Mau Jalanan Bebas Macet, Hilangkan Kebiasaan Tailgating!

MASSACHUSSETTS, Carvaganza.com - Perilaku menguntit mobil di depan dengan jarak dekat acap kali ditemui di lalu lintas Indonesia. Isitilahnya tailgating, kebiasaan buruk yang tanpa sadar sering dilakukan. Pengetahuan berlalu lintas sangat rendah, ditambah tidak adanya kesantunan dan kesabaran dalam mengemudi, menghasilkan sikap tak mau mengalah saat berkendara. Efeknya adalah, macet. Banyak pengguna jalan raya yang hanya bisa saling menyalahkan karena tidak ada upaya mencegah kemacetan. Padahal, cara berkendara sendirilah yang menjadi penyebab itu. Sungguh miris.

Perilaku tailgating sangat banyak ditemui dimana saja. Biasanya tipikal orang yang tidak sabar, maunya ingin selalu menyusul mobil di depan dan ngebut di jalanan umum, walau dalam kondisi ramai. Penyebab lain bisa dari mobil yang melaju sangat lamban, meski di depannya kosong tidak ada mobil lain. Sehingga pengemudi yang tidak sabaran di belakang, akan menguntit dengan dekat seolah isyarat agar mempercepat laju.

Kebiasaan ini hampir tidak ditemui jika Anda pernah berkendara di Eropa. Karena perilaku tailgating sangat mengganggu dan menyebalkan. Pada umumnya, pengemudi yang dikuntit akan langsung memberi jalan.

Ada saja alasan lain sebagai pembenaran. Karena dengan “menyodok” secara halus mobil di depan, maka kecepatan bisa meningkatkan dan tidak menghambat. Ternyata perilaku ini tidak membantu sama sekali. Penelitian yang dilakukan oleh Computer Science and Artificial Intelligence Laboratory Massachusetts Institute of Technology (MIT) menunjukkan bahwa, tailgating justru memperburuk suasana.



Dengan kata lain, tailgating bisa menyebabkan kemacetan dan membuat arus lalu lintas bergerak lambat. Karena setiap pengemudi memiliki insting mengenali sebuah tanda bahaya atau gangguan, walaupun sedang berkendara di jalan raya yang mulus dan lengang. Gangguannya bisa bermacam-macam, seperti hewan menyeberang, ada lubang di jalan, dan paling sering mobil depan yang tiba-tiba mengerem. Jika posisi antarmobil terlalu dekat, deselerasi secara mendadak pasti terjadi. Imbasnya tentu ke semua kendaraan di belakang. Alhasil, terus merembet arus jauh di belakang. Kecepatan melambat, bahkan sampai berhenti. Paling fatal, rentan terjadi tabrakan beruntun.

Kondisi seperti ini sering kali Anda temui bila sedang berada di jalan tol yang ramai. Macet, padahal tidak terjadi insiden apapun.

Cara paling mudah untuk mengatasi hanya dengan menjaga jarak dari mobil depan. Peneliti MIT menyebutnya sebagai bilateral control. Jika diterapkan oleh seluruh pengemudi, niscaya tidak akan terjadi kemacetan. “Mengemudi seperti ini berdampak besar dalam mengurangi lama perjalanan dan konsumsi bahan bakar,” kata Berthold Horn, peneliti MIT.

“Penelitian kami menunjukkan, bila pengemudi menjadi jarak yang sama antarmobil, gangguan yang muncul dapat dihindari walau tetap berjalan di jalurnya, daripada mengerem yang menciptakan kemacetan,” tambah Horn.

Memberi peringatan mudah saja, tapi melaksanakannya cenderung sulit. Para peneliti menyarankan produsen mobil menambah sensor untuk mengukur jarak mobil depan dan belakang. Lalu mengembangkan fitur adaptive cruise control agar tersedia di tiap varian mobil.

Untuk sementara, cobalah menjaga jarak kendaraan sewajar mungkin dengan mobil depan. Tapi kok sulit sekali ya diterapkan di lalu lintas Indonesia. Yang ada, ruang kosong untuk menjaga jarak malah diselak oleh mobil dari jalur sebelah. Kalau begini terus, jangan harap jalanan bisa lancar!

ANINDIYO PRADHONO

Sumber: Massachusetts Institute of Technology, Autoexpress

Artikel yang direkomendasikan untuk anda