Ini Dia Ulasan 3 Mobil Yang Kami Uji Sepanjang Januari 2021: Maserati Ghibli, Nissan Magnite dan Jeep Gladiator

JAKARTA, CARVAGANZA - Sepanjang Januari 2021, kami menguji tiga mobil yang sangat menarik untuk diulas. Tiga mobil tersebut punya segmentasi pasar dan jenis yang berbeda pula. Pertama, kami menguji Nissan Magnite, SUV (Sport Utility Vehicle) seharga Ro 200 jutaan yang punya mesin 1,0 liter turbo. Kami juga mengulas Maserati Ghibli, saloon mewah seharga miliaran Rupiah yang nyaman tapi sering dipandang sebelah mata. Terakhir, kami sampaikan juga ulasa tentang kendaraan terbaru Jeep di Indonesia, double cabin 4x4 Gladiator.

FIRST DRIVE: Nissan Magnite 2021, Sensasi Mesin Turbo 1,0 Liter

Nissan Magnite First Drive

Ragam model SUV semakin menjamur di pasar otomotif belakangan ini. Bahkan rentang harganya semakin melebar untuk segmen entry level, yang secara tidak langsung mulai menggeser posisi city car dan small hatchback. Tepat sebelum pergantian tahun 2020 ke 2021, Nissan Indonesia meluncurkan All New Nissan Magnite yang menjadi model paling terjangkau.

Debut Magnite di Indonesia tidak butuh waktu lama setelah peluncuran global perdananya di India. Berbekal kemiripan karakter dan kebutuhan pasar, akhirnya Nissan putuskan merilis Magnite langsung untuk Indonesia. Apalagi Nissan tidak ingin kehilangan momentum peluncuran Kia Sonet, yang menjadi SUV mungil dengan harga terjangkau dan fitur melimpah.

Sebagai reminder saja, Magnite ditawarkan dengan harga on the road mulai Rp 208,8 juta sampai dengan Rp 238,8 juta yang termahal. Ada tiga pilihan varian disediakan untuk Magnite oleh Nissan. Mesin tiga silinder 1,0 liter turbo menjadi andalan mobil ini, yang dipadukan dengan transmisi CVT yang sudah sangat diandalkan Nissan.

Seharusnya Magnite adalah model baru yang akan dipasarkan dengan label Datsun. Lihat saja tampang depannya, yang masih mempertahankan desain konsep khas Datsun lewat grille dengan bentuk heksagonalnya itu. Nissan sepertinya tidak sempat merombak wajah Magnite untuk mengadopsi V-Motion di saat mengejar peluncuran, seiring keputusan global untuk memadamkan lagi merek Datsun.

Nissan Magnite Interior

Saya pribadi masih bisa ‘nerima’ wajah Magnite ini, terutama pada bentuk lampu depan yang tajam dan menyipit, disertai alis memanjang pada sisi luarnya. Sepintas wajah Magnite seperti produksi merek Audi, apalagi dipadukan dengan grille heksagonalnya. Tapi secara keseluruhan, tampilan eksterior sangat meriah dengan hiasan body cladding yang menggunakan nuansa dua warna, khususnya untuk bumper belakang. Tapi ya wajar lah kalau melihat di mana segmennya.

Begitu masuk kabinnya, Anda yang pernah berada di dalam Renault Triber akan cukup akrab dengan suasananya. Layout dashboard dan konsol tengah bisa dibilang memanfaatkan desain yang sama, apalagi kalau melirik kompartemen di konsol tengah yang juga menjadi tempat tombol starter mesin. Seluruh tombol di dashboard gampang dijangkau, ergonomis berkat dimensinya yang kompak.

Tidak ingin kalah dengan Sonet, Nissan juga menyematkan fitur Apple CarPlay dan Android Auto pada sistem infotainment, yang bisa diakses secara wireless. Saya juga cukup terhibur dengan panel instrumennya, yang full digital dan dapat diubah tampilannya menjadi sangat atraktif dan informatif tentunya. Lalu posisi duduknya juga memberikan visibilitas yang luas, dengan pengaturan jok yang fleksibel, namun setir hanya bisa diatur ketinggiannya (tilt).

Kebetulan Carvaganza dapat undangan dari Nissan untuk merasakan performa Magnite, lewat sesi first drive di Jakarta. Dan begitu mesin dinyalakan, karakter khas mesin tiga silinder langsung muncul, yaitu getaran mesin yang lumayan terasa dari dalam kabin saat idle. Tapi yah bukan hal yang mengganggu juga sih, sudah risiko.

