Kenapa Cina Punya Begitu Banyak Brand Mobil?
Saking banyaknya, dalam satu grup brand bisa terdapat banyak brand turunan yang bermain di segmen-segmen tertentu dan bikin bingung.
JAKARTA, Carvaganza - Harus diakui bahwa dunia sekarang ini sedang dibanjiri oleh produk mobil Cina. Di Indonesia saja, sudah terdapat lebih dari 10 brand mobil Tiongkok dari mulai Wuling sebagai brand pioneer sampai dengan Changan.
KEY TAKEAWAYS
Berapa penjualan mobil di pasar domestik Cina pada tahun 2025?
Total penjualannya sebanyak 34,4 juta unit. Tumbuh 9,4 persen year-on-year base dengan penjualan kendaraan energi baru (NEV) melonjak 28,2%.Berapa jumlah brand mobil di Cina sampai tahun 2025 lalu?
Di atas 170 merek, namun terdata diprediksi yang aktif adalah 150 brand mobil.Apa yang menyebabkan pasar mobil Cina tumbuh pesat dan jumlah brand lokalnya begitu banyak?
Terutamanya adalah karena adanya campur tangan pemerintah baik di dalam hal pendanaan dan regulasi.Uniknya lagi, dalam satu naungan brand, terdapat lagi brand-brand di bawahnya atau menjadi sister company. Salah satu contohnya adalah Chery Group. Selain menaungi Chery, grup ini juga membawahi Jaecoo, iCar, Lepas, Jetour, Omoda, Exeed, Luxeed, Karry, Kaiyi dan Fulwin. Itu baru Chery, belum brand lain seperti Wuling, BAIC dan lain-lain.
Saking banyaknya brand yang mereka dimiliki, kita sebagai jurnalis terkadang suka bingung dengan nama-nama tersebut. Bahkan agak kesulitan untuk melakukan penempatan segmen dari brand-brand yang ada.
Baca juga: FEATURES: Perjalanan 5 Hari Mengunjungi Markas BYD Di China (BAGIAN 1)
Pabrik mobil Chery. Foto:kr-asia.com
Campur tangan negara
Tumbuh pesatnya industri kendaraan di Cina tidak terlepas dari peran pemerintahnya. Penguasa Cina rajin menggelontorkan subsidi dan kebijakan untuk mendorong pertumbuhan kendaraan terutama new energy vehicle (NEV), fokusnya kendaraan full elektrik. Sang Naga Merah menyadari jika mereka memproduksi kendaraan dengan bahan bakar fosil (bensin dan solar), mereka tidak akan kuat bersaing dengan brand Eropa dan Jepang. Negara rivalnya itu sudah bermain di pasar otomotif puluhan tahun. Eropa dan Jepang memiliki history building yang begitu panjang, sedangkan Cina baru bermain sejak tahun 2010-an.
Sadar dengan kelemahannya, Tiongkok mengambil langkah cerdas. Mereka membuat ‘kolam’ permainan sendiri yang mereka sebut sebagai pasar new energy vehicle. Terutama kendaraan full listrik. Negeri Tirai Bambu itu memvisikan diri sebagai produsen yang menawarkan masa depan. Future Building.
Pemerintah Cina menggelontorkan dana milyaran dollar sejak tahun 2009 – 2024 untuk menancapkan diri sebagai pemimpin mobil listrik di dunia. Termasuk mencari sumber-sumber material penyokong industri EVnya ke mancanegara di antaranya ke kawasan Afrika dan juga Indonesia.
Baca juga: FEATURES: Perjalanan 5 Hari Mengunjungi Markas BYD Di China (BAGIAN 2)
Test drive Wulng Cortez Darion PHEV. Foto: Wuling
Lahirkan regulasi pendukung dan perusahaan
Selain dana, penguasa Tiongkok menerbitkan berbagai macam regulasi pendukung agar permintaan di pasar domestiknya tumbuh pesat. Beijing memberikan subsidi dan insentif, pun mengurangi berbagai rintangan yang menghambat agar industri manufaktur berjalan cepat dan efisien. Kemampuan mereka untuk mendesain, memproduksi, memasarkan model baru dengan cepat yang disokong pula oleh rantai pasokan komponen yang terlokalisasi, membuat pasar domestik berkembang masif dalam waktu singkat.
Dari yang tadinya hanya perusahaan-perusahaan milik negara yang diproteksi seperti FAW, Dongfeng dan Changan, negara turun tangan menumbuhkan brand-brand BUMD. Seperti SAIC, JAC, BAIC dan GAC. Setelah itu menumbuhkan perusahaan patungan swasta - negara seperti Chery dan Seres. Sukses dengan itu semua, negara membuka keran bagi lahirnya perusahaan swasta BYD, Geely, Xpeng, Leapmotor, GWM dan lain-lain.
Untuk memenuhi kebutuhan pasar domestik dan global, semua brand itu melahirkan sub-brand untuk memokuskan pemasaran di segmen-segmen pasar tertentu. Misalnya, di bawah Chery Group terdapat Chery yang bermain di segmen kendaraan passenger massal, Jetour main di segmen SUV family, Exeed berorientasi pasar premium alias high-end dan iCar fokus di mobil-mobil SUV off-road NEV.
Baca juga: Lihat Langsung Pabrik Canggih Changan di Chongqing: Manufaktur AI dan Jaringan 5G
Pabrik mobil Changan Auto di Chongqing, Cina. Foto:ichongqing.info
Cina, peringkat satu dunia
Berkat ‘tangan-tangan manis’ pemerintah itu, di Cina kini terdapat lebih dari 170 brand mobil. Menurut just-auto.com, sebanyak 150 brand di antaranya adalah manufaktur aktif. Lantas dibagi lagi, dari jumlah itu 97 di antaranya adalah brand domestik dan 43 di antaranya adalah brand joint venture.
Berdasarkan data Asosiasi Produsen Mobil Cina (CAAM), industri otomotif di Tiongkok pada 2025 mencatatkan rekor terbaru sepanjang sejarah. Angka produksi mobilnya mencapai 34,531 juta unit dan total penjualannya 34,4 juta unit. Tumbuh 9,4 persen year-on-year base dengan penjualan kendaraan energi baru (NEV) melonjak 28,2%.
Catatan tersebut menobatkan Cina sebagai pasar otomotif terbesar di dunia selama 17 tahun berturut-turut. Angka produksi dan penjualan tahunan pun kini tetap terjaga di atas 30 juta unit selama tiga tahun berturut-turut. Selain itu, menurut laporan idnfinancial.com, penjualan mobil Cina di global mencapai hampir 27 juta unit tahun 2025 lalu. Menempatkan Tiongkok sebagai pemain nomor satu di dunia. (EKA ZULKARNAIN)
Baca juga: Perjalanan Lengkap Mengunjungi Pabrik Mobil dan Baterai AION Di Cina (BAGIAN 1)
Baca juga: Perjalanan Mengunjungi Pabrik Mobil dan Baterai AION Di Cina (BAGIAN 2)
Featured Articles
- Latest
- Popular
Artikel yang mungkin menarik untuk Anda
Mobil Pilihan
- Latest
- Upcoming
- Popular
Updates
New cars
Drives
Review
Video
Hot Topics
Interview
Modification
Features
Community
Gear Up
Artikel Mobil dari Oto
- Berita
- Artikel Feature
- Advisory Stories
- Road Test
Artikel Mobil dari Zigwheels
- Motovaganza
- Tips
- Review
- Artikel Feature