Sejauh Apa Perbedaan Spek Kia Sonet Versi India dan Indonesia?

JAKARTA, Carvaganza.com – Kia Sonet telah sukses mencuri perhatian publik otomotif, baik setelah maupun sebelum hadir ke Indonesia. SUV entry level dari Kia Motors itu bisa dibilang merupakan produk dengan komposisi berani di kelasnya. Bahkan, dari kemunculan versi konsep sampai produksinya, tidak butuh waktu sampai setahun.

India menjadi negara pertama yang meluncurkan Sonet versi produksi. Dari desain dan spesifikasinya, Sonet sangat atraktif dibandingkan SUV lain di pasar sekelas saat ini. Namun ada sejumlah perbedaan yang ditawarkan Sonet untuk pasar India dan Indonesia.

Sering kita temukan jajaran kendaraan dengan fitur jauh lebih lengkap di luaran sana. Bikin iri, seolah disunat lebih dulu sebelum dipasarkan ke Tanah Air. Tapi kondisinya mungkin tidak melulu demikian. Mari kita simak letak perbedaan Kia Sonet versi India dan Indonesia.

Eksterior

Dari luar mungkin sekilas tidak terlihat perbedaan gaya. Ia tetap melenggok seperti SUV kecil dan bertubuh gempal. Wajahnya cukup intimidatif lewat aplikasi bahasa desain Tiger Nose Grille. Tak ketinggalan lampu memicing berikut ditemani desain apron agresif. Galak, hanya saja postur tubuhnya terbilang lucu. Memainkan otot fender melar dan bukaan fender besar sehingga proporsi body tetap terjaga. Buritan juga tak kalah menarik, memainkan rancangan lampu belakang horizontal yang membelah dua bagian atas dan bawah.

Meski begitu, ada beberapa titik perbedaan kala menelisik lebih detail. Terutama pada cladding dan ornamen bumper belakang. Terlepas dari jenis trim, bokong Sonet versi India dipastikan lebih ‘tepos’ tanpa penghias yang mencuat dari cladding. Pun desain trim plastik hitam tidak keluar terlalu jauh dari bumper – nyaris dibuat rata.

Hal ini dikarenakan Sonet mewakili Kia di pertarungan segmen SUV kompak “Sub-4m”. Ada insentif dari pemerintah setempat untuk kendaraan dengan panjang kurang dari 4 meter. Syarat lainnya adalah menggendong mesin bahan bakar bensin berkapasitas kurang dari 1.200 cc, atau diesel di bawah 1.500 cc. Mungkin ekuivalen dengan LCGC hanya saja dimensi turut dijadikan parameter.

Terbukti pula dari catatan hasil pengukuran tubuh. Di India, Sonet mencatatkan panjang 3.995 mm, lebar 1.790 mm, dan tinggi 1.610 mm. Lain cerita ketika sudah mengaspal di Tanah Air. Cladding bokong lebih tebal sehingga menorehkan panjang 4.120 mm. Lebarnya sama 1.790 mm namun memiliki tinggi 1.615 mm atau 1,642 mm andai menggunakan velg 16 inci.

Kelengkapan Fitur

Fitur esensial di trim termahal boleh dibilang tidak beda jauh. Misal di eksterior, tersemat lampu LED untuk penerangan utama dan dihiasi strip DRL bergaya “Heartbeat”. Kemudahan Smart Key berisi fungsi Remote Engine Start juga eksis di kedua market. Tak ketinggalan aplikasi sunroof di atap sebagai penegas kesan premium dalam Sonet.

Begitu pula saat melirik daftar kelengkapan kabin. Pada dasarnya sama-sama komplet dan atraktif. Contoh fitur pendinginan yang sudah memanfaatkan panel AC otomatis ditemani ventilasi ekstra untuk penumpang belakang. Bukan itu saja, Ventilated Seat juga dipasang sebagai komponen istimewa varian atas.