Nissan Magnite Engine

Agak kaget saat mulai menjalankan Magnite keluar dari area parkir kantor pusat Nissan Indonesia di bilangan Jalan MT. Haryono. Laju awalnya langsung terasa padat terisi oleh torsi dari putaran bawah. Jadi saya tidak perlu repot injak pedal gas sering-sering saat merayap pelan di area parkir yang tekenal selalu padat di sana.

Begitu sudah masuk ke jalan raya, saya injak gas agak dalam untuk dapatkan impresi pertamanya. Kombinasi mesin dan transmisi merespons cepat, mengolah torsi 160 Nm untuk menambah kecepatan roda berputar. Namun seperti umumnya karakter mesin turbo di awal laju, peningkatan dan delivery torsinya masih linear di putaran bawah. Safe to say kalau ini kontribusi dari aplikasi transmisi CVT yang terkenal halus saat bekerja.

Baru saat saya coba injak gas lebih dalam lagi dengan dibejek, boost dari turbo baru terasa saat indikator melewati 2.000 rpm. Butuh waktu beberapa detik setidaknya untuk menunggu putaran mesin mencapai sweet spot yang menjadi range putaran bekerjanya turbocharger. Namun karena kondisi lalu lintas di sore hari itu sudah semakin ramai jelang jam pulang kantor, saya tidak sempat mencoba Magnite dibawa lebih kencang lagi. Seingat saya selama tes ini tidak lebih dari 50 atau 60 km/jam kecepatan yang saya capai.

Seperti dimensinya, mengemudikan Nissan Magnite ini memang terasa ringkas. Selain karena dibantu visibilitas ke segala arah yang luas, termasuk adanya Around View Monitor (kamera 360 derajat), kemudinya juga lumayan komunikatif. Perilaku electric power steering yang dimiliki Magnite tidak terasa kosong, karena terasa berisi setiap kali diputar. Saya suka karakteristik ini, karena walaupun mobil berdimensi kecil, kemudinya bisa dengan baik terbaca ke tangan. Praktisnya Magnite juga diberikan oleh radius putarnya yang seringkas city car.

Nissan Magnite First Drive

Bicara soal suspensinya, Magnite ini lebih ke arah yang punya redaman keras dan firm. Jadi lajunya terasa lebih mature dibandingkan harganya yang di bawah Rp 250 juta. Berbeda dengan Kia Sonet yang banyak orang bilang punya suspensi empuk dibandingkan Seltos. Suspensi Magnite ini menurut saya mirip Seltos dan Kicks, tapi dengan bobot lebih ringan. Sepertinya Magnite akan mantap diajak manuver saat kecepatan tinggi.

Sayangnya sesi first drive ini tidak berlangsung lama, karena hanya mengambil rute sekali putaran di wilayah Cawang dan Pancoran. Saya pun tidak sempat mencoba berbagai fitur menarik yang menjadi highlight dari Magnite, salah satunya Hill Start Assist (HSA). Sebenarnya bisa saja saat kembali ke area gedung parkir Nissan, namun karena keterbatasan waktu saya sampai lupa tidak kepikiran.

Overall, menurut saya Magnite bisa menjadi kendaraan yang ideal untuk diandalkan berkendara sehari-hari di dalam kota. Mesin mungil berturbonya juga pasti bisa berikan nilai ekonomis lebih dari sisi konsumsi bahan bakar. Apalagi karakter berkendaranya sudah tidak terasa seperti Datsun, meski belum sepenuhnya punya feel Nissan yang khas.

Yang jelas, desain SUV yang menarik dan rangkaian fitur yang ada di dalamnya sudah cukup mendukung kebutuhan konsumen di era sekarang ini. Suka atau tidak, terima tidak terima, SUV memang sudah menjadi tren yang semakin meluas dan diminati konsumen di dunia. Kedatangan Magnite semakin memperbanyak pilihan lini SUV di pasar, dengan harga yang semakin terjangkau juga. Sepertinya menarik kalau bisa mengeksplorasi performa dan seluruh fitur Magnite lebih mendalam.

