Hyundai Sudah Pindah Dari Malaysia ke Indonesia, Bagaimana Kelanjutannya?

JAKARTA, Carvaganza - Hyundai telah memperbesar investasinya di Indonesia. Pabrikan mobil asal Korea Selatan ini telah membangun pabrik di Karawang dengan kapasitas ribuan unit per tahun. Bahkan mobil yang bakal diproduksi pun untu beragam segmen. Baik bermesin konvensional maupun kendaraan elektrifikasi. 

Kabar terbaru dari investasi Hyundai yang begitu besar itu, mereka juga memindahkan  kantor pusat regional Asia Pacific. Dari semula di Mutiara Damansara, Kuala Lumpur, Malaysia, ke Tanah Air pada akhir 2021. SD Motors, pemilik Hyundai-Sime Darby Motors Sdn Bhd (HSDM), yang merupakan distributor tunggal dan importir eksklusif mobil Hyundai di Malaysia. Malah mengharapkan perakitan lokal di pabrik Inokom di Kulim, Kedah, terus meningkat.

Alasan migrasi ke pabrik Hyundai di Bekasi, lantaran menghemat pajak. Bahkan untuk pasar Malaysia. Momentum ini tetap diharapkan dapat meningkatkan volume perakitan mobil Hyundai oleh Inokom. "HSDM berencana untuk mengenalkan beberapa model yang sepenuhnya diimpor ke pasar Malaysia pada 2021. Kemudian diikuti oleh model SUV yang dirakit secara lokal pada 2022. Sementara itu, operasi perakitan Hyundai bertujuan untuk terus merakit model-model Hyundai untuk pasar domestik," papar juru bicara perusahaan, seperti dilansir theedgemarkets.

Sebagian part kendaraan yang dijual di Negeri Jiran, sekarang masih dibuat di Korea Selatan dan dikenai tarif. Jika dibuat di Indonesia - sebagai anggota Asean - tidak ada bea masuk untuk kit itu. "Faktanya, dengan pabrik baru Hyundai di Indonesia yang diharapkan dapat memproduksi bagian kendaraan. Yang kemudian memberikan nilai tambah melalui penghematan pajak untuk penjualan kendaraan. Kami berharap dapat terus meningkatkan volume perakitan kendaraan Hyundai di Inokom," imbuhnya lagi.

Hyundai Malaysia office

Melihat itu, SD Motors saat ini fokus untuk menambah produk baru di pasar Malaysia tahun ini dan seterusnya. Menyusul peluncuran model yang sepenuhnya diimpor dari Korea Selatan. Misalnya Kona, sedan Elantra dan Sonata. Saat ini mereka tengah merakit SUV Santa Fe di pabrik Inokom untuk pasar domestik. Grup tersebut mengonfirmasi, bakal ada proyek knocked-down (CKD) yang lebih lengkap dalam proses produksi. Pastinya seiring dengan pertumbuhan jajaran produk di masa depan.

Penjualan mobil Hyundai Malaysia sebanyak 1.307 unit Hingga November lalu. Torehan turun 37 persen dari 2.085 unit yang terjual pada periode sama 2019. Sementara itu pada November 2019 Hyundai mengumumkan telah memutuskan untuk membangun pabrik pertamanya di Asia Tenggara. Tepatnya di Bekasi dengan nilai investasi US$ 1,55 miliar. Fasilitas itu memiliki kapasitas produksi awal 150.000 unit. Dan separuh unit dijajakan untuk pasar ekspor.

Fasilitas di Indonesia

Kegiatan manufaktur di Indonesia mulai beroperasi sekitar akhir tahun ini. Karena konstruksi pabrik telah mencapai 60 persen. Lokasi ini nantinya diperluas untuk memproduksi 250.000 unit saban tahun. Dengan dibukanya fasilitas di Bekasi, pangsa pasar Hyundai diperkirakan bakal terus meningkat di masa mendatang. Ini karena part mobil kini diproduksi di Asia Tenggara. Sehingga memungkinkan Hyundai menghindari tarif antara 5 persen hingga 80 persen.

Indonesia jua telah menerima perhatian dari sejumlah pembuat mobil selama dekade terakhir. Bahkan menjadi tujuan pilihan untuk produksi dan perakitan lokal. Contoh saja, pada 2019 Toyota menyatakan menanam dana segar untuk bikin kendaraan hybrid sebesar US$ 2 miliar hingga 2023. Kemudian RI menandatangani kesepakatan senilai US$ 9,8 miliar dengan LG Energy Solution. Sebuah produsen baterai EV terbesar kedua di dunia. Pengembangan industri baterai EV bisa kian terintegrasi. Bahkan Tesla pun kepincut untuk memproduksi baterai EV di sini.

