Hypercar GR010 Hybrid Tidak Sekencang Harapan

SPA, Carvaganza – World Endurance Championship (WEC) telah memulai musim 2021 lewat sesi tes pra musim di Spa-Francorchamps yang menjadi kesempatan pertama semua mobil peserta berada di satu lintasan. Ini juga menjadi debut resmi kelas baru Le Mans Hypercar (LMH) sebagai kelas puncak di WEC. Namun, belum mulai seri pembuka, sudah terjadi kontroversi di kelas baru berbasis hypercar produksi ini.

Toyota GR010 Hybrid, mobil andalan Toyota di kelas Hypercar ini ternyata tidak sekencang yang diperkirakan pabrikan. Kecepatan rata-rata Toyota di Spa, Belgia, ternyata justru kalah dari mobil LMP2 yang merupakan kelas lapis kedua. Tidak ingin malu di depan penggemarnya sebagai pabrikan besar, Toyota sampai minta agar performa mobil LMP2 agar diturunkan menjadi lebih pelan.

Selama tes yang digelar dua hari di Spa, mobil terkencang Toyota masih tertinggal sampai setengah detik dibandingkan mobil LMP2 tercepat. Tim G-Drive dengan mobil buatan Oreca menjadi yang tercepat selama masa tes, yang adalah mobil kelas LMP2. Situasi ini membuat Toyota tidak puas dengan regulasi dan kecepatan mobilnya sendiri.

Pascal Vasselon sebagai technical director Toyota Gazoo Racing Europe meminta agar regulasi ditinjau ulang secara teknis. “Saya pikir tidak ada pilihan lain. Saya tidak menganggapnya sebagai target untuk mendapatkan stratifikasi semacam ini,” kata Vasselon dilansir Motorsport.

Alpine

Vasselon mengacu pada target penurunan performa mobil LMH dibandingkan mobil LMP1 yang sudah lama. Regulasi LMH dirancang agar lebih lamban lima detik dibandingkan LMP1 di sirkuit tuan rumah WEC. Artinya, mobil LMP2 juga harus diperlamban agar posisinya di belakang LMH, kelas baru yang juga masih dalam tahap pengembangan. Menurut Vasselon, kecepatan GR010 Hybrid sudah sesuai dengan proyeksi regulasi.

Menurut pria berkebangsaan Perancis itu, diperlukan adanya balance of performance (BoP) antara kelas Hypercar dan LMP2, setelah adanya pembenahan di kelas LMP2 pada awal April lalu. Awalnya, LMP2 sudah diperlamban dengan memangkas tenaga mesin 40 hp, serta menggunakan ban Goodyear kompon hard untuk kelas ini.

LMP2 kemudian diberikan pengurangan performa lebih lannjut, yaitu lewat pemangkasan 25 hp tenaga mesin. Begitu juga dengan ditambahnya bobot minimum mobil dari 930 kg menjadi 950 kg. Lalu juga sesuai spesifikasi Le Mans 24 Jam, mobil LMP2 harus menggunakan konfigurasi downforce rendah di semua balapan WEC.

“Tentu bukan targetnya untuk mendapati mobil LMP2 melaju lebih kencang dibandingkan kategori Hypercar. Saya mencoba untuk mengemukakan bahwa ada keinginan yang jelas untuk memperbaikinya; hanya saja koreksinya harus ditinjau kembali,” lanjut Vasselon yang pernah nahkodai Toyota juga di Formula 1.

Sebagai parameter, G-Drive menorehkan waktu tercepat keseluruhan di sesi tes di Spa-Francorchamps, dengan lap time 2:04,168 melalui pembalap Nyck de Vries. Sementara mobil tercepat Toyota mencatat 2:04,669 yang setengah detik lebih lambat. Waktu kombinasi tercepat Toyota hanya berada di posisi keempat tercepat keseluruhan, di belakang para peserta LMP2.

Sementara Alpine yang mengisi kelas puncak bersama Toyota dengan mobil LMP1, terpaut hampir setengah detik dari waktu terbaik Toyota. Kelas LMP1 juga mengalami penyesuaian teknis, agar kecepatannya berkurang dibandingkan tahun lalu. Alpine juga menjadi satu-satunya rival langsung Toyota di WEC saat ini, mengingat Scuderia Glickenhaus belum bisa bergabung di awal musim.
WAHYU HARIANTONO / RS

Sumber: Motorsport

Artikel yang direkomendasikan untuk anda