Menperin: Insentif LCGC Lanjut hingga 2031 & Evaluasi Kebijakan Otomotif Nasional

Menprin melobi para petinggi pabrikan Jepang agar kondisi pasar otomotif di Indonesia tetap kondusif.

LCGC

JAKARTA, Carvaanza - Menteri Perindustrian (Menperin) Agus Gumiwang Kartasasmita baru-baru ini menghadiri World Expo 2025 di Osaka, Jepang. Dalam kunjungan tersebut, ia melakukan pertemuan dengan tiga pimpinan pabrikan otomotif terkemuka.

KEY TAKEAWAYS

  • Apa kekhawatiran yang disampaikan Chairman Suzuki Motor Corporation, Osamu Suzuki, kepada Menperin?

    Osamu Suzuki menyatakan kekhawatiran atas penurunan signifikan penjualan kendaraan niaga ringan di Indonesia, yang berpotensi memengaruhi produk mereka seperti Suzuki Carry.
  • Apa tujuan dilanjutkannya program insentif LCGC?

    Tujuan utamanya adalah untuk menjaga keterjangkauan kendaraan bagi masyarakat serta mendukung transisi elektrifikasi secara bertahap.
  • Salah satu pertemuan penting adalah dengan Osamu Suzuki, Chairman Suzuki Motor Corporation. Osamu Suzuki menyampaikan kekhawatirannya mengenai penurunan signifikan penjualan kendaraan niaga ringan di Indonesia, yang berpotensi berdampak pada produk unggulan mereka, seperti Suzuki Carry.

    Meski demikian, Osamu Suzuki menegaskan komitmen perusahaannya untuk terus mendukung pasar Indonesia dan menyambut baik arahan Menperin agar tidak ada PHK. Menanggapi hal tersebut, Agus Gumiwang menyatakan bahwa pemerintah sedang mengevaluasi berbagai kebijakan untuk merangsang kembali permintaan kendaraan niaga, termasuk melalui pembelian oleh pemerintah daerah dan insentif fiskal untuk sektor UMKM.

    Pertemuan Menperin dengan Toyota, Daihatsu, Suzuki Pertemuan Menperin dengan petinggi pabrikan otomotif Jepang
    Foto: Kemenperin

     

    Pabrikan Minta Aturan TKDN Lebih Fleksibel

    Pada pertemuan terpisah, Toyota Motor Corporation (TMC) juga menyampaikan aspirasi penting kepada Menperin. TMC berharap adanya relaksasi aturan Tingkat Komponen Dalam Negeri (TKDN), khususnya untuk kendaraan hybrid. Saat ini, beberapa varian hybrid Toyota seperti Kijang Innova Zenix Hybrid dan Yaris Cross sudah mencapai TKDN di atas 40 persen.

    Namun, mereka mengusulkan agar regulasi TKDN untuk kendaraan elektrifikasi dapat lebih fleksibel. Tujuannya adalah untuk menarik investasi baru dan mempercepat adopsi teknologi ramah lingkungan di Indonesia.

    Baca Juga: Mercedes-Benz CLA Shooting Brake Generasi ke-3 Debut Sebagai EV, Sanggup Tempuh 761 KM

    Menperin Agus Gumiwang merespons positif usulan ini, menyatakan bahwa pemerintah terbuka untuk mendiskusikan relaksasi TKDN secara selektif. Ia juga berjanji untuk tetap menjaga arah kebijakan industrialisasi dalam negeri.

    “Kami akan pelajari permintaan tersebut. Karena prinsipnya kami ingin membangun industri otomotif nasional yang kuat. Namun juga kompetitif secara global,” ujar dia dalam keterangan resmi.

    Insentif LCGC Dipastikan Berlanjut hingga 2031

    Lebih lanjut, Agus Gumiwang menegaskan bahwa program insentif Low Cost Green Car (LCGC) akan terus dilanjutkan hingga tahun 2031. Kebijakan ini bertujuan untuk menjaga keterjangkauan kendaraan bagi masyarakat sekaligus mendukung transisi elektrifikasi secara bertahap.

    “Program LCGC terbukti berhasil meningkatkan kepemilikan kendaraan masyarakat. Juga mendukung industri otomotif nasional. Oleh karena itu, insentif untuk LCGC akan kami lanjutkan hingga 2031,” imbuhnya lagi.

    pabrik Daihatsu Foto: Daihatsu

     

    Pernyataan ini diharapkan dapat memberikan kepastian jangka panjang bagi prinsipal dan pelaku industri otomotif di Indonesia, mendorong mereka untuk terus memproduksi dan mengembangkan kendaraan hemat energi di dalam negeri. Kondisi industri otomotif nasional belakangan ini memang menghadapi tantangan, terutama akibat melemahnya daya beli masyarakat dan pertumbuhan ekonomi yang terhambat.

    Daya Saing dan Kolaborasi Investasi

    Kementerian Perindustrian juga menekankan pentingnya kolaborasi antara pemerintah dan prinsipal otomotif. Kolaborasi ini krusial dalam menghadapi transisi elektrifikasi, tantangan global, serta menjaga keseimbangan antara produksi lokal dan ekspor.

    “Pasar otomotif Indonesia sangat besar. Dan industri ini telah menyerap tenaga kerja dalam jumlah besar. Kita harus jaga bersama agar tidak terjadi guncangan di sektor ini,” tutup Agus Gumiwang.

    Pertemuan-pertemuan strategis ini merupakan bagian dari upaya pemerintah Indonesia untuk memperkuat diplomasi industri, menciptakan iklim investasi yang kondusif, serta menjaga keberlanjutan dan kinerja sektor otomotif nasional yang memberikan kontribusi signifikan terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) dan ekspor manufaktur.
    (ANJAR LEKSANA / WH)

    Baca Juga:

    Hole in One Oto Golf 2025: Hadiah Mobil & Motor Gede Senilai Miliaran

    Model Baru VinFast Siap Tampil di GIIAS 2025, Debut Produksi Setir Kanan

    Chery Klaim Tiggo 8 CSH Tembus SPK Ribuan Unit, Tercepat untuk PHEV

    Featured Articles

    Read All

    Artikel yang mungkin menarik untuk Anda

    Mobil Pilihan

    • Upcoming

    Updates

    Artikel lainnya

    New cars

    Artikel lainnya

    Drives

    Artikel lainnya

    Review

    Artikel lainnya

    Video

    Artikel lainnya

    Hot Topics

    Artikel lainnya

    Interview

    Artikel lainnya

    Modification

    Artikel lainnya

    Features

    Artikel lainnya

    Community

    Artikel lainnya

    Gear Up

    Artikel lainnya

    Artikel Mobil dari Oto

    • Berita
    • Artikel Feature
    • Advisory Stories
    • Road Test

    Artikel Mobil dari Zigwheels

    • Motovaganza
    • Tips
    • Review
    • Artikel Feature