Ini Dia 3 Lawan Toyota Raize dan Daihatsu Rocky di Indonesia yang Tak Kalah Keren!

JAKARTA, Carvaganza – Toyota dan Daihatsu baru saja meluncurkan mobil terbarunya. Memiliki dimensi ringkas, Sport Utility Vehicle (SUV) ini diberi nama Raize oleh Toyota dan Rocky oleh Daihatsu. Dijual di rentang harga Rp 214 jutaan sampai Rp 265 jutaan, keduanya punya penantang sebanding yang telah terlebih dahulu hadir di Indonesia. Siapa saja? Berikut ulasannya!

KIA Sonet 5-Seater (Rp 193 juta – Rp 289 juta)

KIA Sonet

Kia Sonet cukup mencuri perhatian. Dari sekian banyak mobil yang meluncur pada 2020. Ada beberapa alasan. Desainnya keren, fiturnya seabrek, dan dibanderol dengan harga menarik. Lewat PT Kreta Indo Artha, Agen Pemegang Merek (APM) baru Kia di Indonesia memperlihatkan harapan tinggi terhadap kehadirannya.

Misal saat jauh hari sebelum resmi meluncur. Unit tes berkamuflase sengaja wara-wiri memancing perhatian. Bisa sebagai bahan pengujian, sekaligus menggoda siapa pun yang melihat. Sontak fotonya langsung tersebar di dunia maya. Kemudian muncul hitung mundur di laman resmi Kia menuju hari peluncuran. Terkesan heboh. Berarti menunjukkan ada sesuatu spesial yang jarang ditawarkan brand Korea Selatan selama ini.

Tanpa menunggu terlalu lama, Sonet meluncur tepat 11 November. Harganya langsung mengejutkan, tidak sampai Rp 300 juta. Tepatnya Rp 289 untuk tipe termahal Premiere seperti mobil tes warna merah ini. Terngiang produk Cina yang menawarkan kombinasi harga dan fitur istimewa. Bentuk keseriusan Kia lain ada dari jumlah varian. Total 5 tipe dijajakan dengan rentang harga lumayan besar. Paling murah bahkan cuma Rp 193 juta.

Melihat tampilan Sonet, masih ibarat oase di tengah padang pasir. Karena masih asing di mata awam, membuatnya tampilan berbeda di tengah deretan mobil lain yang sudah membosankan. Lagi-lagi Kia berhasil mengkreasikan desain aktraktif sedap dipandang. Uniknya, tanpa perlu bermain lekuk tajam nan tegas agar tersirat kesan sporty dan futuristik. Sama sekali tidak mencirikan mobil 'Made in India'.

Desain Peter Schreyer terus mewarisi. Benang merahnya masih tampak jelas sampai Chief Design Officer sekarang dijabat Karim Habib. Grille Tiger Nose tampak abadi mengisi fasad. Menjadikan identitas yang bakal terbawa seterusnya. Menyatu dengan headlamp lebar dan menciptakan karakter gagah SUV sejati.

Melihat wajah secara frontal begitu mengintimidasi. Yang mengherankan, tak perlu bermain sudut-sudut tajam di sisa bagian bodi lain. Kalau melihat dari jauh, Sonet tampak besar. Karena lebih banyak menyajikan desain menggelembung halus. Membuatnya tampak 'bulky' dan menyiratkan otot besar. Segala sisi tidak ada yang janggal dan tetap enak dilihat. Proporsi bodi dan roda ditopang pelek 16 inci dalam balutan ban Apollo setebal 215/60. Wheel arch yang menggelembung lebar terisi penuh dengan fitment pas.

Semua itu diakhiri bentuk bokong sederhana tertata rapi. Bahkan kamera parkir tersimpan di area tersendiri. Cukup kontradiktif dengan wajahnya, beruntung tak terlampau polos. Garis melekuk selebar bodi menghias bentuk lampu simpel. Sedikit berlebihan di area skid plate. Terdapat dua bidang trapesium sebagai pengecoh lubang knalpot.

