4 Ulasan Mobil Baru yang Kami Uji Sepanjang Mei 2021

JAKARTA, Carvaganza - Sepanjang Mei 2021 kami menguji empat mobil baru. Mereka adalah Honda City Hatchback, Toyota Raize, MG HS Magnify I-Smart dan Mitsubishi Xpander Cross. Pengujian ekstensif kami jabarkan dalam ulasan mendalam berikut ini:

1. Honda City Hatchback RS

Honda City Hatchback RS

Pernah ada masanya Honda berjaya di suatu segmen kendaraan di Indonesia, yaitu ketika pertama kali Honda Jazz dipasarkan pada tahun 2004 lalu. Seketika, segmen small hatchback langsung sangat diminati oleh masyarakat yang suka dengan mobil berpenampilan atraktif. Kehadiran Jazz saat itu juga berhasil menggusur pemain lama di kelas hatchback, yaitu Peugeot 206. Kemudian, banyak pabrikan ikut meramaikan segmen hatchback dengan harga terjangkau ini.

Dari tahun 2004 tersebut, Honda Jazz telah beredar dalam tiga generasi di Indonesia. Dimulai dengan generasi GD (2004-2008), lalu GE (2008-2014), dan diteruskan GK (2014-2021). Namun pada tahun 2021 ini, Honda menyudahi kiprah Jazz sebagai hatchback andalannya. Honda justru beralih memasarakan City Hatchback untuk pertama kalinya, yang meluncur pada bulan Maret lalu.

Sebenarnya City dan Jazz bisa dibilang tidak ada bedanya (kecuali bentuk body), karena sejak awal Jazz lahir, selalu dibangun dengan platform atau basis yang sama dengan City. Honda menggandakan platform ini untuk membagi kelas di small hatchback dan small sedan. Tapi kali ini beda cerita, karena Jazz atau yang dinamai Fit di negara tertentu, tidak lagi satu DNA dengan City. Honda Jazz terbaru yang diluncurkan di Tokyo Motor Show 2019 tidak diboyong ke Indonesia.

PT Honda Prospect Motor (HPM) memilih City Hatchback untuk meneruskan posisi Jazz, yang dalam perjalanannya selama ini telah memancing kehadiran Toyota Yaris, Mazda2, Ford Fiesta dan beberapa hatchback lainnya masuk ke Tanah Air. Formula City Hatchback kali ini dirasa lebih cocok untuk selera konsumen Indonesia, dengan proporsi desain lebih sporty dan atraktif dibandingkan Jazz generasi keempat.

Honda City Hatchback RS

Sebenarnya kalau bicara soal desain, semua akan kembali ke selera masing-masing, karena akan sangat subyektif penilaiannya. Tapi menurut kami, Honda memang memberikan proporsi desain yang terlihat lebih sporty untuk City Hatchback, dibandingkan Jazz generasi sebelumya. Itu ditunjukkan dengan desain eksterior yang tampak atletis dan tidak lagi gemuk membulat yang terlalu city car khas Jazz.

Bonnet panjang menjadi ciri khas City Hatchback, sama seperti versi sedannya. Gaya ini seperti yang digunakan Toyota Yaris untuk pasar Asia Tenggara, yang telah beredar sejak tahun 2014. Apalagi dengan City Hatchback, Honda kemungkinan besar akan menjadikannya pengganti Jazz di kejuaraan balap lokal, agar sesuai dengan image dan gaya di atas sirkuit.

Untuk pasar Indonesia, Honda hanya hadirkan varian City Hatchback RS yang terbagi dalam dua opsi transmisi, manual dan CVT. Gaya khas trim RS yang sporty sangat kuat menghiasi eksterior mobil dengan harga tertinggi Rp 299 juta (OTR Jakarta) ini. Lis grille tebal berwarna hitam mendomniasi fascia depan, yang sayangnya kurang terlihat di unit mobil tes kami yang berwarna hitam ini. Aksen RS ini harusnya bisa lebih terlihat dipadukan dengan warna eksterior yang cerah.

Honda City Hatchback RS

Lalu ada aksen hitam juga di bagian bawah, yang seakan menadi komponen aerodinamika yang menghiasi area sektiar fog lamp LED. Spion pun ikut dilabur kelir hitam untuk tegaskan karakter City Hatchback RS, yang lagi-lagi harus membaur dengan warna body hitam. Velg alloy berdiameter 16 inci dengan nuansa two tone dan palang berganda rasanya cukup senada dengan gaya City saat ini.

Lalu untuk bagian belakang, desain lampu belakang menjadi penarik perhatian, yang dihiasi LED bar dinamis yang membentuk huruf U. Bentuk pintu bagasi yang mengembung ke arah belakang menandakan kapasitas bagasi yang luas dari City Hatchback RS. Paduan rasa sporty masih ditunjukkan oleh reflektor lampu di bagian samping bumper, dan aksen ala diffuser di bagian tengah bawah.

Bagaimana Honda merancang interior City Hatchback RS adalah yang dijadikan salah satu nilai jual utamanya. Begitu masuk ke dalam kabin, kita langsung disambut oleh tampilan dashboard baru yang simple tapi fungsional. Bisa dibilang tidak ada gaya desain yang mencolok dari Honda untuk dashboard City Hatchback, apalagi dengan dominasi warna hitam yang dipadu beberapa jenis material.

Honda City Hatchback RS

Kombinasi material plastik bertekstur, soft touch panel berlapis kulit dan gloss black di sejumlah bagian terasa pas, yang diberi aksen jahitan merah khas RS. Beberapa kompartemen cukup akomodatif di konsol tengah, pintu dan glove box. Sementara panel kontrol AC dengan model kenob putar mudah dijangkau, berada di bawah layar infotainment 8 inci yang sudah support Apple CarPlay dan Android Auto.

Desain dan bentuk setirnya menjadi peningkatan signifikan dibandingkan model Honda generasi sebelumnya. Desainnya terlihat lebih simple dan mature, begitu juga dengan kualitas materialnya, membuatnya nyaman dan mantap digenggam. Peletakan tombol-tombol di setir mudah dijangkau jempol. Honda cukup baik hati menyediakan fitur cruise control untuk City Hatchback, yang terbilang masih jarang tersedia di mobil sekelasnya.

