Beranda EDITOR'S PICKS FEATURE: History of Porsche Sportscar, The Ancestor

FEATURE: History of Porsche Sportscar, The Ancestor

TAHUN lalu, Porsche merayakan salah satu pencapaian terbesar mereka, 70 tahun sportscar versi produksi pertama mereka: Porsce 356 “No. 1” Roadster. Angka 356 merupakan nomor konstruksi sedangkan nomor chassis-nya 356-001. Demi merayakan itu, Porsche tak henti-henti menelurkan berbagai kampanye dan gimmick.

Dari sisi produk, mereka memperkenalkan Mission E – kini menjadi Taycan – pada awal tahun, diikuti dengan 911 Speedster Concept – kemudian diproduksi menjadi special edition – pada Juni lalu, sampai dengan 935 Clubsport yang hanya diproduksi 77 unit saja. Porsche juga membangun Project Gold, 911 Turbo generasi-993 yang terbuat dari bodyshell 993 asli.

Sementara itu, Porsche juga melansir beberapa livery khusus – Pink Pig, Rothman dan Mobil 1 – untuk mobil-mobil yang berkompetisi di Le Mans 24 Hours 2018, 911 RSR. Livery tersebut merupakan warna ikonik di era 1970-an dan 1980-an. Seperti tak puas, mereka juga membuat jam tangan limited edition dan wine. Ya, Anda tak salah baca. Porsche membuat wine sendiri bernama Cuvée 356 yang berusia 6 bulan saja.

Segala usaha tersebut membuktikan begitu pentingnya 356 bagi Porsche. Betapa tidak, mobil ini merupakan cikal-bakal sportscar mereka, termasuk 911 yang ikonik sampai sekarang. Sportscar tersebut diciptakan tak lain oleh Ferdinand “Ferry” Porsche sendiri, pria yang berjasa atas berdirinya manufaktur Porsche bersama saudara perempuannya, Louise Porsche. Keduanya merupakan anak dari pionir otomotif legendaris, Ferdinand Porsche Sr.

Alasan Ferry menciptakan 356 sederhana saja, ia tak bisa menemukan sportscar impiannya. Jadi ia membangunnya sendiri. “Saya selalu mengemudikan mobil-mobil sangat kencang. Saya punya Alfa Romeo, BMW dan lainnya. Di akhir perang (Perang Dunia II), saya punya Volkswagen [Beetle] Cabriolet dengan mesin supercharged dan itulah dasar idenya.

Saya menyadari jika Anda punya cukup tenaga untuk sebuah mobil kecil, pengemudiannya lebih baik ketimbang tenaga besar di mobil besar. Dan lebih menyenangkan. Berdasarkan ide tersebut, kami mulai membangun prototipe Porsche pertama, membuat mobilnya lebih ringan dengan mesin yang lebih bertenaga… itulah mobil dua-penumpang pertama yang kami bangun di Carinthia (negara bagian Austria),” jelas Ferry.

Awalnya Porsche 356 “meniru” saudaranya, Volkswagen Beetle yang didesain oleh Ferdinand Porsche Sr. atas perintah Adolf Hitler untuk alat transportasi yang murah dan sederhana. Maka, sportscar itu menggunakan mesin empat-silinder segaris Beetle di tengah mobil (mid-engine) yang tenaganya sudah ditingkatnya menjadi 35 hp. Dengan penggerak roda belakang dan chassis monokok, bobotnya hanya 585 kg dengan kecepatan maksimal 135 km/jam.

Pada 8 Juni 1948, Pemerintah Negara Bagian Carinthia memberikan ijin one-off untuk mencobanya di jalan umum. Tak menunggu lama, dua bulan kemudian mobil itu langsung mengikuti Innsbruck Street Race dan menang di kelasnya. Tapi hal itu tak membuat Porsche puas. Mereka butuh dua tahun untuk mengembangkan 356 menjadi mobil produksi. Ketika akhirnya 50 unit dipasarkan hanya di Austria dan Jerman pada 1950, sebagian besar sportscar tersebut tak lagi menggunakan part Volkswagen.

Mobil ini langsung punya reputasi akan aerodinamika, handling dan kualitasnya. Awalnya bodi 356 menggunakan aluminium yang dibuat dengan tangan saat diproduksi di Carinthia. Kemudian ketika pabriknya pindah ke Stuttgart-Zuffenhausen, Jerman, material bodinya terbuat dari baja. Kini semua 356 yang menggunakan aluminium disebut “prototipe”.

Apalah gunanya sportscar jika tak digunakan di trek. Maka pada 1951, 356 SL mengikuti Le Mans 24 Hour dan, lagi-lagi, menang. Kesuksesan ini merupakan ajang promosi yang efektif sehingga permintaan akan sportscar tersebut meningkat. Pada 1956, hanya 6 tahun sejak versi produksi 356 keluar, mobil itu sudah dibuat sebanyak 10.000 unit. Dan ketika produksinya berakhir pada 1965, Porsche sudah mencetak sekitar 76.000 unit.

MIRAH PERTIWI

Video Terbaru Youtube Carvaganza