Kampus Binus dan OTO Diskusikan Masa Depan Otomotif Indonesia

Base On Talks

JAKARTA, Carvaganza – Perkembangan dunia otomotif nasional juga menjadi perhatian dunia kampus. Karena disinilah lahir intelektual-intelektual dan akademisi muda yang bakal melanjutkan estafet negeri. Tak terkecuali kampus Bina Nusantara yang memiliki concern terhadap perkembangan teknologi kendaraan roda empat.

Industri otomotif nasional pada saat ini sedang menatap masa depan baru perkembangan teknologi. Pabrikan sedang mengarahkan perhatian pada teknologi kendaraan listrik atau electric vehicle (EV) dan pemanfaatan internet untuk pengoperasian kendaraan.

Ini jadi tema menarik yang juga diangkat pada acara Base On Talks hasil kerja sama Oto.com dan Binus ASO School of Engineering (BASE) pada Sabtu (23/10/2021). Dalam tema "The Future of The Automotive Industry in Indonesia", para pelaku industri serta pelajar yang akan menghadapi teknologi ini di masa depan dapat mengetahui informasi menarik terkait pengembangan industri saat ini.

Pertama dari pemanfaatan teknologi internet atau Internet of Thing (IOT). Muhammad Zacky Asy'ari, Lecturer Specialist Automotive Robotic Engineering Program Binus ASO mengungkapkan saat pandemi 2019 lalu banyak pabrikan otomotif mulai beralih memanfaatkan teknologi internet untuk dimanfaatkan dalam proses produksi maupun produknya. Digitalisasi ini terjadi berkat perubahan pola kehidupan masyarakat saat pandemi yang mendorong industri untuk berpikir lebih dalam bagaimana memanfaatkan kondisi yang ada untuk menghadirkan produk yang sesuai dengan kondisi tersebut.

Hyundai KONA Electric

"Saat ini ada konsep yang namanya connected cars. Ini membuat pemilik kendaraan mengetahui kondisi kendaraan lebih cepat dan presisi dengan pemanfaatan IOT tersebut. Selama ini perawatan mungkin hanya dari kilometer saja dengan teknologi ini, data real time kendaraan dikirim ke produsen untuk kemudian memberitahu kondisi kendaraannya apabila membutuhkan perawatan," ucap Zacky.

Kehadiran teknologi ini juga memungkinkan hadirnya bisnis baru di industri otomotif. Di Amerika Serikat pemanfaatan IOT dapat menilai besaran biaya asuransi yang dibebankan pada pemilik kendaraan. Pihak asuransi dapat menilai apakah pengendara memiliki kebiasaan safety driving atau sering berkendara secara ceroboh. Semakin mengedepankan safety, maka biaya asuransi semakin rendah.

"Jadi digitalisasi itu sebuah kepastian. Kita akan ke sana dalam beberapa waktu ke depan. Jadi untuk pendidikan saat ini tidak bicara teknik saja tapi hingga ke hardware dan software pendukung otomotif di masa mendatang," ucap Zaky.

Aturan pemerintah soal EV

Perkembangan teknologi EV pun terus berlanjut hingga saat ini. Di Indonesia sendiri sudah ada beberapa produsen yang menawarkan EV. Ada juga produsen lain yang menawarkan bentuk kendaraan ramah lingkungan seperti PHEV dan Hybrid hingga teknologi Fuel Cell.

Menurut Munzir Qadri, Lecturer Specialist Automotive Robotic Engineering Program Binus ASO, perbedaan ini memang baiknya dipahami terlebih dulu oleh masyarakat. Perbedaan masing-masing teknologi ada pada penggerak serta bagaimana daya listrik menghadirkan kinerja untuk menggerakkan mobil.

"Terlebih fuel cell, yang saat ini pengembangannya hanya di beberapa negara saja yakni Jepang, dan Eropa. Jika dikatakan untuk Indonesia saat ini dalam menyambut kehadiran EV masih belum masuk lima besar penilaian kesiapannya. Soal peraturan saja baru dibuat pada 2019 lalu," ucap Munzir.

Base On Talks

Pemerintah telah menghadirkan Perpres No 55 Tahun 2019 tentang Percepatan Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (BEV) untuk Transportasi Jalan. Munzir mengungkapkan dalam peraturan tersebut Indonesia menargetkan 20 persen kendaraan di Indonesia jadi mobil listrik pada 2025. "Dan ditetapkan juga 35 persen kandungan lokal sudah dipenuhi produsen otomotif untuk memproduksi EV pada 2023. Jadi sekarang memang terus dipersiapkan dan terlihat pelan tapi kita memang ke arah mobil listrik," ucap Munzir.

Ivan Hermawan selaku Managing Editor Oto.com dan Zigwheels Indonesia mengungkapkan persiapan dan tren kendaraan listrik di Indonesia memiliki pola yang sama dengan pengembangan internet. Saat ini perkembangan EV memang dinilai lambat, namun saat menemui titik balik perkembangannya akan lebih pesat menyerupai penetrasi teknologi internet saat ini.

"Kapan turning point itu? Kita tidak tahu, tapi yang pasti kita harus siap. Baik pemerintah dengan regulasinya, produsen dengan teknologi, dan juga energi yang sesuai dengan teknologi saat ini," ucap Ivan.

Sebagai lembaga pendidikan, Binus ASO tidak asing dengan teknologi kendaraan listrik. Salah satunya keberhasilan kampus tersebut ikut serta dalam kompetisi Sheel Eco Marathon (SEM) dimana tim D'BASE berhasil menempati peringkat 28 dari 235 peserta global. Kompetisi ini termasuk prestisius di kalangan pengembangan teknologi kendaraan ramah lingkungan karena diikuti kampus-kampus ternama dunia. (SETYO ADHI/EK)

Mobil Pilihan

  • Upcoming

Updates

Artikel lainnya

New cars

Artikel lainnya

Drives

Artikel lainnya

Review

Artikel lainnya

Video

Artikel lainnya

Hot Topics

Artikel lainnya

Interview

Artikel lainnya

Modification

Artikel lainnya

Features

Artikel lainnya

Community

Artikel lainnya

Gear Up

Artikel lainnya