya satu hal, membawa sahabtku keluar dari Jerman Timur,” kata Jacobi. Berikut ini adalah deretan modifikasi yang dilakukan Jacobi pada Isetta miliknya:

1. Melepas kotak penyimpanan di belakang kursi. Kemudian memasangnya 4-inci lebih tinggi dari posisi sebelumnya untuk memberi ruang agar sahabatnya itu muat bersembunyi di bawahnya.
2. Melepas kursi dan ban cadangan. Lalu membuat lubang sebesar 20-inci di panel untuk akses masuk.
3. Mencopot cover knalpot, saringan udara dan semua komponen tak penting yang memakan tempat.
4. Agar bisa memuat orang di dalam situ, pipa saluran knalpot harus dibengkokan.
5. Memasang panel metal di lantai untuk mencegah ruang persembunyian tebakar karena panas knalpot.
6. Lantaran bagian belakang kendaraan menjadi lebih berat, bagian dalam lubang roda dipotong agar ban tak terserut fender. Suara berisik bisa menimbulkan kecurigaan.
7. Modifikasi terakhir ia lakukan di hari ‘H’. Ia mencopot tangki bensin berkapasitas 3,5 liter dan menggantinya dengan kaleng oli. Setengah liter bensin saja, itulah yang ia butuhkan untuk membawa sahabarnya melewati perbatasan.

Misi Mulia

Tujuan utama Jacobi memang menolong sahabatnya. Tapi dibalik itu, Jacobi sebetulnya juga merasa tertantang. Ia ingin menunjukkan perlawanan terhadap rezim otoriter seperti yang ia dan Manfred Koster lakukan dulu sebelum ia menyebrang ke Berlin Barat. Dulu sewaktu perbatasan masih terbuka, keduanya sering memantau patroli perbatasan. Mencatat kapan prajurit perbatasan berganti giliran jaga.

Membawa sahabatnya itu menuju kemeredakaan adalah kehormatan. Masalah saat itu, Jerman Timur tak mengakui wilayah Berlin Barat sebagai bagian dari Jerman Barat. Jacobi yang penduduk tetap Berlin Barat tak diizinkan masuk ke wilayah Jerman Timur. Untuk itu ia mencari seorang pengemudi lain. Ia menemukan seorang pelajar Jerman yang bersedia membantu rencananya.

Momen Menegangkan di Pos Jaga Perbatasan

Awalnya ada seorang mahasiswa kedokteran yang bersedia menjadi pengemudi Isetta. Namun gadis itu kehilangan keberaniannya saat melakukan simulasi di perbatasan. Setiap detik yang ia lewati saat mengantri di perbatasan terlalu menakutkan baginya. “Saya tak memaksanya, ujar Jacobi. “Tapi saya jadi bingung, karena tanggal Manfred dipanggil ke militer sudah sangat dekat.”

Pada tanggal 23 Mei, tepat seminggu sebelum Manfred dipanggil menghadap, Jacobi mendapat panggilan telepon. Dua orang pelajar bersedia menjadi pengemudi. Mereka tak ingin menyebutkan namanya. Hari itu juga keduannya menyebrang ke Berlin Timur membawa dua kendaraan, Isetta yang telah dimodifikasi dan satu unit VW Kodok sebagai cadangan.

Keduanya bertemu dengan Koster di Pankow dan membawanya ke daerah pedesaan yang tak banyak orang. Di sana mereka menyembunyikan Koster ke dalam Isetta. Siang harinya Jacobi sudah menunjukkan kepada kedua pelajar itu cara melepas tangki bensin 3,5 liter dengan tangki yang berukuran lebih kecil. Ternyata butuh waktu lebih lama bagi kedua pelajar tersebut untuk menukar tangki.

Gara-gara itu misi rahasia ini sempat hampir gagal. Petani pemilik ladang tempat mereka membongkar tangki bensin dan tiba-tiba datang dan menanyakan apa yang sedang mereka lakukan. Untungnya kedua pelajar itu menyelamatkan keadaan dengan beralasan sedang mengganti ban yang kempis. Saat itu, untuk pertama kalinya Manfred Koster benar-benar diam mematung di dalam ruang yang sempit. Hujan deras yang turun semakin membuat suasana di dalam ruang persembuyian yang gelap dan sempit semakin menakutkan.

Antrian Panjang Di Perbatasan

Jacobi menunggu di seberang Jembatan Bornholmer, menghisap sebatang demi sebatang rokok. Ia terus melihat ke arah perbatasan dan jam tangan yang ia kenakan. Saat itu sudah jam sebelas malam lewat 20 menit. Ia menginjak satu lagi puntung rokok di jalan. Perbatasan tutup tepat tengah malam.

Lalu tepat lewat tengah malam, palang terangkat, Isetta dan VW kodok melewati perbatasan. Setelah keduannya melewati Jacobi, ia langsung berlari di samping Isetta.

“Manfred! Manfred!” panggil Jacobi

“Klaus!” sahutan Koster sayup-sayup dari dalam Isetta terdengar.

Di sebuah taman di Jalan Grünthaler mereka semua berhenti. Butuh sekitar lima menut untuk mengeluarkan Manfred dari dalam kabin yang bisa saja menjadi peti kematiannya. Kakinya kaku, punggungnya gatal, namun itu semua tak mampu mengalahkan perasaan bahagia yang ia rasakan. Akhirnya bebas!

Masih ada sekitar dua tetes bensin tersisa di tangki bahan bakar. Tak sabar, Klaus-Günter membawa Manfred berputar-putar sejenak, kali ini duduk di kursi depan dengan nyaman. Mereka berdua merayakan keberhasilan ini sampai keesokan harinya.
RIZKI SATRIA

Bersambung: Kisah Penyelamatan Menembus Tembok Berlin, Bersembunyi Di Dalam BMW Isetta (Bagian 3)

Sumber: BMW Group

Video Terbaru Youtube Carvaganza

Video Terbaru Youtube The Official Oto

Last Updates

Mengapa Rolls-Royce Senang Menggunakan Nama Hantu Untuk Mobil-Mobilnya?

JAKARTA, Carvaganza.com - Nama adalah doa. Ungkapan itu dalam budaya Indonesia sangat dipandang. Nama tak sekadar sebutan, panggilan atau sapaan. Nama bisa saja megandung...

Mengunjungi Pabrik Bugatti Di Molsheim, Prancis

Molsheim, Carvaganza.com - Molsheim adalah rumah keluarga besar Bugatti. Tempat sang pendiri meletakkan harapannya terhadap brand berkelas itu. Berlokasi di jantung kota Alsace, Prancis,...

Enzo Ferrari, Hegemoni Seorang Komandan

JAKARTA, carvaganza - Pada 18 Februari 1898, di tengah guyuran salju yang pekat, seorang bayi lahir di pinggir kota Modena, Italia. Saking tak mungkinnya...

3 Mitos Isi Bensin Yang Bikin Paranoid Pemilik Mobil

JAKARTA, Carvaganza.com - Banyak orang bisa mengemudi mobil, namun tak paham bagaimana mesin bekerja. Karena tak mengetahui, maka lantas banyak mitos beredar. Soal mengisi...

Kemenperin Manfaatkan AMMDes untuk Penyemprot Disinfektan Cegah Covid-19

JAKARTA, Carvaganza -- Kementerian Perindustrian bersama PT Kreasi Mandiri Wintor Indonesia (KMWI) kembali menggelar kegiatan untuk menekan penyebaran virus korona baru melalui pemanfaatan Alat...