 

Banyaknya investasi ke Indonesia menimbulkan pertanyaan. Apa yang dimiliki Indonesia jelas tidak dimiliki Malaysia. Walau faktanya Negeri Jiran memiliki infrastruktur baik dan ekosistem otomotif kompetitif. Dan mereka merupakan pasar kedua paling menarik untuk investasi otomotif di Asia, setelah Cina. Selebihnya ada negara-negara seperti Thailand, Korea Selatan, Taiwan, Jepang dan Indonesia. Itu klaim Fitch Solutions Country Risk and Industry Research.

Presiden Jokowi teken kerjasama dengan Hyundai

Perbandingan Ongkos Produksi

Dalam indeks risiko atau imbalan produksi mobil baru-baru ini yang diterbitkan pada 11 Januari. Fitch Solutions menyatakan kalau peningkatan ongkos dan ketersediaan utilitas paling tinggi Malaysia di Asia. "Tim Risiko Operasional kami mencatat bahwa dibandingkan dengan banyak negara tetangga lainnya. Seperti Singapura dan Hong Kong. Malaysia kaya sumber daya alam, menguntungkan bisnis dengan ketersediaan luas utilitas yang andal dan terjangkau. Terutama bahan bakar dan listrik," tulis laporan itu.

Tim kami menyoroti bahwa di Malaysia, kapasitas dan pembangkit listrik telah berkembang pesat selama lima tahun terakhir untuk mengimbangi meningkatnya permintaan listrik. Ini berarti bahwa pembuat mobil yang ingin mendirikan jaringan pemasaran di negara itu karena memiliki akses relatif murah. Sehingga bisa menempatkan Malaysia di atas negara-negara seperti India. Sebuah pasar yang berjuang untuk menyediakan utilitas memadai dengan harga terjangkau," imbuh laporan Fitch Solution.

Namun, Indonesia terus meraih investasi otomotif. Meskipun hanya menempati urutan ke delapan di kawasan ini, dengan indeks imbalan risiko (risk-reward index) 58,1. Kalau dibandingkan dengan indeks Malaysia sebesar 70,1. Pada 2019, otomotif Tanah Air memproduksi 1,29 juta unit mobil. Angkanya lebih dari dua kali lipat produksi Malaysia sebesar 571.632 unit. Dengan banyaknya investasi besar seperti Toyota dan Hyundai. Jumlah produksi diperkirakan terus meningkat.

Walau memiliki pemerintahan yang mendorong investasi di industri otomotif. Kekuatan Indonesia terletak pada biaya tenaga kerja relatif rendah. Fitch Solutions memberi peringkat biaya tenaga kerja rata-rata Indonesia pada 94,6 dari kemungkinan 100. Dikatakan menjadi pasar pekerja termurah kedua di Asia setelah India.

Menurut indeks risiko produksi mobil Fitch Solutions. Skor biaya tenaga kerja di Malaysia berada dilevel 73,2. Yang berarti bahwa ongkos lebih tinggi daripada di RI, Vietnam dan Thailand. Bahkan di Asia Tenggara. Tapi masih murah dari Filipina. Nilai jual yang membuat penanam modal berdatangan di sini. Sumber daya alam nusantara amat melimpah. Ini menjadi salah satu magnet investasi ke industri otomotif Tanah Air. Indonesia juga merupakan penghasil nikel terbesar, yang digunakan dalam produksi baterai kendaraan listrik (EV). Fakta ini terus dipromosikan pemerintahnya untuk terus mengamankan investasi di dalam negeri. Itulah alasan daya tarik dan potensi sebagai pemain besar.

Untuk menggairahkan perputaran bisnis di sektor industri manufaktur. Pada 2021 Kementerian Perindustrian bahkan membidik kenaikan investasi hingga mencapai Rp 323,56 triliun. Latar belakang munculnya angka sebesar ini, didukung dengan upaya pemerintah mengakselerasi pemulihan ekonomi nasional. Menperin Agus Gumiwang yakin duit segar itu bisa menjadi penggerak pertumbuhan dunia usaha. Tak kecuali otomotif Tanah Air. Ia mengklaim, diterbitkannya Undang-Undang Cipta Kerja dan adanya komitmen pemerintah untuk segera menyelesaikan aturan turunannya. Bakal membangun ekosistem iklim investasi kondusif. (ANJAR LEKSANA/EZ)

Artikel yang direkomendasikan untuk anda