Ukuran tubuh Sonet versi Indonesia sedikit berbeda dengan di India. Berdasar data brosur, panjangnya 4.120 mm, lebar 1.790 mm dan tinggi 1.615 mm. Melar sedikit karena ketambahan moulding di bemper belakang. Tidak berpengaruh sama sekali, tetap ringkas setara hatchback kompak. Mirip dimensi Toyota Yaris dan Kia Rio. Enak diajak berkelit di kepadatan jalan ibukota.

Trah sebagai SUV memberi keistimewaan yang tak dimiliki hatchback biasa. Ground clearance menjulang 205 mm memberi banyak jarak dengan permukaan tanah. Aman melibas jalanan rusak tanpa ada rasa khawatir kolong mobil mentok. Tidak seperti compact hatchback yang rata-rata rendah.

KIA Sonet

Gambaran interior Sonet mirip seperti Seltos. Nuansa sporty hitam menyambut seketika membuka pintu. Terlihat mewah, walau tak menjalar sampai sentuhan. Ada beberapa panel memakai plastik keras, untungnya tidak terlalu banyak. Masih dominan bagian mewah.

Area panel instrumen dan monitor head unit menyatu juga seperti Seltos. Desainnya mirip dashboard Mercedes-Benz A-Class dan B-Class, tapi tidak berisikan dua monitor beresolusi tinggi. Tapi masih terlihat canggih, terutama panel instrumen. Perpaduan grafis analog dan informasi digital membuatnya terlihat mahal. Semua jok sudah terbalut kulit khusus tipe Premiere dan Dynamic. Begitu juga setir sampai tuas transmisi.

Ruang depan tergolong lapang untuk diduduki orang berpostur lebih dari 180 cm. Ergonomi semua tombolnya juga bagus, mudah dijangkau tangan. Posisi mengemudi cenderung tinggi layaknya SUV. Dengan visibilitas luas ke segala penjuru karena posisi garis bahu dibuat rendah. Bikin percaya diri meski postur aslinya tidaklah besar.

Bodi kompak berdampak ke kursi belakang. Tidak banyak tersisa ruang kaki untuk penumpang jangkung. Kursi depan harus rela dimajukan lagi agar tercipta ruang. Headroom masih lumayan berlimpah. Menegaskan mobil ini lebih diperuntukkan disetiri sendiri.

KIA Sonet

Masih sah dipakai sebagai mobil keluarga, asalkan anak-anak masih kecil. Toh tersedia bagasi besar untuk menampung banyak barang. Deknya cenderung rendah sehingga tercipta 392 liter. Tergolong dalam karena masih tersimpan ban serep full-size. Tapi kargo sebesar itu jadi terasa janggal akibat jok belakang dengan sandaran menyatu. Tidak bisa dilipat terpisah 50:50 atau 60:40. Kurang praktis.

Bagaimana dengan fiturnya? Paling gampang memulai dari peranti yang tak ada di mobil seharganya. Pertama tersedia wireless smartphone charger. Fitur penting tanpa repot mengisi baterai gawai tersedia di sela konsol tengah. Ada ventilasi AC mencegah ponsel overheat saat dicas. Tapi ingat, tidak semua smartphone berfungsi. Harus punya Qi System dulu, biasanya seri flagship punya itu.

Nama Bose terpampang sebagai peracik sistem audio. Suara keluar dari 4 speaker utama. Frekuensi diatur 2 tweeter di pojok, lalu subwoofer sebagai pemain frekuensi rendah. Suaranya cukup berkualitas walau biasa saja. Setidaknya tidak perlu upgrade lagi. Sumber pengaturan berasal dari monitor 8 inci dengan ragam konektivitas. Ada Android Auto, Wireless Apple Car, Bluetooth dan voice recognition.

Paling menarik meski tak terlalu penting. Terdapat Mood Light di side door pocket. Lampu menyala kerlap kerlip mengikuti ritme musik bila volume suara dibesarkan. Warnanya bisa diatur sesuka hati. Lumayan memberi nuansa berwarna bila malam hari. Anak muda pasti suka karena seperti sedang di arena dugem.