TEST DRIVE: Maserati Ghibli, Sedan Yang Sering Dipandang Sebelah Mata

Maserati Ghibli

Ada sesuatu yang unik tentang segmen medium sedan di kelas pabrikan premium, di mana para pemain dari Eropa menjadikannya sebagai lahan persaingan paling ideal. Karena di kelas ini menjadi penengah antara kemewahan kelas satu, dengan kepraktisan dan kedinamisan dalam berkendara. Kelas ini juga sudah lama hadir, diisi oleh para ikon seperti BMW 5 Series dan Mercedes-Benz E-Class.

Sebenarnya masih ada Audi A6 sebagai pemain kuat di kelas ini, namun karena eksistensinya tidak selama dua nama tadi maka saya anggap tidak menjadi benchmark. Meski pabrikan dari Jerman mendominasi pasar ini, beberapa pabrikan dari belahan Eropa lain tidak mau ketinggalan mewarnai persaingan. Contohnya Maserati, yang kini memiliki Ghibli untuk bermain di segmen sedan bisnis dengan karakter atletis.

Maserati Ghibli bisa dibilang kurang terlihat tajinya hadir ke kelas ini, khususnya bila bicara soal volume penjualan. Padahal Maserati sudah berupaya cukup keras dengan mengubah identitas Ghibli menjadi wujud yang berbeda. Ghibli yang awalnya dilahirkan sebagai sebuah coupe gran turismo yang seksi, berangsur telah berevolusi menjadi sedan empat pintu.

Pecinta Maserati pasti ingat betul betapa cantiknya Ghibli generasi AM115, sebuah coupe 2+2 dengan bonnet panjang. Hasil karya desainer Giorgetto Guigiaro bahkan menjadi peringkat 9 terbaik pada daftar Top Sports Cars of 1960 oleh majalah Sports Car International. Lampu depan pop-up, moncong runcing seperti ikan hiu dan gaya fastback membuatnya cukup ikonik saat itu. Belum lagi kalau melihat versi Ghibli Spyder yang semakin menggoda dengan atap terbuka.

Maserati Ghibli

Kemudian pada generasi kedua (AM336), Ghibli berubah menjadi sedan coupe yang bentuknya boxy, tidak seseksi predesesornya. Generasi kedua lahir setelah model Ghibli sempat absen lama dari line up Maserati, yaitu antara tahun 1973 sampai dengan 1992. Melalui generasi ini, Maserati sudah mantap bermain dengan mesin berinduksi turbo, melanjutkan kiprah model Biturbo Coupe. Sejak itu, Maserati betah benamkan mesin turbo di sejumlah produknya.

Sampai pada tahun 2013, lahirlah genrasi terkini Ghibli, dengan kode M157. Dengan strategi dan harapan untuk menggandakan volume penjualan (sebelum ada Levante), Maserati menjebloskan Ghibli terbaru ke kelas 5 Series dan E-Class. Masih dengan mesin turbo, Ghibli nyatanya berhasil bertahan sampai saat ini di pasar.

Meski ingin meraih angka penjualan yang lebih tinggi, tapi bukan berarti Maserati menjiplak begitu saja formula yang dipakai Merc dan Bimmer. Ghibli terbaru dibuat dengan tetap mengangkat karakter khas Italia yang karismatik dan seksi sebagai mobil. Sisi emosional tampak ingin disentuh oleh Maserati pada pertimbangan konsumen agar bisa melirik Ghibli. Lihat saja tampangnya yang lebih sporty dan berotot, Ghibli lebih menggugah dilihat sebagai fun machine untuk digeber.

Saya ditawarkan untuk menguji Maserati Ghibli belum lama ini di Jakarta, bercengkerama dengannya selama beberapa hari. Memang sehari-hari di jalanan Jakarta saya jarang menjumpai Ghibli, justru Quattroporte yang lebih eksis. Saat akhirnya serah terima unit Ghibli, saya langsung penasaran kenapa mobil ini kurang populer di antara sedan premium lainnya, terutama di Indonesia.

Maserati Ghibli

Melihat wujud luarnya memang menggoda, apalagi kalau sudah terbiasa dengan tampang 5 Series, E-Class atau A6 yang konservatif. Lekuk fender depan dan belakang yang menonjol membuatnya sangat berkarakter sporty, apalagi bonnet panjang yang dipertahankan dari Ghibli awal. Grille besar dan tiga lubang di fender depan menjadi ciri khas pabrikan berlogo Trisula ini.

