Divisi M BMW, Dulu Dianggap Kurang Bener Sekarang Malah Jadi Role Model

BMW M1 (E26) 1978, The Godfather of BMW M Series

MUNICH, Carvaganza – Embel-embel M pada mobil BMW sudah jadi rahasia umum sebagai mobil yang hebat dan super kencang. Divisi M memang didirikan oleh pabrikan Munich untuk membantu mereka merancang program motorsport yang lebih jitu dan menghasilkan mobil-mobil motorsport yang hebat yang kemudian menjelma menjadi penghasil mobil BMW high-performance (performa tinggi) serta terdepan di kelasnya.  

KEY TAKEAWAYS

  • Apa kepanjangan dari M pada Divisi M BMW?

    Singkatan dari ‘Motorsport’ karena dibentuk dengan tujuan membantu program motorsport BMW yang kemudian berkembang menjadi divisi high-performance car pabrikan.
  • Apa keistimewaan mobil BMW M Series?

    Kendaraan yang mendapat emblem M memiliki tenaga yang lebih besar, lebih kencang, lebih stabil, lebih ngegrip, jok sport, pengereman lebih kuat dan bodi lebih lebar.
  • Kapan Divisi M didirikan oleh BMW?

    Pada 24 Mei 1972 dan tahun 2022 ini sudah memasuki usia 50 tahun.
  • Huruf ‘M’ sendiri merupakan singkatan dari kata ‘Motorsport’. Divisi M diberi tugas untuk membuat mobil yang lebih stabil dengan bodi yang lebih lebar, lebih ngegrip, berjok sport, punya rem yang lebih kuat dan tentu saja dengan tenaga yang lebih besar plus kencang.

    BMW mulai membentuk M Division pada 24 Mei 1972. Pada tahun 2022 ini, Divisi M telah memasuki usia setengah abad, 50 tahun. Sebuah perjalanan yang tidak singkat yang telah menghasilkan mobil-mobil hebat dan inovasi super yang banyak sekali ditiru oleh pabrikan mobil lainnya di dunia, terutama Jepang.

    BMW M1 turun di Kejuaraan Balap Procar BMW M1 turun di Kejuaraan Balap Procar

     

    Pada waktu pertama kali didirikan, Divisi BMW M hanya diperkuat oleh 35 orang karyawan. Mereka harus membuat mobil jalan raya dengan teknologi khusus dan canggih yang fokusnya sebagai mobil performance maupun sport. Dari situ, Divisi M bertumbuh sampai akhirnya mempekerjakan 400 karyawan pada tahun 1988, lalu dengan cepat menjadi bagian fundamental dari kehadiran BMW di pasar internasional sekarang ini.

    Mobil pertama yang dilahirkan dan dijual ke pasar oleh Divisi M adalah BMW M1. Didesain oleh Paul Bracq dan mendapat sentuhan akhir dari desainer mobil legendaris Giorgetto Giugaro. Diluncurkan di Paris Motor Show 1978 dengan layout coupe mesin tengah 6 silinder yang menghasilkan tenaga 273 hp. Mesin ini sama dengan mesin BMW CSL 3.0 liter, tetapi sudah mendapat beberapa setelan baru agar lebih kencang dan memiliki top speed 264 km/jam.

    Waktu itu, BMW M1 yang diproduksi hanya 456 unit saja. Mobil tersebut diturunkan dalam kejuaraan balap one-make series, Procar. Tapi kejuaraan ini hanya bertahan dua tahun saja, meskipun diikuti oleh sejumlah pembalap tenar seperti Niki Lauda, Nelson Piquet dan Hans-Joachim Stuck.

    Mobil M Series perdana tersebut masih anggap oleh departemen pembuatnya belum sempurna dan belum seperti yang diharapkan 100 persen. Istilah divisi, produk debutnya itu belum proper. Baru pada tahun 1979, Divisi M melahirkan BMW M pertama yang dianggap lebih layak disebut M Series. Yaitu BMW M535i yang merupakan leluhur M5 E28 dan merupakan varian high-performance dari sedan BMW Seri 5. Dipasok dengan mesin M30B34 berkapasitas 3.5 liter yang menghasilkan tenaga 212 hp, jok Recaro, cakram rem yang lebih besar, limited-slip differential dan transmisi close-ratio.

    Selang empat tahun kemudian, pada tahun 1983 lahirlah M635CSi. BMW Seri 6 ini mendapat ragam kelengkapan M seperti mesin baru M88/3 yang hasilan tenaganya diperbesar menjadi 278 hp dengan top speed 253 km/jam. Jumlah total model yang dibuat hanya 5.859 unit.

    BMW M5 E28 BMW M5 E28

     

    BMW M5 Pertama

    BMW Seri 5 pertama yang mendapat emblem M dan dijadikan cetak biru (blueprint) sebagai sedan performance adalah Seri 5 E28. Sedan tersebut dianggap sebagai BMW Seri 5 terbaik karena memiliki paketan lengkap sebagai sedan yang nyaman, punya kualitas pembuatan yang baik, sangat proper dan kencang. Mampu sprint dari 0 – 100 km/jam dalam waktu 6,5 detik dan top speed 245 km/jam.