Nuansa sporty masih bisa dirasakan lewat material pelapis joknya, yang memadukan fabric sebagai yang dominan dengan imbuhan suede merah gelap dan kulit. Adanya aksen motif pada bagian fabric membuat tampilan interior tidak monotone. Menarik adalah pilihan desain meter cluster yang simetris antara speedometer dan tachometer, mengapit MID dengan tampilan cenderung sederhana. Sedikit koreksi untuk Honda, menurut kami letak tombol starter dan pengatur MID kurang terlihat karena terhalang setir.

Honda City Hatchback RS

Tapi bukan tampilan yang ditonjolkan oleh Honda pada interior City Hatchback RS, melainkan bagaimana konfigurasi joknya bisa dimaksimalkan untuk sisi utilitas. Setidaknya ada tiga cara berbeda kita bisa menikmati kelebihan ini. Jok baris kedua yang sangat lega legroom-nya bisa dilipat ke depan, untuk menambah kapasitas bagasi menjadi ekstra lega plus rata. Lalu kedua, bagian bawah jok bisa dilipat ke atas, agar memungkinkan untuk membawa barang yang dimensinya tinggi ke baris kedua.

Ketiga, kita bisa jadikan jok baris kedua sebagai tempat bersantai, dengan merebahkan jok baris depan. Pelipatan yang disebut sebagai Refresh Mode ini memungkinkan kita untuk merebah dan selonjrokan kaki untuk beristirahat. Tapi dengan catatan, posisi jok depan paling maju dan headrest dilepas. Fitur pelipatan jok ini sebenarnya sama seperti di Jazz sebelumnya, tapi menjadi nilai plus yang ditawarkan City Hatchback dibandingkan para rivalnya sekarang.

Melihat tampang Honda City Hatchback RS yang atletis dan sporty sekarang tentu akan membuat kita berekspektasi dengan performanya yang akan seirama penampilannya. Apalagi konsumen di segmen ini sangat peduli dengan faktor ekspresi diri pada jiwa muda yang suka kecepatan. Dapur pacu mobil ini mengandalkan mesin 1,5 liter DOHC i-VTEC, dengan paduan tenaga 121 ps dan tprsi 145 Nm.

Honda City Hatchback RS

Mesin dengan kode L15ZF ini diklaim oleh Honda memiliki output yang paling besar di kelasnya, termasuk Jazz generasi sebelumnya. Dan seperti produk Honda lainnya dalam line up saat ini, transmisi otomatis menggunakan jenis CVT, selain adanya opsi manual 6-percepatan. Untuk unit tes kami, adalah versi transmisi CVT.

Tidak sulit mencari posisi duduk yang pas di dalam City Hatchback RS, yang cenderung tinggi untuk sebuah sedan atau hatchback. Setidaknya memberikan visibilitas yang bagus untuk ke arah depan khususnya. Apalagi dengan pengaturan posisi jok dan setir yang fleksibel, membuat mencari spot posisi terbaik bisa lebih presisi, meski belum elektris.

Seperti umumnya mobil kompak, karakter laju City Hatchback RS terasa halus di awal dengan torsi yang lumayan padat. Laju City Hatchback di kecepatan rendah sangat mendukung kebutuhan berkendara di dalam kota, untuk dapatkan torsi cepat demi menyalip di tengah padatnya traffic. Jadi, kita tidak perlu injak pedal gas sangat dalam agar mobil merespons cepat untuk menyalip, atau saat terburu-buru dikejar waktu.

Honda City Hatchback RS

Paling mengejutkan, justru ternyata suspensinya terasa lembut, tidak kaku seperti perkiraan awal kami karena melihat tampang City Hatchback. Jadi sepanjang perjalanan kami merasa nyaman, bahkan saat melewati aspal bumpy di jalanan Jakarta. Empuknya suspensi ini juga memberikan redaman yang kokoh, jadi ayunan suspensinya setelah melindas lubang atau gundukan di jalan tidak berulang dan langsung diam.

Kami juga dibuat kagum dengan peredaman kabinnya yang kedap untuk sebuah mobil dengan harga di bawah Rp 300 juta. Terasa peningkatan kualitas insulasi pada City Hatchback RS bila dibandingkan langsung dengan Jazz. Boleh dibilang, kenyamanan kualitas kekedapannya hampir sebanding dengan Civic yang sekelas di atasnya.

Memberi approval terhadap kualitas pengendaraannya dalam kondisi normal di jalanan kota, kami penasaran dengan pembawaannya saat diajak kencang. Dengan masuk ke jalan tol, kami geber performa mesin L15ZF ini. Begitu bergerak dari gerbang tol, kami bejek pedal gas dalam-dalam. Di awal akselerasi, memang torsinya membuncah padat. Tapi saat melewati 3.000 rpm, mesin cenderung merespons biasa-biasa saja, apalagi kalau pedal gas ditahan dan diinjak sampai penuh.

Honda City Hatchback RS

Kami mencoba akselerasi maksimalnya sampai menyentuh kecepatan 120 km/jam di speedometer, apalagi mengingat kondisi traffic di tol Jakarta yang ramai. Jika menggunakan mode transmisi D, mesin akan terasa lebih mengerung di kecepatan tinggi, karena tidak adanya perpindahan gigi yang membuat putaran tetap di atas. Memainkan paddle shifter lebih baik karena setidaknya memberikan nafas bertahap untuk mesin saat diajak ngebut.

Begitu juga saat menggunakan mode S, lebih nyaman saat digeber memanfaatkan paddle shifter. Apalagi, di mode ini sistem akan membuat operasi perpindahan gigi artifisial sepenuhnya dari kendali pengemudi di ujung jarinya. Sensasi sporty dengan memainkan paddle shifter bisa lebih dinikmati pada mode ini, sekaligus menghindari terganggu dari gerungan mesin dan CVT yang khas.

Saking asiknya menggeber mesin, hampir lupa untuk membahas handlingnya. Oke, menurut kami, handling City Hatchback RS mengikuti karakter suspensinya. Dari setir, putarannya yang ringan memberikan output yang cukup presisi dan cepat. Dan saat diajak melaju kencang, suspensinya juga memberikan pengendalian yang tenang di atas jalan tol dalam kota. Guncangan dari sambungan aspal jalan tol mampu diredam dengan ayunan yang nyaman, juga kabin yang kedap.

