Sebelum Tergoda 'Hijrah' Beli EV, Pertimbangkan Hal Penting Ini

Transisi beralih ke mobil listrik bukan sekadar membeli mobil dengan harga murah.

Wuling Cloud EV

JAKARTA, Carvaganza - Beberapa tahun terakhir, pilihan kendaraan listrik berbiaya terjangkau semakin banyak dan mudah ditemukan di pasaran. Kondisi ini menjadi kabar positif bagi masyarakat yang ingin mencoba beralih ke kendaraan ramah lingkungan tanpa harus merogoh kocek terlalu dalam.

KEY TAKEAWAYS

  • Berapa jarak tempuh rata-rata mobil listrik murah di Indonesia?

    Rata-rata EV murah di Indonesia memiliki jarak tempuh sekitar 300 km sekali isi daya, cukup untuk kebutuhan harian dalam kota.
  • Apakah mobil listrik memiliki harga jual kembali yang baik?

    Saat ini, nilai jual kembali EV cenderung lebih rendah dibandingkan mobil konvensional dan belum ada patokan harga yang stabil.
  • Model seperti Atto 1, Air ev, BinguoEV, Seres E1, hingga VF 3 termasuk dalam kategori EV dengan harga kompetitif alias terjangkau. Mobil-mobil ini dirancang untuk menarik minat pemilik kendaraan pertama yang ingin merasakan kenyamanan mengemudi tanpa emisi.

    Meski begitu, harga yang ramah kantong bukan satu-satunya hal yang perlu dipertimbangkan. Ada sejumlah aspek penting lain yang wajib diperhitungkan agar pengalaman memiliki EV tidak menimbulkan masalah di kemudian hari.

    Volvo EX30 Volvo EX30
    Foto: Oto Group

     

    Jarak Tempuh

    Jarak tempuh menjadi salah satu faktor utama dalam memilih EV. Untuk kategori harga terjangkau, rata-rata mobil listrik saat ini sudah mampu menempuh sekitar 300 km dalam sekali pengisian daya, yang relatif cukup untuk kebutuhan harian di dalam kota.

    Namun, bagi yang sering bepergian jarak jauh atau tidak ingin repot menghitung daya baterai, sebaiknya memilih EV dengan jarak tempuh lebih panjang. Perlu diingat, pilihan ini biasanya datang dengan harga lebih tinggi. Karena itu, penting menyesuaikan dengan kebutuhan dan ketersediaan anggaran.

    Baca Juga: KOLEKSI Dorong Pengembangan Ekosistem EV Pada Perayaan HUT ke-4

    Pemilik juga harus disiplin dalam merencanakan penggunaan harian. Misalnya, jika hanya digunakan untuk perjalanan rumah–kantor, kemampuan jarak tempuh besar mungkin tidak terlalu diperlukan.

    Kemampuan Pengisian Daya

    Banyak kendaraan listrik murah saat ini sudah mendukung fitur pengisian daya cepat (fast charging). Fitur ini menjadi nilai tambah karena bisa membantu saat lupa mengisi daya di rumah.

    SPKLU di berbagai kota besar kini semakin mudah ditemukan, namun perlu memastikan kemampuan kendaraan menerima daya sesuai standar fast charging agar manfaatnya terasa maksimal.

    Neta V Foto: Neta

     

    Selain itu, calon pemilik sebaiknya memperhatikan kemampuan pengisian daya AC, yang meski lebih lama, dinilai lebih stabil untuk kesehatan baterai. Beberapa produsen mencantumkan estimasi waktu pengisian daya AC sehingga konsumen bisa menyiapkan jadwal yang tepat.

    Memiliki EV tanpa infrastruktur pengisian di rumah berpotensi menyulitkan, mengingat SPKLU kerap dipadati pengguna lain. Maka, membangun fasilitas pengisian pribadi di rumah adalah langkah bijak. Pastikan juga dana untuk instalasi ini tersedia sebelum membeli mobil listrik.

    Layanan Purnajual dan Biaya Kepemilikan

    Kendaraan listrik mengusung teknologi yang relatif baru di Indonesia. Minimnya pemahaman teknis dapat menimbulkan rasa frustrasi jika terjadi masalah. Karena itu, reputasi layanan purnajual menjadi faktor penting.

    Periksa durasi dan cakupan garansi, serta pahami detail syarat dan ketentuannya. Beberapa produsen menawarkan garansi seumur hidup, namun tetap perlu menelaah batasan yang berlaku.

    Soal biaya kepemilikan, EV cenderung lebih hemat dibandingkan mobil bermesin bakar. Penghematan ini terlihat dari biaya bahan bakar (listrik vs BBM), perawatan, hingga pajak kendaraan.

    Test Drive Jakarta Bali Hyundai Ioniq 6 Foto: Hyundai

     

    Kesimpulan

    Produsen sudah menyediakan opsi kendaraan listrik murah, kini giliran konsumen untuk mempertimbangkan dengan matang sebelum memutuskan membeli. Perbedaan ekosistem antara EV dan mobil konvensional harus benar-benar dipahami.

    Rekomendasi ini lebih sesuai bagi mereka yang menjadikan EV sebagai kendaraan kedua. Untuk yang ingin menjadikannya mobil utama, pertimbangan harus lebih mendalam, termasuk infrastruktur pengisian, akses bengkel resmi, dan potensi harga jual kembali.

    Perlu dicatat, nilai jual kembali EV masih belum stabil dan umumnya lebih rendah dibandingkan mobil konvensional. Karena itu, pembelian EV sebaiknya didasari pada niat untuk dipakai jangka panjang, bukan untuk dijual kembali.

    Bila dana terbatas, menunda pembelian EV mungkin menjadi pilihan bijak. Alternatif lain, teknologi hybrid bisa menjadi opsi transisi karena menghilangkan kekhawatiran soal jarak tempuh sekaligus menawarkan efisiensi yang lebih baik dibandingkan mobil bensin murni.
    (SETYO ADI / WH)

    Baca Juga:

    Porsche x The Frame Gelar Eksibisi Foto, Ceritakan Perjalanan 888 Kilometer

    Angkat Inovasi dan Kolaborasi Budaya Antar VinFast Sabet Dua Piala di GIIAS 2025

    Mobil Listrik BYD Ini 3 Kali Tersambar Petir, Begini Nasib Penumpangnya

    Featured Articles

    Read All

    Artikel yang mungkin menarik untuk Anda

    Mobil Pilihan

    • Upcoming

    Updates

    Artikel lainnya

    New cars

    Artikel lainnya

    Drives

    Artikel lainnya

    Review

    Artikel lainnya

    Video

    Artikel lainnya

    Hot Topics

    Artikel lainnya

    Interview

    Artikel lainnya

    Modification

    Artikel lainnya

    Features

    Artikel lainnya

    Community

    Artikel lainnya

    Gear Up

    Artikel lainnya

    Artikel Mobil dari Oto

    • Berita
    • Artikel Feature
    • Advisory Stories
    • Road Test

    Artikel Mobil dari Zigwheels

    • Motovaganza
    • Tips
    • Review
    • Artikel Feature