Mantan Presiden FIA Max Mosley Meninggal Dunia

JAKARTA, Carvaganza – Kabar duka menyelimuti kalangan penggemar balap dunia, yaitu datang dari Max Mosley yang dikabarkan telah meninggal dunia, hari Senin (24/5/2021). Mosley yang adalah mantan Presiden FIA itu meninggal dunia pada usia 81 tahun. Di masa emasnya, Mosley adalah salah satu sosok yang berperan besar dalam mengembangkan Formula 1.

Tidak disebutkan pasti penyebab berpulangnya Mosley yang menjabat Presiden FIA pada peride 1993 sampai 2009 itu. Namun karirnya di dunia otomotif dan motorsport terbilang sangat berwarna, dengan segudang pengalaman dan jasa yang diberikannya. Pernah mengenyam karir menjadi pembalap mobil, Mosley bahkan pernah mengawali karirnya menadi seorang pengacara.

Lahir pada tahun 1940 dari pasangan politisi Sir Oswald Mosley dan Lady Diana Mosley, Max muda memulai karir panjangnya pada tahun 1968 sebagai pembalap amatir di ajang sportscar. Pada tahun itu juga, Mosley sedang menjalani pelatihan untuk menjadi pengacara. Puncak karirnya sebagai pembalap adalah saat mengikuti Formula 2, turun di balap Hockenheim 1968, akhir pekan yang sama saat Jim Clark alami kecelakaan yang merenggut nyawanya.

Karirnya sebagai pembalap tidak berlangsung lama, karena dirinya pensiun pada tahun 1969. Pada tahun itu juga, Mosley menjadi salah satu pendiri tim balap March Engineering. Hingga saat ini, nama March telah menjadi salah satu pabrikan mobil balap paling terkenal di dunia. March juga adalah pabrikan atau tim yang pernah sukses menjadi juara dunia Formula 1.

Max Mosley

Sambil mengelola March, Mosley juga menjadi penasehat hukum untuk Formula One Constructors’ Association (FOCA), dan membantu terbentuknya Concorde Agreement yang melandasi F1 selama puluhan tahun, bahkan sampai sekarang. Kemudian pada tahun 1969, dirinya terpilih menjadi presiden FIA Manufacturer’s Commission, dan menjadi presiden FIA pada 1991. FISA adalah nama federasi otomotis dunia sebelum diambil alih oleh FIA.

Menjabat presiden FIA mulai 1993 menyusul mundurnya Jean-Marie Balestre, Mosley menjadi tokoh penting dalam mengembangkan tingkat keselamatan di motorsport, khususnya F1 setelah akhri pekan kelam Imola 1994. Pada balapan Grand Prix San Marino itu, dua nyawa pembalap melayang, yaitu Roland Ratzenberger dan sang legenda, Ayrton Senna. Sejak saat itu, keselamatan F1 sebagai balapan kelas puncak menjadi sorotan dunia.

Sosok yang punya ikatan kuat dengan Bernie Ecclestone selama masa baktinya, melakukan sejumlah inisiatif untuk meningkatkan keselamatan di F1. Di antaranya adalah penyesuaian performa mobil, peningkatan uji tabrak dan mewajibkan pemakaian HANS oleh pembalap sejak 2003.

Tidak hanya di dunia balap, Mosley juga yang telah membuat standar keamanan dan keselamatan di jalan raya semakin baik. Mosley mendorong ditetapkannya standar uji tabrak dan membuat European New Car Assessment Programme (Euro NCAP). Sampai saat ini, Euro NCAP telah menjadi standar atau acuan keselamatan kendaraan yang beredar di dunia.

Namun sosok besar Mosley tidak luput dari kontroversi juga. Pada balapan Grand Prix Amerika Serikat 2005 yang hanya diikuti tim pemakai ban Bridgestone dan ditentang oleh para pemakai Michelin, Mosley adalah salah satu yang bersikeras balapan tetap digelar. Alhasil, balapan hanya diikuti oleh enam pembalap, dari hanya tiga tim saat itu yang memakai Bridgestone.

Kemudian pada tahun 2008, kehidupan pribadinya tersandung skandal seks. Namun karena kasus tersebut dianggap melanggar privasi, Mosley dinyatakan tidak bersalah oleh pengadilan, yang juga didukung oleh FIA. Akhirnya saat menjelang pemilihan presiden FIA, Mosley menyatakan tidak akan mencalonkan dirinya lagi, yang kemudian digantikan oleh mantan bos Scuderia Ferrari, Jean Todt.

Sosok yang pernah sangat berpengaruh dan berkuasa di dunia motorsport itu kini telah pergi, meninggalkan sejumlah warisan bermanfaat untuk dunia otomotif. Selamat jalan, Max.
WAHYU HARIANTONO

Sumber: Motorsport

Artikel yang direkomendasikan untuk anda