Honda City Hatchback RS

Minusnya, suspensi dengan karakter ini membuat bodyrollnya cukup terasa saat diajak menikung kencang. Contohnya saat melalui belokan di exit dari jalan tol dalam kota ke arah Ancol. Badan terasa agak terbawa ke samping saat belok. Pun saat kami coba di salah satu sudut yang pernah menjadi sirkuit balap di BSD, Tangerang Selatan. Dibawa menikung kencang sangat terasa bodyroll City Hatchback.

Jujur, menurut kami, untuk mobil dengan tampang sporty seperti City Hatchback RS ini, kualitas pengendaraannya terasa terlalu nyaman. Handling dan suspensinya terlalu lembut, meski lajunya tetap stabil saat diajak berbelok kencang. Mungkin kalau Honda mau membaut suspensinya menjadi lebih keras, keasikan menggeber City Hatchback RS akan lebih maksimal, terutama soal handling.

Tapi mungkin Honda punya pertimbangan lain kenapa membuat suspensinya senyaman itu. Karena toh kebanyakan konsumennya akan lebih banyak menggunakannya untuk mobilitas sehari-hari, bukannya kebut-kebutan. Begitu juga dengan setelah transmisi CVT-nya, yang cukup mendukung efisiensi konsumsi bahan bakar. Tapi kami jadi penasaran dengan transmisi manualnya, sepertinya bisa lebih asik.

2. Toyota Raize

Toyota Raize

Seminggu lalu, Toyota Raize sudah dilansir ke publik untuk menambah pilihan kepada pelanggan yang mencari SUV compact. Tersedia 8 pilihan varian yang ditawarkan oleh pabrikan baik yang one tone maupun two-tone. Harga mulai dari Rp 219,9 juta untuk Raize 1.0T G M/T sampai termahal Rp 265,9 juta untuk Raize 1.0T GR Sport TSS Two Tone.

Pada artikel Toyota Raize sebelumnya, Carvaganza sudah memberikan penjelasan secara detail tentang SUV terbaru Toyota tersebut sampai perbedaannya dengan kembarannya, Daihatsu Rocky.

Pada hari Selasa kemarin (4/5) Carvaganza dan Oto.com sudah mencoba SUV kompak tersebut. PT Toyota-Astra Motor (TAM) menyediakan tiga unit Raize, terdiri dari dua varian GR Sport TSS dengan two-tone dan 1 varian GR Sport tanpa TSS. Keduanya mengadopsi mesin 1.0 liter turbo, karena memang baru versi mesin ini yang diedarkan di sini. Rute yang dipilih adalah di daerah perkotaan yang terdiri dari tiga etape. Test drive ini hanya mengarungi jalan-jalan di perkotaan saja karena aturan yang membatasi pergerakan orang diperketat sehingga tidak bisa dilakukan sampai jauh ke luar kota.

Rute dibagi dalam tiga etape. Rute pertama adalah dari Melawai, Blok M, Jakarta Selatan menuju Kuningan Cty. Destinasi yang dituju adalah ‘Tanjakan 13’ di Kuningan City Mall. Jarak dari Melawai sampai Kuningan City sekitar 8 km didominasi oleh jalan raya dengan kondisi traffic yang padat serta jalan menanjak berbentuk spiral menuju tempat parkiran Mall Kuningan City.

Toyota Raize

Rute kedua adalah dari Kuningan City menuju Pantai Indah Kapuk (PIK), tepatnya menuju Pulau Reklamasi. Di sini kami mencoba Toyota Raize dalam kecepatan tinggi karena melewati Jalan Tol Prof. Dr. Sedyatmo menuju ke arah Bandara Soekarno - Hatta. Rute ketiga adalah dari PIK menuju ke Alam Sutera. Rute ini berupa jalan perkotaan dan tol dengan traffic padat.

Jujur saja, compact SUV yang dilansir oleh pabrikan Toyota ini memiliki desain yang sangat menarik. Berbeda dengan Rush, yang bentuknya lebih ‘macho’. Saya menyebutnya Raize memiliki desain yang sangat dinamis dan mengotak. Menarik untuk dilihat dari bagian depan sampai ke bagian belakang. Wajahnya terlihat eksotis ditunjang oleh grille dan bumper yang berbentuk trapezoidal. Desain headlamp dengan lampu siang hari (DRL) yang unik plus lampu sein Sequential seperti yang dipakai oleh mobil Lexus.

Lampu utama pada Toyota Raize tipe GR Sport with TSS yang saya kemudikan dibekali dengan Perceptive Auto Headlight di mana lampu utama dapat mengatur tingkat penerangan berdasarkan kondisi jalan. TSS adalah singkatan dari Toyota Safety Sense, yang merupakan standarisasi fitur-fitur keselamatan yang diadopsi oleh Toyota untuk setiap kendaraan yang diproduksi. Tujuannya adalah untuk mempertinggi level keselamatan pengemudi dan penumpang serta pengguna jalan lainnya.

Rumah ban berbentuk gemuk dibuat harmonis dengan tarikan garis di bagian samping sampai belakang. Paduan itu diperkuat dengan sentuhan two-tone pada varian tertinggi yang dibanderol dengan harga Rp 265,9 juta tersebut.

Toyota Raize

Desain belakang juga terlihat dinamis dan terlihat segar. Tarikan garis dan tonjolannya terasa presisi dengan bentuk bodi. Lampu belakang dan desain sein enak dilihat oleh mata. Untuk varian tertinggi sudah dilengkapi aero kit tambahan di bagian bumper depan dan belakang. Juga terdapat penambahan side skirt di bagian samping.

Masuk ke bagian dalam, layout desain interior juga terlihat dinamis, karakternya dibuat minimalis dengan sentuhan-sentuhan menarik. Desain seperti ini menurut saya bisa masuk ke segala lapisan konsumen, baik bagi kalangan anak muda maupun orang dewasa. Mungkin ada yang menyebutnya sporty, tapi saya lebih suka menyebutnya dinamis karena memang layoutnya dibuat menarik, tidak membosankan dan tidak agresif.