Sound system racikan Bose dapat memanja telinga selama perjalanan. Tersedia tujuh output, terdiri dari empat speaker utama, dua tweeter, dan satu subwoofer. Beruntung kita ikut kebagian. Namun, untuk sumbernya sedikit berbeda. Varian termahal Sonet di India menganut head unit gambot 10,25 inci dan bersih dari tombol. Sementara itu, kita baru kebagian monitor 8 inci meski Android Auto dan Apple CarPlay tetap dapat terhubung secara nirkabel. Wireless charging tentu hadir karena Sonet lokal saja sudah mengadopsi.

Ada satu kecanggihan konektivitas yang belum bisa kita nikmati saat ini. Adalah Kia UVO Connect dengan total 57 fitur kendali kendaraan via smartphone. Termasuk di dalamnya remote engine start, menyalakan AC dan lampu, mengunci pintu, bantuan navigasi, hingga manajemen perawatan mobil. Semua terbungkus dalam genggaman.

Pilihan Mesin

Opsi pemacu di India jauh lebih berwarna. Totalnya ada empat pilihan dapur pacu ditawarkan Kia sesuai paket trim. Paling rendah diisi mesin peminum bensin Smartstream empat silinder 1.200 cc Naturally Aspirated. Kekuatan 81 hp dengan torsi 115 Nm tersalur ke roda depan via transmisi manual lima percepatan. Kalau kurang, ada unit 3 silinder 1.000 cc turbo yang sanggup lecutkan 118 hp/172 Nm via girboks manual tanpa kopling 6iMT atau otomatis DCT 7 percepatan.

Di samping itu, disediakan juga dua seleksi mesin diesel empat silinder berkapasitas 1.500 cc turbo. Cukup digandrungi dan meramaikan daftar panjang keluarga Sonet. Dalam format transmisi manual 6 speed, ia suguhkan ekstraksi 98 hp/240 Nm lantaran menganut teknologi Wastegate Turbocharger (WGT). Lain cerita di versi 6AT, kemampuan Variable Geometry Turbocharger (VGT) siap gelontorkan output 113 hp/250 Nm.

Kendati begitu, market Indonesia tidak memanfaatkan satupun seleksi dari sana. Berbeda, dijebloskan mesin empat silinder Smartstream Gamma II, DOHC, Dual CVVT, Dual Fuel Injection 1.500 cc. Mungkin pertimbangannya adalah memadukan kehalusan empat ruang bakar dan kekuatan dari 1.500 cc. Bebas dari stigma mesin seliter tiga silinder.

Aransemen mesin polosan tanpa pemadat udara. Sanggup menghasilkan tenaga 113 hp dan torsi puncak 144 Nm. Penyaluran ke roda depan dieksekusi oleh transmisi CVT (Intelligent Variable Transmission) berisi simulasi delapan percepatan. Ada pula opsi manual enam percepatan di trim bawah.

Jumlah Varian

Sudah punya banyak opsi mesin, tingkatan kelas trim tak kalah banyak. Ada enam seleksi mulai dari HTE, HTK, HTK+, HTX, HTX+, dan GTX+ untuk menentukan seberapa lengkap fitur dan komponen pelengkap visual. Banjir kombinasi, tiap trim minimal membawa dua seleksi mesin. HTE dan HTK disisipkan unit bensin 1.200 cc manual atau 1.500 cc diesel manual. HTK+ dapat mengadopsi seluruh opsi mesin dan transmisi. HTX dan HTX+ dibekali unit turbo 1.000 cc atau 1.500 cc diesel bertransmisi manual. Sementara itu, varian GTX+ tidak dapat dinikmati dalam format 1.200 cc bertransmisi manual. Silakan hitung sendiri ada berapa kombinasi.

Di Indonesia, satu seleksi mesin tadi menjadi senjata untuk lima tingkatan kasta. Paling rendah ada Standard, Active, dan Smart yang menganut girboks manual. Smart juga dapat dikawin penyalur daya IVT seperti Dynamic dan Premiere sebagai dua wakil varian termahal.

AHMAD KARIM

Artikel yang direkomendasikan untuk anda