Perasaan campur aduk datang saat membuka pintu dan masuk ke dalam kabinnya. Setelah menikmati paras seksi dan modern pada eksterior, di dalam justru Maserati bermain ke arah klasik. Kombinasi trim material kulit dan kayu mendominasi bagian dashboard dan konsol tengah. Unit yang saya tes adalah varian Ghibli base model. Jadi mungkin bisa dimaklumi kalau trim kayu yang disajikan pada interior terasa biasa saja dan kurang istimewa. Bahkan finishing-nya kurang mengesankan, apalagi kalau disentuh.

Jok pengemudi terasa sangat besar untuk sedan sekelas ini, yang kadang membuat agak susah mendapat sweet spot pada posisi duduk. Lingkar setirnya sangat tebal untuk pengemudi berpostur rata-rata Asia. Mungkin rancangan interior Maserati masih berorientasi pada karakter tubuh pengguna di Kaukasian yang lebih bongsor. Saya langsung bertanya ke diri sendiri dalam hati, “akankah saya bisa benar-benar menikmati mobil ini selama beberapa hari ke depan?”

Namun harapan mulai terjawab saat mesin dinyalakan. Berbedanya aura Ghibli dari para rival sekelas langsung terasa begitu raungan V6 3,0 liter twin-turbo dari balik kap mesin terdengar dari dalam kokpit. Saya mainkan sedikit pedal gas saat masih dalam kondisi berhenti, dan suara mesinnya semakin menggoda untuk diajak ‘nakal’ di jalan. DNA seekor monster seolah terkandung di dalam tubuh Ghibli.

Maserati Ghibli

Di awal lajunya, Ghibli sudah langsung merespons galak. Kombinasi mesin dengan transmisi 8 percepatan dari ZF punya karakter seakan menggunakan dual-clutch. Mobil tidak langsung melaju pelan saat masuk ke posisi D dalam kondisi idle. Roda baru bergerak saat pedal gas mendapat input, sehingga lajunya di awal agak jumpy. Ya butuh adaptasi sedikit untuk mengajaknya merayap di tengah lalu lintas pada, mirip kalau sedang bersama supercar seperti Ferrari.

Meski dalam kondisi mode mengemudi Comfort, putaran setirnya berat untuk sebuah sedan dengan dimensi sepanjang nyaris 5 meter ini (4.971 mm). Anda yang terbiasa membawa BMW atau Mercedes pasti akan kaget begitu pindah ke Maserati. Pun saat merasakan perilaku suspensinya, yang cenderung rigid untuk sebuah varian entry. Semakin jelas orientasi Maserati dalam mengembangkan Ghibli, yang lebih fokuskan kecepatan dan kedinamisan.

Mengingat lalu lintas di jalanan kota Jakarta yang sudah semakin padat, saya ingin cepat-cepat cari jalanan yang lengang untuk cari tahu performa sebenarnya dari Ghibli. Saya putuskan untuk menuju jalan tol Antasari menuju Cinere yang tidak pernah benar-benar padat lalu lintasnya. Benar saja, begitu gas dibejek habis, Ghibli langsung melesat galak dan memberikan teriakan mesin yang syahdu, apalagi saat menyentuh rpm tinggi. Dan ini masih menggunakan mode Comfort!

Terbuai dengan nikmatnya nyanyian V6, saya lalu pindah ke mode Sport. Ooh, betapa semakin nikmatnya Ghibli diajak berakslerasi. Katup pada knalpot terbuka bebas, memberikan buangan gas dari mesin yang lebih bikin merinding. Mengerahkan puncak tenaga 345 hp dan torsi 500 Nm sampai ke redline bagaikan mendengarkan Rod Stewart membawakan hits terbaiknya. Indahnya lantunan mesin seakan mengatakan bahwa Maserati adalah pabrikan hebat yang pernah Berjaya di dekade awal F1, salah satunya dengan Juan Manuel Fangio.

Maserati Ghibli

Chassis yang rigid juga membuat pengendaliannya cekatan, lincah dan mantap setiap bermanuver. Sayangnya permukaan aspal dan beton di sepanjang tol ini terlalu bumpy untuk memacu Ghibli sampai mendekati top speed. Tidak ingin sampai terjadi apa-apa karena mobil terlalu jumpy dengan suspensinya yang keras. Perilaku chassis Ghibli ini menurut saya mirip dengan BMW M2 Coupe yang menjadi benchmark sedan yang fun bagi saya, kalau memang tidak bisa dibilang sama.

