F1 Coba Format Balapan Kualifikasi Kontroversial Tahun Ini

JAKARTA, Carvaganza – Formula 1 baru saja mengumumkan sebuah keputusan yang akan menjadi kontroversi, yaitu akan menggelar akhir pekan grand prix yang diisi dengan balapan kualifikasi. Grand prix dengan format ini akan diterapkan di tiga seri musim ini, yang disebut telah disetujui oleh tim dan FIA. Bisa dibilang, F1 akan menerapkan format akhir pekan seperti balapan junior F2 dan F3.

Tanpa menyebut nama tim yang sepakat, dikatakan bahwa format ini akan diuji coba pada dua seri balap di Eropa dan satu lagi di luar Eropa. Pengumuman seri apa yang akan mengadopsi format ini akan dilakukan menyusul. Balapan kualifikasi adalah sebutan lain dari Sprint Race atau balapan dengan waktu dan jarak yang lebih pendek dari balapan utama di hari Minggu.

Sesi dengan nama Sprint Qualifying ini akan berlangsung di hari Sabtu siang, lewat sebuah balapan berjarak 100 kilometer. F1 dan FIA akan menerapkan sejumlah variabel dalam dilangsungkannya sesi ini, termasuk memberikan poin.

Secara kronologis, grand prix akan terdiri oleh sesi free practice masing-masing 60 menit di hari Jumat dan Sabtu pagi. Lalu sesi kualifikasi untuk menentukan posisi start Sprint Qualifying adalah pada hari Jumat siang, terbagi tiga sesi (Q1, Q2, Q3), yang disediakan dengan lima set ban kompon soft. Sesi Sprint Qualifying akan digelar dengan menggunakan dua set ban yang bebas dipilih setiap tim, termasuk opsi komponnya.

Formula 1

Hasil Sprint Qualifying alias sprint race akan memberikan poin untuk para pembalap di posisi tiga besar. Tiga poin untuk posisi pertama, dua poin untuk posisi kedua dan satu poin untuk posisi ketiga. Hasil balapan ini juga akan digunakan untuk menentukan posisi start balapan di hari Minggu.

“Kami sangat senang dengan kesempatan baru ini yang akan membawa para penggemar kami pada balapan akhir pekan yang lebih menarik di tahun 2021. Melihat para pembalap bertarung selama tiga hari akan menjadi pengalaman yang luar biasa dan saya yakin para pembalap akan menikmati pertarungan ini,” kata Presiden dan CEO Formula 1, Stefano Domenicali.

"Saya senang bahwa semua tim mendukung rencana ini dan ini adalah bukti upaya bersama kami untuk terus melibatkan penggemar kami dengan cara baru sambil memastikan kami tetap berkomitmen pada warisan dan meritokrasi olahraga kami."

Diterapkannya uji coba format baru ini adalah demi memberikan penampilan dan tontonan yang lebih menarik untuk para penggemar dan penonton agar lebih banyak aksi terjadi di trek. Padahal, ide yang dibawa dari kategori junior ini sempat ditentang dan urung dilaksanakan. Namun dengan sejumlah ubahan dan penyesuaian, akhirnya mendapat lampu hijau.

Tidak sedikit tim dan pembalap yang mengutarakan tidak setuju dengan membuat format baru di F1. Sebelumnya, sempat tercetus ide menggelar sprint race di hari Sabtu, di mana hasil sepuluh besar akan dibalik posisinya saat start balapan hari Minggu. Format reverse grid seperti F2 ini dikecam dan akhirnya tidak diteruskan.

Selain itu, yang menjadi kontroversi juga adalah bahwa penerapan dua kali balapan berpotensi memaksa tim untuk mengeluarkan biaya lebih besar dalam satu akhir pekan. Padahal, F1 dan FIA terus berusaha untuk menekan pengeluaran tim, salah satunya demi membuat persaingan lebih merata. Dengan dua kali balapan, maka akan lebih besar juga potensi mobil alami kerusakan karena tabrakan di balapan.

Seperti contohnya pada seri Imola, pekan lalu, bos tim Mercedes-Benz, Toto Wolff mengutarakan bahwa kecelakaan hebat antara Valtteri Bottas dan George Russell berakibat pada besarnya biaya ekstra yang harus dikeluarkan tim. Parahnya kerusakan mobil Bottas membutuhkan banyak perbaikan dan jam kerja para mekanik tim.
WAHYU HARIANTONO / RS

Artikel yang direkomendasikan untuk anda