Kemudian punya Remote Engine Start. Singkatnya menyalakan mesin dari luar kabin hanya menekan tombol di remote. Berguna menghemat waktu memanaskan mobil dulu sebelum beranjak pergi. Atau bisa dimanfaatkan mendinginkan suhu kabin terlebih dahulu. Jika ingat, fitur ini juga ada di Chevrolet Trailblazer

Satu fitur ini yang tak pernah terpikirkan ada di mobil berharga terjangkau. Bahkan sangat penting dan berguna. Ialah ventilated seat, solusi cerdas untuk iklim tropis. Semburan AC keluar dari kisi-kisi kecil di sandaran kursi. Bila cuaca sedang panas, seketika menambah kenyamanan yang sulit ditandingi mobil sekelas. Tapi pendingin saja, tanpa pemanas.

Paling tidak, segala perangkat itu mampu melampaui SUV kasta lebih tinggi. Belum ditambah fitur standar seperti lampu LED, auto climate control, sunroof, TPMS hingga cruise control. Sistem keselamatannya terdiri dari 6 airbag, ABS+EBD, Electronic Stability Control (ESC) dan Hill Assist Control (HAC). Tentu akan berlebihan jika mengharapkan Blind Spot Monitoring System maupun Lane Departure Warning. Ini saja sudah berlebih.

Konsekuensinya bisa mengurangi fitur yang tidak terlalu dibutuhkan. Misal pengaturan jok elektrik dan rem parkir elektrik. Semua masih konvensional lewat pengaturan manual. Mungkin banyak yang menganggap itu sebuah kekurangan? Pastinya lebih awet untuk jangka, terhindar dari malfungsi kelistrikan terlalu banyak. Minus yang jadi perhatian hanya tidak punya pengaturan setir telescopic serta rem belakang tromol.

KIA Sonet

Opsi mesin di India terdengar lebih menggugah. Ada pilihan turbo 3-silinder 1,0-liter menghasilkan 120 PS dan torsi 172 Nm. Pasangan gearbox-nya DCT 7-speed merupakan kombinasi serupa dengan Seltos. Tapi stigma negatif mesin ganjil pastinya masih tertanam di benak mayoritas konsumen lokal. Padahal hembusan turbo plus reaksi kopling ganda pastilah mengasyikkan.

Namun pilihan untuk pasar Indonesia tidaklah salah. Memakai unit Smartstream Gamma II 4-silinder 1,5-liter naturally aspirated, dengan Dual CVVT dan Dual Fuel Injector, lebih mudah akrab untuk pasar sini. Ekstraksi daya dihasilkan tidak mengecewakan. Output sebesar 115 PS di 6.300 rpm dan torsi maksimum 144 Nm di 4.500 rpm. Di atas mayoritas mesin "cenggo" NA lainnya.

Mesin terasa powerful bahkan melebihi angka di atas kertas. Terus terang, tidak terasa seperti mesin 1,5-liter biasanya. Momen puntir mulai menyeruak sejak putaran mesin rendah, ditambah aliran deras daya kuda mulai 2.500 rpm ke atas. Tentu unit pemacu tak sendirian dalam memberikan karakter performa sedemikian enak. Paket powertrain akan disempurnakan padu padan gearbox yang tepat. Sebagai aspek penyalur daya, mengandalkan transmisi termutakhir Smartstream iVT (Intelligent Variable Transmission).

Ialah CVT (Continuous Variable Transmission) hasil inovasi terbaru Hyundai Group. Caranya mengganti sabuk CVT konvensional dengan rantai. Bertujuan untuk mengkombinasikan efisiensi sebuah CVT, sekaligus meningkatkan respons ketika berganti rasio. Lalu menggunakan tensioner untuk mengatur diameter pulley yang mampu mengurangi slip dan menambah efisiensi. Ditambah lagi, rantai bebas perawatan. Sehingga masa pakainya jauh lebih panjang dari CVT biasa. Menurut pihak pabrikan, iVT memberi rasa responsif, makin irit dan kuat.