Layout konsol tengahnya mirip dengan model yang terdapat di Toyota C-HR dengan sentuhan krom. Tombol pengaturan mudah dioperasikan baik yang terdapat di setir maupun di dashboard. Ditunjang oleh layar sentuh 9 inci yang berfungsi juga sebagai kamera mundur. Display itu sudah terintegrasi dengan smartphone dengan ragam menu dari pemutar musik hingga layanan T-Link. Terdapat pula Personal Reminder yang dapat digunakan sebagai pengingat aturan pelat nomor ganjil-genap dengan memasukkan data mobil ke dalam sistemnya.

Untuk jok mengombinasikan material kulit dan fabric yang terasa nyaman. Pengaturan jok baik untuk bagian pengemudi maupun penumpang depan, masih dikendalikan secara manual, belum elektrik. Legroom di bagian belakang untuk penumpang dengan tinggi 167 cm dan berat 173 cm seperti saya cukup lega. Menurut saya, untuk perjalanan jauh akan terasa nyaman. Headroom juga lega. Ketika saya duduk sebagai pengemudi, legroom, headroom dan shoulder room bagi saya bukan masalah. Terasa lapang ketika duduk di jok pengemudi dan kursinya terasa nyaman. Tinggal diatur saja posisi mengemudinya untuk mendapatkan visibilitas yang semakin baik.

Toyota Raize

Bagasi terasa lapang dengan kapasitas 369 liter dalam kondisi jok belakang tidak dilipat. Bila kondisi jok dilipat, lebih lapang lagi dan hal ini dibuktikan ketika kami mengangkut tiga troli barang belanjaan yang kami beli di IKEA Alam Sutra.

Jalan perkotaan memang menjadi medan penaklukan selama road test Toyota Raize GR Sport selama seharian. Dari pagi hari, jam 9.00 sampai menjelang bedug Maghrib dengan titik finish di Alam Sutra, Propinsi Banten.

Toyota Raize mengadopsi mesin 1KR-VET 3 silinder segaris berkonfigurasi 1,0 liter turbo menghasilkan tenaga 96 hp (98 PS) pada 6.000 rpm. Torsi maksimal 140 Nm yang sudah tersedia mulai putaran 2.400 – 4.000 rpm. Tendangan turbonya sudah terasa di 2000 rpm. Tenaga tersebut disalurkan oleh transmisi CVT ke roda depan.

Tenaga yang dihasilkan oleh Raize GR Sport 1.0 liter turbo terasa linear dan padat di setiap putaran dalam kondisi pengendaraan normal (di D). Transmisi CVT bekerja secara halus dalam setiap perpindahan percepatan baik naik maupun turun. Posisikan pada D, puntiran mesin bekerja mengalir sesuai dengan asupan throttle. Namun jika Anda ingin mendapatkan sensasi mengemudi yang lebih menarik lagi, tinggal geser tuas transmisi ke kiri, maka mode pengendaraan menjadi sport (S). Respon mesin menjadi sedikit lebih galak, tapi setir tidak menjadi lebih berat. Mobil tetap stabil. Cuma memang jangan mengharapkan mode Snya seperti di mobil sport, Raize hanya memberikan impresi yang agak berbeda saja dibandingkan dengan ketika memakai mode D.

Toyota Raize

 

Ketika melewati ‘Tanjakan 13’ di Kuningan City, mesin terasa padat di setiap putaran. Raize 1.0T GR Sport melaju di tanjakan berbentuk spiral tersebut dengan mulus, tanpa susah payah. Saya juga mencoba fitur Hill Start Assist di bagian tertinggi tanjakan spiral. Kendaraan tertahan selama beberapa saat sehingga memberikan jeda kepada pengemudi untuk ancang-ancang menambah gas. Tak perlu takut kendaraannya mundur. Saya mencobanya beberapa kali, dan selalu berhasil tanpa effort yang besar.

Raize terasa gesit berkat bodinya yang kompak. Bobotnya yang 1.025 kg dengan dimensi panjang 4.030 mm, lebar 1.710 mm dan tinggi 1.635 mm membuatnya tak kesulitan untuk bermanuver di traffic Jakarta atau pun ketika melaju di jalan tol.

Pengemudiannya terasa obyektif. Salah satu buktinya adalah ketika kami menuruni Tanjakan 13 yang berbentuk spiral. Dengan input yang konsisten, setir terasa ‘ajeg’ pada posisi tanpa harus banyak dikoreksi. Terasa smooth dengan positioning yang akurat, pengemudi cukup memberi input konsisten. Setir mampu memberikan feedback secara obyektif tentang kondisi jalan, pengemudi tinggal arahkan sudut beloknya saja.

Ketika memasuki tol Dalam Kota maupun Tol menuju Merak, tenangan turbo sudah terasa di RPM 2000. Suntikan tenaga di putaran bawah pun semakin besar, sehingga sangat bermanfaat ketika menambah akselerasi kendaraan. Selain itu dapat membantu bermanuver dengan ‘manis’ di tol. Raize juga terasa stabil ketika dipacu cepat berkat fitur Vehicle Stability Control yang tersemat di dalamnya.

Toyota Raize

Untuk menambah sensasi berkendara, saya memanfaatkan paddle shift di belakang kemudi sehingga berkendara menjadi lebih mengasyikkan. Kalau ingin pindah ke ‘steptronic’, tinggal pindahkan tangan ke tuas transmisi di samping, pilih tanda plus (+) untuk menaikkan gigi, dan minus (-) untuk menurunkan gigi.

Selama pengendaraan sepanjang hari itu, Raize memberikan sensasi mengemudi 2 step lebih mengasyikkan dibandingkan dengan ketika Anda mengemudikan Toyota Avanza dan Rush. Apalagi desain bodi dan interior Raize terlihat dinamis sehingga tidak membosankan.

Fitur yang dirasa membantu pengemudi pada saat test drive adalah Lane Departure Assist (LDA) dan Blind Spot Monitoring System sehingga pengemudi bisa setiap saat memantau kondisi sekeliling. Fitur LDA akan memberikan warning dalam bentuk bunyi ketika Anda berpindah jalur tanpa memberikan sein sehingga meningkatkan kewaspadaan pengemudi. Sedangkan BSMS akan memberikan tanda berupa kerlipan lampu warna kuning di kaca spion agar kita selalu aware dengan mobil di samping kiri atau kanan yang tidak terpantau kaca spion sehingga ketika kita ingin pindah lajur, akan selalu hati-hati.

