Kaleidoskop 2020: Belum Ada Pain Killer Untuk Kurangi Rasa Nyeri

JAKARTA, carvaganza – Tak ada yang menyangka bahwa virus Corona akan membawa efek yang begitu besar terhadap dunia otomotif. Bahkan juga terhadap dunia industri lainnya. Tak ada yang mengira, karena sepanjang era modern ini, dunia tidak pernah diserang oleh pandemi yang begitu hebat. Industri otomotif nasional memang sedang menderita sakit hebat. Belum ada pain killer yang pas untuk mengurangi rasa nyerinya. Nyeri berkepanjangan itu membuat penjualan mobil retail pada bulan Januari sampai Agustus 2020 ambruk sebesar 46,4 persen. Sedangkan penjualan wholesales (dari pabrik ke dealer) merosot lebih dalam. Menurut Gabungan Industri Kendaraan Bermotor Indonesia (Gaikindo), wholesales periode Januari – Agustus 2020 anjlok 51,3 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Dari 664.134 unit, menjadi hanya 323.507 unit saja. Yang bikin lebih sakit, dari Januari sampai Oktober 2020, penjualan ritel otomotif baru menyentuh 453.525 unit. Demikian kata Gaikindo. Atau turun 46,7 persen dibandingkan periode yang sama 2019. Untuk wholesales lebih menukik lagi, hanya 421.089 unit, atau merosot 50,6 persen dibandingkan Januari – Oktober 2019 yang mencapai 851.999 unit. Jurang yang dalam yang diciptakan oleh gangguan kesehatan itu memang membuat banyak pihak kesulitan untuk bernafas. Rasanya seperti orang menyelam dengan menggunakan alat bantu berupa sedotan atau pun pipet. Selama 2020 ini, Carvaganza mencatat momen-momen menarik untuk menyegarkan Kembali pikiran kita. Baca juga: COVID-19 Tampar Otomotif, Indonesia Baru Mendingan di Kuartal 4

1. Pandemi COVID-19

Setelah Cina terlebih dahulu dilanda pandemi Kesehatan COVID-19, yang diikuti oleh sejumlah negara lain, Indonesia mulai memberlakukan PSBB pada 10 April 2020. Indonesia tidak melakukan karantina wilayah atau lockdown dengan ragam alasan. Tapi kebijakannya diberi nama Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB). Dengan adanya pembatasan ruang gerak masyarakat, maka banyak sektor yang terdampak. Salah satunya adalah sektor otomotif. Dari bulan ke bulan, efek tersebut semakin terasa. Sampai saat ini belum ada obat pereda rasa sakit untuk mengurangi rasa nyeri. Pasalnya, belum pernah ada yang mengalami wabah sehebat ini.

2. Target tahun 2020 tak akan tercapai

Sebelum memasuki tahun 2020, Gaikindo menargetkan angka penjualan mobil baru sepanjang 2020 bakal mencapai 1,1 juta. Naik dari 1,032 juta unit pada tahun 2019. Namun disebabkan oleh pandemi, sepertinya pasar otomotif nasional bakal terkoreksi lebih dari 60 persen atau 600 ribu unit dibandingkan 2019. Tapi kalau melihat kondisi yang ada, untuk mencapai 600 ribu unit untuk retail sampai tahun berakhir tampaknya akan sulit. Paling tinggi kemungkinan 550 ribu. Sampai berita ini diturunkan, berdasarkan data Gaikindo per 16 Desember, total penjualan mobil dalam negeri selama 11 sebanyak 474.908 unit. Angka produksi mobil dalam negeri juga diprediksi merosot sampai akhir tahun depan. Menurut Gaikindo, pada kisaran 775 ribu unit. Baca juga: Bersaing di Pasar Dunia, Ini PR Manufaktur Otomotif Indonesia

3. Perilaku baru di kalangan konsumen

Teknologi digital tumbuh semakin cepat. Pabrikan mobil dan otomotif turunannya membuat ragam aplikasi demi memudahkan pelayanan pelanggan. Home service meningkat tinggi dibandingkan tahun-tahun sebelumnya. Begitu juga dengan penjualan mobil via aplikasi atau pun melalui internet. Untuk pembelian mobil dan perawatan, konsumen memilih untuk tidak langsung datang ke dealership. Untuk itu, dealer maupun bengkel resmi mengambil inisiatif dengan mendatangi langsung pelanggan.