Klaim itu benar adanya. Saat kami mengujinya, diantara CVT lain iVT Sonet salah satu yang terbaik. Tidak terasa lamban seperti karakter kebanyakan CVT pengejar irit. Ada hentakan layaknya matik torque converter saat kickdown, dibarengi perpindahan gigi cekatan. Total ada 8 percepatan virtual dengan rasio rapat. Setiap langkah berpindah tetap sehalus CVT, namun berlangsung singkat dan cepat sehingga mengeliminir kekosongan torsi. Inilah mengapa akselerasi Sonet terasa spontan dan responsif. Begitu pula shifting manual via shiftronic. Reaksi antargigi berjalan smooth plus cekatan. Belum pernah merasakan CVT semenyenangkan ini. Efisiensi juga terbukti. Berdasar data Multi-Information Display (MID), konsumsi penggunaan dalam kota yang padat banyak stop & go, tercatat 10,3 kpl. Cruising santai di jalan dengan rentang kecepatan 80 - 100 kpj didapat 18,4 kpl. Rute kombinasi 13,5 kpl. Cukup menggunakan bensin RON 92 mengisi 45 liter tangki bahan bakar.

Masih ada lagi. Tersedia 3 mode berkendara, Eco, Normal, Sport, yang diatur lewat tombol di bawah AC. Berkendara harian di kota, Eco bisa lebih menghemat lagi. Namun tenaga terasa tertahan tidak seperti mode Normal. Saat ingin mengeksplorasi putaran mesin tinggi, Sport mampu mengakomodasi. Dan baru tersadar raungan mesin Smartstream Gamma II ternyata merdu juga.

Konstruksi kaki-kaki Sonet sederhana saja. Suspensi depan model Macpherson Strut, belakang Torsion Beam. Ekspektasinya tentu setelan nyaman seperti ciri Kia lain. Redaman mantap mengusir getaran hingga ke dalam kabin. Tapi harus diakui, bantingan termasuk keras menggambarkan mobil kecil nan ringan. Bila duduk di kursi belakang akan terasa itu. Namun bukan berarti kaku dan terlampau kasar. Peredam kejut bekerja optimal menciptakan rasa berkendara dewasa berkiblat ke mobil Eropa. Plus keheningan kabin superior tanpa terganggu kebisingan ban dan dunia luar.

KIA Sonet

Kestabilannya saat kecepatan tinggi terasa mantap. Feedback setir lumayan hambar, wajar tipikal electric power steering. Tapi gradasi perubahan bobot MDPS berlangsung mulus. Putaran setir ringan kala berjalan pelan dan parkir. Berangsur berat seiring pertambahan kecepatan.

Ada lagi gimmick mode traksi tepat di sebelah tombol drive mode. Pilihannya Mud, Snow dan Sand. Otomatis tak terpakai bila berkendara normal sehari-hari. Mungkin bakal dibutuhkan bila melewati medan tanah, licin atau berpasir. Setidaknya sudah dibekali jika suatu saat diperlukan. Sebagai pembuktian jati diri SUV tulen juga, meski cuma penggerak roda depan (FWD).

Logika terbalik mobil berfitur mewah tanpa harus mahal, bukan lagi peruntungan brand Cina. Bujet Rp 290 juta seharusnya tak hanya berkutat di opsi compact hatchback semacam Toyota Yaris, Honda Jazz atau Mazda2. Sonet yang beridentitas small SUV, sanggup meladeni tanpa perlu minder. Malah amunisinya jauh lebih lengkap.

Semua kebutuhan sebagai mobil kota harian terpenuhi. Desain eksterior dan interior keren, sistem audio cap ternama, ventilated seat yang bikin punggung adem, fitur keselamatan cukup, mesin dan transmisi menyenangkan dan kaki jangkung dirancang untuk jalanan kurang bersahabat. Belum lagi jaminan 7 tahun yang diberikan pihak Kia Indonesia. Terakhir, perlu diingat kalau belum lama ini Kia datangkan versi 7-seater dari Sonet. Versi ini dijual sedikit lebih mahal yakni, Rp 199,5 juta sampai Rp 296 juta.

Nissan Magnite (Rp 214,8 juta – Rp 244,8 juta)

Nissan Magnite

Nissan Magnite cepat datang ke Indonesia. Perkenalan awal secara global terjadi pada 21 Oktober 2020 di India. Tak sampai sebulan (21/12), Magnite resmi rilis di Tanah Air.

