Beranda EDITOR'S PICKS INTERVIEW: Alvina Atmadja, Perempuan Milenial yang Passionate pada Otomotif

INTERVIEW: Alvina Atmadja, Perempuan Milenial yang Passionate pada Otomotif

Alvina Atmadja, Direktur dan Owner Asco Automotive (Foto-Foto: Denny Mochtar/Carvaganza)

GAYA bicaranya luwes dan tidak formal namun tetap berisi. Di usianya yang masih sangat muda, 29 tahun, Alvina Atmadja sudah memimpin perusahaan otomotif terkemuka Asco Automotive sebagai Direktur sekaligus Owner yang membawa sekitar 1000 karyawan.

Ia tak seperti  seorang pengusaha besar bergaya aristokrat dan terkesan formil. Justru terlihat simpel, praktikal namun tetap intelek, bahkan di sela-sela wawancara selalu tersenyum dan tertawa ceria. Mungkinkah ini gambaran seorang milenial yang berada di puncak karier pada usia yang masih muda. Mengingatkan kita pada Mark Zuckerberg, Elon Musk, Nabiel Makarim dan pengusaha-pengusaha muda sukses lainnya yang tampil selalu rileks tapi berbobot.

Kecintaannya pada dunia otomotif tak lepas dari sang ayah. Alvina Atmadja adalah putri Stanley Setia Atmadja, pengusaha terkenal di bidang otomotif, car enthusiast dan kolektor mobil. Asco Automotive adalah bisnis yang dirintis dan didirikan oleh ayahnya.

Di sebuah ruangan kantornya yang cukup luas di bilangan Pasar Minggu, Jakarta Selatan, Alvina mengungkap banyak sekali perjalanan bisnisnya kepada Carvaganza hingga Ia mencapai posisi puncaknya seperti sekarang. Berikut petikannya:

Bagaimana Anda bisa tertarik ke dunia otomotif?

Saya menyukai dunia otomotif sejak kecil. Ayah saya adalah seorang car enthusiast dan pengusaha di bidang otomotif. Kakek saya pun bisnisnya di dunia otomotif, jadi sejak kecil kami bersentuhan dengan dunia otomotif.

Saya ingat, saya merasa senang kalau ayah membeli mobil baru dan kami sekeluarga melihat mobil itu. Rasanya gimana gitu. Otomotif dan bisnis adalah passion saya. Bisnis otomotif ini cocok dengan passion saya. Dua hal itu betul-betul pas dan saling melengkapi.

Apakah karena faktor ayah Anda?

Saya tak menampik bahwa usaha yang saya pimpin adalah dari ayah saya. Saya bersyukur kepada Tuhan bahwa saya diberikan nikmat yang begitu besar dan luas. Kita kan tidak bisa memilih untuk dilahirkan oleh siapa dan di keluarga mana dan kebetulan ayah saya adalah Stanley Atmadja.

Tapi bukan berarti mentang-mentang saya anak Pak Stanley lalu saya mesti meneruskan usahanya. Bahkan ayah saya selalu bilang bahwa kalau memang anak-anaknya tidak mampu, Ia tidak akan mewariskan usahanya. Kalau mampu, baru diberikan. Ayah saya tidak pernah memaksakan kehendaknya kepada anak-anaknya. Semua itu tumbuh secara alamiah saja.

Nah karena saya memang dari kecil tumbuh di lingkungan bisnis mulai dari kakek dan ayah saya, maka saya secara pribadi saya sudah mempersiapkan diri bagaimana  caranya supaya saya dianggap mampu untuk melanjutkan ini.

Anda banyak belajar dari ayah?

Betul saya banyak belajar dari ayah, Pak Stanley. Tapi ayah saya tidak pernah memaksakan kepada anak-anaknya untuk meneruskan usahanya. Hal itu tumbuh dari diri anak-anaknya sendiri. Saya sendiri sudah mempersiapkan diri dengan mengambil kuliah bisnis di Australia dengan mengambil jurusan Commerce, spesialisnya di bidang marketing dan ekonomi.

