Beranda Features FEATURE: Invasi Otomotif Cina, The Rising Power

FEATURE: Invasi Otomotif Cina, The Rising Power

Foto: ft.com

KEHADIRAN Byton di CES (Customer Electronic Show) Las Vegas pada Januari 2018 mengejutkan banyak orang karena beberapa alasan. Pertama, perusahaan asal Cina ini baru berusia dua tahun saat memamerkan mobil konsep pertama mereka, M-Byte, di sana. Kedua, crossover tersebut memiliki tampilan bagaikan mobil Eropa dan dilengkapi berbagai fitur futuristik termasuk autonomous dan layar sentuh (juga bisa dioperasikan dengan gesture) raksasa yang membentang sepanjang dashboard.

Kemudian ketiga, mereka berambisi untuk – mengutip ucapan Carsten Breitfeld, chief executive Byton – “…menjadi pabrikan pertama yang menjual smart car sungguhan ke pasar” pada awal 2019. Dan keempat, M-Byte harganya 40% lebih murah Tesla Model X.

Byton bukan tipikal perusahaan Cina yang kita kenal. Dengan bantuan dana dari pemerintah, mereka berhasil merangkul orang-orang kunci di berbagai perusahaan teknologi dan otomotif ternama seperti Infiniti, BMW, Audi, Daimler, Tesla, Alpine, Apple, Google, dan banyak lagi. Jadi kualitasnya tak perlu diragukan lagi.

Kehadiran mereka di CES bukan saja menggambarkan kompetisi mobil elektrik pintar yang semakin memanas, tapi juga menunjukkan bahwa pabrikasi Cina memasuki fase baru. Selama ini, barang-barang, termasuk mobil, buatan mereka punya reputasi buruk karena kualitasnya yang rendah. Byton membuktikan bahwa negara Tirai Bambu tersebut bisa membuat produk yang dapat menjadi ancaman bagi Eropa, Amerika Serikat maupun Jepang.

Reformasi & Pembukaan

Fase baru ini bukan terjadi secara instan. Cina sudah mempersiapkan diri sejak akhir 1978 saat menerapkan reformasi ekonomi (dikenal sebagai “Reformasi & Pembukaan”) oleh Partai Komunis yang dipimpin oleh Deng Xiaoping.

Hasilnya sudah terbukti, negara dengan penduduk terbanyak di dunia tersebut berkembang pesat secara finansial. Mereka mampu memproduksi barang-barang dalam kuantitas besar dengan harga yang jauh lebih murah. Sayangnya tidak diimbangi dengan kualitasnya sehingga tak dapat berkompetisi dengan barang-barang mewah atau berteknologi tinggi buatan negara-negara lain.

Pemerintah Cina menyadari hal ini. Pada 2015, Perdana Menteri RRC (Republik Rakyat Cina) Li Keqiang ingin mengubah stigma tersebut. Caranya adalah dengan memperkenalkan rencana strategis berdurasi 10 tahun bernama Made in China 2025. Program ini pada dasarnya merupakan blueprint untuk meningkatkan kemampuan pabrikasi dari industri Cina. Li menyebutnya dengan “Revolusi Kualitas”.

Tapi fokus mereka bukan sembarang produk dan jasa, melainkan bidang yang berteknologi tinggi seperti artificial intelligent (AI), kendaraan ramah lingkungan, material baru (manipulasi material), efisiensi energi dan banyak lagi. Untuk itu, pemerintah Cina berkomitmen untuk menggelontorkan investasi sekitar US$300 miliar.

Car Superpower

Pada pertengahan 2018, Kementerian Industri dan Teknologi Informasi Cina mempublikasikan guideline yang menyatakan ambisi Cina untuk menjadi “car superpower”. Rencana mereka adalah memiliki 10 produsen mobil elektrik teratas pada 2010 dan menjadi ujung tombak kendaraan pintar dunia pada 2025. Mereka juga menargetkan satu dari dua mobil yang terjual di Cina merupakan smart car pada 2020.

Langkah untuk mewujudkan target tersebut sudah terlihat. Untuk membuat smart car, dibutuhkan penguasaan teknologi. Cara yang cepat adalah dengan mengakuisisi atau joint venture dengan perusahaan-perusahaan yang bergerak di bidang itu.

Uang bukan masalah besar dengan adanya dukungan dari pemerintah. Maka para investor Cina bergerak secara agresif. Mereka tak ragu mengeluarkan uang besar untuk membeli perusahaan-perusahaan yang sedang kesulitan secara finansial seperti Volvo Cars, Lotus dan Proton saat pihak lain menolak untuk terlibat.

