Mau Jadi Pereli? Rifat Sungkar Berbagi Tips Meniti Karier Di Trek Balap

JAKARTA, Carvaganza - Menjadi pereli bukan hal mudah. Dibutuhkan usaha panjang untuk menjadi seorang profesional. Seperti dialami Rifat Sungkar, pereli nasional yang sudah banyak menorehkan beragam prestasi. Lantas apa saja kiatnya? Berikut penjelasan pria kelahiran 1978 ini.

Pertama adalah memulai sejak dini. Masih banyaknya ruang dan waktu untuk pengembangan kemampuan menjadi alasan. Rifat sendiri mulai menekuni dunia balap sejak usia 7 tahun. Saat itu, ia harus membangun sendiri tunggangan. Walau latar belakang keluarganya tak jauh dari dunia balap.  Ya, ayahnya Helmy Sungkar dan ibunya Ria Sungkar. Legenda balap reli di Indonesia.

“Menjadi seorang pereli bisa di mulai dari bawah dan sejak usia dini. Pasalnya sekarang ini dengan tinggi badan yang sudah mencukupi syarat, maka sudah bisa ikut balap reli. Selain itu, mendapatkan izin dari orangtua juga penting, karena pada usia dini pasti belum memiliki SIM (Surat Izin Mengemudi). Walaupun reli dan sprint rally berada di Kawasan tertutup dan tidak melibatkan jalan umum,” ungkap Rifat.



Baca juga: Pereli Rifat Sungkar Uji Coba Mitsubishi Xpander AP4 Di Meikarta

Langkah selanjutnya memilih gokart sebagai batu pijakan awal. Lewat single seater entry level ini, seseorang dapat belajar menguasai dasar balapan. Sekaligus meningkatkan sensitifitas dan teknik; seperti keseimbangan manuver, akselerasi dan pengereman. Balapan jenis ini juga mendorong semangat kompetitif. Pasalnya, event yang mempertarungkan gokart mengelompokan kelas berdasarkan usia. Fasilitasnya saat ini pun sudah banyak tersedia. Akses lebih mudah, tanpa perlu mengeluarkan dana besar. Ditambah kompetisi balap gokart berdasarkan aturan, terdapat kelas untuk 7 tahun.

“Jika anak Anda ingin menjadi pembalap maka anak dapat mulai disertakan pada balap gokart. karena gokart punya standar agar seseorang lancar mengendarai mobil balap lain, seperti reli atau single seater,” jelasnya.

Baca juga: Taxi Ride Dengan Mitsubishi Xpander AP4 Rifat Sungkar di Meikarta

Berlatih saja tentu tak cukup. Rifat menambahkan, pembalap harus memiliki target. Soalnya, mereka harus berpacu dengan umur yang menjadi satu-satunya kendala. Jangan pernah berhenti berpartisipasi dalam berbagai pertandingan. Agar bisa bisa mengasah dan membangkitkan semangat kompetitif, sekaligus menjadi sarana menguatkan kemampuan.



“Kalau sudah mencapai 30 tahun, untuk bisa kompetitif di ajang balap apapun jenisnya bakal sulit,” terangnya.

Setelah memiliki pengalaman di dunia balap gokart cukup lama, barulah menjajaki reli. Rifat menyarankan mulai dari kelas F1, menggunakan sedan 1.500 cc bekas ISSOM (Indonesian Sentul Series of Motorsport). Tinggal di-upgrade untuk memaksimalkan performa.

Baca juga: Mitsubishi Xpander AP4 Concept dan Imajinasi Rifat Sungkar

“Dari gokart bisa lompat ke reli. Kalau reli, tidak perlu pakai mobil 4WD. Di reli itu paling enak mulainya di kelas F1. Karena di ISSOM itu tiap 3 atau 5 tahun sekali itu mobilnya ganti, ada 20 mobil selesai karena ganti muka, ganti model. Berpartisipasi di ajang balap reli F1 bisa menggunakan mobil bekas balap ISSOM karena spesifikasi mesin, girboks dan ganyak komponen lainnya sudah sama. Modal awal yang perlu dikeluarkan untuk mobil Rp 150 – 200 jutaan,” tuturnya.

MUHAMMAD HAFID

Artikel yang direkomendasikan untuk anda