Bagaimana perjalanan Anda memimpin Asco Automotive?

Waktu saya masuk ke sini, saya tidak langsung di posisi di sini (sebagai direktur). Saya memulainya dari bawah dulu. Saya mulai dari finance lalu marketing dan divisi-divisi lainnya. Saya yang meminta kepada ayah saya, saya ingin keliling di tempatkan di setiap departemen untuk melihat dan merasakan pekerjaan yang mesti dikerjakan.

Setelah finance , saya baru dipercaya untuk memegang divisi-divisi. Saya ingin belajar secara bertahap, tidak tiba-tiba langsung di posisi puncak. Saya tidak ingin berada di atas, tetapi tidak mengetahui apa-apa.

Berapa lama waktu Anda beradaptasi?

Saya ditempatkan per departemen rata-rata tiga bulan, dan sampai ke posisi ini saya sudah tiga tahun.

Berapa jumlah perusahaan milik Asco Automotive sekarang ini?

Asco Automotive sekarang ini memiliki 16 cabang perusahaan di Indonesia yang tersebar di Jawa dan luar Jawa dan kami memiliki 25 sales point dengan jumlah karyawan sekitar 900 – 1000 orang.. Sebagai perusahaan yang terus tumbuh, kami punya planning untuk memperluas jaringan bisnis kami ke depan.

Bagaimana Anda memosisikan diri waktu masuk ke sini?

Dulu waktu saya masuk ke sini, namanya anak baru pasti ada feeling tidak percaya diri, di-underestimate, atau saya tidak mengerti terlalu banyak. Cuman menurut saya, itulah tantangannya. Dan saya pun masuk ke perusahaan ini tidak langsung menjadi direktur, saya digembleng terlebih dulu dari bawah.

Ketika saya masuk ke sini, semua saya pelajari dari mulai pola manajemen, produk dan juga dari sisi SDM. Jadi saya juga harus mengenal orang-orang di mana saya akan bekerjasama dengan mereka dan memimpin mereka. Saya sebenarnya banyak belajar tentang proses dan jiwa dari organisasi ini dari orang-orang yang menjadi partner kerja saya dan orang-orang yang saya pimpin. Dengan demikian saya bisa memanage dan memimpin dengan lebih baik.

Apa arti kepemimpinan buat Anda?

Bagi saya kepemimpinan itu selain memiliki aspek directing, memberikan pengarahan kepada tim tentang arah perusahaan mau kemana, juga memiliki aspek memanage yakni mengelola tindakan dari setiap anggota organisasi dan menyerap aspirasi dari setiap anggota organisasi dalam hal ini karyawan.

Jadi kita tidak bisa hanya mendirect saja, atau mendikte kemauan kita saja, melainkan juga harus mendengarkan aspirasi dari bawahan kita. Jadi komunikasi kepemimpinan itu harus dua arah.

Waktu pertama kali masuk perusahaan ini, ada hal yang bersifat surprise tidak?

Pertama, hal yang bikin surprise itu, ternyata dunia mobil itu lumayan ribet ya hahaha. Tapi ya setelah itu menjadi biasa. Saya meyakini bahwa bisnis itu semakin didalami awalnya akan semakin ribet, tapi setelah kita menggelutinya menjadi hal yang biasa.

Surprise kedua adalah ternyata saya bertemu dengan banyak orang yang memiliki passion di dunia ini. Hal itu yang menginspirasi saya untuk senantiasa menjaga setiap anggota perusahaan agar selalu passionate dan passion-nya tetap membara.

Apa arti karyawan bagi Anda?

Karyawan itu asset terbesar kami. Tanpa mereka kita bukan apa-apa dan mereka adalah tulang punggung perusahaan ini. Dan kami semua adalah partner untuk bersama-sama membangun perusahaan ini.

Jadi Anda tidak alergi dengan masukan dari karyawan?

Oo tidak. Justru itu yang saya butuhkan. Malah mungkin karena mereka sungkan kepada saya, suka ngasih masukan yang bagus-bagus deh. Biasanya kan begitu.