Kompetisinya terbilang baru. Nissan Magnite masuk dalam perlawanan sesama SUV kecil seperti Kia Sonet. Awal fase pengembangan, Magnite direncanakan menjadi SUV flagship Datsun. Tapi seiring dibekukannya kembali Datsun, makan beralih jadi merek Nissan. Tadinya bernama Datsun Magnite, jadi Nissan Magnite.

Platform memakai CMF-A+ sebagai basis bersama dalam aliansi Nissan-Renault. Konstruksi sama bisa ditemui di Renault Triber dan Kiger yang akan jadi lawan sekelas. Formatnya mesin depan dengan penggerak roda depan juga (FWD). Mesin mengadopsi HRA0 3-silinder 1,0-liter yang dibantu hembusan turbocharger. Sementara transmisi diberikan pilihan manual atau CVT.

Nissan Magnite

Interiornya memiliki desain dashborard menarik. Tidak terlalu banyak tombol, cenderung minimalis dan sesuai kebutuhan saja. Bersih serta tak banyak elemen gaya yang terlalu memaksa. Paling mencolok ventilasi AC heksagonal yang sedikit memberi sentuhan sporty. Lalu coba perhatikan desain setirnya, persis punya Renault Triber bukan?

Sesuai harganya, material kabin didominasi plastik keras. Tapi saat dipegang tidaklah terlalu murahan. Permukaan beberapa panel plastik terasa halus. Jika dibandingkan Kia Sonet, lawannya lebih banyak menawarkan sentuhan mewah.

Tubuh SUV memberi keuntungan ruang kepala lapang. Area depan pun memberi kenyamanan terbaik untuk pengemudi maupun penumpang. Sementara belakang, ternyata masih banyak menyisakan legroom dan masih mampu diisi 3 orang dewasa dengan nyaman.

Kepraktisan kabin tak dilupakan. Keempat kantong pintu mampu diisi botol 1 liter. Ukuran glovebox juga besar seluas 10 liter. Area kosong yang dijadikan wireless charging di versi India, bisa menaruh smartphone atau benda lainnya. Sayang sekali tidak disertakan untuk pasar sini. Mungkin untuk mengurangi harga jual. Bagian bawahnya juga lowong, bersamaan soket listrik 12V dan USB port.

Terhampar ruang kargo seluas 336 liter di belakang. Posisi dek tergolong rendah, dengan bibir pintu bagasi tinggi. Jadi butuh usaha lebih untuk mengangkat barang sebelum memasukkannya. Kalau butuh area lebih luas, bisa melipat jok dengan porsi 60:40.

Sementara itu desain eksterior Magnite tidak mencirikan Nissan masa kini sama sekali. Mungkin karena formulasi awal yang khusus Datsun, maka tak membawa bahasa desain V-Motion. Malah ada kemiripan dengan Kia Sonet di beberapa detail kecil. Grille besar terpisah dari lampu utama sipit. Ciri pengenalnya mengandalkan Daytime Running Light (DRL) berbentuk L.

Lekukan halus menggembung menyerupai Sonet. Terutama sekitar bodi samping dan spakbor besar. Terlihat bantet seperti berupaya mempertahankan ukuran kompak. Tapi tidak terlampau polos karena diisi moulding tebal sehingga lebih keluar kesan gagah khas SUV. Proporsinya tetaplah sebuah SUV. Tampak dari ban tebal berukuran 195/60R16. Sementara buritan malah makin mirip Sonet. Andaikan kedua lampu buntut menyatu, pasti makin identik. Beruntung ada emblem nama Magnite di pintunya.

Nissan Magnite

Kaki-kaki tampak menjulang tinggi. Namun ada data yang kurang sinkron antara situs resmi di India dan data teknis diberikan Nissan Indonesia. Menurut website, ground clearance mencapai 205 mm. Sedangkan informasi ke media, hanya setinggi 186 mm. Setidaknya tetap memadai untuk kondisi jalan Tanah Air yang campur aduk.