Selain dua fitur itu, fitur TSS lainnya yang terdapat di Raize varian GR Sport ini adalah Adaptive Cruise Control, Pre Collission System, Pedal Misoperation Control dan Rear Crossing Traffic Alert.

Test Drive Toyota Raize 1.0T GR Sport

Selama test drive, konsumsi BBM Raize juga dipantau. Dalam kondisi traffic yang padat, konsumsi Raize menurut layar MID rata-rata 1 liter /15,5 km. Namun ketika kami mencoba respon mesinnya dalam kecepatan tinggi di tol dan di jalan yang cukup lengang ketika memasuki Pantai Indah Kapuk, rata-rata 1 liter / 9,7 km. Di jalan tol, kami memang bejek terus, untuk mengetahui performa kendaraan.

Pabrikan sendiri mengklaim bahwa konsumsi rata-rata BBM Raize untuk jalan kombinasi adalah 1 liter/ 17-an km. Tapi itu kan tergantung seberapa jauh Anda menyekolahkan kaki kanan ketika memainkan gas. Sebagai SUV kompak, Raize menyuguhkan pengendaraan yang menyenangkan, gesit di jalan raya, tergolong stabil dan memiliki desain eksterior serta interior dinamis yang enak dilihat.

3. Mitsubishi Xpander Cross

Mitsubishi Xpander Cross

Mitsubishi Xpander menjadi pemain serius dan kuat di segmen MPV sejak peluncuran perdananya di tahun 2017 lalu. Di tengah persaingan ketat dengan Toyota Avanza, Suzuki Ertiga, Honda Mobilio dan Wulign Confero, Xpander terus berkembang mengikuti permintaan dan kebutuhan pasar. Bahkan, bisa dibilang Mitsubishi “going extra miles” dengan Xpander.

Pada tahun 2019, lahirlah varian crossover bernama Xpander Cross, di mana Xpander dikembangkan dan dirancang menjadi MPV yang lebih mumpuni dari sisi utilitas. Kenyamanan, performa dan fitur yang menjadi keunggulan Xpander sejak awal, ditambahkan sisi kemampuan jelajah yang lebih baik. Bisa dibilang, satu-satutnya kompetitor langsung bagi Xpander Cross di Tanah Air saat ini adalah Honda BR-V.

Bahasa desain Dynamic Shield yang agresif dan mewah tentu sukses menjadi salah satu daya Tarik utama dari klan Xpander, yang lahir paling belakangan di segmen Low MPV. Setelah hadir Xpander Cross, Mitsubishi tidak tinggal diam dengan menikmati euforia pasar terhadap produk ini. Karena jelang akhir 2020, komposisi Xpander Cross diperkuat dengan ditawarkannya fitur tambahan, yaitu dashcam (dashboard camera), yang ditujukan meningkatkan sisi keamanan.

Mitsubishi Xpander Cross

Tersedia untuk Xpander Cross dan Xpander, PT Mitsubishi Motors Krama Yudha Sales Indonesia (MMKSI) menawarkan fitur dashcam ini sebagai opsi terpisah. Jadi, pembeli atau pemilik Xpander tidak ‘dipaksa’ untuk memiliki perangkat ini. Produk dashcam yang ditawarkan oleh MMKSI adalah Blackvue Cloud dengan seri SPA98001, salah satu model yang paling direkomendasikan di kelasnya.

Pada dasarnya fungsi dashcam adalah untuk selalu merekam segala sesuatu yang dilihat saat mobil dikendarai. Umumnya, posisi dashcam diarahkan ke depan, terpasang di bagian dalam kaca depan, seperti di Xpander Cross ini. Perangakat ini dihubungkan ke sumber listrik mobil, alias power outlet, yang secara otomatis akan aktif dan langsung merekam setiap kali mobil dinyalakan.

Blackvue SPA98001 ini masih cukup sederhana pengoperasiannya, karena penyimpanan hasil rekaman menggunakan memori eksternal MicroSD card. Secara sistematis, pada perangkat juga akan diterapkan penyimpanan rekaman darurat seandainya terbaca guncangan atau benturan keras dari mobil. Jadi saat terbaca gerakan yang dianggap berpotensi sebagai insiden atau kecelakaan, sistem akan membuat file rekaman khusus terproteksi, sebagai dokumentasi terpisah.

Bisa dibilang, fungsi dashcam terpasang pada Xpander Cross ini seperti CCTV yang merekam segala aktivitas atau hal yang di hadapannya. Hasil rekaman ini nantinya bisa diputar ulang dan menjadi bukti saat dibutuhkan. Seperti saat kecelakaan, bisa diidentifikasi apakah kita bersalah atau tidak dalam insiden tersebut, terlebih untuk menjadi alibi saat harus menjalani proses hukum.

Mitsubishi Xpander Cross

Fitur lain yang ditawrakan oleh perangkat ini adalah resolusi full HD 1080P, 60 FPS dengan wide angle view 139 derajat, untuk kualitas video optimal. Selain itu juga diikuti Sony Starvis CMOS Sensor teknologi pixel bercahaya belakang yang digunakan dalam sensor gambar CMOS untuk aplikasi kamera pengintai. Fitur ini memiliki sensitivitas 2.000 mV atau lebih per 1 square micrometre sehingga dapat mewujudkan kualitas gambar yang tinggi dalam visible-light dan near infrared light regions.

Bicara soal rasa berkendara, Xpander saja menurut saya sudah merupakan salah satu yang terbaik di kelas Low MPV. Dengan menjadi Xpander Cross, tentu ada sejumlah penyesuaian yang membuat performa Xpander meningkat dalam hal daya jelajah. Namun, tidak banyak terjadi kompromi yang dirasakan oleh kendaraan tujuh penumpang ini.

Kombinasi mesin 1,5 liter MIVEC dengan transmisi otomatis konvensional 4-perpcepatan terbilang sangat cukup untuk diandalkan. Terlebih, toh mayoritas pengguna Xpander Cross akan lebih banyak menghabiskan waktu di jalanan dalam kota atau lintas kota dengan medan biasa saja. Setiap saat, terutama di rpm rendah ke tengah, Xpander Cross merespons dengan halus namun padat torsi.