Bagaimana dengan masukan Asal Bapak Senang?

Ya enggak dong. Kalau ABS bagaimana saya dan kita semua bisa improve kalau jawabannya hanya yang menyenangkan hati saya. Jadi saya mendorong karyawan untuk jujur bicara tentang fakta yang ada biar dicarikan solusinya. Kalau enggak, kita tidak tahu apa yang harus kita perbaiki.

Bagaimana Anda menanamkan leadership di dalam perusahaan ini?

Yang saya pimpin di perusahaan ini banyak dari semua level dari mulai salesman, mekanik, supervisor, kepala wilayah sampai level BOD. Yang menjadi tantangan saya adalah bagaimana walaupun tanpa ada saya di sekitar mereka, mereka tetap bisa mengikuti kepemimpinan saya dan merasa bahwa saya ada di dalam bagian mereka.

Jadi bagaimana saya bisa men-touch semua orang tanpa harus saya tongkrongin di setiap cabang satu per satu. Yang saya pelajari banyak dari ayah adalah bagaimana menanamkan kultur perusahaan. Bagaimana caranya tanpa kita ada di situ, mereka merasakan kehadiran kita. Jadi ada sebuah sistem dan kultur perusahaan yang sudah terbangun kuat.

Anda tipikal orang ter-planning atau sporadis?

Hahaha, saya berusaha sebisa mungkin untuk planning. Contohnya hal kecil seperti jadwal, kalau tidak diplanning, pasti berantakan. Sama juga dengan menjalankan perusahaan ini, saya berusaha semaksimal mungkin untuk terencana dan tersistematis. Karena biar gimanapun, saya dan BOD lain yang harus men-direct.

Alvina Atmadja, Direktur dan Owner Asco Automotive (Foto-Foto: Denny Mochtar/Carvaganza)

Apa pencapaian terbaik Anda pada tahun ini?

Dalam hal sales volume dan network. Sales kita meningkat cukup tinggi, begitu juga network kita cukup banyak tahun ini. Saya sangat mengapresiasi tim saya yang telah membantu dengan sangat hebat pada tahun ini. Itu secara eksternal. Tapi bukan dalam artian bahwa network ini diartikan sebagai jumlah cabang. Jumlah cabang kami tetap, namun jangkauan network kami terus meluas.

Kalau secara internal, kami melakukan pembenahan-pembenahan internal dan bisa dicapai dengan baik. Dan pembenahan-pembenahan itu mungkin tidak bisa dilihat dari luar, namun itu memperlancar sistem. Kami banyak melahirkan sistem-sistem yang baru yang mempermudah operasional dan penjualan kita.

Pasar mana yang mengalami pertumbuhan pesat bagi Asco?

Di Jawa Timur. Jumlah penjualan Daihatsu dan Isuzu kami meningkat pesat. Growth-nya di kisaran 40-50 persen dengan empat jaringan Asco Daihatsu di sana, satu jaringan untuk Isuzu. Kalau Daihatsu, lebih banyak mobil passenger yang terjual, sedangkan Isuzu adalah mobil niaga.

Dengan segala tekanan bagaimana cara Anda melepaskan stress?

Saya tidak merasa pekerjaan ini stressful. Bagi saya di setiap pekerjaan pasti ada capek dan ada sibuknya, tapi di balik semua itu yang saya senang dengan pekerjaan ini adalah saya memiliki passion di dalam pekerjaan ini, terhadap perusahaan ini dan juga orang-orang yang bekerja di sini.

Jadi kadang memang capek, tapi tidak membuat stress bagi saya. Saya passionate terhadap bisnis ini.

(Dan wawancara pun kami tutup dengan perbincangan ringan tentang kecintaanya terhadap mobil Ferrari Dino dan kesenangannya naik gunung).

EKA ZULKARNAIN

Subscribe to our newsletter

To be updated with all the latest news, offers and special announcements.

Video Terbaru Youtube Carvaganza