TEST DRIVE: Ferrari 296 GTB, Benchmark Baru Supercar Italia (Bagian 2)

JAKARTA, Carvaganza - Kehadiran Ferrari 296 GTB seperti mendefinisikan ulang arti supercar yang seharusnya. Jujur, kemudi electric assistnya sangat intuitif, tapi feelingnya tidak terlalu istimewa. Namun, tetap memberikan feedback yang obyektif dan presisi sehingga kita bisa memberikan input yang baik pula. Rasanya juga tidak membosankan dan lebih santai. Kerja suspensi belakangnya juga terintegrasi baik dengan bagian depan, memberikan respon yang tajam dan positif.

KEY TAKEAWAYS

  • Ada berapa mode pengendaraan pada Ferrari 296 GTB?

    4 Mode pengendaraan yakni Wet, Sport, Race dan CT-Off (traction control).
  • Apa menu Performance Package yang disediakan untuk Ferrari 296 GTB?

    Disebut Assetto Fiorano yang terdiri atas warna baru, suspensi Multimatic adjustable khusus dan penambahan serat karbon di eksterior maupun interior.
  • Untuk mengatur pengendaraan 296 GTB, terdapat menu manettino standard yang bisa dipergunakan. Yaitu Wet, Sport, Race dan CT-Off (traction control). Tapi pada bagian kiri kemudi juga terdapat switch manettino untuk mode elektrik (e-manettino) yaitu EV, Hybrid, Performance dan Qualifying.

    Kok ada mode Qualifying (kualifikasi)? Apa fungsinya? Mode ini berfungsi untuk memerintahkan kepada komputer untuk memeras setiap watt tenaga dari baterai agar mobil bisa melontarkan tenaga maksimalnya dalam 1 lap cepat. Istilah dalam balapan adalah one quick lap. Sedangkan pada mode Performance, lontaran tenaga maksimal mobil akan dibatasi, kemudian dikombinasikan dengan pemulihan energi baterai agar tenaga baterai terjaga cukup untuk pengendaraan yang berat dan sulit. Sehingga tenaga dari baterai dapat digunakan secara efisien.

    Ferrari 296 GTB

    Pada saat melewati daerah pegunungan dengan mode hybrid, tenaga mobil terasa solid. Tak seperti hybrid lainnya dengan mesin ICE yang senyap, V6 Ferrari tetap mengeluarkan suara meraung. Jadi Anda tahu kapan mesin ICE-nya bekerja dan kapan hybridnya bekerja. Pada saat melewati kota-kota kecil, biarkan hybridnya bekerja dan mobil meluncur dengan tenang. Bikin orang heran, kok Ferrari hampir tak ada suaranya tapi kencang.

    Mode Sport mampu meredam oversteer dengan baik, tapi pas di lokasi yang aman saya pakai Mode Race sehingga bisa mendengarkan raungan mesin sekaligus senang-senang sedikit. Mode CT-Off (Traction Control-Off) sebaiknya dipakai di dalam sirkuit saja karena di situ kita bisa mengeksplorasi secara maksimal ketika pengaturan stabilitas mobil dimatikan total. Bukan di jalan raya.

    Hampir lima jam saya mengemudi di daerah pegunungan di seputaran Maranello, memindah-memindahkan mode berkendara dari Sport-Hybrid ke Race-Performance sambil mengaktifkan setelan suspensi untuk jalanan bumpy karena permukaan jalan memang tidak rata.

    Pengembangan Ferrari 296 GTB ini secara elementer didasarkan pada jalan raya yang ada di Maranello. Banyak beberapa bagian jalan di kota tersebut adalah aspal tua warisan Perang Dunia II dan belum pernah diaspal ulang lagi. Ketika melaju pada mode Race atau Sport, damper terasa terlalu kaku ketika melewati jalanan pegunungan yang tidak rata. Tapi karena supercar ini punya setelan suspensi untuk jalanan bumpy, mobil terasa tetap tenang dan pengendaraannya tetap nyaman. Bahkan ketika melewati permukaan jalan yang meninggi, mobil terasa tetap solid.

