Beranda Features FEATURE: Rasa Berkendara MPV Tiga Baris di Batas Traksi

FEATURE: Rasa Berkendara MPV Tiga Baris di Batas Traksi

KARAWANG, Carvaganza.com — Di Bridgestone Proving Ground Karawang, Kamis (6/2/2020) kemarin, rekan jurnalis berkesempatan menjajal MPV tiga baris sampai batas. Kegiatan bertajuk “Vehicle Dynamics Training” ini merupakan kegiatan Forum Wartawan Otomotif (FORWOT), menggandeng Jakarta Defensive Driving Center (JDCC), guna membagikan ilmu merasakan dinamisme berkendara. Bukan menghindari bahaya, kami pun disuruh melawan kemampuan fisik hingga ban menjerit-jerit.

Bermacam tantangan sudah disiapkan sedemikian rupa oleh JDCC. Tentu tak dibiarkan langsung melakukan praktek. Chief Instructor JDDC Jusri Pulubuhu memaparkan terlebih dahulu bagaimana karakteristik tiap jenis kendaraan, serta reaksi apa saja yang dapat dihasilkan sebuah manuver. Untuk mobilnya sendiri, dipinjamkan unit FWD alias berpenggerak roda depan. Apa jenisnya? Kami rahasiakan agar tidak condong ke satu merek.

Tiap mobil pasti memiliki keunikan pengendalian lantaran masing-masin punya rancangan berbeda. Tapi, tentu ada gambaran umum bila mengacu pada tipe roda penggerak. Contoh pada unit yang saya gunakan, dijelaskan Jusri bahwa mobil ini memiliki kecenderungan understeer tapi hebat meliuk di tikungan chicane. Di lain sisi, RWD boleh jadi oversteer namun sanggup melahap kelok jauh dengan pasti.

Setelah selesai kuliah singkat, bergegas saya turun ke lintasan dengan perasaan tidak sabar. Bak anak kecil diberikan mainan baru, begitulah kurang lebih. Mengaspal di lintasan tertutup untuk menguji batas selalu menciptakan kesenangan tersendiri. Baik itu MPV sekalipun. Lantas masih saja belum bisa mencoba karena instruktur harus menunjukkan terlebih dahulu batasan kecepatan serta manuver apa saja yang harus dijalani. Penting memang, mengingat unit tidak diciptakan untuk melahap tikungan.

Pahami Kecepatan

Oke, giliran saya meluncur, cuaca gerimis dan lintasan cukup basah. Dipaculah sang MPV FWD ini ke rintangan pertama : tikungan mengkurva jauh dilengkapi kemiringan permukaan. Pihak Bridgestone menyarankan untuk melibas di 60 kpj. Instruktur saya, Tommy, mengarahkan untuk menahan laju di 65 kpj. Pun eksekusi tidak boleh menggunakan racing line, harus terus menghajar sisi terdalam agar efek selip bisa terasa. Sebagai catatan, peranti stabilitas dimatikan biar semakin ‘greget’.

Understeer tak terelakkan, terjadi sesuai ekspektasi. Istilah ini disebut jika roda depan selip kala menikung. Mobil punya keinginan kuat untuk berjalan lurus dan melawan pengemudi akibat kecepatan berlebih. Suara ban depan terdengar seperti sedang menyeretkan sepatu ke jalan saat dibonceng ojek online. Tidak berdecit lantaran kondisi permukaan lembab.

Lanjut ke lintasan slalom, zig-zag di kecepatan 65 kpj. Terdengar pelan bukan? Pada kenyataannya tidak. Jarak antar cone – hampir 3 kali panjang LMPV – terasa sangat dekat. Ditambah lagi suara ban menandakan pelemahan genggaman dengan aspal, sebelum berakhir lepas kendali. Pertunjukan utama di sini adalah body roll. Menekuk mobil dalam deretan cone menciptakan pergeseran momentum bobot sehingga bodi terasa miring.

Perhatikan Hal Ini

Ada beberapa hal selalu ditekankan demi menjaga keselamatan. Untuk mengatasi understeer tidak disarankan melakukan koreksi lebih dalam maupun hard braking. Khawatir tindakan ini dapat memperparah selip. Cukup kurangi tekanan di pedal gas secara perlahan dan posisi bakal kembali ke jalur semula. Bila hilang kontrol, fokuskan pandangan ke arah paling aman, niscaya kontrol kendaraan akan mengikuti.

Kewajiban menekuk mobil belum usai, di depan masih ada kelok chicane nan sempit. Bila di lintasan slalom hanya perlu mengontrol setir secara tipis-tipis, lain cerita di tikungan ini. Lingkar kemudi mau tidak mau harus dihentak tajam dan cepat agar tidak menghantam cone. Dapat digambarkan sebagai gerakan menghindar dalam situasi nyata. Bedanya tidak diizinkan mengerem.