Kesenangan di balik setir Ghibli seharusnya bisa lebih maksimal lagi, seandainya varian terbawah ini sudah dilengkapi paddle shifter. Untuk menggeber mesin maksimal, saya harus menggunakan stick shifter, yang menjadi kurang praktis.

Bicara soal fitur, mungkin Ghibli memang bukan yang melimpah. Untuk kenyamanan saat berkendara, sistem infotainment sudah berlayar sentuh 9 inci dan terhubung sistem audio dari Harman Kardon. Bagi pemerhati teknologi, mungkin interface monitor di dashboard tidak begitu menarik, walaupun sudah mendukung Apple CarPlay dan Android Auto. Apalagi tombol pengendalinya di konsol tengah yang belum sepraktis dan intuitif iDrive milik BMW. Tapi setelah tahu seperti apa karakter pengendalian Ghibli diajak kencang, saya bisa maklumi kekurangan Maserati di sektor ini.

Lalu bagaimana Ghibli sebagai pengangkut penumpang? Kita tidak bisa hindari fakta bahwa setiap pemilik mobil premium akan banyak yang menikmatinya dari kursi penumpang. Saya sempat mengajak beberapa rekan untuk cicipi jok belakang. Salah satu rekan yang punya tinggi badan 177 cm mengaku bisa duduk dengan nyaman dan lega selama perjalanan. Meskipun suspensinya dalam kondisi normal termasuk yang keras.

Maserati Ghibli

Yang jelas, soal akomodasi pada Ghibli masih sebanding dengan para counterpart dari negeri Jerman. Kelegaan kabin baris kedua, dan bahkan bagasi yang luas dan praktis karena sudah bisa dibuka dengan gestur tendangan kaki di bawah bumper. Cukup mendukung lah kiranya untuk menjadi sedan keluarga yang memberikan win-win solution untuk pengemudi dan penumpang.

Bercengkerama Bersama Ghibli menjadi pengalaman yang unik untuk merasakan sensasi berbeda dari sebuah sedan bisnis nan atletis. Memang ada sejumlah poin yang saya rasa Maserati bisa berikan lebih baik pada varian ini. Tapi untungnya, tidak seperti rival sekelas, Ghibli sudah dapatkan opsi personalisasi yang bisa menjadi jawaban. Entah soal fitur atau trim pemanis kabin, bisa didapatkan melalui fasilitas ini.

Rasanya cukup layak untuk rela menggelontorkan uang lebih banyak demi bisa bersenang-senang dengan Ghibli, apalagi kalau bosan dengan pilihan yang itu-itu saja. Kalau E-Class atau 5 Series di garasi Anda sudah kurang menggairahkan dan belum rela jebol tabungan untuk versi AMG dan M, Ghibli bisa dilirik untuk bisa semakin banyak yang melirik di jalan.

FIRST IMPRESSION: Jeep Wrangler Gladiator Double Cabin 4x4 Nan Mewah

Jeep Wrangler Gladiator 2021

Jeep Wrangler Gladiator baru saja dirilis di Indonesia oleh PT DAS Indonesia Motor agen pemegang merk Jeep di Tanah Air. Kehadiran Jeep Wrangler Gladiator tentu saja melengkapi model-model Jeep Wrangler yang telah eksis di Indonesia saat ini. Jeep Wrangler Gladiator merupakan model SUV Truk/Pick-Up yang dibangun di atas platform JL dengan desain bak terbuka di belakangnya.

Hal tersebut dilakukan demi memfasilitasi kebutuhan konsumen yang ingin mengendarai Jeep dengan hobby outdoor-nya seperti motor trail, sepeda dan ATV. PT DAS Motor Indonesia juga ingin menawarkan satu paket menarik dari Jeep Wrangler Gladiator ini pada konsumen di Indonesia.

Eksterior dari Jeep Wrangler Gladiator ini mirip dengan keluarga Wrangler lainnya, namun yang diluncurkan di Indonesia adalah varian Rubicon. Perbedaannya dengan keluarga Wrangler adalah pada dimensi panjang yang mencapai 5,5 meter berikut dengan ruang bagasi di belakang dan emblem Gladiator di sisi pintu.