    Pada waktu melewati tikungan tajam dan membahayakan, 296 GTB terasa rileks, tidak ada effort yang berlebihan yang harus dikeluarkan dan menguras konsentrasi pengemudi. Mungkin mobil ini diciptakan dengan cita-cita kesempurnaan tanpa cela, tapi saya malah merasa ini mobil jadi anti sosial dengan level kesempurnaan yang tinggi.

    Baca juga: TEST DRIVE: Ferrari 296 GTB, Benchmark Baru Supercar Italia (Bagian 1)

    Ferrari 296 GTB

    Level Downforce

    Kualitas respon dari chassisnya yang baru super bagus, lantas diperkuat dengan sistem pengereman teranyar yang oleh Ferrari disebut ABS Evo.
    Untuk mobil dengan bobot 1.470 kg plus bobot tambahan dari motor listriknya 35 kg, Ferrari 296 terasa enteng. Mampu berhenti dari kecepatan 200 km/jam sampai nol km/jam dalam jarak 107 meter. Lebih pendek 12 meter dari F8.

    Mungkin pernyataan di atas terdengarnya klise. Apa betul kemampuannya bisa sejauh itu? Pabriknya sendiri mengklaim bahwa pengereman 296 GTB satu tingkat lebih bagus dari F8 dan dari Ferrari model lain.

    Kok bisa? Orang mungkin berpikir dengan ‘stopper’ sebegitu kuat, pabrikan harus mengompromikannya jika mobil merayap pelan di traffic dalam kota. Mungkin Anda berpikir, mobil akan tersentak-sentak karena remnya menjadi terlalu sensitif. Saya justru heran, kok sistem brake-by-wire yang dipakai Ferrari 296 bekerja normal dan ‘sopan’ ketika mobil saya kendarai di jalan raya.

    Menurut saya, hal yang paling menarik dari 296 GTB adalah desain eksteriornya. Tau enggak benda indah ini bisa menghasilkan downfoce sampai 360 kg pada kecepatan 250 km/jam tanpa wing? Gila! Menurut saya, obsesi desainer Flavio Manzoni untuk mendapatkan downforce sebesar itu tanpa sayap dan bilah sukses diterapkan pada 296.

    Ferrari 296 GTB

    Flavio berhasil menggali semua potensi aerodinamika pada mobil sehingga mobil tetap menempel solid ke aspal. Sedikit sekali pabrikan yang bisa mencapai level aerodinamika seperti ini. Bersih dan elegan.

    Jika konsumen ingin menaikkan level aerodinamika lagi, pabrikan menyediakan performance package khusus untuk 296 GTB dengan nama Assetto Fiorano. Terdiri dari warna baru, suspensi Multimatic adjustable khusus untuk balap yang bisa dioptimalkan ketika mobil dipacu di sirkuit dan penambahan serat karbon pada bumper depan yang bisa menambah downforce sampai 10 kg.

    Paket ini juga menyediakan kaca belakang Lexan yang bobotnya enteng sehingga bisa mengurangi bobot mobil 15 kg dan bahan serat karbon untuk eksterior dan interior sehingga mengurangi bobot sampai 12 kg. Kelebihan lain dari paket tersebut adalah mendapat ban opsional Michelin PS Cup2R yang memiliki grip lebih tinggi ketika dipakai di dalam trek. (Tamat)

    PENULIS: ANDRE LAM      ALIH BAHASA: EKA ZULKARNAIN   FOTO: FERRARI

    Baca juga: TEST DRIVE: BMW 430i Coupe M Sports Pro, Performa Segalak Tampang Kontroversialnya?

    Artikel yang mungkin menarik untuk Anda

    Updates

    Artikel lainnya

    New cars

    Artikel lainnya

    Drives

    Artikel lainnya

    Review

    Artikel lainnya

    Video

    Artikel lainnya

    Hot Topics

    Artikel lainnya

    Interview

    Artikel lainnya

    Modification

    Artikel lainnya

    Features

    Artikel lainnya

    Community

    Artikel lainnya

    Gear Up

    Artikel lainnya

    Artikel Mobil dari Oto

    • Berita
    • Artikel Feature

    Artikel Mobil dari Zigwheels

    • Motovaganza
    • Artikel Feature