Beranda EDITOR'S PICKS FEATURE: Recalls, For brighter future

FEATURE: Recalls, For brighter future

WE LOVE CARS, obviously. Kita suka keindahan lekuk-lekuknya, menikmati getaran halusnya, mengatur tekanan pedal, dan mendengar suara mesinnya. Dan yang utama adalah sensasi memegang kendali saat mobil meluncur.  Tapi bagaimana jika mobilnya tak bisa diandalkan bahkan cenderung membahayakan? Even an adrenaline junkie wants to live.

Menurut data World Health Organization, kematian akibat kecelakaan lalu lintas menempati urutan 10 besar selama bertahun-tahun. Memang, sebagian besar kecelakaan tersebut akibat human error. Tapi faktor kendaraan pun ikut ambil andil. Sejak mobil pertama diciptakan pada akhir 1800-an, skandal mengenai safety di industri otomotif tidaklah sedikit. Salah satu kasus awal adalah Ford Model T lansiran 1914.

Mobil yang dikenal sebagai Tin Lizzie ini merupakan kendaraan pertama yang dibangun dengan moving assembly line. Henry Ford berambisi untuk memproduksi besar-besaran Model T dan menjualnya dengan harga murah sehingga banyak yang sanggup membelinya. Karena mengejar waktu produksi yang singkat, jok Model T diisi dengan Spanish moss (semacam lumut kering, kerap digunakan sebagai “busa” pengisi perabotan rumah tangga dan kursi mobil) yang tak melalui proses pembersihan.

Alhasil, serangga-serangga yang hidup di dalam lumut tersebut masih ada dan kemudian merangkak keluar, menembus lapisan jok dan menggigit kulit penumpang mobil. Ford bertanggung jawab dan mengganti semua jok Model T dengan lumut yang sudah dibersihkan meski product recall belum ada saat itu.

Product recall baru hadir di akhir 1950-an. Tapi yang berjasa untuk membuatnya benar-benar berjalan adalah Ralph Nader, aktivis sekaligus pengacara asal Amerika Serikat. Ia melakukan investigasi terhadap industri otomotif mengenai fitur-fitur safety. Penyelidikan tersebut ia tuliskan dalam bukunya, “Unsafe At Any Speed” pada 1965. Karya tersebut mengakibatkan hearing di senat sehingga Presiden US saat itu, Lyndon B. Johnson, menandatangani National Traffic and Motor Vehicle safety Act yang mendorong pemerintah dalam membuat standar keamanan baru untuk kendaraan bermotor dan lalu lintas.

Salah satu skandal recall besar terjadi pada Ford Pinto di 1970-an. Pertama kali dipasarkan pada 1971, mobil mungil ini mengusung tagline “The Little Carefree Car”. Pinto benar-benar carefree termasuk untuk safety. Para engineer Ford saat itu meletakkan tangki bensin di belakang mobil. Dinding tangkinya pun dibuat terlalu tipis demi menekan biaya produksi. Tak berhenti di sini, desain baut-bautnya pun tak dipikirkan secara matang dan banyak yang mencuat. Jika mendapat benturan dari belakang, baut tersebut melubangi dinding tangki. Dan dengan percikan api akibat gesekan metal, mobil meledak sehingga membuat Pinto berpotensi sebagai deathtrap seperti yang dialami sekitar 190 orang. Salah satunya adalah Lily Gray pada 1972.

Gray sedang mengendarai Pinto ketika mobilnya tiba-tiba mogok sehingga ditabrak dari belakang. Dalam kecepatan rendah seperti itu, seharusnya mereka hanya mengalami luka ringan atau tidak sama sekali. Tapi karena desain Pinto yang buruk, mobil meledak, pintu macet, dan membakar penumpang di dalamnya sampai tewas. Tentu saja keluarganya menuntut Ford Motor Company.