Begitu memasuki tikungan, laju ditahan di 40 kpj. Berlanjut membanting setir ke kanan dan langsung mematah ke kiri. Cukup mengerikan namun ternyata postur tetap terkomposisi. Yang bermain hanyalah efek limbung dan traksi roda. Understeer terasa di awal dan pertengahan eksekusi. Nah, begitu momentum gaya berpindah drastis di akhir, bokong pun sedikit terlempar. Sedikit oversteer. Roda belakang bertingkah agak berlebihan sehingga terjadi selip.

Fitur Keselamatan

Usai chicane, saya mengitari bagian sirkuit yang bukan menjadi lintasan uji. Terdiri dari lurusan panjang serta putaran kanan dan kembali ke start. Dari titik permulaan ini ada dua jalur dapat dilalui, satu mengaah ke kurva panjang, satu lagi ke pengetesan ABS di permukaan keramik basah. Pun diarahkan MPV tiga baris ini ke pengujian rem dengan kecepatan tinggi. Begitu semua roda sudah naik keramik, pedal rem dibejek habis. Area ini sempit dan agak melengkung. Tanpa ABS, diyakini posisi terakhir bakal ada di rerumputan.

Tantangan terakhir adalah mendalami rasa understeer. Dilaksanakan dengan cara mengitari jalur lingkaran besar. Pada saat jarum spidometer di 55 kpj, posisi setir tidak perlu diubah untuk membuat lingkaran sempurna. Kecepatan ditingkatkan bertahap sampai 60 kpj. Masih belum mau lepas kendali. Naikkan lagi ke 65 kpj, dan mobil mulai bandel. Lingkaran sempurna tak lagi terjadi. Kendaraan mulai hilang fokus terhadap arahan saya, cenderung ingin bergerak lurus. Kurangi tekanan pedal gas sekaligus sesuaikan posisi setir dengan halus, maka semua kembali normal.

Asyik, ada kesempatan kedua untuk merasakan tiga rintangan pertama. Kelok jauh boleh dieksekusi lebih kencang disokong peningkatan kepercayaan diri. Dari putaran pertama diketahui ban sanggup untuk disiksa lebih, serta efek limbung masih dalam batas aman. Mencabut nyawa traksi menyenangkan jika mengenal batas. Masuk slalom juga diizinkan berkecepatan lebih tinggi. Understeer sedikit terasa dalam tiap tekukan, namun perpindahan gaya dari sisi ke sisi tidak menciptakan efek oversteer.

Jika kurva dan slalom menyenangkan untuk dilibas kencang, lain cerita pada chicane. Kesempitan jalur dan ketajaman tikungan justru menciptakan kekhawatiran. Ada ketakutan mobil terbalik, tapi saya memberanikan diri. Toh peserta lain aman-aman saja di seksi ini. Oversteer kian jelas terasa di akhir rintangan akibat momentum berpindah cukup ekstrem. Beruntung semua aman terkendali.

Ya itulah kurang lebih sensasi menjajal MPV di batas kontrol. Gejala seperti body roll, understeer, dan oversteer jarang dirasa saat melakukan komutasi harian. Seperti dijelaskan Chief Instructor, dinamisme berkendara kian jelas seiring bertambahnya kecepatan. Ingin mencoba? Yang pasti jangan melakukan hal aneh di tempat umum.

AHMAD KARIM | RAJU FEBRIAN

Video Terbaru Youtube Carvaganza

Video Terbaru Youtube The Official Oto

Last Updates

TEST DRIVE: Nissan Kicks e-Power, Maximum Trip Ke Timur Jawa (Bagian 2)

JAKARTA, Carvaganza.com - Dalam pengujian Maximum Power bersama Nissan Kicks e-Power, kami mencoba mencari jawaban atas pertanyaan; Apakah benar ia adalah crossover terhebat? Atau...

Toyota Virtual Expo, Beli Mobil Berhadiah Kalung dan Emas

JAKARTA, Carvaganza -- Toyota makin gencar melakukan strategi pemasaran lewat digital selama masa pandemi Covid-19. Kali ini, Toyota menggelar Toyota Virtual Expo berskala nasional...

Mercedes-Benz GLA & GLB Terbaru Meluncur, Lengkapi Line-Up SUV di Indonesia

JAKARTA, Carvaganza.com – Keluarga model SUV kompak Mercedes-Benz di Indonesia semakin lengkap, dengan resmi hadirnya dua model baru. Generasi baru Mercedes-Benz GLA telah meluncur...

Tesla Kembangkan Baterai Baru Demi Mobil Listrik Murah

SAN CARLOS, Carvaganza.com – Sebagai salah satu pionir di pasar otomotif elektrifikasi, Tesla Motors mengumumkan sedang mengembangkan teknologi baru. Inovasi yang tengah dikembangkan ini...

TEST DRIVE: Nissan Kicks e-Power, Maximum Trip Ke Timur Jawa (Bagian 1)

JAKARTA, Carvaganza.com - Nissan Indonesia kini punya strategi baru. Tahun lalu, di Hong Kong, rencana besar mereka untuk Indonesia di 2020 adalah merilis model...