Pilihan mesin turbo terdengar lebih masuk akal untuk pasar Indonesia. Ialah unit HRA0 3-silinder 1,0-liter yang juga dipakai Renault Triber versi turbo. Lewat bantuan induksi paksa rumah keong, daya dihasilkan tergolong besar. Tenaga sebesar 100 PS di putaran 5.000 rpm, dengan keluaran torsi berbeda, 160 Nm untuk transmisi manual dan 152 Nm untuk CVT.

Angka segitu di dalam tubuh mungil, mampu mengkombinasikan akselerasi dan efisien. Klaim Nissan India, sprint menuju 100 kpj secepat 11,7 detik (M/T) dan 13,3 detik (CVT). Konsumsi bahan bakarnya juga irit. Mencapai 20 kpl (MT) dan 17,7 kpl (CVT).

Fitur keselamatan di kedua varian tidak dibedakan. Dual SRS airbag sudah standar untuk melindungi pengemudi dan penumpang depan. Pengereman pun berisikan sistem ABS, EBD dan Brake Assist. Hebatnya lagi, Vehicle Dynamic Control dan Hill Start Assist juga sudah tersedia. Ditambah peranti kenyamanan cruise control untuk tipe Premium.

MG ZS (Rp 261,8 juta – Rp 295,8 juta)

MG ZS

ZS berukuran 4.314 mm x 1.809 mm x 1.624 mm. Ia menggendong mesin 1.498 cc naturally aspirated. Unit berkode 15S4C punya konfigurasi DOHC 4-silinder 16 katup VTi-TECH. Hasil pembakaran sistem injeksi multi-point memberi tenaga maksimum sebesar 114 PS. Torsi puncaknya 150 Nm. Distribusi tenaga lewat transmisi otomatis 4-speed dengan sistem triptonic. Dan tidak tersedia girboks manual.

Walau harganya miring, kelengkapan peranti keamanannya bisa diadu. Sebagai standar di dua varian tersedia: AntiLock Braking System and Electronic Brakeforce Distribution, EBA (Electronic Brake assist), SCS (Stability Control System) plus CBC (Curve Brake Control). Ditambah juga dengan TCS (Traction Control System), HAS (Hill Start Assist System), ESS (Emergency Stop Signal), Follow Me Home Light, Isofix. Lalu Front Seat Belt With Pretensioners and Load Limiters, 3 Point Rear Seat Belts 3 Points, Front Airbags dan khusus TMPS (Tire Pressure Monitoring system) hanya di Ignite.

Perusahaan memberi garansi MG ZS selama 5 tahun tanpa mengenal batasan jarak tempuh. Setiap pembelian MG ZS disertai dengan layanan MG Care. Mencakup garansi kualitas produk terhitung dari tanggal pengiriman kendaraan baru kepada pemilik pertama. Gratis pula biaya jasa perawatan reguler sampai dengan 50.000 km atau 4 tahun. Tergantung salah satu yang terlebih dahulu tercapai.

MG ZS EV dihadirkan di ajang Indonesia International Motor Show (IIMS) Hybrid 2021 yang digelar di JiExpo, Kemayoran, Jakarta beberapa waktu lalu.

MG ZS EV diharapkan dapat mendefinisi ulang ekpetasi pecinta otomotif tanah air baik dari generasi klasik hingga generasi Z saat ini. MG ZS EV sendiri sudah beredar di pasar internasional dengan spesifikasi motor listrik 44,3 kWh yang memproduksi tenaga 140 hp dan torsi 350 Nm. Meski MG Motor Indonesia, agen pemegang merk MG di Indonesia, belum merilis data resminya, namun pabrikan mengklaim MG ZS EV ingin memberikan pengalaman berkendara yang menyenangkan dengan teknologi ramah lingkungan.Mengambil tema Recharge Your Life, di samping teknologi listrik pada kendaraannya, MG juga menghadirkan teknologi i-SMART. Lewat kombinasi dua teknologi tersebut, MG Motor Indonesia cukup optimis dapat berkontribusi secara maksimal di industri otomotif lewat berbagai model kendaraannya. RIZKI SATRIA

Artikel yang direkomendasikan untuk anda