    Baca juga:  Ini 6 Mesin BMW Terbaik Sepanjang Masa

    Selain itu dilengkapi fitur-fitur mewah seperti electric window, central lock dan velg alloy yang ringan. Dari sini terlihat Divisi M mulai mengincar pasar mobil premium. Pasalnya, belum pernah ada sedan family yang dibuat sebagai mobil performance sehingga langkah pabrikan dianggap ‘berjudi’ dengan resiko yang sangat tinggi.

    Tahun yang paling penting di dalam perjalanan BMW M adalah tahun 1986 sehubungan dirilisnya BMW M3 E30. M3 pertama yang menghasilkan tenaga 194 hp dari mesin 4 silinder segaris 16 valve 2.3 liter. Kemudian muncul model Evolution dan Sport Evolution yang menghasilkan tenaga lebih besar yakni 214 dan 232 hp. Bisa lari sprint 0 – 100 km/jam dalam waktu 6,9 detik, dikombinasikan dengan handling mobil ala tourer.

    BMW M3 E30 1986 BMW M3 E30 1986. Foto: whichcar.com.au

     

    Dua tahun kemudian, Divisi M mengembangkan BMW M5 E34 untuk dijadikan sedan versi high-performance. Artinya, dengan bodi yang lebih bongsor dan lebih premium, sedan tersebut harus punya tenaga yang lebih besar agar tambah kencang. Dipilihlah chassis 535i lalu ditanamkan mesin 6 silinder segaris 3.6 liter yang melontarkan tenaga 306 hp dan torsi maksimal 361 Nm. Tahun 1992, mesinnya diupgrade lagi jadi 3.8 liter dan top speed mencapai 283 km/jam sekaligus menobatkannya sebagai sedan empat pintu tercepat di dunia.

    Dari situ, M Division BMW terus berinovasi sampai akhirnya merilis BMW 850 CSi yang disebut-sebut sebagai BMW M pertama yang performanya mendekati supercar. Semua jeroan dan paketnya M, kecuali nama dan basisnya memang dari prototipe M8.

    Mesin 850i diseting ulang habis-habisan sehingga pabrikan harus memberinya kode mesin baru, S70. Mesinnya gede, V12 5.6 liter sekaligus menjadikannya sebagai satu-satunya mobil M series yang memakai mesin 12 silinder. Tenaga yang dihasilkan monster, 372 hp dengan top speed 248 km/jam dan itupun dibatasi secara otomatis serta dilengkapi fitur-fitur canggih seperti four-wheel steering aktif. Pada masanya, menjadi mobil flagship BMW.

    BMW M Coupe dan Roadster BMW M Coupe dan Roadster

     

    Berlanjut pada 1992, M Division melahirkan M3 E36. Mesin yang dipakai 6 silinder dengan body layout tiga macam yakni coupe, convertible dan sedan. Pada awalnya, mesin yang diadopsi 6 silinder straight 3.0 liter dengan tenaga yang dihasilkan 280 hp. Tahun 1995 disempurnakan lagi memakai mesin baru 6 silinder 3.2 liter yang menghasilkan tenaga 314 hp. Berkat performanya yang ajib, E36 M3 dinyatakan sebagai salah satu mobil dengan handling terbaik di era ’90-an. Baru pada tahun 1997, BMW memperkenalkan Girbok Manual Sekuential (sequential manual gearbox).

    Tahun 1998, BMW M merilis M Roadster dan Coupe. Mobil ini versi hibrida dari mobil Z3 dengan M3 Evo E36. Versi ini kurang laku di pasaran. Beda dengan M5 E39 yang laku dipasaran dan diproduksi dengan jumlah yang lebih banyak dibandingkan pendahulunya. Menurut kabar, mobil ini juga diproduksi di jalur produksi yang sama dengan 5 Series regular.

    Sejak itulah BMW M terus bergulir sampai dengan sekarang. Mobil yang dihasilkan sudah ratusan ribu unit jumlahnya dan kini menjadi sangat raksasa serta menjadi nomenklatur bergengsi bagi BMW. Padahal pada awalnya, banyak suara yang menentang di internal BMW. (EKA ZULKARNAIN)

    Sumber: autocar.co.uk dan ragam sumber

    Baca juga:  Kisah Asal Muasal Nama Dan Filosofi di Balik Logo BMW

    Artikel yang mungkin menarik untuk Anda

    Mobil BMW Pilihan

    • Upcoming

    Updates

    Artikel lainnya

    New cars

    Artikel lainnya

    Drives

    Artikel lainnya

    Review

    Artikel lainnya

    Video

    Artikel lainnya

    Hot Topics

    Artikel lainnya

    Interview

    Artikel lainnya

    Modification

    Artikel lainnya

    Features

    Artikel lainnya

    Community

    Artikel lainnya

    Gear Up

    Artikel lainnya

    Artikel Mobil dari Oto

    • Berita
    • Artikel Feature
    • Road Test

    Artikel Mobil dari Zigwheels

    • Motovaganza
    • Review
    • Artikel Feature