Awalnya Ford tidak mengakui kecelakaan tersebut akibat kesalahan desain. Tapi setelah penyelidikan mendalam, pada 1978 Ford dinyatakan bersalah dan harus membayar ganti rugi sebesar US$3,5 juta serta diwajibkan untuk memperbaiki seluruh Pinto yang sudah beredar. Menariknya, dalam penyelidikan ditemui memo internal Ford – dikenal sebagai Memo Pinto – yang kontroversial. Memo tersebut berisi perhitungan untung-rugi dalam mendesain ulang Pinto. Mereka memperkirakan harga nyawa manusia sekitar US$200.000, sedangkan luka bakar serius sekitar US$67.000. Jika rata-rata ada 180 kematian dan 180 luka bakar serius per tahun yang disebabkan oleh kegagalan desain, maka total biaya ganti rugi sekitar US$49 juta. Sedangkan mendesain ulang membutuhkan US$137 juta. Begitu memo ini tersebar ke publik, Ford kehilangan nama baik dan kepercayaan yang tak ternilai.

Recall yang terbesar dalam sejarah adalah Takata. Setelah terlibat dalam recall sabuk pengaman pada 1995, perusahaan asal Jepang tersebut kembali mendapat masalah sejak 2013 sampai 2017. Kali ini melibatkan airbag mereka. Takata merupakan penyedia airbag bagi 19 pabrikan mobil di dunia untuk model 2002 sampai 2015. Produk mereka tersebut terbukti membahayakan.

Takata menggunakan ammonium nitrate – lebih murah ketimbang sodium azide yang relatif lebih aman – sebagai bahan peledak untuk mengembangkan airbag saat terjadi benturan. Masalahnya, bahan kimia tersebut mudah meledak dalam kondisi lembab dan panas. Tak hanya itu, serpihan material ikut berterbangan dan mengenai penumpang. Setelah menelan ratusan korban dan melalui proses pengadilan yang panjang, akhirnya pada 2017 Takata mengaku bersalah dan membayar ganti rugi sebesar US$1 miliar. Kegagalan airbag Takata tersebut memaksa para pabrikan untuk recall puluhan juta mobil.

Banyak recall lain yang terjadi selama beberapa dekade terakhir. Pada 2009, Toyota terkena kasus terhadap pedal gas yang berakselerasi sendiri. Meski awalnya mereka menyangkal dan menyalahkan pengemudi, akhirnya pada 2012 Toyota setuju untuk membayar denda sebesar US$1,2 juta. Volkswagen dan Audi juga tercoreng nama baiknya akibat skandal dieselgate pada 2015 yang mengakibatkan recall lebih dari 900.000 unit mereka.

People make mistakes. But what defines a person is how they fix them. Di banyak kasus recall, produsen berusaha menutupi kesalahannya, menghitung untung-rugi seperti pada Memo Pinto. Tapi dengan regulasi safety yang lebih ketat dan kesadaran akan pentingnya keselamatan, kendaraan kini semakin aman.

MIRAH PERTIWI

Video Terbaru Youtube Carvaganza



Last Updates

IIMS 2019: Mitsubishi Xpander Limited Meluncur dengan Tampang Lebih Sporty

JAKARTA, 25 April 2019 - Menyusul kesuksesan Mitsubishi Xpander di Indonesia selama hampir dua tahun terakhir, PT Mitsubishi Motors Krama...

IIMS 2019: BMW Luncurkan Z4 Roadster Limited Edition

JAKARTA, 25 April 2019 – BMW Indonesia membuka Telkomsel Indonesia International Motor Show (IIMS) 2019, yang dibuka hari ini, Kamis...

Tak Lagi Kerjasama dengan Suzuki, Mitsubishi Berjaya dengan L300

JAKARTA, 25 April 2019 – Mitsubishi tak lagi memperpanjang kerjasamanya dengan Suzuki untuk membangun mini pick-up T120SS yang menjadi kembaran...

Inilah 11 Mobil Baru yang Siap Meluncur di Telkomsel IIMS 2019

JAKARTA, 25 April 2019 -- Pameran otomotif Telkomsel Indonesia International Motor Show (IIMS) 2019 mulai digelar hari ini Kamis, 25...

EDITOR’S NOTE: Toyota C-HR Hybrid Keluar, Aturan Belum Juga Berubah

JAKARTA, 25 April 2019 -- Kehadiran Toyota C-HR Hybrid menambah jumlah model mobil hybrid yang beredar di Indonesia. Keberanian PT...