Perusahaan robotik pun juga menjadi incaran seperti Kuka, produsen robot industrial dari Jerman, yang diakuisisi oleh Midea asal Cina seharga US$4,6 miliar pada 2016. Robot-robot Kuka sudah tersebar luas di berbagai pabrik mobil di seluruh dunia.

Eropa Ketar-Ketir

Pergerakan ini membuat negara-negara yang menguasai teknologi dan industri otomotif ketar-ketir. Salah satunya Amerika Serikat, terlihat dari kebijakan Presiden Donald Trump yang meningkatkan tarif impor barang-barang dari Cina yang masuk dalam Made in China 2025.

Dari 1.102 kategori produk yang masuk dalam daftar kenaikan tarif, hanya satu persen yang merupakan consumer goods. Sisanya produk sektor kedua dan berhubungan dengan area yang difokuskan pada Made in China 2025.

Kekhawatiran ini juga dirasakan oleh negara-negara Eropa. Meski Amerika dan Eropa kerap berselisih, tapi keduanya sepakat bahwa kekuatan dan agresivitas Cina bisa mengancam perekonomian mereka.

Sebelumnya Eropa terbuka terhadap pembiayaan dari Cina. Tapi sejak Midea mengakuisisi Kuka, mereka cemas negara tersebut akan menguasai intellectual property Kuka padahal Jerman sedang memposisikan dirinya sebagai spesialis di industri robotik.

Suasana Shanghai International Automobile Industry Exhibition (Foto: scmp.com)

Jepang Waspada

Perusahaan-perusahaan otomotif Jepang pun juga waspada. Beberapa tahun lalu Satoshi Ogiso, chief engineer Toyota Motor Corporation, pernah mengaku cemas terhadap perusahaan startup mobil.

“Mesin bensin terdiri dari ribuan part, dan butuh perusahaan besar dengan banyak sumber daya untuk membuatnya. Tapi motor listrik relatif murah dengan satu moving part. Tantangan yang dihadapi startup mobil listrik sangat rendah. Saya mengkhawatirkan mereka,” ujarnya.

They should be worried. Dalam waktu relatif singkat, Cina – negara yang dianggap sebagai anak bawang dalam industri teknologi – bisa melejit sedemikian drastis. Sejauh ini, pemerintah negara-negara Eropa, Amerika Serikat dan Jepang belum berkomitmen sebesar Cina.

Tapi selama mereka sibuk saling menyalahkan dan mengeluh, sulit untuk bersaing. Mengutip ucapan Greta Thunberg, “Until you start focusing on what needs to be done rather than what is politically possible, there is no hope.”

MIRAH PERTIWI (Berbagai Sumber)

Video Terbaru Youtube Carvaganza

Video Terbaru Youtube The Official Oto

Last Updates

Daihatsu Perluas Edukasi Program Penyu Untuk Indonesia

JAKARTA, Carvaganza -- Berbagai program digelar PT Astra Daihatsu Motor (ADM) terus membuktikan komitmen dan tanggung jawab sosialnya melalui program CSR (Corporate Social Responsibility)....

Volkswagen ID.4 Meluncur, SUV Listrik Perdana Kaya Teknologi

WOLFSBURG, Carvaganza.com – Volkswagen resmi memperkenalkan model SUV full elektric pertamanya yang bernama Volkswagen (VW) ID.4. Line up mobil listrik VW pun kini semakin...

Hyundai World Premiere Sportscar Listrik RM20e di Auto China Show 2020

BEIJING, Carvaganza.com – Pabrikan Beijing Hyundai Motor Company memanfaatkan pameran Beijing International Automotive Exhibition 2020 untuk membagikan visi elektrifikasi di masa depan. Sebagai bagian...

Cina Sudah Normal lagi, Gelar Pameran Otomotif Di Beijing

BEIJING, Carvaganza.com – Kehidupan di Cina sepertinya sudah normal kembali sejak dihantam pandemic COVID-19. Yang terbaru adalah untuk pertama kalinya digelar pameran otomotif di...

Honda CR-V PHEV Telah Meluncur di Cina, Ini Kelebihannya

BEIJING, Carvaganza.com – Honda CR-V Plug-in Hybrid (CR-V PHEV) telah mendebut global di Beijing International Automotive Exhibition 2020 di kota Beijing, China. Pembukaan selubung...