Mitsubishi Xpander Cross

Meski sosoknya yang terlihat lebih bongsor dan berat, namun akselerasi yang diberikan Xpander Cross tidak kalah cepat jika dibandingkan Xpander biasa. Satu hal yang paling terasa perbedaannya dibandingkan Xpander biasa adalah redaman suspensinya yang lebih keras. Untungnya suspensi yang lebih keras ini tidak sampai membuat kenyamanannya berkurang.

Justru, suspensinya dibuat lebih keras demi membuat lajunya lebih stabil, untuk mengimbangin ground clearance yang meninggi menjadi 200 mm. dengan dikeraskan, artinya laju mobil akan lebih terminimalisir dari gejala bodyroll saat menikung atau limbung saat di kecepatan tinggi. Tentu ini menjadi pendukung karakter dan penampilan Xpander Cross yang lebih sporty.

Laju Xpander Cross sangat tenang saat melintas di jalan tol dalam kota, bahkan saat sudah melewati kecepatan 120 km/jam di speedometer. Kekedapan kabin juga patut diacungi jempol, yang dengan baik meredam noise dari angin dan ban di ruang spatbor. Lalu putaran setir yang ringan dan respons yang cepat membuat handling Xpander Cross terasa cekatan.

Mitsubishi Xpander Cross

Melaju di jalan tol juga bisa dinikmati dengan praktis, karena Mitsubishi sediakan fitur Cruise Control pada Xpander Cross Ultimate yang kami coba. Saat menuju lokasi yang cukup berjarak dan kondisi lalu lintas lengang, kita bisa sejenak istirahatkan kaki kanan dengan aktifkan Cuise Control. Selain itu, perjalanan juga semakin nyaman dan praktis dengan sudah adanya Apple CarPlay tersedia di layar infotainment 7 inci.

Tidak hanya untuk merekam, dashcam Blackvue Cloud SPA98001 juga bisa kita lihat hasil rekamannya. Tidak hanya saat dibutuhkan setelah terjadi sesuatu, kalau kita hanya mau iseng atau penasaran dengan output video rekaman yang dihasilkan juga bisa.

Ada dua cara untuk kita bisa melihaat hasil rekaman dari dashcam ini, yaitu pertama dengan melepas MicroSD card untuk dipasang ke komputer, dan kedua dengan melalui aplikasi mobile pendukung. Hasil rekaman tercipta dalam format file MP4, jadi mudah untuk diputar di mayoritas perangkat atau software playback.

Dengan memindahkan MicroSD card ke komputer, kita bisa tinggal memilih file video mana yang ingin dilihat. Semua terkurasi secara otomatis oleh sistem Blackvue, yang setiap file terdiri dari rekaman berdurasi 1 menit alias 60 detik. Sistem penyimpanan pun punya siklus format otomatis, jadi file video paling awal akan langsung digantikan untuk memberi ruang file terbaru. Jadi, kita tidak perlu repot memantau dan menghapus file video untuk di dalam MicroSD.

Mitsubishi Xpander Cross

Sementara dengan aplikasi, kita bisa hubungkan smartphone dan dashcam dengan koneksi Wifi. Lewat aplikasi Blackvue, kita bisa lihat file video seperti di gallery video gawai kita. Praktisnya, seperti kalau kita mau melihat file video di dalam kamera GoPro. Kita bisa melihat, bahkan menyimpan dan menghapus video yang kita pilih. Dengan koneksi Wifi juga kita bisa mentransfer file video yang kita inginkan, untuk disimpan ke gadget.

Soal hasil rekaman, gambar yang dihasilkan berkualitas HD (High Definition), yang memberikan visual jernih, baik di kondisi terang (siang) atau gelap (malam). Rekaman suara juga terdengar baik, untuk kombinasi suara dari dalam dan luar kabin yang seimbang. Visual rekaman malam hari pun bisa dibilang sangat jernih, dengan jangkauan jarak pandang yang cukup jauh ke depan. Tapi sayang, hasil rekaman dashcam tidak bisa dilihat langsung melalui layar infotainment di mobil karena tidak terintegrasi.

Dengan menggunakan dashcam, setidaknya kita bisa menambah rasa aman saat melakukan perjalanan, terlebih saat tiba-tiba mengalami insiden dan membutuhkan bukti kuat. MMKSI menawarkan Blackvue Cloud SPA98001 secara terpisah, dan bisa dimiliki dengan harga Rp 3,970 juta (di luar PPN). Fitur tambahan ini bisa didapatkan di seluruh dealer resmi Mitsubishi Motors di Indonesia.

Jadi, menikmati kenyamanan dan performa berkrendara dengan Mitsubishi Xpander Cross bisa semakin nyaman dan aman dengan menambahkan dashcam. Tentunya itu juga tergantung dari kebutuhan masing-masing konsumen dan pengendara pada akhirnya.

4. MG HS Magnify I-Smart

MG HS Magnify I-Smart

Permainan teknologi mutakhir sangat jelas dimanfaatkan sebagai nilai jual SUV (Sport Utility Vehicle) masa kini. Lebih tepatnya dalam ranah konektivitas gawai dan pendukung kendali serbaotomatis. Para kontestan dalam pergumulan SUV besar sampai small crossover sekalipun ibarat percaya bahwa kedua sorotan ini merupakan susuk paling manjur belakangan ini.

Yep, dapat dilihat pada penyempurnaan berbagai model eksis atau kedatangan para pemain bertubuh imut nan modern. Secara umum, tanpa membandingkan kelas, boleh dibilang yang paling menarik dari seluruh pemain saat ini adalah Wuling Almaz RS. Ia mengadopsi konektivitas berbasis internet antara mobil dan smartphone yang cukup komprehensif hingga menyiapkan Advanced Driving Assist System (ADAS) dan dijual dengan banderol atraktif. Bahkan jajaran SUV di strata premium pun belum tentu selengkap dia.

Tapi mungkin Almaz RS tidak menjadi model satu-satunya yang tampil supercanggih di pasaran. Sebab segera mengaspal satu produk baru dari MG yang tak kalah menarik, tak kalah hebat, dan juga tetap jadi alternatif relatif terjangkau. Adalah MG HS Magnify i-Smart, menyiapkan konektivitas berbasis internet, komando suara untuk pengoperasian fitur, serta pendukung ADAS komplet. Rencananya, ia akan diresmikan pada 2 Juni 2021. Namun sebelum itu, saya berkesempatan untuk menjajal SUV bermerek Inggris ini.

