Kaleidoskop 2020: Mobil Elektrifikasi Dan Teknologi Berbasis Digital

JAKARTA, Carvaganza.com – Pandemi COVID-19 telah membuyarkan cita-cita dan harapan para pelaku industri otomotif sepanjang tahun 2020. Wabah tersebut tak disangka menciptakan darurat masalah kesehatan secara global sehingga banyak pihak menghentikan ragam kegiatan. Perekonomian pun melambat.

Tak terkecuali di Indonesia. Menurut Vice President Director PT Toyota-Astra Motor (TAM) Henry Tanoto, market mobil domestik sampai bulan November 2020 menurun 45 – 46 persen. Pada kuartal kedua, sempat turun drastis di mana angka penjualan retail turun sampai lebih dari 90 persen. Tapi tambahnya, pada kuartal ketiga dan keempat mulai membaik dibandingkan sebelumnya secara berturut-turut. Meskipun belum bisa menyamai angka penjualan tahun 2019.

Terlepas dari kemerosotan penjualan mobil baru dan juga turunan industri otomotif lainnya di pasar nasional, ada satu hal menggembirakan. Yaitu pertumbuhan mobil elektrifikasi.

Mobil berbasis listrik di Indonesia


Pasar mobil elektrifikasi nasional memang menggeliat, ditandai hadirnya ragam mobil elektrifikasi di berbagai segmen di Tanah Air. Baik mobil elektrifikasi yang mengombinasikan mesin konvensional (internal combustion engine – ICE) maupun pure listrik.

Toyota menjadi pemilik mobil elektrifikasi terbanyak. Yakni Toyota Corolla Cross Hybrid, C-HR Hybrid, Camry Hybrid, Altis Hybrid dan Alphard Hybrid. Ditambah dengan Prius PHEV dan Lexus UX 300e yang pure listrik. Mitsubishi sudah punya Outlander PHEV, Nissan merilis Kicks e-Power, Hyundai punya Kona Electric dan Ioniq Electric dan BMW sudah lama punya I3S.

Pabrikan Cina Wuling dan DFSK tak mau ketinggalan. Wuling pernah memperkenalkan E100 dan E200, sedangkan DFSK memberi panggung kepada mobil niaga listrik Gelora E.

Dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, jumlah mobil elektrifikasi yang diluncurkan di Indonesia tahun 2020 adalah yang tertinggi. Pabrikan tentu saja merilis ‘mobil setrum’ itu bukan tanpa alasan. Banyak alasan yang mendorong kelahiran mereka. Faktor pendorong yang luar biasa adalah keseriusan pemerintah untuk membuka pasar mobil elektrifikasi di sini, dengan mengeluarkan kebijakan yang mengatur hal itu.

Kebijakan soal mobil elektrifikasi itu telah tertuang dalam Peraturan Presiden nomor 55 tentang Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai di tahun 2019. Perpres ini yang nantinya bakal mengatur tata aturan mobil elektrifikasi di Indonesia dari mulai hybrid, Plug-in Hybrid dan listrik murni. Jika peraturan ini berlaku pada 2022 mendatang, harga mobil elektrifikasi akan lebih terjangkau sehingga angka penjualan diharapkan meningkat.

Baca juga: Kaleidoskop 2020: 7 Pilihan Mobil Elektrifikasi Yang Sudah Dijual Di Indonesia



Pemerintah sendiri sudah mencanangkan bahwa pada tahun 2025 mendatang, 20 persen penjualan mobil baru pada tahun 2025 nanti adalah mobil elektrifikasi. Baik itu hybrid, plug-in hybrid maupun pure listrik sehingga akan menciptakan lingkungan yang lebih hijau lagi.

Nah sebelum sampai pada tanggal berlakunya, pabrikan mengambil ancang-ancang dari sekarang. Misalnya, Hyundai sudah membangun pabrik mobil di Karawang, Jawa Barat, yang nantinya juga akan memproduksi mobil elektrifikasi. Toyota juga akan melokalkan produk mobil elektrifikasi pada tahun 2022 mendatang.

Indonesia akan menyambut sebuah babak baru, selangkah menuju tahap mobil elektrifikasi.

Pasar mobil global


Pandemi tidak saja menampar otomotif nasional, otomotif global juga sempat terjerembab meskipun di Q4 mulai membaik. Tapi perkembangan pada otomotif global bukan pada persoalan mobil elektrifikasi. Pasalnya mereka sudah melangkah lebih jauh dari dulu dibandingkan kita. Perhatian khusus terfokus pada efek wabah kesehatan itu sendiri terhadap konsumen dan pabrikan.

Menurut hasil kajian lembaga PricewaterhouseCoopers, COVID-19 telah mempengaruhi perilaku mobilitas penduduk di Jerman dan mereka menganggap bahwa alat transportasi individual itu penting. Artinya, selama pandemi terdapat kekhawatiran untuk menggunakan kendaraan umum, sehingga mereka menganggap memiliki kendaraan pribadi sangat mendesak.

PWC juga menemukan bahwa sepertiga responden di Jerman atau sebanyak 31 persen akan lebih sering menggunakan kendaraan pribadi sebagai alat transportasi sehari-hari. Dari hasil kajian tersebut, mobil bermesin konvensional masih lebih diminati di Jerman, baru pilihan keduanya adalah mobil elektrifikasi. Baik itu hybrid, plug-in hybrid atau pun battery electric vehicle (BEV) alias listrik murni.

Baca juga: Kaleidoskop 2020: 12 Sedan Dan Hatchback Baru Paling Populer (Bagian 1)



Dianalisa pula bahwa masalah kesehatan global ini membuat otomotif di dunia harus mengubah pendekatan mobilitas jangka pendeknya. Dari langkah short-term itu, pabrikan dapat mengkaji  pendekatan jangka panjang atau masa depannya. Pasalnya, pandemi yang cukup lama ini memaksa pabrikan melakukan penghematan untuk menyelamatkan keuangan perusahaan. Langkah penyelamatan itu di antaranya pengurangan biaya, mengurangi bisnis di seluruh jaringan usaha dan memprioritaskan pada investasi yang memberikan peluang laba tinggi.

Agar bisa tetap kompetitif, investasi sebaiknya diarahkan pada mobilitas yang lebih pintar (smarter mobility). Misalnya pada teknologi-teknologi yang sedang berkembang seperti menyematkan artificial intelligence (AI) dan telekomunikasi 5G pada kendaraan. Meskipun mobil full otonom sedang berkembang, jangan sampai melupakan teknologi pintar yang lebih terkoneksi dan terintegrasi, baik di mobil elektrifikasi maupun ICE. Teknologi yang dimaksud di antaranya sistem navigasi, otonomi pengemudian, cross-traffic detection, sensing traffic signals atau pun blind spot monitoring.

Senada juga dengan otomotif nasional, teknologi digital di bisnis otomotif global juga tumbuh kuat. Pabrikan sudah menyadari kalau mereka sampai ketinggalan dalam transformasi teknologi digital, bakal rugi besar. Makanya pabrikan berlomba menyediakan layanan teknologi itu. Platform teknologi dipakai oleh pabrikan dalam hal penjualan maupun pelayanan purna jual.

EKA ZULKARNAIN

Artikel yang direkomendasikan untuk anda