4. Peluncuran mobil baru secara virtual

Pandemi COVID-19 juga mendorong peluncuran mobil dilakukan secara virtual, lewat ragam platform teknologi digital. You name it. Peluncuran All New Toyota Corolla Cross, Lexus UX 300e, Hyundai Kona Electric dan Ioniq, Mitsubishi Xpander Black Edition, brand BMW dan lain-lain. Kalangan APM menghindari kerumunan banyak orang untuk mencegah penularan virus Corona. Selain disebabkan oleh adanya protokol kesehatan yang ketat yang diberlakukan oleh pemerintah.

5. Pembatalan ragam event otomotif

Di skala nasional saja, terjadi pembatalan dua pameran otomotif yang sangat penting dalam kalender nasional. Yaitu Indonesia International Motor Show (IIMS) 2020 dan Gaikindo Indonesia International Auto Show (GIIAS) 2020. IIMS yang seharusnya diselenggarakan bulan April dan GIIAS bulan Agustus, terpaksa dibatalkan. Di level internasional, ragam pameran dibatalkan. Mulai dari Geneva, Detroit, Frankfurt, New York Auto Show, SEMA, Goodwood Festival of Speed sampai Peeble Concourse d’Elegance dan lain-lain. Memperlihatkan bahwa Corona menjadi ancaman yang sangat serius bagi Kesehatan warga bumi. Tapi juga ada penyelenggara yang mengombinasikan event virtual dengan offline, yaitu IIMS Motobike 2020. Itu pun dengan protokol kesehatan ketat.

6. Trend mobil elektrifikasi

Sepanjang 2020 tercatat beberapa mobil listrik di luncurkan. Misalnya, Hyundai Ioniq, Kona Electric, DFSK Gelora E, BMW i3, Tesla, Lexus UX 300e dan beberapa unit yang diluncurkan tahun lalu. Misalnya SUV Mitsubishi Outlander PHEV. Kalau ngomong soal mobil elektrifikasi, sudah cukup banyak juga line-up mobil hybrid. Toyota sudah memiliki mobil elektrifikasi Hybrid Electric Vehice (HEV), yaitu Toyota Corolla Cross Hybrid, Toyota Camry Hybrid, C-HR Hybrid, Alphard Hybrid,  Altis Hybrid dan Prius HEV . Mitsubishi punya PHEV, Hyundai punya Ioniq dan Kona Electric lantas ada juga Nissan Kicks e-Power. Baca juga: Setumpuk PR Menuju Mimpi Aplikasi Mobil Listrik di Indonesia

7. Kebijakan yang mengatur mobil listrik & elektrifikasi

Pemerintah sudah mengeluarkan Peraturan Presiden nomor 55 tentang Program Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai di tahun 2019. Perpres ini yang nantinya bakal mengatur tata aturan mobil elektrifikasi di Indonesia dari mulai hybrid, Plug-in Hybrid dan listrik murni. Peraturan ini bakal berlaku efektif mulai tahun 2022 dan bisa mendorong harga mobil berbasis baterai ini lebih murah sampai 40 persen dari harga yang sekarang. Pemerintah sendiri sudah menetapkan target pada pada tahun 2025, 20 persen mobil baru yang terjual adalah mobil berbasis baterai. Pemda Propinsi DKI Jakarta sendiri telah merilis Pergub Nomor 3 Tahun 2020 Tentang Insentif Pajak Bea Balik Nama Kendaraan Bermotor (BBN-KB) Atas Kendaraan Bermotor Listrik Berbasis Baterai (Battery Electric Vehicle) untuk Transportasi Jalan. Peraturan ini membebaskan pemilik mobil listrik dari pajak balik nama kendaraan.

8. Dari ownership ke usership

Mulai terlihat trend penggunaan mobil dari ownership alias membeli atau memiliki kepada usership saja. Atau istilah lainnya adalah car sharing atau sharing mobility. Bahkan Toyota sudah secara khusus membuat program yang diberi nama Kinto One. Jadi kalau Anda ingin punya mobil, tak perlu membeli, cukup berlangganan saja. Seperti berlangganan Spotify, Netflix atau pun internet rumah. Hal ini disebabkan kalangan generasi muda kurang tertarik punya mobil. Mereka punya cara lain dalam memandang soal kepemilikan mobil. Memang banyak kalangan di kota-kota besar menilai punya mobil ini agak merepotkan. Harus memikirkan bayar pajak, asuransi, perawatan dan lain-lain. Kalau berlangganan lebih gampang. EKA ZULKARNAIN

Artikel yang direkomendasikan untuk anda