Pada dasarnya, MG HS satu ini bukanlah sebuah model gres. Nama “Magnify” dipakai untuk menetapkan satu tingkatan varian baru. Mengudara di lapisan teratas atmosfer MG HS. Belum disebut berapa harganya. Meski begitu, diekspektasikan tak sampai Rp 500 juta bila mengacu banderol tertinggi saat ini di angka Rp 435,8 juta berstatus OTR Jakarta.

MG HS Magnify I-Smart

Seharga Honda CR-V varian tengah tapi menyiapkan proposal fitur yang lebih menarik dari tipe termahal si pemain utama. Sehebat apa? Nanti dijelaskan. Namun kalau dilihat, sekilas tidak ada perbedaan kentara dari versi eksis trim tertinggi, Ignite. Masih berada di fase desain awal HS dengan sensasi ke-Mazda-an itu, termasuk urusan pemilihan busana dan pernak-pernik kelengkapan.

Dari mata hingga ke kaki tampak sangat familiar. Mengindikasikan sebuah SUV yang membawa perbekalan non-inferior. Contoh pada penerangan utama LED proyektor plus sein sequential terintegrasi DRL. Juga lampu kombinasi belakang dari pendar dioda. Paling mentereng adalah lapisan hitam di atap berupa panoramic sunroof pendongkrak gaya dan gengsi berikut pemakaian pelek 18 inci dwiwarna abu dan polesan alloy.

Tanpa melibatkan peran gawai lebih dulu, pengoperasian akses sangat identik trim Ignite. Tawarkan segala kemudahan masa kini. Sebut saja smart entry berupa tombol di pintu. Bisa membuka kunci tanpa perlu sibuk dengan saku celana. Otot lengan sangat diringankan ketika harus membuka bagasi sebab dengan sekali sentuh pintu dapat terbuka atau tertutup secara elektrik.

Masuk kabin, permainan material lembut dan dominasi merah di atas hitam langsung menyapa. Ingar-bingar komponen penegas sensasi sporty tak dilucuti pula. Termasuk di dalamnya bangku elektrik bergaya bucket seat utuh hingga ke shortcut mode berkendara sport di setir.

MG HS Magnify I-Smart

Sensasi modern lantas dipancarkan dengan hal berbau elektrik dan digital. Meliputi rem parkir elektrik komplet fungsi auto hold, kombinasi instrumentasi layar dan jarum, hingga ke sistem infotainment touchscreen sebagai pusat pengendali berbagai fitur. Semua itu lantas disudahi ambient lighting berkelas ala mobil premium.

Namun, kala pertama melirik gaya antarmuka sarana hiburan, unit milik HS Magnify cukup membuat saya terkesima. Memainkan seleksi warna monokrom elegan yang mengisyaratkan kemampuan lebih. Boleh dibilang, ini merupakan perbedaan utama dan satu-satunya secara visual dari trim Ignite. Sajian integrasi smartphone hingga ke kontrol dual zone climate control tersedia. Perbedaan utama adalah eksistensi peta navigasi pintar di dalamnya. Tapi bukan sebatas gaya dan kemampuan navigasi, ia sebetulnya memainkan peran penting dalam diferensiasi Magnify.

Jika berangkat dari pandangan mata memang sekilas seperti MG HS Ignite biasa dengan sistem infotainment baru. Kendati begitu, emblem “i-Smart” terpasang di bagasi menunjukkan bahwa ia lebih dari itu. Sajikan konektivitas berbasis internet sampai asisten berkendara aktif. Well, penyematan teknologi di balik tubuh ini dijamin bakal memberikan pengalaman berkendara berbeda.

Paketnya sendiri terbagi atas empat pilar yakni Smart Check, Smart Command, Smart Connect, dan Smart Drive. Sorotan utamanya adalah koneksi gawai melalui aplikasi MG i-Smart. Memberikan smartphone kemampuan untuk mengakses informasi dan fitur kendaraan tanpa terhalang jarak – selama masing-masing sisi mobil dan smartphone memiliki koneksi internet stabil.

Seberapa fungsional dan apa benar diperlukan? Sila nilai sendiri. Smart Check menawarkan kemampuan seperti Remote Vehicle Control. Smartphone dapat dipakai untuk menyalakan mesin dan AC sebelum melakukan perjalanan, mengaktifkan lampu atau klakson untuk mencari posisi parkir, berikut mengoperasikan kunci pintu. Kemanannya lantas dijaga oleh password khusus saat mengoperasikan fitur.

MG HS MAgnify I-Smart

Dari smartphone pun dapat mengecek kondisi kendaraan melalui Remote Vehicle Diagnosis. Cukup komprehensif dari status pintu, temperatur kabin, hingga ke tekanan angin ban. Lanjut dari situ, ada Geo Fence untuk membatasi area gerak kendaraan. Bakal memberikan notifikasi ketika menembus pagar digital. Yep, minimal bisa membawa ketenangan ketika sedang ditinggal atau dipakai pengguna lain.

Untuk diketahui, realita hubungan smartphone dan mobil tidak melulu mulus. Yep, sebab hal itu tergantung seberapa baik tangkapan sinyal internet masing-masing sisi. Ada kalanya pengoperasian tidak dapat dieksekusi lantaran sinyal buruk.

Fitur yang lumayan memanja terletak di Travel Plan. Bisa siapkan rencana waktu dan destinasi perjalanan sebelum beranjak pergi. Satu kemampuan lagi berupa MG Touch Point untuk mengetahui di mana letak pelayanan MG terdekat.

Lanjut ke Smart Command, komplotan ini akan memudahkan perjalanan sekaligus meningkatkan potensi keselamatan berkendara. Bukan barang asing, memang. Kendaraan dapat merespon komando suara berbahasa Inggris dari pengemudi dalam pengoperasian fitur. Tinggal panggil sang asisten dengan bilang “hello MG”.