Bagian kaki-kaki Gladiator dibuat agar mampu mengakomodasi ke segala medan jalan. Gladiator menggunakan roda Falken Wildpeak berukuran 17-inci dengan tapak yang lebar serta desain velg yang khas ala Wrangler.

Jeep Gladiator

Selain itu, Gladiator juga menggunakan suspensi Fox Shock dengan bodi alumunium berdiameter 2-inci. Meski kehadiran suspensi ini sangat kental dengan aura balap off road, namun terpat penyesuaian agar mampu memberikan kenyamanan saat digunakan di jalan raya.

Pada bagian bagasi terbukanya terdapat cover softtop dan diklaim mampu mengakomodir dua unit sepeda motor trail. Pasalnya bagasinya tersebut memiliki panjang hingga 153 cm dan lebar 144 cm.

Selain itu, pada grill berdesain khas Jeep ini juga disematkan kamera untuk melihat kondisi di depan mobil saat melewati obstacle baik di medan off-road atau jalan raya. Kamera tersebut menampilkan ke layar hiburan berukuran 8,4-inci di dalam kabin.

Jeep Wrangler Gladiator memiliki interior yang serupa dengan Jeep Wrangler lainnya, perbedaannya hanya terdapat pada bordiran Gladiator berkelir merah di jok kulitnya. Konfigurasi di dalam kabin mampu menampung lima penumpang dengan pengaturan jok manual. Di samping itu, terdapat layar hiburan berukuran 8,4-inci yang dengan koneksi ke smartphone Anda dan layanan U-Connect 4C NAV.

Jeep Wrangler Gladiator 2021

Layout dashboardnya pun dibuat minimalis dengan bentangan bar dan terdapat handle bar di depan jok penumpang. Lingkar kemudinya pun dibalut dengan material kulit serupa dengan yang terdapat di bagian konsol tengah dan doortrim.

Jeep double cabin ini dibekali dengan beberapa pilihan mesin, di antaranya V6 3.0-liter Turbodiesel dan mesin bensin V6 3.6-liter Pentastar. Sedangkan yang sudah resmi dipasarkan di Indonesia hanya dengan varian mesin bensin yang mampu menghantarkan tenaga maksimal hingga 285 hp dan torsi 353 Nm. Mesin tersebut dikawinkan dengan transmisi otomatis 8-percepatan yang menghantarkan seluruh tenaga ke semua roda. Selain itu tersedia juga tuas transfer case berfungsi untuk mengubah kerja ban dari 2WD menjadi 4WD dan mampu mencapai kecepatan 72 km/jam.

Selain mesin yang bertenaga, Jeep Wrangler Gladiator juga dibekali dengan fitur-fitur off-road mengingat kendaraan ini ditujukan untuk “melumat” segala medan jalan. Salah satu fitur nya ialah Select-speed control yang membantu pengemudi dalam bermanuver di medan off road dengan meminimalisir kerja pedal gas dan rem. Pengemudi hanya perlu mengarahkan kendaraan sesuai dengan trek yang aman untuk dilalui.

Selain itu terdapat juga Command Trac 4X4 dengan sistem shift on-the-fly yang membagi torsi 50/50 antara as roda depan dan belakang. Untuk melalui medan off-road yang lebih ekstrem, Gladiator dibekali dengan fitur Rock-Track 4x4 yang memungkinkan mobil berjalan pelan agar mudah dikontrol dan meningkatkan torsi yang tersedia dari ruang mesin. Jeep Gladiator juga menghadirkan fitur OFF-ROAD +, di mana sistem ini mampu menyesuaikan secara otomatis saat membaca medan yang berpasir, lumpur atau bebatuan.

Jeep Wrangler Gladiator 2021

Fitur-fitur lain yang juga dibenamkan pada Jeep Gladiator ini antara lain blind spot monitoring and rear cross path detection, electronic stability control, Parkview rear back up camera, parksense rear park assist system, trailer sway control, advantage multistage air bags, supplemental front seat mounted side air bags dan forward collision warning plus.

Jeep Wrangler Gladiator sudah resmi diluncurkan dan mulai menerima pemesanan unit dengan banderol Rp.1,9 Miliar (off the road). PT DAS Indonesia Motor akan memulai pengiriman unit ke konsumen pada Februari mendatang dan hingga saat ini Jeep Gladiator sukses membukukan angka pemesanan hingga 20 unit di seluruh Indonesia. RIZKI SATRIA

Artikel yang direkomendasikan untuk anda