Jaguar Land Rover Anggap Dirinya Lebih Premium dari BMW, Mercedes-Benz dan Audi

COVENTRY, Carvaganza – Bagi Jaguar, sekarang ini pabrikan seperti BMW, Mercedes-Benz dan Audi dianggapnya sudah bukan rival setara lagi. Karena Jaguar kini menganggap diri mereka sebagai pabrikan dengan kelas lebih premium dibanding merek-merek Jerman tadi. Jaguar telah mengubah haluan soal segmen pasarnya dan mengincar konsumen yang lebih kaya lagi.

Hal ini berkaitan dengan strategi baru Jaguar Land Rover (JLR), yang tidak lagi ingin bermain di pasar yang diisi ketiga nama besar Jerman tadi. Strategi baru JLR adalah membuat mobil Jaguar menjadi lebih berkelas dan eksklusif, untuk menantang pasar milik Bentley dan Porsche. Selain menaikkan kelasnya, strategi ini juga demi menghindari kerugian lebih jauh yang dialami oleh JLR.

Jaguar I-Pace

Keputusan ini diawali oleh gagalnya rencana ambisius mantan CEO Jaguar, Ralph Speth, yang ingin mencetak penjualan JLR sebanyak 1 juta unit secara global. Kegagalan tersebut berakibat perusahaan mengemban utang yang berjumlah sangat besar, yang membuat masa depan pabrikan asal Inggris ini terancam tidak berlangsung lama.

Sepanjang tahun 2020, Jaguar hanya mencatat penjualan sebanyak 102.402 unit secara global, yang turun hampir 37 persen dibandingkan tahun sebelumnya. Faktor utamanya adalah tamparan dari pandemi global karena wabah COVID-19. Jika dibandingkan, BMW yang turun 8,4 persen meraup penjualan lebih dari 2 juta mobil tahun lalu. Bahkan dari sub merek BMW M saja bisa menjual 40 persen lebih banyak dibandingkan keseluruhan penjualan Jaguar.

Jaguar I-Pace

Dalam sebuah pertemuan dengan para investor, CFO Jaguar, Adrian Mardell mengutarakan keputusannya ini. “Melawan BMW, Daimler atau Audi tidak masuk akal untuk perusahaan dengan skala hanya seperempatnya,” kata Mardell, Februari lalu.

Keputusan drastis ini akhirnya diambil oleh CEO Jaguar yang baru, Thierry Bollore yang adalah mantan petinggi Renault. Bollore optimis dengan rencana baru Jaguar untuk masuk ke segmen milik Bentley dan Porsche secara langsung. Salah satu targetnya adalah dengan mengoversi Jaguar menjadi pabrikan full electric mulai tahun 2025. Rencana ini juga sudah diumumkan sejak Februari lalu.

Jaguar I-Pace

Keseriusan rencana dari strategi ini ditunjukkan dengan telah dihentikannya pegnembangan calon generasi baru Jaguar XJ versi listrik, padahal sudah mendekati rampung. ‘Korban’ lain dari strategi ini adalah calon model crossover J-Pace yang dibatalkan. Ke depannya, Jaguar akan melahirkan mobil dengan jumlah yang lebih terbatas dengan kemewahan lebih.

“Merek baru ini akan memiliki volume yang lebih sedikit, akan lebih eksklusif dan akan menjadi pengalaman kemewahan sejati,” yang dikatakan oleh Gerry McGovern sebagai shief creative officer Jaguar.

Jaguar I-Pace

Sementara Jaguar akan beralih menjadi pabrikan mobil murni listrik mulai 2025, penggemar Land Rover sejak lama masih akan bisa nikmati mesin pembakaran lebih lama. Karena Land Rover baru akan beralih sepenuhnya ke listrik pada tahun 2030, sementara selama beberapa tahun ke depan akan memperluas lini produk hybrid.

Dengan strategi baru ini, masa depan Jaguar bisa lebih terjamin dan bertahan lama. Karena belakangan ini Jaguar yang punya sederetan model klasik dianggap kurang relevan produknya dengan preferensi konsumen modern. Jaguar I-Pace dianggap sudah menjadi pijakan awal yang tepat untuk arah masa depan baru Jaguar.
WAHYU HARIANTONO / RS

Sumber: Carscoops

Artikel yang direkomendasikan untuk anda