 

MG HS Magnify I-Smart

Memang tidak dapat mengenali Bahasa Indonesia namun bukan berarti kemampuannya sedikit. Enam puluh sampel standar disediakan untuk mengatur sistem infotainment, fitur kendaraan (jendela, sunroof, AC, dsb), telepon, radio, musik, dan navigasi. Tapi selain itu, sistemnya juga intuitif. Dapat pula mengenali bahasa sehari-hari seperti “I’m cold”, “I’m hungry”, dan lainnya.

Ya, curhatan lapar ke asisten suara MG akan direspon dengan sajian pilihan restoran terdekat. Ini termasuk dalam pilar ketiga yakni MG Connect. Sistem dapat menampilkan panduan perjalanan dan navigasi pintar lewat penentuan Point of Interest (POI). Semua berbasis internet. Sementara itu, integrasi smartphone dapat terlaksana via Apple CarPlay atau EasyCon untuk sistem operasi Android. Semua ini bisa dinikmati dalam sistem infotainment anyar di HS.

Teknologi ADAS tampaknya kini mulai menjamur ke kasta lebih rendah. Menular ke satu per satu model di pasaran tanpa perlu tebusan selangit. MG HS Magnify tak luput dari penyebaran itu. Dibungkus dalam teknologi MG Pilot yang berada di bawah pilar keempat i-Smart yakni Smart Drive. Tanpa berlama-lama, saya ajak pergi HS Magnify dari lokasi preview di The Springs Club Gading Serpong, Tangerang.

Satu fungsi anyar lain langsung bisa dinikmati pada sistem infotainment kala keluar dari tempat parkir. MG HS Magnify jauh lebih mumpuni soal deteksi area blind spot. Sebab bukan sebatas indikator area blind spot dan Rear Cross Traffic Alert seperti pada varian Ignite. Ia mengadopsi kamera eksterior di berbagai sisi untuk menampilkan imaji 360 derajat. Lebih dari itu, titik buta samping roda kiri dan kanan depan dibuka masing-masing dengan tambahan animasi fender. Membuka mata batin pada area yang sulit dipantau demi menjaga kesehatan eksterior mobil dari kecerobohan pengemudi. Impresif, membuatnya terasa cukup premium.

MG HS MAgnify I-Smart

Dibawa bergerak maju, i-Smart tawarkan keringanan beban berkendara di dalam dan luar kota. Yep, rangkaian sensor dan kamera memungkinkan HS mengadopsi fitur Adaptive Cruise Control. Tinggal tekan tombol di ujung stalk cruise control, laju konstan berikut penyesuaian kecepatan dengan kendaraan di hadapan mampu ia berikan. Tapi selain itu, fungsinya dapat dipakai pula saat bermacet ria atau di kecepatan rendah melalui Traffic Jam Assist.

Gerakan mobil di depan dapat diikuti dengan baik secara otomatis hingga kecepatan yang telah ditentukan. Kendati begitu, eksekusinya tidak sehalus ibarat disopiri chauffeur Rolls Royce paling berpengalaman sedunia. Terutama saat mengerem, ada sedikit keraguan terkait seberapa kuat gigitan kaliper harus diberikan sistem. Sedikit saja memang tanpa sampai terasa hentakan yang mengganggu. Menuju rasa kendali natural hanya saja belum sampai.

Bukan sebatas meringankan beban pengemudi, sistemnya pun sanggup meningkatkan keselamatan. Bantu menghindari risiko celaka tabrak depan dengan keberadaan Forward Collision Warning (FCW). Tidak mencoba langsung namun lumayan menenangkan kala mengetahui ia memiliki bantuan pra celaka. Sementara itu, sokongan lainnya berupa Intelligent High-beam Control yang dapat mengatur lampu jauh agar tidak menyilaukan pengemudi lain.

Pos jaga posisi berkendara dalam satu jalur tak ketinggalan meramaikan paket teknologi varian baru HS ini. Termasuk di dalamnya Lane Departure Warning, Lane Departure Prevention, dan Lane Keep Assist. Disebutkan perlu melewati batas kecepatan 60 kpj agar dapat mengaktifkan sistem. Lantaran berputar di area padat, agak sulit untuk melaju konstan di angka segitu.

MG HS MAgnify I-Smart

Minimal saya bisa mendapatkan gambaran kemampuannya. Tentu untuk dapat melaju di satu jalur perlu marka jalan yang terbaca karena logika mobil berdasarkan patron marka tersebut. Ketika berpindah jalur tanpa mengaktifkan indikator, segera sistem berikan peringatan audiovisual berikut getaran setir sehingga pengemudi dapat segera menyadari arah.

Terlepas dari segala susuk teknologi tadi, MG HS Magnify tetaplah sebuah SUV yang nyaman sekaligus senang diajak berkendara. Dari komposisi pendukung handling nikmat tidak berubah. Aransemen suspensi MacPherson Strut depan dan Multi-Link belakang berada di spektrum kaku namun tidak keras. Tak akan terasa mengambang, diyakini bergairah bila dibawa ke area pegunungan berkelok.

Begitu pula soal pemacu. Meski bukan menjadi unit paling bertenaga di SUV monokok medium ekstraksinya tergolong cukup. Mengandalkan unit empat silinder 1.500 cc turbo sanggup menghasilkan tenaga 162 PS di 5.600 rpm dan torsi puncak 250 Nm di 1.700-4.400 rpm. Membuatnya semakin menarik adalah pemanfaatan penyalur daya DCT 7 percepatan. Membuat perpindahan gigi terasa cekatan dan tepat sasaran. Belum lagi tersemat pengatur respons mobil dengan tiga mode berkendara.

Sokongan ekstra konektivitas dan ADAS jelas melengkapi senjata utama MG HS untuk memikat. Pada dasarnya saja bisa disimpulkan sebagai alternatif yang tak boleh luput dari para pemain utama sedimensi. Ini soal harga dan ganjarannya. Jika benar dibanderol kurang dari Rp 500 juta, kurang menarik apalagi? Ia menawarkan teknologi tambahan di samping fitur yang sejatinya sudah tergolong komplet dan berkelas. Jika ragu, tak ada salahnya mencoba lebih dahulu. Kita tunggu saja kepastian seberapa menarik MG HS Magnify i-Smart di momen peluncurannya nanti.
CARVAGANZA / RS

Artikel yang direkomendasikan untuk anda